Pengorbananku Untuk Ibu

Pengorbananku Untuk Ibu
Hospital-Part 2


__ADS_3

Bau alkohol yang benar-benar Anes benci menyelimuti indera penciuman Anes setiap micro detik. Anes sudah kehabisan kata-kata umpatan untuk memaki maki kondisinya yang sama sekali tak bisa ia hindari.


Meskipun rumah sakit ini berdiri di lereng sebuah bukit yang masih terjaga ekosistem alamnya, udara sekelilingnya yang sangat segar,bersih dan bebas polusi dari suasana serta suara-suara bising perkotaan, namun bagi hidung sensitif milik Anes hal ini tidak mempengaruhinya sama sekali.


Bau obat tetaplah bau obat. Bau alkohol tetaplah bau alkohol. Rumah sakit tetaplah rumah sakit yang sepi, sangat sedikit terdengar senda gurau kebahagiaan di dalamnya. Terkecuali memang sedang ada saudara yang berkunjung.


Lagipula peraturan rumah sakit yang memang melarang penghuni rumah sakit untuk bersuara terlalu keras karena takut mengganggu penghuni rumah sakit yang lainnya.


Pagi-pagi sekali Anes sudah bangun, dan setelah mengecek pampers milik Papa dan menggantinya, Anes pergi keluar sebentar sekedar mencari oksigen.


Berkeliling bangunan rumah sakit yang di lengkapi dengan taman taman kecil dengan jalan jalan seukuran kursi roda serta bunga bunga kecil yang hanya mekar di musim semi.


"Bahahahaha" Anes tertawa sendirian sambil terus berjalan cepat memperhatikan daun daun hijau pada pokok pokok bunga. Ia tertawa karena membandingkan indahnya negaranya indonesia dimana bunga bisa mekar setiap saat asal ada matahari saja. Sedangkan di sini, bunga hanya mekar setahun sekali.


"Menyedihkan sekali." Lanjut Anes tersenyum geli.


Bangunan rumah sakit ini begitu besar , yang seluruh temboknya di percantik dengan keramik bata merah yang semakin menambah estetika dari bangunan ini dan tentu saja semakin menunjukkan bahwa bangunan ini di bangun sudah lumayan lama alias jadul. Tapi bukankah yang jadul dan unik itu semakin menarik ya ? Terkecuali ****** sih šŸ¤£šŸ˜….


Di sekeliling taman ada bangku bangku besi buat nongkrong yang memang di sediakan pihak rumah sakit sebagai tempat penghirup udara segar setelah terkurung dengan bau rumah sakit. Juga untuk tempat para lansia menjemur tubuhnya agar sedikit hangat dan tidak pucat. Bukan di jemur biar kering kaya photo mantan.


65 menit sudah Anes berkeliling. Lumayan untuk melemaskan otot kakinya serta membebaskan nafas sesaknya dari bau alkohol dan obat . Nafas penuh sesak yang keluar dari lubang kecil hidungnya karena pesek bawaan lahir.


Sembari berlari kecil , Anes sekalian mampir kantin rumah sakit yang berada di lantai bawah untuk membeli sarapan pagi untuk diriny sendiri tentunya. Karena kebutuhan makan untuk Papa sudah di sediakan dari rumah sakit untuk menjaga porsi serta menjaga kehigienisannya.


Sepotong sanwich ikan dan segelas susu kedelai panas di tenteng di tangan kiri sambil terus berjalan menyusuri koridor ke arah lift untuk menuju ke lantai atas di mana letak kamarnya ada di sana.


.......Tap tap.....tap...... tappp.....


Bunyi langkah kaki Anes melangkah perlahan menapaki lantai vinyl berwarna senada dengan cat tembok yaitu kecoklatan namun dengan corak kayu.


"Uuusshhhhzzzz Menyebalkan sekali''. Gumam Anes perlahan setelah ia memasuki kamar tempat Papa di titipkan sembari menutup hidungnya dengan sweater yang ia pakai karena bau alkohol begitu kuat.


''Apaan sih Nes ngoceh mulu?'' Tanya Tati setengah berteriak dari belakang Anes sambil membawa botol vacuum di tangan kanannya.


''Rese lu Tat, ngagetin aja lu? Udah balik? Ada air panasnya?'' Tanya Anes tanpa jeda sembari menolehkan kepalanya ke asal suara.


''Ngomong pake koma woeee !!!'' Teriak Tati sembari menoyor kepala Anes.


''Ngomong udah keg rel kereta ekspres aja lu Nes. Itu lidah habis ganti oli pa gimana ? Licin bener dah.''


Lanjut Tati tak menjawab pertanyaan Anes namun langsung menuju ke mejanya sendiri yang berada di paling pojok berdekatan dengan pintu kamar mandi.


''Hehehheehe mangap mangap, abisnya elu Tat, ngagetin aja sih. Xixixiixi.'' Jawab Anes malah cekikikan dikata katain Tati.


''Mangap mangap, apaan mangap ? Maaf kale...'' Sungut Tati sambil geleng-geleng kepala mendengar Anes yang tolil di sengaja begitu.


''Ga habis pikir gua An kok adaĀ  gitu makhluk hidup kaya elu An, betah bernafas pula.'' Gerutu Tati lagi.


''Hehehehee naklumin aja Tat, Tuhan itu terlalu sayang mau gua Tat, makanya gua dikasih nafas yang panjang, manis pulak.''


Ujar Anes sembari memiringkan kepalanya dan mengedip ngedipkan mata genitnya ke Tati.


''Dasar gila lu An.''


''Kopi apa teh?'' Tanya Tati kemudian.


''Kalau ada teh susu.'' Jawab Anes menirukan iklan susu bendera di jaman bahlul sambil cekikikan.


''Gila.... gila........'' Gerutu Tati.


"Jangan suka menggerutu neng, ntar cepet tua lo.'' Kata Anes sambil cengengesan.


''Akh,,,, elu An, dasar makhluk tengil lu, keg ga pernah punya masalah aja hidup lu. Nih.'' Sambil menyodorkan gelas berisi teh panas yang baru saja ia buat.


''Btw, gua capek banget hari ini An, tau sendiri kan semalem keg apa kakek gua, berisiknya setengah mati, dahak nya di sedot ga bisa keluar, lengket.'' Ujarnya melanjutkan.


''Ia Tat, gua denger dan tahu kok. Eh btw lu udah persiapan majikan baru belum?" Tanya Anes.


Karena setahu Anes kalau orang tua sudah mendekati masa masa pensiun, maka mau ga mau harus mempersiapkan majikan baru untuk pindah jika sewaktu waktu orang yang di jaga meninggal dunia.


Ini bukan perkara *mendoakan segera mati,Ā namun memang orang orang yang menderita penyakit seperti itu jika sudah tiba waktunya maka keluarga yang masih sehat harus mempersiapakan hati untuk kehilangan.


''Udah kok Nes, majikannya belum ada, tapi agen sudah mengantisipasi hal itu kok. Jadi paling ga ya gua punya jaminan tempat tinggal nantinya buat sementara sebelum gua pindah ke majikan baru. Ga perlu khawatir tentang hal itu, semuanya aman terkendali kok.'' Jawab Tati menjelaskan.


Anes mangut mangut tanda mengerti.


''Seandainya tempat gua belum ada gantinya, maka tempat gua bakal gua rekomend ke elu dah Tat, gampang kok, ya cuma si ratu kidul agak banyak mulut aja sih. Hahahaha.''


''Akhhh, gua rasa hampir semua perempuan itu banyak mulut dah Nes, elu juga kan?! Ga ngerasa apa gimana? berlagak bego?'' Tanya Tati sembari menggerak nggerakkan alis bulan sabitnya.


''Aiiiisshhhhhh gua lagi gua lagi. Lagi lagi gua dah yang kena.''


''Abis, yang ada di dekat gua cuma elu sih , hahhahahaha.''


.......Ukkkhhhhhhh uukkhhhhhh uuukkkkkhhhhh uukkhhhhhhhĀ ....


Tiba tiba Tati tersedak.


''Bahahahahahahaa,,,,, ups,,, (Anes menutup mulutnya) sory Tat, mau ketawa takut dosa gua. Hahhahahahaha kualat lu, sapa suruh minum sambil bicara. Itu tuh akibatnya. Wxwxwx.''


''Oke oke gua diem dah kalau lagi minum.''


"Ni juga gara gara elu kan Nes. Haiisshhh.."


"Lah ? Gua lagi. gua lagi dan Gua lagi. Astagaaa apa salahku Tuhaannn."


Kata Anes sembari menengadahkan tangannya ke atas seperti seorang muslim yang sedang berdoa.


"Bahahahahahahhahaahahaha."


"Bahahahahahahahahahahaha."


Tawa Anes dan Tati meledak bersamaan, mentertawakan kegoblokan mereka sendiri.


"Uppssss .... sstttt.. Diam." Kata Anes menempelkan jari telunjuk di bibirnya.

__ADS_1


"Eh iya gua lupa. Xixixiixixixi." Kata Tati ah oh ah oh baru ingat kalau ini di dalam ruangan rumah sakit bukan di hutan Amazon yang suara tawa mereka hanya bisa di dengar oleh Ratu Anaconda.


"Untung bukan kami." Timpal Arumi dan Yabi bersamaan.


"Kalian jangan, biarkan kami saja. Setidaknya kalau di marahi suster kami bisa jawab. Hehehe." Kata Tati masih cengengesan.


"Makanya itu kami ga berani, karena bahasa kami masih belum selancar kalian. " Jawab Arumi kembali.


"Sssttttttttt..." Kata Anes sambil menunjukkan panggilan pada layar ponselnya yang di beri nama Yenji.


"Wei, cie ? You shi me shi ma?"


(Haloo, ada apa?)


"Wei An, Ni ming thian zhao sang ciu dian ,ni ci lou sia, wo cie ni hui jia. Ranhou sia wu liang dian te shi hou congcie hue lai jie ni. Ni xian hue jia cengli ni de pi xiang. oke ma ?"


(Haloo An, kamu besok jam 9 turun ke bawah ya, aku jemput kamu pulang. Lalu jam 2 sore Agen akan memjemputmu. Kamu pulang dulu paking kopermu. Mengertikah?)


"Owwhhh... oke lah cie. Wo zhe tao le. Na xie xie ni kausu wo."


(owwhhh... oke lah mbak. Aku sudah paham. Terimakasih memberitahu saya)


"oke. mei wen thi. Na ceyang wo kua bo lo."


(oke. ga masalah. Ya sudah aku matikan telephon ya.)


"hao, bey bey." (oke. sampai jumpa)


"ppsstttt ppsstttt ada apa hei ?" Tanya Tati kepo.


Anes senyum senyum sendirian memutar mutar ponsel di tangannya.


"Besok pagi gua pulang di jemput jam 9, suruh beresin koper lalu jam 2 sore gua di jemput Agen ke bandara."


"Udah bayar pajak belum?."


"Eh iya njiing. Belum tuh. Wadawww... berarti besok pasti ke kantor pajak dulu gua. Gua ga tau tiket gua soalnya. Ya elah."


"Ahhkk tapi ke kantor pajak kan cuma tanda tangan doang paling 15 menit juga selesai kok."


"Iya juga sih . Kalau finish kontrak mah cepet . Ga pake di tanya alasan pulang mau ngapain. Hahahaha." Timpal Tati kemudian.


"Nahhh.. itu lu tau nyet."


"Wxwxwxwxwxxxxx Gua kan pintar." Jawab Tati menyombongkan diri.


Anes mulai membayangkan perjalanan yang sangat ia sukai. Melihat langit dari atas pesawat, beruntung jika bisa menikmati senja dari atas.


Suasana ini selalu mengingatkan Anes bahwa bumi itu berada di ruang hampa yang tanpa ujung. Terombang ambing di angkasa.


Terkadang Anes membayangkan bagaimana jika tiba tiba daya tarik bumi itu kehilangan tenaganya, mau lari kemana bumi ?


Ada yang tau ?😁


Author : Ga usah pusing mikirin. Pikir aja noh utang lu yang belum lu bayar bayar. Kalau di tagih malah elu lebih galak keg anjing mau beranak.


.


.


"Ddrrttt ddrrttt"


Ponsel Anes kembali bergetar menggetarkan detak jantung si empunya yang sedang nongkrong di kursi sambil nyemilin keripik yang sudah letoy termakan usia.


"Apa lagi siiiiihhhh." Gerutu Anes.


"Wei... Anjani,,,,, Ni laopan you gen ni ciang le me ? wo ming dian liang dian de se hou kou ci cie ni."


(haloo Anjani, apakah bosmu sudah bilang ke kamu? kalau aku besok jam 2 siang ke sana menjemputmu?)


"Tha gen wo ciang le." (Dia sudah bilang)


"Ouuh oke lo, ni cetau ciu hao le. Na ni ming tian hue ini la." (ouh oke. ya sudah kalau kamu sudah tau. Kalau begitu besok kamu pulang ke indonesia lo)


"Hao.hao." (Baik baik)


"Ceyang ciu hao. wo kuan lo. bye bye."


( Ya sudah. saya matikan telpon ya, bye bye)


"Agen." Kata Anes menjelaskan ke Tati yang menatapnya penuh kekepoan.


"owwhh... kirain pacarmu kok bisa ngomong bahasa sini hahahaha."


"Lah ?!! iya ding, gua belum bilang ke Nathan btw. Kok gua pikun ya." Lanjut Anes menepuk jidatnya dengan keras.


"adaawwwhhh sakit." Suara Anes meringis menahan nyeri di jidat yang dia teplak sendiri.


"Dasar Tolil." Seru Tati sambil geleng geleng ga habis pikir dengan teman barunya yang satu ini.


..........


Ke esokan Harinya....


Di depan pintu masuk Rumah Sakit Anes bediri santuy menunggu Yenji. Ia sendirian saja sambil memainkan ponselnya.


Tiiinnn tiinnn.....


Bunyi klakson perlahan.


Anes mendongakkan kepalanya ke arah sumber suara. Mobil sedan silver yang tidak pernah di cuci hingga bintik bintik lumpur coklat menjadi ciri khasnya berada di sebelah kanan.


Anes sangat hafal dengan mobilnya Yenji yang memang sangat special untuk ukuran mobil yang di pakai wanita.


"sshhhhh dasar pemalas." Tepis Anes sembari berjalan ke arah Yenji.

__ADS_1


"Deng hen jiu ma?" (Menunggu lama kah ?)


Tanya Yenji.


"Hai hao la.. tagai wu fen zhong ba."


(Ga lah, sekitar 15 menit saja).


Tanpa banyak bicara cangcingcong mobil pun melaju perlahan menembus jalanan kota yang Anes sendiri sudah ga tertarik buat menikmatinya, karena memang sudah sangat hafal dengan rute yang akan di lewatinya.


Anes pun memejamkan matanya setelah meletakkan ransel kecilnya di sebelahnya.


"Akkhhhh capek plus ngantuk bener ni mata."


Harap maklum, suasana Rumah sakit bukanlah suasana yang menyenangkan untuk beristirahat. Apalagi jika 2 jam sekali suster datang ngecek kondisi pasien.


Yahhh begitulah nasib TKI sebagai caregiver. Gaji tinggi tapi ga ada me time sama sekali.


Author :


Buat kalian yang berfikir jadi TKI itu gampang, pikir ulang dech. šŸ˜‡


Ga sampai setengah jam Anes sudah naik tangga menuju kamarnya dengan bersungut sungut. Apalagi kalau bukan karena mabok kendaraan. hehehehe


Yenji ini memang kalau nyetir agak kasar, beda dengan Mama yang bisa nyetir sangat halus bahkan di usianya yg sudah 72 tahun.


"Jjjccchhhh brengsex ! kepala gua keg ketiban durian satu ton, mana perut keg di aduk ma adukan dodol pula."


Anes setengah berlari menuju kamar mandi dan memuntahkan seluruh isi perutnya sembari terus memaki dalam hatinya.


20 menit kemudian.......


"Akhhh lemes gua njiirrr.... tidur aja bentar. Bodo amat gua. masih jam 2 kan yak. Nanti bangun aja jam 12 kan cukup tuh 2 jam buat packing dan mandi. Ga kuat gua."


Tanpa nunggu beberapa detik, Anes pun langsung pulas di kasur yang sebenarnya tak pernah benar benar ia tiduri selama ini. Karena tidurnya setiap malam selama 3 tahun adalah di kamar Papa , di ranjang kecil di sebelah ranjang Papa di lantai 1.


"Ddrrttttt dddrrtttttt...." ponsel Anes bergetar Alarm berbunyi jam 12.00 tepat.


"Akkhh cepet banget sih njiirrr." Gerutu Anes yang langsung merosotkan tubuhnya ke bawah dengan mata berkedip kedip menghidupkan kembali watt di matanya agar bisa melihat dengan normal.


Dasarnya Anes yang memang ga punya banyak barang, packing koper 17inch sangatlah cepat.


"Fiiuuhhhh.... sudah kan Nes.. hehehe." Bangganya pada dirinya sendiri.


Dengan segera ia meraih handuk dan membawa baju gantinya untuk pergi membersihkan dirinya.


Gemericik air di kamar mandi terdengar hanya sekitar 10 menit saja. Ya begitulah di super kilat Tips mandi andalan yang dimiliki Anes sejak kanak kanak hibgga dewasa.


"Aannn... turun An.... " Panggil Mama dengan suara cemprengnya dari bawah.


"Akkkhhh sialan . Bilangnya jam 2 baru datang, lha ini masih setengah dua dah nongol aja. Untung gua super kilat."


"Iya ma... !!!" Teriak Anes.


Koper kecil di tentengnya dengan sangat mudah menuruni anak tangga marmer warna hijau tua itu.


"Hai An, mana barangmu an?" Sapa Agen itu sok baik. Karena memang dia kadang agak rese' orangnya .


"Lha ini." Kata Anes menunjuk koper yang di bawanya.


"Hanya itu kah ?" Tanyanya lagi.


"iya lah. Apa lagi." Jawab Anes.


"Barangnya dia memang ga banyak, dan sebagian besar sudah di kargoin ke indonesia sebulan lalu " Jawab Mama membantu menjawab.


"oooh gitu ya, pintar juga kamu."


"Bukan pintar, tapi saya ga suka ribet pak." Jawab Anes menjelaskan lagi.


"Kenapa jam segini sudah datang? katamu jam 2 bukan ?" Tanya Anes sedikit kesal.


"Aku lupa kalau kamu belum ke kantor pajak. Jadi aku jemput lebih awal. Mampur ke kantor pajak dulu."


"Ya sudah , Ayo berangkat... daripada telat penerbanganmu jam 15:13."


Setelah ritual pamitan cipika cipiki serta saling mengucapkan terimakasih, Anes pun membaca basmalah mengambil nafas panjang lalu menghembuskannya sembari tersenyum.


"Welcome indonesia.."


.............


Di kantor pajak hanya butuh waktu 10 menit saja, untuk tanda tangan dan mendapatkan surat keterangan membayar pajak.


Perjalanan ke bandara kali ini ga memakan waktu lama seperti keberangkatan kemarin.


Karena jarak kantor pajak dan bandara tidaklah terlalu jauh.


Tepat jam 2:30 menit Anes sampai di bandara. Anes segera cek in dan naik menuju gate keberangkatan. Anes ga peduli lagi dengan Agen yang mengantarkannya. Dalam hati Anes bersungut sungut karena waktunya mepet.


Dia baru tau kalau pesawatnya jam 3.


"Dasar gila." Gerutu Anes setengah berlari menuju kursi tunggu.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2