Pengorbananku Untuk Ibu

Pengorbananku Untuk Ibu
Cincin


__ADS_3

Sehabis sholat taraweh mereka bertiga benar benar ke sungai membawa bubu dan jaring kecil serta senter si tangan masing masing.


Ghanes yang terbiasa dari kecil bergaul dengan saudara laki lakinya beserta kawan kawannya, dia jadi sedikit tomboy meakipun masih menampakkan Ceweknya. Tapi rasa jijik, rasa takutnya sudah jauh di atas wanita pada umumnya. Ghanes terbiasa main kelereng, main layangan, main kreweng dan per


(bagi yang ga tau kreweng itu apa, kreweng adalah permainan jadul tempo doeloe mirip seperti bola kasti tapi yang di lempar adalah tumpukan pecahan genteng. Bola kastinya dibuat dari daun kelapa yang masih hijau dan dalamnya biasa di isi batu kecil biar masa nya lebih berat dan lebih sakit jika terkena lemparan) .


Urat malu ghanes juga dinilai dah putus jika di bandingkan teman teman wanita sebayanya.


Dia sangat berani kepada siapapun. Sangat berani pergi sendirian, kalau pergi pergi didalam tas nya selalu ada korek api, betadine, plester, dan pisau lipat. Mirip preman jalanan .


Bagi yang belum kenal biasanya akan mengganggap jika Ghanes adalah wanita nakal yang suka kluyuran, dan suka berbuat macam macam. Padahal sesuatu yang di bawa itu adalah alat dia buat survive ketika di luar rumah. Bisa menghemat uang ketika kelaparan.


Hobinya Ghanes adalah lintas alam, mendaki, dan segala kegiatan yang herhubungan langsung dengan alam bebas, meskipun hanya mendaki bukit bukit kecil, karena ga pernah dapat ijin dari sang ibu jika mendaki gunung di atas 1000 mdpl.


"Blek senter kepala blek" Kata Susan pada Anes.


"Nih.." Sahut Anes sambil menyodorkan senter kepala kepada kakaknya yang sudah menceburkan kakinya di air sungai.


"Ndra,,, bantaran sebelah sana tuh ndra banyak udangnya." Tunjuk Anes pada adiknya.


"Eh Pli kamu bantuin Mas Susan aja dech Pli, Aku biar sama mbak Anes di sini, Soalnya Mbak Anes tuh ga bisa masang bubu." Kata Andra pada sahabatnya Kipli.


"Oke oke, eh ntar jam sahur gua ga bisa ya bantuin kalian angkat bubu, biasa kalau sahur gua kan sibuk di rumah, tapi palingan ntar gua tidur di masjid kaya biasanya sih. hehehe." jawab Kipli.


"Eh sebelum turun ke air, selametin hape kalian, taruh di rumput rumput situ, gawat kalau lupa taruh saku kena air nanti." Teriak Susan dari air yang masih se paha ketinggian airnya.


"oh iya iya." Jawab mereka bertiga kompakkan.


Mereka bertiga pun merogoh saku baju masing masing lalu meletakkan handphone pada rerumputan di pinggir sungai yang dirasa aman ga bakal melorot jatuh.


Sungai ini masih asri, banyak bebatuan dan rerumputan. Airnya juga masih bersih dari polusi dan sampah seperti di perkotan.


Masih banyak habitat ikan seperti ikan gabus,lele,kadang kadang Nila dan juga udang yang bersembunyi di bebatuan bawah arus air.


Hanya saja seringkali ada oknum nakal yang memakai setrum buat dapat ikan, atau pakai racun(Tuba) ikan.


Karena hal ini sangat merusak populasi ikan.


Setelah hampir 3 jam mereka berendam di dalam air, dan Andra sudah mendapatkan sejumlah udang yang cukup membuat Anes tertawa tawa bahagia, mereka pun merasa kedinginan.


"Udah yuk, naik yuk, jangan lama lama, masuk angin nanti, lagian kalau terlalu larut biasanya banyak ular air yang berkeliaran." Ajak Susan menyudahi kegiatannya di sungai.


"Yuk, lagian udah lumayan kan udangnya buat di bagi 2. Separo buat Kipli bawa pulang."


Ujar Anes.


"Ni daun talas buat tempat udangnya separoan ya Pli, kamu bawa pulang mumpung masih segar." Ucap Andra pada temannya itu.


Mereka berempat pun pulang dengan kondisi basah separo. Berjalan agak cepat karena takut terlalu dingin. Ingin segera mandi dan berganti pakaian yang kering.


Kurang dari 20 menit merekapun sampai di rumah.


"Bro gua langsung pulang ya, ga mampir, dingin lama lama." Ucap kipli sambil melambaikan tangannya ke arah tiga bersaudara ini.

__ADS_1


"Ya udah Pli hati hati ya, Eh bawa senter ini Pli."


Teriak Anes.


"Ga usah mbak, lampu jalan sudah cukup menerangi lah. Terkecuali kalau mati listrik. hahahahaa." Tolak Kipli masih terus berlalu pergi.


"kenapa gua selalu di tolak ya? Cinta di tolak senter pun di tolak. Jiihhh." Gerutu Anes.


"Hhhaaaaahhh !!! cintamu ditolak siapa Blek? Kipli?" Teriak Susan terkaget kaget.


"Eh !! ya bukanlah. Gila apa ya gua. Serius amat sih mas, liat tuh Ndra mas mu kebanyakan efek samping tuh, serius amat hidupnya." Ejek Anes pada kakanya.


"Tau tuh, masmu ya selalu begitu mbak." Cibir Andra pada kakanya.


"Lha kirain beneran. hahahahahha." Sahut Susan sambil tertawa.


"Mas, dan elu Ndra bantuin gua masak udang dulu ya. Ga mau gua sendirian di dapur. Capek." Pinta Anes pada kedua saudara laki lakinya.


"Siap bu bos !" Jawab mereka bebarengan.


Anes pun langsung menuju dapur buat membersihkan udang lalu segera mengolahnya. Olahan yang simple kesukaanya kalau ga tumis pake garam doank ya tumis asam manis pedas kegemaran mereka bertiga.


Anes adalah orang indonesia yang ga menyukai Pedas dan Asam. Juga ga suka durian. Tapi kalau udang asam pedas manis dia baru mau. Karena itu merupakan kesukaan kedua saudaranya.


"Darimana kalian jam segini baru pulang." Tegur seseorang tiba tiba dari pintu dalam .


Ya beliau adalah Pak Alan Sutoro sang Ayahanda tercinta.


"Ya kenapa ga pamitan dulu?" Tanya Pak Alan.


"Lha kan Bapak ga di rumah tadi waktu kita pergi. Ya ga Mas?" Jawab Andra sekaligus minta persetujuan sama Masnya.


Susan hanya menganggukkan kepalanya tanda meng iya kan adiknya.


"Eh iya juga ya. Hahahahha. maaf maaf ." Sambung Pak Alan dengan tertawa.


"Bapak ada ada saja. iisshhh." Sahut Bu santi dari belakang.


"orang mereka udah bilang kok sama ibuk tadi waktu berbuka." Sambung Bu Susan.


Setelah menyelesaikan udangnya di dapur lalu menyimpannya buat sahur nanti, karena mereka ga terbiasa makan larut malam, mereka beranjak pergi ke ruang depan.


"Blek sini blek." Kata Susan sambil melambaikan tangan pada adik perempuaanya.


"Ada apa Mas?" Tanya Anes heran.


"Apa Ndra?" Tanya Anes pun pada Adiknya.


"Tau tuh Mas Susan." Jawab Andra juga dengan mimik heran.


"Sini, Nih aku kasih sesuatu, aku kan ga tau kapan kamu berangkat, nah aku juga ga punya apapun yang bisa kuberikan buat bekalmu nanti selain doa. Ambil ini. Anggep aja ini barang mahal ya, hehehehe harganya 12.500 rupiah kubeli di Toko nya Mas Yono depan SMP." kata susah sambil memberikan kotak perhiasan pada Adiknya.


"Cincin?" Kata Anes penuh keheranan kenapa kakanya memberi sebuah cincin padanya.

__ADS_1


"Yoi. Bener. Ga tau kenapa aku pingin beli itu. Aku tau kamu sangat suka barang barang yang nemplok di tangan, kaya gelang, jam tangan, cincin. Ya kan?! Cuma ketika nyari itu semua ga ada yang bagus. Mau ambil jam tangan takut baterainya ga awet, dan kamu suka buang jam yang udah habis baterainya kan, kalau gelang, takut kalau tanganmu alergi,, jadi ya cincin itu akhirnya, kecil tapi stainless." Jelas Susan panjang lebar kali tinggi.


"Oke oke penjelasan di terima . Thank you Maskyu. hehehehehe." Jawab Anes bahagia.


"Ya takutnya kalau kamu berangkat, pas aku sibuk di bengkel, jadi ga bisa nganterin Nes."


Jelas Susan lagi dengan raut muka sedih.


"Eh Mas, perasaan kenapa sih kali ini seperti berat sekali melepas Mbak Anes mas?" Tanya Andra merasa Aneh.


"Entahlah Ndra, setelah melihat teman kita Aryono di rumah sakit, Mas tuh seperti agak takut jauh dari saudara gitu." Jawab Susan menjelaskan.


"ohh kirain apaan. hehehehe Ya itu semua kan takdir mas, lagian Aryono kan emang udah punya penyakit jantung dari lahir. Jadi wajar donk kalau saat dewasa dia sering masuk rumah sakit." Jawab Anes dengan ber ohh ria.


"Maksudnya gini Nes, aku melihat adik adiknya tuh kasian, terus orang tuanya tuh seperti udah ga terlalu peduli gitu sama Aryono. Masak kemarin waktu Mas ke RS ibukknya mengeluh gini, Capek saya ngurusin Aryono terus terusan bikin susah saja tu anak. Masak ibukknya bilang kaya gitu Nes, terus adik adiknya langsung nangis donk denger ibukknya ngomong gitu tentang kakanya. Keterlaluan ga sih?" Papar Susan .


"Akhhh sudahlah mas, bukannya ibukknya Aryono itu memang begitu dari dulu?" Tanya Anes.


"Yang penting keluarga kita ga gitu kan ya mbak." Sahut Andra.


"Yup ! Benul sekale. hehehehe." jawab Naes terkekeh.


"Ya udahlah ya... waktunya tidur, bapak masih nonton wayang. Ntar Sahur ga bisa bangun lagi." Kata Susan penuh wejangan.


"Dan ente Ciblek,,, stop mainan handphone ketika mau tidur, ingat, elu bentar lagi berangkat, jangan sampai elu unVit ketika cek dokter ya." Ultimatum Susan sambil menyentil kening Anes.


"Iya iya tau. Berisik lu mas." Gerutu Anes sambil berlalu masuk kamar.



*properti ini asli milik narasumber. Nanti akan sampai pada cerita kenapa cincin ini di rawat dengan baik.


.


.


Author :


Mungkin ada yang mempermasalahkan penggunaan kata elu gua Dan Aku kamu. Kenapa di gunakan secara acak. Memang begitu adanya. Ga di buat buat.


Ketika bicara serius maka bahasa yang di gunakan makhluk makhluk ini pun serius dan lebih halus. Beda kalau lagi sableng, bahasanya pun ikut *gesrek.


Yups... matur thank you buat yang mau baca.


Tak ada harapan apapun dari tulisan ini, karena niat author hanyalah membagikan kisah berharap dapat memetik pelajaran dari cerita ini.


Sebenarnya Author sangat suka menulis hal hal NYATA yang ada di sekitar kita. Bahkan hal yang tabu sekalipun.


Penasaran bisa cek di my Fb: Ning Wiesna.


*Bukan promo ya.😁


Mau bikin dokumenter ga punya biaya. 🤣😂

__ADS_1


__ADS_2