
Pagi yang cerah mengawali manusia yang di landa gundah hati. Antara melanjutkan apa yang telah di putuskan atau mundur ke belakang.
Nyatanya apa yang di nantikannya tak kunjung ada. Yaitu KABAR.
Seringkali dia menepis harapan dalam hati kecilnya itu. Masih tak percaya jika yang ia harapkan kehadirannya saat ini adalah orang yang pernah menjadi kekuatannya dulu ketika ia di tinggal Susan.
Ia masih menolak untuk mengakui dan mempercayai bahwa orang ini adalah orang yang sama dengan yang waktu itu ada.
1
2
3
Ia memantapkan hati bahwa keputusannya ini adalah tepat baginya dan ibunya. Dosa,, biar ia yang menanggungnya sendiri nanti.
Hhhmmmmhg.....
Melirik jam tangan harap harap cemas menunggu jam 7 malam.
Hari seakan melambat, sangat lambat . Seperti menunggu siksaan akhirat.
16.30
"Ma, nanti jam 7 Anes keluar sebentar ma, mau ke dokter." Kata Anes meminta ijin pada mama.
"Kenapa lagi kamu?"
"Ga ma, cuma Anes merasa ga nyaman saja, pingin tau yang dulu itu kumat lagi atau ga." Jawab Anes memberi alasan.
"Berdarah lagi?"
"Ga sih Ma, ga sampai berdarah. Daripada terlambat kaya kemarin."
"Iya juga sih, ya udah kamu ga lama kan?"
"Ga ma, paling lama juga 1 jam, papa biarin duduk aja dulu, nanti aku pulang baru di tidurin." Kata Anes karena ia tau apa yang mama pikirkan.
"Okelah. kalau mau pergi pergi aja."
"Makasih ma." Jawab Anes tersenyum.
Cling !
Aku di depan rumahmu √√
Itu adalah pesan dari mami.
^^^Ya mi, aku keluar sekarang.√√^^^
,,,,,,,
Setelah menyelesaikan administrasi, Anes masuk ke dalam ruangan dokter untuk melakukan USG ulang.
Dingin gel di atas perutnya membuat Anes merinding, takut, matanya mulai berair, namun di tahan nya.
"Nah, kamu liat ini, sebelah sini, ada kan ? kelihatan kan, masih sangat sangat kecil sebesar kacang hijau."
Kata Dokter itu menjelaskan sambil memperlihatkan gambar di layar.
Setelah perutnya di bersihkan, Dokter memberi arahan pada Anes apa yang harus di konsumsinya untuk menjaga kesehatan janinnya itu.
Anes hanya terdiam mendengarkan , tanpa merespon apapun, menunggu jeda agar ia bisa mengutarakan niatnya.
"M.....dok, bolehkah kalau janin ini di buang saja ? Bantu aku membuangnya dok." Kata Anes perlahan.
Dengan mata sedikit membelalak karena kaget , dokter itu bertanya ,
"Yakin mau di buang ?"
__ADS_1
"Iya dokter, yakin."
"Oke, sekarang kamu harus punya penanggung jawab atas ini, ada ?"
"Ada di luar dokter. Dia saudara saya." Kata Anes berbohong yang ternyata Mami adalah temannya saja, bukan saudara.
"Ya sudah, suruh dia masuk."
,,,,,,,,
"Kamu saudaranya nona ini?" Tanya dokter pada Mami.
"Iya dokter." Jawab Mami pasti.
"Kamu sudah tau apa yang akan dia lakukan ?"
"Sudah dokter, itu sudah kami rundingkan, karena dia masih ingin melanjutkan kontrak kerjanya." Kata Mami menjelaskan. Entah darimana Mami punya alasan sebagus ini. Anes pun rada heran di buatnya.
"Oke, sekarang kamu baca kertas ini, kamu bisa mengerti bahasa inggris kan?"
"Bisa dok."
"Ya sudah , baca terlebih dahulu , lalu tanda tangan di bawah, yang sebelah kiri adalah tanda tangan saudaramu ini." Kata dokter menunjuk kotak di sebelah kiri sambil memandang ke arah Anes.
Isi dari kertas itu adalah keterangan bahwa apa yang di lakukan atas keputusan sendiri, dan tidak ada paksaan dari pihak manapun, lalu apapun yang terjadi itu adalah murni tanggung jawab dari yang bertanda tangan di bawah. Dan pasien berjanji tidak akan melakukan tuntutan hukum atas hilangnya janin di dalam perut.
Setelah semua selesai tanda tangan , dokter kembali menoleh keoada Anes,
"Ada dua opsi, mau yang instant, atau dengan pil?"
"Kalau instant yang gimana dok?" Tanya Anes.
"Instant, kamu melakukannya di sini, memakan waktu sekitar 1 jam.
Kalau yang menggunakan pil, ada dua tahap, tahap pertama minum di sini, di temani suster, tahap ke dua kamu minum di hari ketiga setelah pil pertama. Jumlah pil masing masing sekarang ada tiga butir, hari ketiga ada 2 butir." Jelas dokter panjang lebar.
Anes memilih ini karena kendala waktu. Anes ga bisa meninggalkan rumah terlalu lama.
"Namun , mungkin akan terasa sedikit sakit."
"Ga apa apa dok." Kata Anes lagi.
"Oke." Kata Dokter mengambil kertas lalu memberikannya pada Anes.
"Sekarang pergilah dengan suster ini, setelah selesai baru kembali ke sini."
Anes melangkahkan kaki ke kamar lain, ia meminum 3 butir obat berbentuk segitiga warna pink. Tak ada reaksi apapun setelah meminumnya selain rasa penuh di perut.
Anes kembali duduk lalu dokter memberinya kertas untuk tanda tangan lagi, dan sebungkus kecil berisi 2 butir pil warna cokelat.
"ini untuk kamu minum 2 hari lagi setelah hari ini. Lalu seminggu kemudian setelah kamu minum, kamu harus cek ulang kondisi perutmu ke sini ya." Jelas dokter itu lagi.
"Oke dok, terimakasih."
"Ya sudah, ini sudah selesai."
Anes dan mami berdiri dari tempat duduknya lalu membuka pintu keluar.
Namun Anes kembali masuk ke dalam,
"Dok, bolehkan saya minta photo USG itu dok?"
"Kalau photonya di photo boleh, tapi kalau photo USG di bawa pulang, tidak bisa, itu untuk menjadi dokumen kami , karena janinnya sudah di buang."
"Oh...ga boleh ya."
"Kamu boleh ambil photonya saja, capture dengan ponselmu di suster depan, yang asli jangan di bawa pulang."
"Ya udah dok, makasih."
__ADS_1
Sampai di depan suster, Anes mengcapture Photo USG nya dan langsung mengirimkannya ke Dimas.
Terimakasih, Anakmu sudah mati. Kamu bebas sekarang, Sekali lagi terimakasih.√√
^^^Maksud kamu apa ?√√^^^
Ga ada, aku cuma mau bilang calon anakmu dah mati, baru saja kubuang, tapi tenang aja , aku ga akan minta uangmu sepeserpun, semua udah kubayar lunas. √√
Gambar itu sebagai bukti saja, jika kamu bisa melihatnya. √√
^^^Drama√√^^^
Hmmmm......mhg....
Anes menarik nafas panjang membaca balasan terakhir dari Dimas.
Namun Anes tak mengatakan apapun pada nya atau pada dirinya sendiri.
Dia sudah mulai lepas, melepaskan satu beban untuk tak membuat beban yang lain.
Dalam perjalanan pulang, Anes menunduk memperhatikan langkah kakinya sendiri, tak menghiraukan mami yang berjalan di sampingnya.
Tiba tiba ia kaget karena tangannya di tarik dengan keras.
"Awas mobil ! Kamu jangan sebarang menyebarang jalan ga di zebra cross, jangan bunuh diri donk !!" Teriak seseorang yang ketika Anes menoleh ternyata adalah Mami yang sedari tadi berjalan di sampingnya.
"M...mmhh Maaf Mi."
"Jangan melamun."
"Maaf." Kata Anea merasa bersalah.
"Ya sudah. Jangan memikirkan yang telah berlalu, yang penting aekarang adalah persiapkan dirimu untuk 2 hari besok, persiapkan sakitnya. Jangan pikirkan yang lain. Pikirkan saja tentang dirimu sendiri."
Deg ! Anes tersadar. Benar sekali.
Anes juga harus mencari kotak kayu kecil untuk menyimpan gumpalan darah itu nantinya.
Dia juga harus mulai mencari tempat di mana ia akan menguburkannya nanti, agar ketika pulang ke indonesia masih bisa di ambil lagi dan di bawa pulang.
Seakan lupa dengan apa yang baru saja ia lakukan, Anes tetibanya di rumah, sibuk bongkar bongkar almari, karena ia teringat sekali pernah di beri hadiah kotak perhiasan kecil terbuat dari kayu oleh Adiknya mama yang tinggal di Tiongkok. Kotak warna coklat itu indah sekali , dengan ukiran se ekor naga yang imut, bukan menakutkan atau garang seperti kebanyakan ukiran naga yang lain.
"Nah,,, ini dia. Sekarang tinggal cari kain putih bersih , mmm.... apaan ya ,, masak kaos ?" Tanya nya pada dirinya sendiri.
Akhirnya Anes menggunting mukena nya menjadi beberapa lembar bagian, kecil kecil saja tak sampai 30 cm.
"Untung mukena ku ada dua, masih ada satu lagi buat cadangan."
Gumamnya kembali dengan sedikit senyuman telah menyelesaikan satu persoalan lagi.
Makin malam, perutnya makin penuh saja, ada sedikit rasa ingin muntah, tapi bukan mual.
Entahlah... Anes meraba kulit perutnya dan terasa menghangat.
"Semoga lancar dan tak ada masalah."
Gumam Anes lalu menuju kamar mandi untuk mengguyur segala penat hatinya.
Air hangat mengguyur seluruh tubuhnya, memberikan pijatan pijatan kenyamanan, memberikan refleksi pada hatinya.
.
.
.
.
.
__ADS_1