Pengorbananku Untuk Ibu

Pengorbananku Untuk Ibu
Mas Susan


__ADS_3

Karena hari harinya yang sangat sibuk, Anes terlupa untuk mengecek keadaan rumah.


Andra juga sudah 2 hari ga kasih kabar apapun.


"Ya ... mudah mudahan semuanya baik." Kata Anes dalam hatinya sambil tersenyum.


"Ntar aja deh habis maghrib telpon rumah. Sapa tau ada kabar bagus. Kebiasaan Andra tuh kalau ga di minta, suka ga peduli. Ngasih kabar apa kek. Diem diem aja deh. cxcxcx." Ucap Anes pelan sambil terus menyelesaikan aktifitasnya satu persatu.


Waktu menunjukkan jam 18.30 , Anes teringat niatnya pingin telpon rumah, Segera ia merogoh ponselnya di saku celana bagian belakang.


Tuuuttt ...ttuuuuttt tuuuttttt


Sepi,,,


Ga ada yang angkat.


"Lah ini Andra kemana pulak? tumben amat." Kata Anes sendirian.


Anespun beralih ke nomor ponsel Bapaknya.


Tuutttt....tuuuu...


"Asalamualaikum, pak,,,, "


"Waalaikumsalam..."


"Bapak lagi dimana ? kok rame pak?"


"Di rumah."


"Eh ? bapak kenapa ?" Batin Anes.


"Kok rame rame. Emang ada apa Pak?" Tanya Anes.


"Aku Ga bisa ngomong, biar Andra aja. Ndra,, nih.. ngomong ma Mbak Anes."


Lalu telpon berpindah tangan.


"Ya Mbak ?" sapa Andra di seberang sana.


"Dimana Ndra?" Tanya Anes masih heran karena mendengar suara berisik orang saling bercakap cakap.


"Dirumah." Jawab Andra singkat.


"Kok rame?" Tanya Anes lagi.


"Eee..... Mbak Anes lagi ngapain sekarang?" Tanya Andra balik.


"Ga ngapa ngapain kok, lagi istirahat sebelum mandi."


"Oke, eeeemmmm...Mbak, Mbak Anes jangan kaget ya."


"Ada apa sih Ndra ?" Tanya Anes udah mulai emosi .


"Mbak Anes yang sabar, semua orang juga pasti pergi kok, tinggal nunggu giliran aja." Jawab Andra berbelit belit.


"Apaan sih Ndra ? ibuk mana?"


"Ibuk belum bisa di ajak ngomong Mbak, Ibuk masih syok karena Mas Susan ga ada."

__ADS_1


. . . . . .....


Hening____________________


"Mbak ?" Panggil Anes.


Namun Anes tak mampu lagi menjawab, karena dia sedang membenamkan wajahnya pada bantal, mencoba menahan tangisnya .


Anes masih berusaha menahan agar suara isak tangisnya ga terdengar oleh siapapun termasuk penghuni rumah ia tinggal saat ini.


"Nangislah lah mbak, sekuatmu, lepaskan saja semuanya, namun jangan lama lama, semua juga kehilangan. Apalagi ibuk. Jangan perberat pikiran ibuk dengan tangisanmu Mbak. Tetaplah sehat dan kuat." Suara Andra terdengar sangat jelas di seberang telpon menguatkan kakak perempuannya.


Anes masih diam tengkurap di bantal kecilnya.


Sambil terus mengetatkan tekanan bantal di wajahnya.


"Hiiikksskkk,,,,,hhiikkksssxxx,,, hhiiikkkxx" Namun masih Terdengar suara isak tangis yang lemah dari Anes.


"Oke kalau gitu mbak, saya tutup dulu ya, yang penting mbak udah tau kan. Nanti kalau mbak Anes udah sedikit tenang, bisa telpon lagi. Di sini sedang sibuk soalnya. Penjelasan yang lain lain bisa di sambung nanti ya. Asalamualaikum." Lanjut Andra sambil menutup telponnya.


*Tuuttt tuuutt tuuutttt.....


"Ya Allah kenapa Engkau ambil begitu cepat kakakku ? Aku masih rindu kebersamaan kami, cita cita kami memperbesar bengkel itu pupus sudah. Bayangan kami tentang kesuksesan itu hilang begitu saja. Hiikksss.... hiikksss... "


"Maafkan aku Tuhan... maaf jika selama ini aku kurang bersyukur dengan kebersamaan kami, Mas,, semoga kamu tenang di sana, mendapatkan tempat yang baik, tetep sehat dan bahagia. Rabb ku, terimalah kakakmu di tempat terbaikmu*."


Gejolak hatinya Anes yang terluka , serasa ingin pulang, namun percuma, cita citanya yang tiba tiba hilang begitu saja.


Sambil memegamgi cincin di jari manisnya, Anes masih saja termenung dengan isak tangisnya .


Mengingat betapa lucu dan konyolnya mereka bertiga ketika bersama.


Betapa ramainya rumah reyot mereka ketika sedang berkumpul di depan perapian.


Suasana menggelikan itu Anes belum siap kehilangannya.


............


Di Indonesia, tepatnya di rumah Pak Alan, suasana ramai, penuh dengan tetangga dan saudara yang datang melawat Almarhum Susan.


Pak Alan dengan mata kemerahan dan raut wajah lesu masih berusaha menunjukkan senyuman kepada pelawat yang datang dan masih menyalami mereka satu persatu.


Andra menjadi Dewa penenang keluarganya. Dia pula yang jalan ke sana kemari mencari barang barang di butuhkan, termasuk keperluan buat tahlilan hari hari berikutnya.


Bu Santi, jangan di tanya beliau di mana.


Beliau terbaring tak berdaya di kamarnya, di tungguin oleh beberapa sanak saudaranya.


Jangankan makan dan minum, membuka mata saja tidak sama sekali.


Rumah Pak Alan sangatlah ramai, karena Susan dikenal sebagai orang yang inovatif, ramah dan penolong. Mereka sangat menyayangkan kepergian Susan yang secepat itu.


Kepergian Susan di rasa sangatlah berat bagi orang orang yang pernah mengenalnya.


"Mbak Santi belum membuka mata ?" Tanya seorang ibu paruh baya pada saudara Bu Santi yang duduk di tepi ranjang.


"Belum." Jawab orang tersebut singkat sambil menunduk sendu.


"Ghanes belum telpon ?" Tanya ibu itu lagi.

__ADS_1


"Sudah, tadi sudah ngobrol sama Candra, tapi ga lama, pasti dah tau lah... mana mungkin Ghanes belum tau, secara mereka bertiga dekat sekali." Jawab nya menegaskan.


"iya juga sih." Kata orang itu kemudian membenarkan. Lalu beranjak pergi membantu ibu ibu lainnya di dapur.


Rencana pemandian jenasah di lakukan segera. Namun pemakaman di setujui akan di lakukan ke esokan harinya, karena letak pemakaman umum yang agak jauh dari rumah.


Malam semakin larut, masing masing orang mulai di serang kantuk, namun berbeda dengan keluarga Pak Alan, mereka semua sedang berjaga malam, biasa hidup di kampung kalau ada jenasah yang di inapkan maka rumah tidak boleh sepi atau di tinggal tidur.


Mereka tadarusan Al-Quran dengan suara yang tidak terlalu keras sampai pagi.


Banyak juga ibu ibu yang takut mitos ketika ada orang meninggal.


Malam yang kaku, kelu pun masih di rasakan Anes di dalam kesendiriannya.


Dia masih belum kuat untuk berbicara drngan orang rumah lagi. Takut tangisnya ga bisa di tahan. Takut menjadi tambahan beban buat keluarganya.


Dia hanya terdiam di kamarnya dengat mata membulat sempurna tanda tak ada sedikitpun kantuk di kepalanya.


Entah kenapa pikirannya yang terlalu kalut membuat matanya begitu segar tak ada kantuk sedikitpun. Yang di rasakannya hanyalah pening di kepala. Rasa lapar dan haus pun menghilang entah kemana.


Tak ada headset yang nangkring di kedua telinganya seperti biasa. Sungguh sungguh sepi dan diam dalam kesendirian.


*Ddrrrttt...ddrrrttt....dddrrtttt.....


......... Dddrrttt........dddrrrtttt.....ddrrttttt


dddrrtttt......ddrrtttt....dddrrrtttt*.....


Getaran ponsel pun Anes tuli untuk mendengarnya. Dia bahkan tak melirik siapa nama yang tertera di atas layar ponselnya.


Matanya tetap lurus memandang ke depan.


Kosong.......


Diam......


Sepi........


*Dddrrttttt....... dddrrtttttt.........


...........Ddrrrttt...ddrrrttt....dddrrtttt.....


......... Dddrrttt........dddrrrtttt.....ddrrttttt


dddrrtttt......ddrrtttt....dddrrrtttt*.....


.


"Ni anak kemana sih ? tumben tumbenan jam segini ga ngangkat telpon.."


Gerutu seseorang yang tsk lain adalah Didim, yang namanya tertera sebagai Ayah di layar ponselnya Anes. .


.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2