
"Hahhahahahahaa" Mbak sri tergelak melihat Ghanes begitu kesalnya dengan ponselnya sendiri.
"Jiihhh mau gua bnanting inget kalo belinya pake duit, jadi sangat di sayangkan sekali."
"Sudahlah An, suruh kesini aja sekalian An, xixixixiixixixi."
"Tau akh mbak, males gua ngeladenin dia, orang dia begitu. Ga tau orang sibuk, dasar manusia aneh."
"Ya laki laki mah biasa begitu An, coba nanti kalau udah nikah baru deh keluar jurus ga pedulinya, aku rasa hampir tiap laki laki juga begitu."
"Ma Wanto juga begitu mbak?"
"Jelas iya donk. Makanya dulu di awal-awal nikah aku tuh sering bertengkar ya gara-gara itu, perubahan selama pacaran dan ketika sudah menikah tu jauh banget An, kan kita sebagai wanita tuh gampang baper ya, apa apa di bawa pikiran, jadi waktu itu aku mikirnya dia tuh udah ga sayang lagi gitu."
"Lalu sekarang?"
"Kalau sekarang mah, aku yang penting jatah bulanan ga telat, sama dia ga selingkuh aja dah cukup, ga ada lagi waktu mikirin cinta, kebanyakan mikir cinta kita kelaperan An."
"Hehehheeh iya juga sih, jadi menikah itu yang di butuhkan paling utama adalah pendewasaan berfikir ya?"
"Benar sekali, lain-lainnya menurutku nomor ke sekian sih, terkecuali kamu keluarga raja atau anaknya sultan, baru dech boleh ngomongin perasaan."
"Realistis aja ya ga sih."
"Tul, emang hidup mesti begitu An, harus realistis."
....................
Jam 10.30 tinggal beberapa orang saja yang terlihat mengobrol di ruang depan, tetangga dekat serta beberapa saudara yang masih asyik dengan kopi dan kue kue kecilnya.
Sedangkan dapur sudah mulai bersih dari piring kotor, satu persatu di cuci dan di tata pada bakul-bakul bambu agar air sisa cuciannya bisa tiris. Orang di pedesaan tidak akan rela membuang buang uangnya untuk membeli mesin pengering piring, apalagi jika harus berurusan dengan tagihan listrik yang melonjak, maka orang-orang pedesaan akan lebih menghindarinya.
Uang listrik bisa di gunakan untuk membeli tempe gembus yang bisa di goreng dan di nikmati panas-panas sambil ngopi di sore hari sepulang meladang.
Daerah ini sebenarnya jumlah penduduknya lumayan banyak, namun karena sebagian besar warganya merantau, jadi hanya hari hari tertentu saja yang ramai, contohnya di hari idul fitri. Sedangkan di hari biasa hanya tersisa para orang tua yang menikmati sisa umurnya di kampung halamannya.
Ghanes yang sudah mulai kehabisan tenaganya , mulai beranjak ke dalam kamar setelah Mbak Sri berjalan pulang. Lelah, tak di hiraukannya lagi ponselnya yang lampu indikatornya masih berkedip tanda ada beberapa notifikasi yang mestinya ia buka. Namun ia tak peduli lagi, malah menekan tombol power dan mematikan ponselnya, yang selanjutnya memejamkan mata dalam kegelapan kamar tidur.
Ghanes selalu tidur dalam gelap, karena matanya suka silau dengan lampu ketika ia bangun jika lampu kamar tak dimatikan. Dan Ghanes sangat membeci hal itu.
Barulah setelah dewasa ia tahu bahwa yang dilakukannya selama ini sudahlah benar, yaitu mematikan lampu ketika tidur, karena hal itu akan merangsang pertumbuhan sel melatonin yang dapat mencegah kanker.
***Keesokan Harinya, ***
*Brrrraaakkkk......bbbrrrraaaaaakkk.....bbbrraaaaakkkkk...... *
Pintu kamar Ghanes di gedor dengan keras dari luar.
"Mbak, bangun mbak, di cariin temenmu tu mbak di depan. Gua buka pintu ya."
Ghanes merentangkan tangannya , menarik seluruh otot-ototnya dengan sangat malas, dan menarik selimutnya makin tinggi, "Mmmmmmmgggghhhhh........ Masuk aja napa sih Ndraa... lu berisik dah."
Jeeegrrekk,,,,... Terdengar suara pintu terbuka.
"Mbak bangunlah mbak, ada yang nyariin tuh di depan mbak, lagian kamu mbak udah siang begini masih juga belum bangun mbak." Panggil Candra sambil menggoyang nggoyangkan badan Ghanes yang terbungkus selimut bulu warna merah bergambar Manchester United, bukan klub bola kesayangan, hanya iseng saja daripada membeli selimut warna bunga-bunga yang sangat di bencinya.
"Akkhhhh masih pagi juga, siapa sih?"
"Udah siang ini, Ga tau aku mbak, aku kayaknya belum pernah main ke sini dech mbak, motornya Viksion merah. ayo donk mbak bangun, ga sopan lo mbak membiarkan orang menunggu."
"Haaaaahhhh!!!! Viksion merah katamu? Ga mungkin dia kan?!"
"Siapa?" Tanya Candra heran.
"Shiit lah kenapa dia kesini?" Kata Ghanes kesal setengah mati karena tidurnya di ganggu. Dia segera membuka selimutnya dan turun dari ranjang, lalu melihat pergelangan tangannya.
"O,,, udah siang ternyata." Gumamnya baru sadar kalau ternyata jam di tangannya telah menunjukkan jam setengah sembilan pagi.
"Dibilangin dari tadi juga. Ini bukan pagi lagi mbak untuk ukuran orang bangun tidur."
"Syyuuuhhhhhhhhh........" Ghanes mengibaskan tangannya ke arah Candra tanda menyuruhnya diam.
Tanpa cuci muka dan gosok gigi , Ghanes langsung menuju ke ruang tamu untuk melihat siapa yang pagi buta telah menunggunya tanpa janjian lebih dulu.
Dengan muka masih belekan, Ghanes mengikat rambutnya dengan gelang spiral di tangannya sembari berjalan,
"Lah, elu kok udah sampek sini? Siapa juga yang ngasih tau kalau rumahku ada di sini? pagi-pagi pulak."
Dia tersenyum bahagia melihat kemunculan Ghanes yang menurutnya sangat imut meskipun belum mencuci mukanya sama sekali, "Baru bangun?" Tanya nya lembut.
"Ya iyalah baru bangun, lagian elu kenapa pagi pagi udah ada di sini?"
"Aku tadi sebenarnya sudah mengubungi kamu lo, tapi chat ku hanya centang satu, ku telpon ga di angkat, ya aku pikir langsung ke sini aja kali, mumpung kamu nya belum main keluar dengan yang lain, kan pasti masih sibuk bersih-bersih rumah kan setelah sibuk selametan tadi malam.? Hehehehhee."
Jawabnya sembari cengengesan tanpa dosa.
__ADS_1
Ghanes nyengir , baru teringat jika ponselnya di matikan sejak semalam.
"Nah, lalu darimana elu tahu rumah gua?" Tanya Ghanes bingung gimana Danu bisa tahu jalan ke rumahnya.
"Hehehehe ya tahu lah."
"Darimana? Ga mungkin dari i'ik kan?"
"Kok tahu?" Danu masih dengan tersenyum tanpa dosa.
"Ya tahu lah, kan beberapa tahun lalu i'ik ke sini naik bus bukan pake motor, jadi dia ga mungkin ingat jalurnya, lagian waktu itu dia juga mabok parah, ga mungkin lah dia tahu."
"Hehehee kan sebenarnya aku punya paman yang suka touring juga, nah aku tanya daerah sini, dan dia ternyata tahu SD di tikungan itu lo, aku tanya namamu di toko depan SD itu, nah dia yang ngasih tau. Hehehhee."
"Mas Ari?" Tanya Ghanes lagi.
"Ya mana aku tahu nama mas penjaga tokonya siapa, aku beli rokok sekalian nanya rumahmu mana, dan ternyata dia tahu , ya sudah,, masak aku kenalan dulu sama dia. Ada ada aja sih."
Ghanes garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal sama sekali, "Eh, iya juga sih yak."
"Ya udah, lo tungguin gua bentar, gua mau cuci muka dulu."
Lagi lagi Danu tersenyum lembut,"Iya silahkan, udah kelihatan kok kalau belum cuci muka, rambut acak-acakan begitu."
"Bodo amat gua. Ga suka silahkan pulang." Kata Ghanes ketus.
"Aku tungguin."
"Ya udah." Ghanes berlalu pergi, melangkah ke belakang dengan sangat cuex.
Sementara Ghanes di belakang mengurus dirinya, Candra ke ruang tamu menemui Danu.
"Mas, lain kali ga usah kaget ya, Mbak Ghanes memang begitu orangnya mas, sedikit galak dan ketus begitu."
Kata Candra begitu ia duduk di depan Danu.
"Akh,, ga papa aku malah suka yang unik unik begitu, lucu malah, btw kenapa kemarin ga jadi nikah? bukannya katanya mau nikah ya? Aku denger ini dari i'ik."
"mbak i'ik? Temennya Mbak Anes itu?"
"Iya, sebenarnya ga sengaja juga, waktu aku main sama kakaknya i'ik, terus i'ik tuh ngecengin aku, katanya Noh main sono mumpung idolamu ga jadi nikah."
"Iya mas, Nathan yang ngebatalin . Tapi syukurlah kalau ga jadi."
"Ya aku ga suka sama dia mas, belagu orangnya, juga masih ingusan begitu, masak sama aku umurnya tua an aku mas."
"Emang iya ya?"
"Lha sama aku beda 2 tahun lebih e mas, ya kalau pikirannya udah dewasa sih ga papa juga, tapi dari gaya bicaranya umurnya pun masih sama dengan otaknya. Aku ga tau gimana bisa Mbak Anes suka sama bocil kaya begitu. Padahal biasanya Mbak Anes tuh sangat menyukai laki-laki yang dewasa."
Danu hanya tersenyum mendengar curhatan dari Candra yang menggebu nggebu.
"Anggap aja bukan jodoh."
"Iya sih mas aku bersyukur sih, Mbak Anes ga jadi sama Nathan."
"Aku juga bersyukur, jadi aku masih punya kesempatan buat dia." Batin Danu sambil tersenyum lebar.
"Awas ya kalian ghibahin gua !!!" Tiba-tiba terdengar suara yang lumayan keras dari ruangan sebelah yang berhubungan langsung dengan ruang tamu yaitu ruangan keluarga yang masih di gelar tikar di atasnya karena sisa semalam belum semuanya di gulung.
"Yah,,, panjang umur dia." Nathan meledek kakanya yang muncul dari belakang dengan nampan kecil berisi 2 cangkir minuman, satu kopi dan satu teh.
Ghanes meletakkan minuman tersebut di atas meja, Kopi nya untuk Danu dan Teh nya untuk Candra, "Minum yang benar , cepet habisin, lalu kalian berdua bantuin gua angkat-angkat meja di belakang, beberapa anterin ke rumah pak RT."
"Mbbaaakkkkk !!!!" Candra berteriak tanda tak terima sampai hampir tersedak.
Ghanes melototkan matanya tajam "Apa??!!!"
"Masak Mas nya ini juga kamu suruh suruh mbak, kan dia kesini bukan mau jadi pesuruhmu mbak, aku belum tahu namanya lo padahal."
Ghanes tersenyum licik , "Salah sendiri kenapa main ke sini di saat yang sangat tepat. Lagian elu dah nggibah sana sini salah sendiri ga kenalan satu sama lain, dasar sama-sama cengo nya kalian."
Danu dan Candra saling pandang sambil geleng gelengkan kepalanya lalu tertawa bersama...
"Hahahhahahahahaahaha"
"Tu kan mas bener apa kataku barusan, hahhahhahaha." Candra tertawa geli.
"Iya, iya .... sudah sudah habis ini aku bantuin kalian deh buat beres-beres, ga papa mumpung aku bisa ke sini. Ntar kalau ada waktu kita main bentar ya." Kata Danu sambil memberikan kode mata pada Ghanes.
"Liat ntar aja dech."Jawab Ghanes cuex.
Danu pasrah, "Ya udah, oke."
"Lo lagi gabut kan ya, pagi-pagi udah main ke sini, emang elu ga kerja?" Tanya Ghanes sinis.
__ADS_1
"Kan hari minggu neng, adikmu juga ga kerja bukan?!"
Ghanes menatap Candra dengan tatapan penuh tanya.
"Sepertinya ada yang perlu di benahi dari otakmu deh mbak, lupa jam, lupa hari, bentar lagi bakalan lupa dengan nama sendiri. Ntar bawa keluar aja mas, aku risi kalau mbak Anes di rumah terus dengan kebegoannya dia kaya gitu."
Candra menggerutu dengan kesal melihat kakak perempuannya yang biasanya cerdas menjadi orang bego dengan seketika hanya karena permainan laki-laki.
"Makanya cukup mencintai dengan sepenuh hati jangan sepeuh jiwa, kalau putus cukuplah sakit hati ga sampai sakit jiwa." Kata Candra masih terus meledek kaka nya.
Ghanes planga plongo keheranan, "Siapa yang sakit jiwa Ndra?" tanya nya bego.
"Haaaahhhh????????" Danu dan Candra saling pandang lalu mereka berdua menggeleng gelengkan kepalanya.
Candra menyodorkan tehnya yang telah berkurang separuh pada Ghanes,
"Coba minum tehku deh mbak, jangan-jangan rasanya bisa jadi buah mangga."
Ghanes dengan gobloknya menerima cangkir yang di sodorkan Candra, lalu menyesap minuman di dalamnya.
"Rasanya teh kok." kata Ghanes kemudian .
"Manis?" Candra menatap kakanya sambil tersenyum.
"Manis juga. Kenapa emang?" Tanya Ghanes bego.
Candra tertawa, "Ya udah."
"Jangan bilang teh tadi adalah bekasmu ya Ndra."
"Emang." jawab candra cuek.
"Durhaka lu !"
"Salah sendiri goblok. Hahhahahaahaha..."
Danu tertawa melihat kakak beradik ini, kekonyolan mereka yang tak ia dapatkan di rumah. Ayahnya yang terlalu sibuk bekerja, dan juga ibunya. Bahkan ia lupa bagaimana perlakuan orang tuanya terhadapnya dulu, karena seingat Danu ia sudah hidup serumah dengan neneknya sedari kecil. Meskipun orang tuanya masih hidup sehat, namun seingatnya dulu, dalam 1 minggu ia hanya bertemu dengan orang tuanya 1 sampai 2x saja.
Padahal ia adalah anak tunggal di keluarganya.
Danu terdiam mengingat masa kecilnya , yang bahkan ia tak ingat apakah ia dulu diberi ASI atau tidak, karena ia baru pindah ikut ke rumah orang tuanya setelah ia duduk di kelas 2 SMP.
Dia tak menginginkan berlimpah harta, namun ia ingin merasakan punya orangtua yang membuatkannya sarapan ketika berangkat ke sekolah, memarahinya ketika ia berbuat salah.
Namun hal itu sama sekali tak di dapati dalam hidupnya hingga kini.
Dan meskipun kini ia hidup dengan kedua orangtuanya, ia dan orangtuanya terbilang tidak begitu dekat, tak pernah ada candaan di dalam rumah, atau bercengkerama di depan televisi.
Ayahnya setelah pulang kerja dia akan sibuk dengan dirinya sendiri, dengan pancingnya atau bahkan dengan tontonan wayangnya.
Ibunya yang sekarang malah tak mau pulang, dia ada di negeri seberang hampir 5 tahun belum pulang mungkin karena terlalu nyaman bekerja di sana, dan hanya 3 bulan sekali telepon ke ponselnya.
"Mas,,,, mas,,,,," Tiba tiba panggilan dari Candra membuyarkan lamunannya.
"Eh, maaf maaf,, hehehheee..."
"Ada apa mas?"
"Akhhh ga papa kok, ayok, jadi ga di bantuin?"
Tiba tiba Ghanes menjawab dengan keras."Jadi ! siapa bilang ga jadi, pingin gua timpuk pake sendal satu satu?"
"Mas,,, ayok mas,,, awas singa nya lagi lapar, xixiixixixxiii." Candra menarik tangan Danu sambil cekikikan.
Danu tersenyum lebar melihat kekonyolan sua bersaudara ini, mungkin saja dulu ketika kakak sulungnya masih ada bisa jauh lebih heboh dari ini, sambil berjalan mengekori calon adik nya ***(cie calon),***dia membatin,
"Sepertinya hidupku bakal bahagia jika aku kenal lebih dekat dengan keluarga ini, betapa indahnya punya saudara yang bisa di ajak berantem, betapa bahagianya punya teman yang bisa di ajak ngobrol setiap hari dengan obrolan obrolan yang ga penting, betapa bahagianya punya keluarga yang utuh dan bisa menikmati makan bersama di satu meja. Akhhh betapa indahnya dunia ini Tuhaannn...."
.
.
.
.
.
.
.
*.
*
__ADS_1