
3ย minggu kemudian. ...........
Rumah Pak Alan tak terlalu ramai seperti yang kalian bayangkan. Tentu tidak, karena hanya ada beberapa saudara dekat saja yang datang membantu.
Acara pernikahan dadakan yang melewati banyak perdebatan panjang, seperti contoh ketika Danu dan Ghanes memutuskan untuk tak menerima tamu dan mengundang siapapun , yang tentu saja hal ini di tentang oleh ayahnya Danu yang menginginkan anak semata wayangnya merayakan pernikahannya dengan meriah, namun Ghanes menolak dengan keras.
"Dan , katakan pada keluargamu, kalau mereka tetap ngotot mau bikin pesta, maka silahkan saja, tapi jangan harap gua akan datang, carilah pengantin lain untuk menggantikan posisi gua. Gua bilang ga ya ga. Ga usah di debat. Dan lu juga udah tau alasan gua kenapa ga mau bikin pesta, karena gua ga tega ma ibuk gua kalau nanti harus nangis atau sakit lagi karena teringat Mas Susan. Lu harus pahami itu Dan, kalau mau nurut ya nikah, kalau ga mau ya nikahlah ma orang lain jangan ma gua."
"Iya aku tau, tapi ayahku bilang katanya kasian ma kamu kalau ga dibikinin pesta."
"Gua ga butuh di kasihani. Ingat itu. Sekali ga ya ga. Titik."
"Oke oke , masalah ini biar aku yang tangani dech, intinya kita tetap nikah, tidak boleh tidak."
"Serah elu. Keputusan ada di tangan elu, dan permintaan gua cuma sesederhana itu kok, ga minta yang aneh-aneh."
Keluarga dari Danu ngotot kepingin membuat pesta , sedangkan Pak Alan sendiri semua keputusan berada di tangan Ghanes, terserah apa yang di inginkan, meskipun ia sangat tahu keadaan istrinya yang masih labil, namun jauh di dasar hatinya Pak Alan sangat berharap jika Bu Santi segera pulih seperti dahulu kala dengan mulai membiasakan diri hidup tanpa kehadiran Susan.
Mungkin karena Pak Alan adalah laki-laki, maka hatinya bisa lebih kuat dari seorang perempuan, juga mengingat ia sebagai kepala keluarga yang harus mengayomi seluruh keluarganya.
Pak Alan akhirnya hanya mengundang tetangga satu RT untuk makan bersama dan menyambut kedatangan besan serta beberapa saudara yang jarak rumahnya dekat dengan Pak Alan. Bahkan untuk keluarga yang di luar kota pun di larang hadir. Acara yang sederhana dan apa adanya, tanpa ada dekorasi apapun di sana.
Pagi jam 9:30 keluarga dari mempelai pria sudah datang . Mereka keseluruhan berjumlah 16 orang terhitung Danu dan juga Ayahnya.
Di ruang tamu sebagai tempat ijab Qabul sudah siap di depan meja kecil kedua mempelai , Pak Alan serta Penghulu dan wakil penghulu. Juga ada beberapa saksi yang duduk di belakang menunggu prosesi sakral ini.
Karena hari ijab Qabul yang ditentukan bertepatan dengan hari minggu, maka mereka pun harus mengundang penghulu ke rumah mempelai.
Padahal niat Ghanes dan Danu di awal-awal adalah ingin melakukan ijab qobul di KUA saja, tentu saja agar gratis apalagi selain itu Hahahahhaahahaha.๐๐๐๐
Ghanes dan Danu sendiri malah terlihat asyik bercakap cakap seperti tak ada beban sama sekali , tidak seperti mempelai kebanyakan yang grogi dalam menghadapi situasi ini.
Tiba-tiba ada yang nyeletuk nggibahin dari belakang dari pihak keluarga Ghanes,
"Memang menikah itu kalau awalnya dari temenan beda ya."
"Loh, mereka berdua sudah temenan to rupanya, kirain baru kenal. Ini bukan yang dari kota B itu kan?!"
"Bukan lah. Kan yang itu udah batal."
"Pantesan wajahnya kok beda jauh, perasaan yang dari kotaย B kemarin itu kulitnya lebih coklat dan badannya ga setingggi ini."
"Lha emang orangnya beda ya jelas beda lah, beda jauh bahkan."
Ghanes gedeg mendengar ghibahan itu, "Memang ya mulut manusia itu kurang kerjaan bener, kalau ga nggibah mungkin bisa sakit jiwa kali."
Tak berapa lama, terdengar suara Pak penghulu memenuhi ruang tamu ukuran 4x5 meter itu,
"Asalamualaikumwarohmatullahiwabarokatuhu."
Serentak semua orang menjawab ,
"Walaikumsalamwarohmatullahiwabarokatuhu."
__ADS_1
Kemudian Pak penghulu melanjutkan,
"Alhamdulillahi wash-sholatu wassalaamu โalaa rosuulillahi sayyidinaa wamaulaanaa muhammadibni abdillahi amma baโduhu."
Artinyaย :ย
"Puji syukur kepada Allah, doa salawat serta keselamatan biar selalu dicurahkan kepada rasulullah junjungan dan pembimbing kita, Nabi Muhammad bin Abdillah".
"Yang saya hormati keluarga mempelai laki-laki beserta rombongan yang Allah muliakan, Yang saya hormati keluarga mempelai wanita beserta tamu undangan yang Allah muliakan, serta bapak dan ibuk semua yang hadir pada hari ini mari kita panjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT serta solawat dan salam kita ucapkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, khususnya kita doakan kepada kedua mempelai, mudah-mudahan apa yang di impikan kedepan dapat merajut rumah tangga yang mawadah warohmah. Aamiin.
"Sehubungan kedua mempelai telah memenuhi semua persyaratan pernikahan seperti yang tertuang dalam undang-undang nomor 174 juga peraturan pemerintah yang lainnya, maka pada kesempatan kali ini saya selaku petugas tidak akan melakukan pemeriksaan ulang."
"Jadi semua yang berkaitan dengan persyaratan dan pencatatan biaya nikah telah di laksanakan oleh calon mempelai, maka untuk itu kepada calon mempelai laki-laki untuk menyerahkan mahar atau mas kawin kepada mempelai wanita atau yang mewakilinya, di persilahkan."
Danu pun segera menyerahkanย mas kawin yang telah di sepakati berdua dengan Ghanes tentunya. Yaitu sebuah cincin dan uang tunai.ย Dan mas kawin tersebut di terima langsung oleh Ghanes sendiri.
"Alhamdulilah mahar telah di terima oleh mempelai wanita. Selanjutnya akan di laksanakan ijab qabul, kepada Pak Alan sebagai Wali dari mempelai wanita di nikahkan sendiri atau di wakilkan Pak?"
Pak Alan menjawab dengan tegas dan lugas,
"Saya Alan sebagai wali dari Ghanes Anjani anak perempuan saya dengan ini mewakilkan prosesi ijab qobul kepada bapak penghulu, di karenakan saya grogi pak, takut salah dan malah mengganggu prosesi yang sakral ini, jadi kepada bapak penghulu di persilahkan. Terimakasih."
"Karena wali nikah mewakilkan kepada saya sebagai penghulu, maka saya terima penyerahan perwakilan ini dengan mengucap bismilahirohmanirohim."
Kemudian Pak Penghulu menjabat tangan Danu,
"Astagfirullohaladzim...Astagfirullohaladzim...Astagfirullohaladzim..., Ashaduallaillahaillalah Wa ashaduannamuhamadarasulullah,
Dengan cepat dan mantap Danu menjawab,
"Saya terima nikahnya Ghanes Anjani binti Alan Setiabudiย dengan mas kawin cincin emas 5 gram dan uang tunai satu juta rupiah dibayar tunai."
"Gimana saksi ? Sah? Sah?"
Serentak mereka menjawab dengan semangat, "Saaaaahhhh !!!"
Kemudian Danu memegang ubun-ubun Ghanes dan membaca doa bersama sama dengan Pak Penghulu ,
ุงููููููู ูู ุฅููููู ุฃูุณูุฃููููู ุฎูููุฑูููุง ููุฎูููุฑู ู ูุง ุฌูุจูููุชูููุง ุนููููููู ููุฃูุนููุฐู ุจููู ู ููู ุดูุฑููููุง ููู ููู ุดูุฑูู ู ูุง ุฌูุจูููุชูููุง ุนููููููู
Allaahumma innii as-aluka khayraha wa khayra maa jabaltahaa โalaihi wa aโuudzu bika min syarrihaa wa min syarri maa jabaltahaa โalaihi.
Ya Allah sesungguhnya aku memohon kebaikannya dan kebaikan apa yang Engkau ciptakan pada dirinya. Dan aku memohon perlindungan kepada-Mu dari keburukannya dan keburukan apa yang Engkau ciptakan pada dirinya.
"Aamiin." Mereka mengusapkan kedua telapak tangannya ke muka tanda mengakhiri doa.
Selanjutya membubuhkan tanda tangan pada buku kecil warna hijau dan merah yang telah di tempeli photo mereka berdua di halaman depan.
Orang-orangpun segera membubarkan diri sibuk dengan urusan mereka masing-masing, apalagi kalau bukan mempersiapkan jamuan sederhana ala-ala orang pegunungan.
Sedangkan Ghanes duduk berdua di ruang tengah dengan Danu menemani keluarga pihak laki-laki, namun Ghanes terlihat sangat gelisah, tolah-toleh karena sedari tadi dia tak menemukan ibunya sama sekali.
Danu yang melihat istrinya terus gelisah dengan suara berbisik ia bertanya,
__ADS_1
"Ada apa dek, nyariin siapa?"
"Ibuk dimana? Lihat ibuk ga?"
"Ga ada, sedari tadi aku juga ga melihat ibuk kok."
"Aku khawatir kalau ibuk kenapa-napa."
"Stttt berdoa aja yang baik-baik jnagan berfikiran negatif, ga baik itu. Ingat lo hukum pikiran, apa yang kamu pikirkan bisa saja menjadi kenyataan. Jadi pikirkan saja yang baik-baik."
"Hmmmmmmm......"
Tiba-tiba ada seseorang dari belakang nyariin Ghanes menanyakan sesuatu.
Ghanes menggunakan kesempatan ini untuk menanyakan keberadaan ibunya.
"Mbak, ibu di mana mbak, tau ga? Kok dari tadi ga kelihatan?" Tanya Ghanes dengan suara sangat halus dan pelan agar tak terdengar oleh orang lain.
"Ada di belakang, lagi nangis dari tadi, udah ga papa, ga usah dipikirin, bentar lagi ke depan kok setelah makan beberapa suap nasi dan minum air putih yang udah di doain sama Pak Sidiq barusan. Biarkan ibumu tenang dulu."
"Oh...." Jawab Ghanes pendek dengan muka pucat.
Benar apa yang di prediksinya , bahwa Bu Santi pasti akan teringat kembali dnegan Susan ketika ada acara beginian.
"Tuh, kamu tau dan lihat kan apa yang aku bilang kemarin. Ini tuh ga ngapa-ngapain, cuma acara gini doank, apalagi kalau bikin pesta , bisa pingsan ibukku. Tau kamu?" Kata Ghanes pada danu memaparkan apa yang di khawatirkan tentang ibunya kemarin yang sempat menjadi perdebatan sebelum pernikahan.
"Iya, aku tau, maaf ya soal kemarin, soalnya kemarin tuh yang ngotot bikin pesta ayah sama ibukku, bukan aku."
Jawab danu menjelaskan.
"Fiuuuhhh emosi lagi aku. Sudahlah." Jawab Ghanes seraya menyedot air mineral gelas di hadapannya yang ternyata adalah gelas ke 3 yang telah di habiskannya tanpa sadar.
Danu hanya tersenyum-senyum melihat istrinya dari samping.
"Akhirnya, jadi juga kuhabiskan sisa hidupku dengan dia, betapa menyenangkannya nanti hari-hariku bersamanya nanti. Ingin ku nikmati hasil karya tangannya di dapur, apa benar katanya i'ik bahwa ia pandai memasak? Dilihat dari gayanya yang pethakilan masak ia pintar mengolah makanan? heheheehehe. Lucu bnaget sih dia ini."
"Apa senyum-senyum?!" Tanya Ghanes pada suaminya yang baru beberapa saat menikahi dirinya ketika dia melihat Danu senyum-senyum sendiri sambil terus memperhatikan dirinya dari samping.
.
.
...
.
..
.
.
.
__ADS_1