Pengorbananku Untuk Ibu

Pengorbananku Untuk Ibu
Kotornya tanganku


__ADS_3

"Mana yang katanya sakit, perasaan perutku cuma begah aja ga sampe sakui kok. Dokter itu penipu. " Gerutu Anes mengingat ingat perkataan dokter waktu itu.


19.00


Di kamarnya Anes membuka laci meja dan meraih dua butir obat yang akan di konsumsi nya saat ini tepat 3 hari setelah ia minum obat di klinik tersebut.


"Mana ? ga ada apa apa tuh." gumam Anes sendirian setelah memasukkan pil tersebut pada mulutnya dan menelannya.


Namun Tidak !


Sejam kemudian Anes mulai merasakan perutnya melilit dan nyeri yang sangat hebat, serta sakit di sekujur pinggang nya.


"Mmmmmhhgg mulai nih,, kuat Nes,, kuat." Ucapnya menyemangati dirinya sendiri.


Anes terus berusaha menahan sakit perutnya yang lumayan hebat, tak seperti nyeri haid yang pernah ia alami sebelumnya, ini rasanya 20 kali lipat lebih sakit. Punggungnya seperti di tusuk tusuk pisau Bushcraft. Sakitnya seperti tersangkut gerigi kecilnya, ketarik tarik seperti mulut ikan yang kena mata kail.


Anes menyandarkan punggungnya pada tembok yang ia ganjal dengan bantal. Namun makin lama makin sakit. Makin ngilu. Rasa tusukan makin menghujam ke dalam tulang belakangnya.


"Ssssss...sshhhhhh.......Tuhan, jika Kau mau ambil nyawaku jangan sekarang Tuhan, kumohon, kasihani ibukku yang belum sehat, Ibukku ga mungkin kuat kehilangan anaknya untuk yang ke dua kali." Kata Anes dengan rintihan bergetar dan tubuhnya makin lemas.


Tiba tiba ia merasakan seperti rasa ingin kencing, dengan merangkak , ia pergi ke kamar mandi, melepas celananya, lalu duduk di lantai dan bersandar pada tembok kamar mandi.


"Sss...sshhhh aku ga ku...aatt..."


Rintih nya perlahan sambil mengeluarkan air seninya.


Namun ia tak melihat apa apa, bukan karena air kencingnya ga ada, tapi karena gelap, ia tak melihat apapun lagi, namun masih di rasakannya ia mengeluarkan air kencing dengan sangat deras.


Terasa lega sekali di perut.


,,,,,,,,,, ,,,,,,,,,,,


"Haaahh !! apa ini kok darah semua ! "Teriak Anes kaget bangun dari tidurnya.


Ia tidur di lantai kamar mandi yang dingin dengan tak memakai celana.


"Kok gua ketiduran sih ?" Sambil melihat jam di pergelangan tangan kirinya. Sambil mengerjap ngerjapkan kedua matanya karena masih kebingungan dengan apa yang terjadi.


Kenapa ia tidur di lantai , dan kenapa banyak sekali darah keluar dari pangkal pahanya.


"Jam 9 ???" gumamnya bingung bertanya pada dirinya sendiri.


Dilihatnya sekali lagi. Masih sama Yaitu jam 9.


"Berarti gua tadi pingsan ? satu jam ? Busyet." Ocehnya terus masih dalam kebingungan.


"Eh, mungkin iya ya,, gua tadi masuk sepertinya jam 8, lalu ga mungkin juga gua sengaja tidur di lantai kamar mandi." Ucapnya sambil terus mengingat ingat.


"Eh apa ini ?" Tanya nya pada dirinya sendiri setelah melihat segumpal darah, bukan persis seperti darah, namun merah pucat dengan sedikit bercak keputihan mirip paru yang masih mentah. Gumpalan ini tak lagi utuh, namun terbelah jadi dua, sedikit lebih kenyal dari darah beku. Besarnya sebesar satu ruas jari kelingkingnya terbagi dua.


Tesss....teesss......tesss....

__ADS_1


"Kamu keluar nak ?" Tanya nya pelan sambil meraba raba meraih dua gumpalan kecil itu, karena matanya sudah kabur tak bisa melihat dengan jelas, tertutup dengan bendungan air yang terus mengalir dengan deras.


Segera ia angkat ke wastafel, lalu di cucinya perlahan Sambil membaca Alfatihah.


"Entahlah ini benar atau salah, gua ga tau." Kata suara dalam hatinya , karena ga tau apa yang harus ia baca.


Sekaligus Anes membersihkan sisa sisa darah di sepanjang lantai kamar mandi dengan sisa sisa tenaganya yang masih lemah,dilihat dari gerak tangannya yang sangat lamban.


Dengan tenaganya yg masih tersisa ia segera mandi keramas sambil duduk di atas kloset, karena kakinya sangatlah lemas.


Mandi sekedarnya asalkan syarat terpenuhi.


Ia membawa gumpalan itu keluar di atas tangannya dan membawanya ke kamar, dengan rambut yang masih basah, ia membacakan yasin tahlil untuk darah itu.


Tangan kanan nya memegang buku yasin, tangan kirinya memegang sapu tangan untuk mengusap air mata yang tak berhenti mengalir.


Sesekali ia mengusap ingusnya yang ikutan keluar dari kedua lubang hidungnya.


Darah itu ia letakkan di atas kain putih yang ia potong kemarin dari mukenanya, ia letakkan di atas meja tepat di depan ia duduk saat ini.


Selesai membaca yasin, ia menutup kain putih itu bagai permen rasa lemon. Dan mengikatnya di kedua ujungnya dengan serpihan kain yang lebih kecil.


"Maafkan aku Rahma, ingat namamu adalah Rahma Damasya. Aku yakin kamu adalah perempuan.


Tidurlah, sampaikan pada Tuhan bahwa ibumu ini terpaksa melakukannya. Maafkan aku nak."


Sembari Masih terus di usapkannya sapu tangan pada kedua matanya.


Besok pagi pagi buta ia akan pergi ke taman dan akan menguburkan kotak tersebut di bawah pohon di sebuah pojokkan taman tersebut.


Ia pun mulai merebahkan tubuhnya di atas ranjang , namun dalam pandangan matanya, tangannya kotor penuh darah, Anes terus menerus mengusapkan kedua tangannya pada kaos yang ia pakai, namun hasilnya nihil. Darah itu masih ada dan makin banyak.


"Hhkkssss... hkkkssss kenapa darah ini makin banyak, kenapa tanganku kotor sekali?" Tanyanya kebingungan.


Ia lari ke kamar mandi di cucinya tangan itu berulang kali, namun nihil, darah terus memenuhi semua telapak tangannya.


"Kenapa ga ilang ilang?" Tanyanya masih kebingungan.


Di ambilnya handuk lalu dibungkus kedua tangannya menggunakan handuk itu, ia lalu tersenyum sedikit tenang, karena tak lagi melihat tangannya yang penuh darah.


"Nanti kan bisa meresap ke handuk ini kan." Gumamnya .


Namun harapannya sia sia, karena handuknya tiba tiba terlepas dan Anes kembali melihat tangannya kemerahan penuh darah.


Anes makin marah, bingung, di gosok gosokkannya kedua tangannya pada kusen ranjang, makin lama darah makin banyak, dan rasanya makin perih.


Tentu saja perih, karena tangannya mulai luka, bergesekan dengan kusen ranjang yang keras.


Halusinasinya terbawa hingga ke alam mimpi, ia tertidur karena ke capekkan.


Dddrrttt.....dddrttt....dddrrttttt.

__ADS_1


"Akh ! jam berapa ? masih gelap juga?" Gerutu Anes sambil meraih ponselnya.


Dan benar saja itu alarm ponselnya yang berbunyi menunjukkan jam 4.00 dini hari.


"Gua garus pergi sekarang." Gumamnya lalu beranjak dari ranjang.


Tanpa cuci muka , tanpa gosok gigi, ia ambil kotak perhiasan ata lebih tepatnya peti mati tersebut , mengeluarkannya dari freezer dan menaruh di keranjang sepeda nya.


Dengan tenaga super ia kayuh sepeda nya menuju taman dengan kayuhan Dewa.


Dengan berbekal cetok tukang yang ada di gudang, ia menggali tanah di bawah pohon itu dengan cepat, memburu waktu agar tak ada orang lain yang melihatnya.


Setelah kedalamannya di rasa cukup ia memasukkan kotak itu ke dalam, lalu menimbunnya kembali dengan tanah, dan menekan nekannya biar lebih padat, tak lupa di atasnya ia taruh rumput rumput kecil untuk menutupi bekas galian kecilnya.


Setelah selesai di bacakannya alfatihah sebagai perpisahan.


"Ingatkan aku Rahma, pulang nanti, ibuk akan membawamu pulang, tetap lah di sini, jangan pergi ke mana mana." Ucapnya lalu menepukkan tangannya 3x ke atas tanah bekas galian itu.


Anes segera beranjak dari jongkoknya.


"Hah, celanaku darah semua ?" Kagetnya ketika memeriksa celana bagian belakangnya yang ternya sudah penuh dengan warna kemerahan darah.


"Padahal sebelum tidur, gua udah pakai pembalut. Akhh.." Jalannya cepat cepat menuju rumah, sebelum di lihat orang lain, dan untuk segera mengganti celananya.


Anes tak tahu jika darah nifas akan keluar begitu banyak. Karena ia memang bego. Di usianya yang sedewasa itu, pacaran aja ga pernah ngapa ngapain, sekali melakukan malah bikin dosa jadi double double.


"Akkhh shhiitt !"


Kembali ia kayuh sepedanya kuat kuat menuju rumah.


Sampai di rumah, ia lepas seluruh celanya , langsung ia guyur dengan air dan di cuci bersih.


"Akkhhh perih sekali sih ?" Teriaknya ketika tangannya terkena busa sabun cuci.


Setelah di perhatikan kedua tangannya ternyata penuh luka , dan juga sedikit bengkak kebiruan.


"Kenapa bisa begini ya ?"


"Akkhh sudahlah,,, " Ia tak mau pusing memikirkan hal itu, karena cuciannya harus cepat selesai.


Setelah memakai sarung tangan dan ambil sikat, Anes dengan sesegera mungkin menyekesaikan cuciannya itu, dan mengganti pembalutnya dengan yang baru.


"Gua masih ngantuk." Gerutunya karena ia merasa cucian itu ga cepat bersih. .


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2