
Seminggu sudah mereka menjadi pasangan suami istri. Saat ini mereka tinggal di rumah ayahnya Danu, karena berita dari ibunya Danu, beliau baru akan pulang di bulan Pebruari tahun depan. So,mau ga mau mereka berdua harus merajut hidup baru di rumah orangtua mereka.
Jika banyak cerita di televisi yang menggambarkan kehidupan manusia yang glamour dengan segala flexingnya, maka di dunia nyata sama sekali tak seperti itu.
Meskipun keluarga Danu merupakan keluarga yang di atas rata-rata, namun ternyata mereka tak memiliki ART, juga tak ada satpam di depan rumah mereka.
Ayahnya Danu bilang, "Buat apa sih satpam, orang rumah kita juga mepet dengan jalan raya, mepet pula dengan saudara dan tetangga, orang kamu kentut aja tetanggamu denger kok."
Dan memang pada kenyataannya, rumah ayahnya Danu ini di area yang sangat padat penduduk, rumah berjajar saling himpit himpitan tembok pembatas, bukan perumahan namun pemukiman warga biasa yang sangat padat. Bahkan tepat di depan rumah ini, di seberang jalan pun ada toko kelontong yang menyediakan seluruh kebutuhan sehari-hari para penghuni rumah tangga.
Beruntungnya di samping rumah ini ada jalan penghubung kelurahan yang membentang di sepanjang aliran sungai yang masih terjaga bebatuan alaminya, Meskipun di pinggiran kota, namun sungainya masih mengalirkan air yang lumayan jernih dari salah satu waduk terbesar di ASEAN pada jamannya.
Jadi udara segar masih bisa mengalir ke dalam rumah, ya lumayanlah jika di bandingkan dengan para tetangganya yang harus berhimpitan tembok belakang dan samping, hanya ada udara dari pagar depan saja.
Di pagi yang sangat hangat, Ghanes tersenyum lebar kepada suaminya yang baru saja keluar dari kamar mandi. Dia masih berfikir positif sebelum tiba-tiba saudara ipar Danu tiba-tiba datang di tengah ia baru saja menggoreng ikan bandeng permintaana Danu.
Dari balik pinntu dapur yang sedikit terbuka, tiba-tiba muncul seorang wanita paruh baya menyapa Ghanes dengan senyum misterius, antara ramah dan bermuka dua,
"Wuuihhh pagi-pagi masak apa nih?"
Ghanes tentu saja terkejut dengan kedatangan wanita ini yang tiba-tiba.
"Eh mbak, silahkan masuk." Sambut Ghanes seramah mungkin sambil memasukkan ikan terakhirnya ke dalam wajan penggorengan.
"Ga , aku ga masuk, aku cuma mau lihat aja kamu masak apa hari ini."
Lanjutnya sambil melongokkan kepalanya ke dalam rumah.
"Ini lo mbak, nggoreng ikan bandeng."Jawab Ghanes singkat.
"Oh, kalau dulu Dewi istrinya Danu yang lama, dia ga pernah tuh masak di enak-enakin begitu. Dia juga terbiasa beli soalnya, jadi lebih simple."
Dalam hati Ghanes, "Brengsex nih oarng, pagi-pagi sibuk amat dengan urusan dapur tetangga."
Namun dengan tersenyum Ghanes menyahuti, "Aku hanya menuruti apa yang di mau Danu saja kok mbak, lagian uang juga ada kok buat belanja."
"Kamu pinter masak ya, tapi ingat lo harus hemat terhadap uang."
"Hehhehehehehe biasa aja kok mbak, ga pinter-pinter amat. Soal uang juga jangan khawatir mbak, asal ga ngutang dari tetangga aja sih."
Jawab Ghanes dengan hati mulai dongkol.
"Ternyata ga di desa ga di kota, manusia sama aja, yaitu tukang bacot, sibuk ngurusin urusan dapurnya orang lain, mana dia ngomongin mantan yang gua ga kenal pulak. Terus apa urusannya ma gua? Gua harus niru kebiasaannya dia gitu? Kalau emang begitu kenapa mereka harus bercerai? Ya kali gua harus jadi bayang-bayang orang lain. Resex bener ni wanita." Ghanes diam dengan gerutuan di dalam hatinya yang begitu panjang.
"Ga kerja mbak?" Tanya Ghanes memancing.
"Ya kerja lah, ni mau berangkat. Lha kamu enak donk, ga usah kerja juga makan hidupmu bakal terpenuhi, lha ayah dan suamimu kaya."
"Lha terus dulu kenapa mbak ga nikah ma orang kaya aja mbak?" Tanya Ghanes memancing di air yang mulai keruh.
__ADS_1
"Dapetnya dia, meskipun ga kaya tapi kan PNS , jadi bisa dapat pensiunan."
"PNS di mana mbak?"
"Di pendopo pemda, tukang bersih-bersih, tapi mereka semua di angkat jadi PNS lo."
Ghanes mencoba membinarkan matanya yang bulat agar terlihat seperti terkagum kagum dengan apa yang baru saja di dengarnya, "Waaaahh keren donk mbak kalau begitu, bagus donk."
Wanita ini tersenyum lebar, "Ya begitulah kondisinya, lumayan jika di bandingkan dengan orang kebanyakan."
"Bersyukur donk mbak."
"Tentu. Oh ya aku mau berangkat kerja ya. Ingat , kamu kalau makan ga perlu di enak-enakin, harus hemat."
"Siap mbak, makasih ya sudah mampir ke rumah."
*"Untung dia sudah pergi, ganggu orang aja sih." *
Ghanes menagapa tak terkejut dengan apa yang di katakan saudara Danu barusan, adalah karena Ghanes pernah di ceritain Danu tentang kehidupan orang-orang di sekitarnya, termasuk tetangga dan saudara-saudaranya.
Banyak yang menjadi PNS di pemda dengan gaji UMR . Gaji yang sangat kecil. Dan mereka pun rata-rata telah memasukkan SK nya ke bank.
Tetangga dan saudara-saudara nya ini terbiasa memasukkan SK ke bank untuk mendapatkan uang. Jadi biasanya gaji bulanan mereka aka langsung di potong tiap bulannya. Bahkan ada yang tiap bulan hanya menerima 300.000 rupiah saja.
Danu juga menjelaskan, jika kehidupan di lingkungannya mungkin akan sangat jauh berbeda dengan pola pikir Ghanes . Mereka adalah jiwa-jiwa sosialita dompet duafa.
"Kamu nanti ga usah terlalu kagum dengan apa yang di bicarakan orang, kadang apa yang mereka bicarakan itu banyak yang masih berupa khayalan belaka. Atau seringkali yang mereka pamerkan itu adalah hasil dari hutang. Jadi anggaplah itu soal yang biasa saja."
Sedangkan ibunya Danu pun setiap kali telfon juga selalu mengingatkan Ghanes untuk jangan sering-sering nongkrong di tetangga, karena tetangga dan saudara-saudara mereka itu mulutnya ember semua, mereka hobi nggosip, dan ga bisa jaga rahasia. Jadi lebih baik jika Ghanes ga terlalu berbaur dengan mereka jika ga ada kepentingan.
"Di dekat rumah itu selain tetangga, mereka adalah saudara-saudara ayahmu, dan mereka rata-rata resex, ember, ga ada yang bisa di percaya, jadi usahakan jangan pernah curhat dengan mereka."
Kata ibunya Danu memperingatkan Ghanes melalui ponsel.
"Kapan ibuk pulang?"
"Nanti lah bulan pebruari kalau jadi."
"Kok kalau jadi sih buk, ga kasian sama bapak apa?"
"Ya sebenarnya kasian sih, tapi di rumah juga kadang-kadang pusing dengan semua tetangga sih, belum lagi harus ngatur keuangan yang cuma seuprit tapi harus di bagi-bagi dengan semua kebutuhan, kan kalau di sini ga perlu mikirin kondangan dan lain-lain." Jawab ibunya Danu sembari tertawa kecil.
Pikir Ghanes, "Bener juga sih, di luar negeri lebih enak, tepatnya adalah pikiran lebih relax jika di bandingkan dengan di indonesia."
..............
Baru juga Ghanes lega karena saudara nya pergi, jalan ke ruang tamu mau ngambil gelas bekas minum kopi ayahnya tadi pagi, di depan rumah ada beberapa emak-emak yang sibuk membicarakan dirinya.
"Iya, dia tuh ga pernah keluar rumah ke tetangga atau ke saudara-saudaranya, di rumah mulu dia."
__ADS_1
"Diihhh ga mau nongkrong ke tetangga kaya orang kaya aja sombongnya."
"Biar putih bersih kaya Dewi dulu kali, takut kalah saing mungkin."
"Mungkin juga begitu, lagian ngapain sih di rumah terus, keluar bentar jugaga bakalan bikin duitnya habis kan?!"
Kasak kusuk di depan rumah membuat Ghanes menggelengkan kepalanya dengan keras, tanda ia sangat tak mengerti dengan mereka ini.
"Kenapa sih hobi banget bergosip di pagi hari? Emang dengan bergosip begitu hidup mereka jadi bahagia?"
Tiba-tiba Danu mnegejutkan Ghanes dari belakang, "Ada apa dek?"
"Jiihhh tuh tetanggamu, pagi-pagi dah nggosip aja, kaya gitu tuh anak-anak di rumahnya udah kenyang belum sih?"
"Biarin aja, yang penting kamu ga iut nimbrung dengan mereka, jangan di pikirin ya." Kata Danu menepuk nepuk pundak Ghanes berusaha menenangkannya.
"Aku mau kerja aja dech mas. Pusing di rumah kalau tiap hari dengar orang bergosip."
"Ayah ga akan ngijinin dek kalau kamu kerja."
"Lah,, suamiku itu kamu atau ayahmu sih, yang penting kan ijin nya dari kamu bukan dari ayahmu, gimana sih."
"Ya udah,,, terus kamu mau kerja apa? Di mana?''
"Kemarin ada yang nawarin aku di konveksi, kan aku dulu sekolahnya di tata busana, jadi aku rasa aku mudah beradaptasi di sana, selain itu aku kan juga sebelum nikah kerja juga di rumahnya Mbak Sar kan, setidaknya sudah tahu lah dikit-didkit."
"Siapa yang nawarin?"
"Keponakanmu tuh, Mbak Reni."
"Oh,,, Reni? Ya dia memnag saudara jauh dari ayah sih, panggil aja mbak."
"Ya udahlah kalau kamu maunya gitu, daripada kamu marah-marah terus di rumah, stress nanti. Biar aku yang ngomong sama ayah."
***CUP !!***Ghanes mencium pipi suaminya singkat lalu berjalan ke belakang kembali ke dapur.
Danu masih berdiri dengan tegang memegangi pipinya bekas di cium istrinya sambil tersenyum senyum dengan muka merah tomat,
"Mmmmmm sarapan yang nikmat."
.
.
.
.
..
__ADS_1
.