
Dddrrrtttt....... dddrrrttttt..... dddrrttttt...
Dddrrrtttt....... dddrrrttttt..... dddrrttttt...
....... dddrrrttttt..... dddrrttttt...
"Akkkhhh siapa sih?" Gerutu Anes pelan sambil merogoh saku celananya.
"Weeii (Hallo)" jawab Anes sambil menekan volume suara di earphone nya.
"Hallo. Kamu kemana aja sih ? Dari kemarin telpon ga di angkat angkat, itu WA juga ga kamu buka kan ? Kenapa ?"
"Akkhh aku lupa Yah."
"Lupa ???? Aneh. kok kmu bisa lupa ?"
"yaa begitulah."
"Suaramu lemes bener. Ada apa sih?" Tanya Didim ketika mendengan suara Anes yang aneh.
"Ga pa pa, efek ngantuk mungkin , hari ini males aja sih."
"Ada apa ?"
"Sudahlah... ga pa pa?"
"Oh ya udah kalau kamu ga pa pa, btw gimana kakakmu, ada perbaikan ?"
"Mmmm ada sih."
"Udah keluar rumah sakit udah sehat ?" Tanya Didim tanpa Koma.
"Meninggal." Teeeess.. teeessssss teeess
Air mata Anes kembali meluncur.
"Haaaaah ?!! Inalilahiwainailaihirojiuun... Kapan ?" Seru Didim kaget.
SEPI__________
"Nes ?"
"Yank, kamu nangis ?"
Masih ga ada jawaban.
"Jangan bilang kamu semalem ga tidur, kamu nangis, atau kamu melamun gara gara ini ya."
Kata Didim lagi.
"Iya. hhiikksss." Jawab Anes pelan.
"H......h. oke, ga pa pa kamu nangis, bersedih, namun ingat Yank kamu itu kerja di sini, kamu punya tanggungjawab yang besar, jangan sampai kesedihanmu itu berakibat buruk pada orang lain, terutama Papamu itu. Jaga dirimu, jaga kesehatanmu. Jangan bilang kamu belum makan juga."
"E...mang... b..*#&...e.....lum. A..#&*...ku ga... ...n.....a....p......su." Kata Anes dg suara yang masih bergetar.
"Sekarang kamu cari minum dulu gih, aku temenin, duduk dulu sambil minum, istighfar yang banyak, biar hati tenang." Kata Didim memberi saran.
"Cepetan ! Jangan bengong aja." Kata Didim mulai memerintah karena telinganya ga mendengar pergerakan apapun dari orang di seberang telpon.
*Sssrrkkhhh....srrkkhhhhh......
...ggrrrccckkkkkk*.....
"Seteguk dua teguk cukuplah, biar sedikit tenang." Sambung Didim di aeberang telpon.
hhiikkkzzzz.....
Terdengar samar dan pelan, seperti suara yang sengaja di tahan.
"Ya,, udah boleh lah kamu nangis, tapi ingat, jangan sampai kerjaanmu terbengkalai ya, Semua yang datang itu pasti pergi, dan kita ga akan tau lo kapan itu akan terjadi. Dari sini kita bisa belajar, menghargai setiap kebersamaan yang di berikan Tuhan. Menghargai setiap detik waktu yang di anugerahkan sama kita untuk di manfaatkan sebaik baiknya. Karena sebaik baiknya manusia adalah yang bermanfaat buat orang lain bukan?!"
Sambung Didim tanpa mengharapkan respon apapun dari seberang telpon, karena tujuannya hanyalah menghibur Anes agar dia sedikit lebih tenang.
Hiikkzzzz.... hiixxzzzzzz.... Masih dengan suara yang halus tertahan.
"Nanti Malem, aku temenin deh, kita doakan Mas Susan bareng bareng ya, sekarang... kerjakan kerjaanmu dulu, aku temenin, jangan di matiin telponnya, Kamu ga usah ngomong apapun ga pa pa, yang penting kamu tau kalau Aku ada, biar kamu ga sendirian." Kata Didim lagi.
Anes masih saja diam tak menjawab apapun. Karena dia juga ga tau mau ngomong apa. Terlalu banyak hal yang ada di kepalanya. Lebih tepatnya otaknya kosong, bahkan dia tidak tau apa yang dia pikirkan di kepalanya.
'Ku teringat hati yang bertabur mimpi
Ke mana kau pergi, cinta?
Perjalanan sunyi yang kau tempuh sendiri
Kuatkanlah hati, cinta
Ingatkah engkau kepada embun pagi bersahaja?
__ADS_1
Yang menemanimu sebelum cahaya
Ingatkah engkau kepada angin yang berhembus mesra?
Yang 'kan membelaimu, cinta
Kekuatan hati yang berpegang janji
Genggamlah tanganku, cinta
'Ku tak akan pergi meninggalkanmu sendiri
Temani hatimu, cinta
Ingatkah engkau kepada embun pagi bersahaja?
Yang menemanimu sebelum cahaya
Ingatkah engkau kepada angin yang berhembus mesra?
Yang 'kan membelaimu, cinta
'Ku teringat hati yang bertabur mimpi
Ke mana kau pergi, cinta?
Perjalanan sunyi yang kau tempuh sendiri
Kuatkanlah hati, cinta
Ingatkah engkau kepada…
Pelan..... terdengar lagu Letto di telinga Anes dan Didim, tentu saja ini Didim yang melakukannya.
Seperti kebiasaan mereka tiap hari, melakukan panggilan telpon hanya untuk mendengarkan lagu bersama sama.
Author : 😁 Kalian yang membaca cerita ini udah tau caranya blm ya ? telponan lalu dengerin music bareng2 dari galery ? wxwxwxwxwx...
cieeee ciieee yang ga tau caranya 🤣🤣🤣
****** ! eh lanjut ! 🤧
12.20 jarum Jam di dinding Dapur .
Anak anak dari mama sudah ngumpul mau makan siang bersama.
"Heeiihhh,,,,, kok nasinya masih beras?" Tiba tiba Anak perempuan mama bicara sendiri.
"Akkhhh masak sih Mbak ?" Tanya Anes kaget.
"Iya . nih... sini liat."
"Uuppsss maaf mbak, mbak dan yang lain bisa ga nunggu 1/5 jam lagi? Maaf sekali lagi." Kata Anes merasa canggung dan bersalah.
"Oke. udahlah ga pa pa kok. Aku bilang Mama dulu, biar main mahyongnya di perpanjang setengah jam lagi aja." Kata nya sambil berlalu pergi.
"ppsstttt ada apa Yen ? " Tanya sebuah suara secara halus
"*Nasinya blm mateng Ma, kelihatannya Dia lagi ada masalah ya, kok wajahnya memerah dari pagi , matanya bengkak begitu."
"Iya , biarin aja, jangan di ajak bicara panjang panjang, kakaknya di indonesia barusan meninggal.Tadi pagi dia sempet ngomong sebentar, katanya ... mau nambah pinjem uang lagi buat dikirim pulang. Kasian dia. Tadi mau aku bantuin kerjain kerjaan rumah dia ga mau*."
Jawab suara itu yang tak lain adalah Mama.
"Oohhh"
Suara itu begitu halus, namun telinga Anes yang sangat peka , masih bisa mendengarnya, walau ia tak merespon apapun, batinnya.. ya sudahlah asal mereka maklum sudah cukup baginya, sedangkan ia sendiri sedang tak ingin bicara apapun saat ini.
Dia dari bangun tidur aengaja menyibukkan dirinya bahkan lebih sibuk dari biasanya, agar otaknya sedikit teralihkan . Lalu apa yang bisa dilakukannya selain menyibukkan diri ? Berjuang di perantauan itu bukan hal yang mudah. Harus mandiri di segala bidang.
Marah, sedih semua harus di tahan dalam hati.
Hidup sehari harinya harus berlalu seperti tak ada apapun, berjalan normal seperti biasanya.
Seringkali terlewat di bayangan matanya,, kebersamaan dengan saudara saudaranya yang sedikit gila.
"Aakkhhhhh !!! Masss lepasin goblok... Ndraa... tolongin !!" Teriak Anes waktu itu ketika tiba tiba Mas Susan mengikat tangannya lalu di masukin ke karung beras sampai leher.
"Hahahahahahahaa... Udah ya mbak, aku mau main dulu, nanti kalau Bapak atau Ibuk pulang minta tolong aja sama mereka. Jahahahhaha" Kata Andra cuek saja ketika melihat kakak perempuannya ada di dalam karung beras. Cuex sambil tertawa terbahak bahak dan ngeloyor pergi tanpa ada niat ingin membantu.
"Dasar kalian gila !" Teriak Anes sangat jengkel waktu itu.
"Tenang saja Blek, nanti pulang kerja gua masakin masakan terEndul gua, tapi harus sabar,, nikmatin aja dulu hidupmu di situ, itung itung semedi, sapa tau dapet nomir togel. Hahahhahaa." Kata Susan juga sambil melambaikan tangan lalu pergi .
"Maassss!!! Gila ! .... ooeee.... lepasiin.!"
Teriakan teriakan itu yang Anes sangat rindukan. Ternyata .... apa yang kita dulu anggap sebagai hal yang menjengkelkan , itu bisa menjadi hal yang paling dirindukan suatu saat nanti.
Tak kan ada lagi yang memanggilnya CIBLEK.
__ADS_1
Tak kan ada lagi yang akan membuatnya menangis sekaligus tertawa dalam waktu yang bersamaan.
Dalam benakku lama tertanam
Sejuta bayangan dirimu
Redup terasa cahaya hati
Mengingat apa yang telah kau berikan
Waktu berjalan lambat mengiring
Dalam titian takdir hidupku
Cukup sudah aku tertahan
Dalam persimpangan masa silamku
Coba 'tuk melawan
Getir yang terus kukecap
Meresap ke dalam relung sukmaku
Coba 'tuk singkirkan
Aroma nafas tubuhmu
Mengalir mengisi laju darahku
Semua tak sama, tak pernah sama
Apa yang kusentuh, apa yang kukecup
Sehangat pelukmu, selembut belaimu
Tak ada satu pun yang mampu menjadi sepertimu
Apalah arti hidupku ini
Memapahku dalam ketiadaan
Segalanya luruh lemah tak bertumpu
Hanya bersandar pada dirimu
Ku tak bisa, sungguh tak bisa
Mengganti dirimu dengan dirinya
Coba 'tuk melawan
Getir yang terus kukecap
Meresap ke dalam relung sukmaku…
Kembali Suara Fadli Padi mengalun lembut di kedua earphone Anes yang isi otaknya sedang tak bersama kepalanya.
Pelan pelan dia tersadar,, ternyata benar Sesuatu itu akan sangat berarti ketika kita sudah kehilangan .
Kita juga akan sangat kehilangan jika kita merasa pernah memilikinya.
.
.
.
.
.
.
.Author : Minta maaf , jika lama tak menulis, seperti yang sudah saya bilang kemarin2, jika saya ga nulis berarti saya kecapekan kerja.
Untuk yang sudah rela meluangkan waktu membaca,,, Matur Thank iyuu ya. hehehhehe
Ntar hadiahnya sebiji sandal jepit biar kita kembaran. ceee iilleee. .. 😛😛
.
KANCUUTTT ??? eh.... Lanjyyuuuttt 🤣
.
.
.
__ADS_1