
Danu masih saja perang pikiran dengan posisi telentang di atas ranjangnya. Tanpa ia sadari tangannya sudah mulai memerah karena cengkeraman kuku jari nya sendiri. Danu tak tahu bagaimana cara memberitahu ayahnya atas kegagalannya ini. Bagaiamana pula dengan ibunya yang belum sempat melihat menantu keduanya .
Bagaimana nanti ia akan menjawab pertanyaan ayahnya. Ayahnya pasti akan menyalahkannya tentu saja. Karena ayahnya sangat tahu bahwa Ghanes bukan Dewi yang suka kelayapan dengan laki-laki, yang tidak bisa mengerjakan pekerjaan rumah, yang bahkan sama sekali tidak bisa memasak dan bekerja.
Ayahnya pasti akan menyalahkannya jika menantunya kali ini sampai pergi dari rumah. Karena ayahnya sangat menyukai masakan Ghanes. Sejak Ghanes di rumah ini, ayahnya dan juga dirinya menjadi semakin gemuk dan terlihat begitu terawat.
Lalu jika Ghanes pergi, sudah pasti ayahnya malah akan memarahinya bukan membelanya.
Danu memejamkan matanya, terus memikirkan apa yang akan di lakukannya nanti setelah kepergian Ghanes.
Tanpa ia sadari, ternyata sudah ada seseorang yang sedari tadi memperhatikan dirinya, yang melihat pipinya basah dengan air mata. yang bahkan Danu sendiri tak tahu mengapa ia bisa secengeng itu sekarang.
Danu membuka kelopak matanya perlahan setelah merasakan ranjangnya sedikit bergoyang pertanda ada orang yang naik di atasnya. Di ujung ranjang ia melihat wanita memakai hijab warna kuning bergaris hitam duduk menatapnya.
samar-samar ia melihat wanita itu, karena matanya masih basah dengan air mata. Namun ia sangat tahu siluet tubuh tersebut milik Ghanes Anjani istrinya.
Danu hanya diam, tak bergerak, karena ia tak tau mau mengatakan apa pada istrinya yang sudah terlanjur marah. Danu juga sangat tahu bagaimana sifat istrinya jika sedang marah. Yaitu diam dan melakukan apapun yang pernah ia katakan. Karena Ghanes memang bukan orang yang hanya suka mengancam saja.
"Ngapain kamu nangis? Apa yang kamu tangisi?"
Tiba-tiba Ghanes membuka suara.
Danu terkesiap dan langsung mengambil posisi duduk, karena ia sadar masih di beri kesempatan sama Ghanes untuk berbicara.
"Lha gara-gara kamu gitu kok masih nanya aku kenapa." Jawab danu dengan suara serak.
"Terus?" Tanya Ghanes datar.
"Bisa ga sih kalau kamu ga usah pergi?" Tanya Danu penuh harap.
"Tergantung kamu. Kamu kan laki-laki, sedangkan aku hanya pengikut, jadi apa yang akan aku lakukan juga tergantung kamu. Tapi yang perlu kamu ketahui bahwa apa yang sudah pernah aku katakan tidak bisa di tawar."
Jawab Ghanes masih dengan suara datar yang mengerikan.
"Oke aku akan berusaha." Jawab Danu lemah.
"Tidak ada kata berusha, tidak ya tidak iya ya iya. Segampang itu."
Danu terdiam,,,,, Tak mengeluarkan suara. Hingga pada akhirnya ,
"Iya."
Ghanes meneraik nafas berat, lalu kemudian,,,
"Biarakan aku pergi sebentar."
"Ke mana?"
"Ga tau, aku mau refresing dulu."
"Berapa lama?" Tanya Danu antusias.
"Ga tau."
"Aku anterin ya." Bujuk Danu.
"Ga perlu, aku bisa sendiri."
"Ku anterin pulang ke rumah ya, sapa tahu kamu kangen dengan ibuk. Kan udah hampir 1 bulan kamu ga pulang. habis nganterin kamu, aku balik lagi ke sini. Biar kamu tidur di sana aja. Ya.... Pleaseee.."
Ghanes kembali membuang nafas panjang,
"Hhhmmmmmgghhhh,,,,,,,,okelah, tapi aku mau bawa motor sendiri."
"Oke, oke. Yang penting aku anterin . Lagian ini udah malem, ga enak di liat orang, ntar di kira kamu mau minggat kan. Kasian kamu kalau nanti di ghibahin orang. Kamu tau sendiri kan gimana tetangga kita itu."
Ghanes diam saja tak menyahut, karena ia tak peduli sebenranya. Hatinya sedang tidak baik-baik saja. Namun dia bukan ABG yang bersikap se enak jidatnya sendiri, tanpa memikirkan perasaan oarng lain.
Yang Ghanes pikirkan perasaan Danu? Jelas BUKAN ! Tapi yang ia pikirkan lagi lagi adalah perasaan ibunya, yaitu Bu Santi.
Ghanes masih sangat mengkhawatirkan hati ibunya, ia lagi lagi ga mau membuat ibunya khawatir atau bahkan merasa malu.
__ADS_1
Bagaimana perasaan ibunya jika anak perempuan satu-satunya harus bercerai di usia pernikahannya yang ke 6 bulan ?
Apa yang akan di gunjingkan tetangganya tentang dirinya nanti ? Apakah dengan bercerai Ghanes bisa menjamin bahwa kondisi ibunya akan baik-baik saja ?
Namun jika di tanya apakah Ghanes ingin meneruskan pernikahannya atau tidak, maka jawab nya adalah TIdak. Hatinya terlalu sakit di bohongi, di permainkan dengan cara begitu.
Dan Ghanes memang bukan orang yang bisa dengan mudah melupakan masalah yang datang padanya. Ia bisa saja memaafkan tapi tidak untuk melupakan.
Ghanes menenteng ranselnya ke atas motor, dengan tanpa bicara apapun. Kebetulan ayah mertuanya sedang tidak ada . Beliau sedang ke sungai melakukan hobinya yaitu memancing. Hampir setiap hari beliau setelah pulang kerja selalu ke sungai untuk memancing. Entah itu dapat ikan atau tidak, namun memang hobinya adalah nongkrong di sungai bersama dengan joran pancingnya.
Danu dengan muka masih pias pucat hanya mampu mengekori istrinya , juga dengan tanpa banyak bicara. Ia biarkan istrinya membawa ransel dengan surat-surat nya (buku nikah dll).
Ia tak ingin melarang apapun yang ingin istrinya lakukan, karena ia sangat mengenal karakter Ghanes . Bahwa Ghanes ketika sedang marah sangat tidak suka di ganggu atau mendengar celotehan dari orang lain.
Danu dengan sengaja membiarkan Ghanes kembali menemukan ketenangan dengan harapan yang sangat besar, semoga Ghanes kembali ke pelukannya dengan hati yang damai.
"Ya Rabb ku, jangan pisahkan kami." Doa nya dalam hati sambil menuntun motornya mengekori motornya Ghanes.
Sambil memstater motornya, Ghanes berusaha keras menahan air matanya, karena ia tahu bahwa air mata adalah sumber bencana ketika naik motor, apalagi di malam hari, karena burem ga bisa melihat jalanan dari balik kaca helm.
Dengan perlahan Ghanes memakai helm ke dalam kepalanya,
"Tuhan,,,,, berikan yang terbaik buatku, jauhkan aku dari emosi yang meledak-ledak, jangan biarkan aku mengambil keputusan dalam keadaan marah. Berikan yang terbaik."
Lalu ia menarik nafas panjang menghembuskannya dan mulai perlahan menarik stang gasnya.
Lampu jalanan yang temaram seakan tahu tentang gejolak di dalam rumah tangga mereka saat ini. Mendung kelabu juga menggantung di atas langit seakan siap ikut meneteskan air mata untuk mereka.
Ghanes melajukan motornya dengan kecepatan standart, karena ia masih sangat sayang dengan nyawanya.
Ia tak mau membuat ibunya menangis karena kehilangan anak untuk yang ke dua kalinya.
...................................
Perempatan demi perempatan telah ia lewati bersama Danu yang terus mengekorinya dari belakang. Jarak yang biasa di tempuh dalam waktu 1,5 jam memerlukan waktu hingga hampir 3 jam. Karena mereka berjalan dengan sangat perlahan.
Masih berada di halaman rumah, Pak Alan tiba-tiba keluar dari dalam rumah dengan raut muka cemas.
Ghanes dengan santai memarkirkan motornya lalu tersenyum.
"Ga ada apa-apa kok pak, aku ingin pulang aja tiba-tiba. Mmpung malem, males harus nungguin ampe besok."
Pak Alan menatap Danu dengan pandangan curiga, "Bener begitu Dan?"
"Iya pak bener. Tau sendiri kan Ghanes bagaimana kalau punya keinginan ga bisa di tahan. " Jawab danu dengan lembut agar Pak Alan tidak menaruh curiga.
"Terus ini kenapa bawa ransel begitu besar ?" Tanya Pak Alan sambil menunjuk tas ransel hijau milik Ghanes.
"Ya kan aku lama pak mau tidur di sini."
"Kenapa?" Tanya Pak Alan makin tidak percaya dengan anak dan menantunya ini.
"Kalian minggat dari rumah? Bertengkara dengan ayah kalian?"
"Akhh ga pak. Ngapain juga bertengkar, habis ini saya pulang kok pak." Danu menjawab pertanyaan Pak Alan.
"Loh,,, kamu ga nginep di sini Dan?"
"Ga pak, kan besok saya kerja, jadi kalau nginep di sini, besok pagi saya malah ngantuk pak. Jadi ga bisa fokus kerja saya. Lebih baik saya malam pulang."
Pak Alan mendelik, "Terus kamu tadi ke sini cuma nganterin Ghanes?"
"Hehhehee iya pak. Kasian, takutnya nanti kalau ketahuan tetangga malah di kiranya kabur dari rumah pula."
"Nah ,,,, tuh liat Nes suamimu sebaik itu, kamu jadi istri usahakan jangan keras keras seperti ketika kamu belum menikah. Kasian suamimu."
Ghanes hanya melirik sekilas dengan mata sinisnya tanpa berkomentar apa-apa. Sepatah katapun tak keluar dari mulutnya. Lalu ia melangkah ke dalam menenteng ranselnya menuju ke kamarnya.
"Buk, belum tidur?" Tanya Ghanes pada Bu Santi yang berada di depan telivisi menonton OVJ kesukaannya.
Bu Santi yang seakan mengerti apa yang terjadi pada anak perempuannya hanya tersenyum,
__ADS_1
"Belum An, kamu baik-baik saja bukan?"
"Baik buk."Jawab Ghanes singkat.
"Ya sudah, kalau capek cepetan tidur, basuh kakimu dulu biar segar." Perintah Bu Santi tanpa berusaha bicara lebih banyak.
Ibu mana yang tak mengerti anak yang di lahirkannya sendiri. Bu Santi bahkan lebih mengetahui kondisi anak-anaknya hanya melihat dari raut muka dan gelagatnya saja.
Tanpa harus di ceritakan secara detail pun Bu Santi tau jika anak perempuannya sedang tidak baik-baik saja.
Ia juga sangat mengerti karakter anak perempuannya ini. Ia tak ingin menambah beban pikirannya dengan terlalu banyak bicara atau nasehat.
Toh, jika hatinya sudah tenang, biasanya Ghanes juga akan bercerita sendiri tentang masalah yang sedang di hadapinya.
Sedangkan Danu duduk sebentar di ruang tamu, 15 menit kemudian ia masuk ke kamar istrinya,
"Dek, aku pulang ya."
Ghanes diam saja tak menjawab, ia sibuk dengan game di ponselnya, ia sibuk dengan 8 ball poll yang hampir dimenangkannya. Ghanes bukan tak mendengar suara suaminya, namun ia tak mau tau. Tak peduli.
Danu hanya tersenyum memperhatikan istrinya. Karena ia tahu Ghanes hanya ingin menenagkan diri saja,
dengan perlahan ia usap kepala Ghanes lalu di cium puncak kepalanya.
"Ya sudah, aku pulang dulu, keburu malam, kamu cepetan istirahat ya. Kalau ada apa-apa chat saja kalau ga mau bicara."
Ghanes masih saja diam tak peduli.
"Gua ga mau tau, serah elu mau ngapain juga, apa peduli gua coba."
Tak berselang lama terdengar deru motor Danu semakin pergi menjauh meninggalkan rumah Pak Alan, meninggalkan Ghanes sendirian di dalam kamarnya yang hanya di sinari lampu dari teras samping.
Dari ruang tengah terdengar samar-samar perbincangan Bu Santi dan suaminya,
"Pak, tadi kamu ngomong apaan dengan anakmu?"
"Apa? Ga ada kok."
"Kamu itu ya, kalau tau anak-anak sedang ada masalah itu ga perlu di kuliahi pak, diam aja dulu, biarkan mereka tenang, jangan sok tahu jadi orangtua. Biarkan saja dulu, biarkan mereka belajar memecahkan masalah mereka sendiri. Jangan suka ikut campur dengan urusan rumah tangga anak."
"Lha aku kan bapaknya."
"Siapa juga yang bilang kamu tetangganya ? Semua orang juga tahu kalau kamu adalah bapaknya. Namun ikut campur dengan rumah tangga anak itu bukanlah sesuatu yang bijak. Toh nanti Ghanes pasti cerita sendiri jika hatinya sudah tenang. Kaya kamu ga kenal dengan anakmu saja."
Bu Santi dan Pak Alan masih sibuk berargumen di depan televisi, sednagkan Ghanes do dalam kamarnya sememjak suara motor Danu menghilang air matanya sudah membasahi pipi hingga ke baju yang ia kenakan.
Ia duduk sambil memeluk bantal satin warna emas yang ia buat sendiri waktu itu.
Ia menangis tanpa mengeluarkan suara isakan sedikitpun. Namun nafasnya hingga megap-megap karena hatinya terlalu luka.
Lagi-lagi Ghanes kembali teringat kisahnya yang dulu, kembali mengingat anaknya yang telah ia buang dengan sengaja. Kembali mengingat segala kebodohannya telah jatuh cinta dengan Dimas.
Dan ia masih saja merasa bodoh telah memilih Danu menjadi suaminya, jika pada akhirnya ia kembali menangis seperti saat ini.
.
.
.
.
.
.
.
..
.
__ADS_1
.