
"Udah." Jawab Didim singkat, cepat padat dan jelas.
"ooh.. oke." Jawab Anes percaya karena setahu Anes jawaban yang cepat itu dalah kejujuran.
"Tapi aku masih boleh kan berteman sama Aya? karena kau ga ingin ada dendam atau permusuhan." Kata Dimas lagi.
"Terserah kamu aja sih, asalkan jangan bawa bawa namaku lagi. Aku capek. Dan ga ada waktu ngurusin sampah kaya begitu."
Kata Anes mempersilahkan Didim atas segala keputusannya, karena menurut Anes, Dimas sudahlah dewasa, seharusnya dia sudah tau dengan segala konsekuensi atas keputusannya itu,asalkan tak melibatkan dirinya lagi.
"Oke . Terimaksih lo dek, ini yang bikin aku bangga memilihmu." Kata Didim berbinar binar.
"Kasih kembali." Jawab Anes yang sedikit lemes, karena masih ada sedikit rasa sakit di hatinya yang belum benar benar sembuh.
"Kok lemes begitu ? kenapa ?"
"Ga, ga ada apa apa kok yah."
Jawab Anes seketika merubah nada bicaranya.
"Serius ?"
"Iya. Ga ada apa apa kok. Tenang aja. Jangan khawatir."
"Baguslah kalau begitu." Jawab Didim sambil tersenyum senang.
"Ntar kalau aku koment di status Aya dan temen temennya kamu ga usah ikutan ya . Aku takutnya kamu kena imbasnya kaya kemarin lagi." Kata Didim.
"Oke lah. Emang masih rame ?"
"Masih lah ampe sekarang. Sekarang yambah gila lagi. Tapi ga usah diliatin lah, Ga penting juga buat kamu kok. Kalau pingin liat banget, ya liat aja tapi jangan ikutan koment ya. Kumohon... aku ga tega ma kamu dek." Pinta Didim dengan memohon.
"Iya iya aku ngerti kok Yah."
..............................
Percakapan berlanjut hingga malam hari sama seperti yang telah terjadi sebelum sebelumnya .
20.21
"Dex , ini kan malam minggu, kamu tau kan aku bakal sama siapa dan dimana?"
"Masih sama seperti yang dulu ? Sama anak anak Mes ?"
"Iyap. Benar sekali. Ya seperti biasa kan berisik. Hehehehe." Jawab Didim cengengesan.
"Perlu di matiin?"
"Akhh ga usah, selama kamu ga merasa terganggu aja sih."
"Oke. Aku siap menemani obrolan kalian kok. Seperti biasa." Kata Anes meyakinkan bahwa ia baik baik saja.
Meskipun ga semua, namun sebagian besar TKA di negeri ini kalau malam minggu biasanya minum Bir bersama teman temannya satu pabrik, sekedar bercanda ataupun menemani mereka bakaran.
Dan Anes pun sudah sangat familir dengan hal itu, dan menurut Anes wajar wajar saja selama mereka tak melanggar hukum ataupun mereka melakukan tindak asusila.
Acara malam minggu di negara ini tak semengerikan pesta miras di indonesia.
Di sini mereka seperti kumpul keluarga, makan bersama, lalu di temani bir sambil bercengkerama , bernyanyi (main alat music), sehabis itu Tidur. Ya... sesederhana itu. Ga ada cerita cerita miris seperti di negara indonesia .
__ADS_1
Entahlah,,, mungkin karena hal ini sudah menjadi hal yang biasa dilakukan, jadi mereka seperti sudah ga kaget dengan adanya acara seperti itu, yang menyebabkan orang minum sampai berlebihan dll.
"Nih... nih.... ambil hape ku , aku males ngomong ma dia, ajak dia ngobrol gih. Ga apa apa."
Sayup sayup terdengar suara yang agak jauh , suaranya bercampur dengan canda tawa yang begitu riuh, sehingga Anes sedikit susah membedakan suara siapakah yang bicara ini.
"Dek,,, kamu ga main game apa ?" Tanya Didim, Namun bagi Anes suara Didim ini sedikit aneh, karena agak sedikit serak dan berat.
"Kamu siapa?"
"Ya ampun, aku Ayah mu lah, gimana sih dek."
"Suaramu beda." Kata Anes masih ragu ragu.
"Ya kan karena kena Es dan Bir dek. Semua orang juga gitu kan." Kata Didim menjelaskan lagi.
"Oohhh... gitu ya. Ga akh.. males.. koin ku habis."
"Hahahahahahahaha..... Kalah ? di meja apa ?"
"Salah pencet, di meja Allin. Kan aku ga tau kalau meja itu mbacanya bukan Alin tapi All in, setelah masuk, kalah,,, habis langsung semua koinku." Jawab Anes menyesali ketidaktahuannya.
"Hahahahahahahahaha.... iya.. aku kemarin juga liatin Eryk main, jadinya aku tau, tapi aku belum pernah coba main yang itu. xixixixixix. Tinggal minta ke temen aja kan."
"Halah, minta ke temen paling nge send nya kan cuma 150 koin. Ntar lah aku mintain pelan pelan semuanya. Hahahahahaa." Jawab Anes sambil tertawa karena sebenarnya game ini juga hanya di jadikan hiburan saja. Jadi ga ada yang serius atau sampai menggunakan uang.
"Nah... gitu donk.. harus hajar.. temen main kalau ga mau ngasih delete saja.xixixixixi."
"Diiihhh kejem amat sih Yah.."
Tlutit...tlutit..tluthit..
"Yah, buka donk Cam nya."
"*Niihh... niihh... ambil hape mu, dia ngajakin Vcal nih... ketahuan ntar."
"Ya udah sini*."
Suara itu sayaup sayup terdengar di telinga Anes, namun Anes maaih tak mengerti itu suara siapa, karena ketumpuk tumpuk dengan suara orang lain, ada yang main gitar, ada yang bercandaan, dan semuanya itu sangatlah bising sekali.
"Yah....Ayah...."
(ga ada jawaban)
Tlutit...tlutit....tlu...
"Iya deekkk... maaf tadi ga ngeh, karena headset ku lowbath. Ini barusan ganti headset aku. Maaf ya.. ga tau kalau Cam nya kamu buka."
Kata Didim menjelaskan.
"Oh gitu, kirain kemana, Eh Yah tadi yang bicara sama aku siapa yah?"
"Ya aku lah dek siapa lagi. Masak ada orang lain?"
"Tapi suaranya berubah, ini normal seperti biasanya, yang tadi kok beda."
"Akhh mungkin gara gara headset kali dek. Yang tadi itu kan headsetku yang lama, emang suaranya agak beda gitu, mic nya pernah kemasukan minyak." Terang Didim seperti keliling lingkaran.
"Oohh... kirain."
__ADS_1
"Kirain apa ? hayoookk ?"
"Ga ada sih. hehehehe" Jawab Anes cengengesan.
"Pasti karena curiga kan ?"
"Ga." Jawab Anes singkat sambil tersenyum.
"itu apa Yah?"
"mana?"
"Daging yang di dalam baskom itu lo,, kok bentuk gigi pada kepalanya begitu Yah?" Tanya Anes penasaran, karena gigi pada kepala hewan yang relah di masak itu adalah runcing runcing tajam.
"Tebak apa hayo..."
"Apaan ?"
"Hehehehe.... Guk guk."
"Haaahhh.... !!! maksudnya Anjing ?" Tanya Anes kaget sekaget kagetnya.
"Iya. kemaren anak anak yang mendapatkannya pake ketapel, niatnya mau nyari burung malah dapetnya yang lebih besar. Kan lumayan hehehehe."Jawab Dimas sambil terkekeh tak berdosa.
"Kalian ga takut ma polisi Yah ? Kan di sini Membunuh Anjing itu melanggar hukum Yah, di sini Anjing itu di lindungi lo, belum tau atau gimana ?" Tanya Anes menjelaskan.
"Tau kok. Tapi kan itu Anjing liar. Bukan hak milik. Ga apa apa donk." Jawab Dimas masih berusaha membela diri.
"Ga ada orang lain yang lihat ?"
"Ga ada."
"Anjing aja kalau basah haram di sentuh yah, kok malah dimakan ?"
"Daging ayam di sini juga haram. Karena ga di sembelih dengan benar. Kalau mau bicarain halal ya gampang, jadilah vegetarian. Bukankah begitu dek ?" Sanggah Didim sambil minta pembenaran.
Anes hanya terdiam tak mampu menjawab karena semua kata yang di ucapkan Dimas adalah benar adanya.
Di sini, di negara ini, untuk mencari makanan yang benar benar halal bukanlah hal yang mudah.
Bakso ikan di campur minyak babi, minyak dalam mie instan juga minyak babi, bahkan cokelat yang biasa kita makan saat valentine pun gelatinnya terbuat dari gelatine babi.
So... jika mau makan yang benar benar halal solusinya ya itu vegetarian ditambah ikan dan telor saja. Karena ayam , bebek dan sapi pun di sembelihnya pakai mesin semua. Kehalalannya di pertanyakan.
Ini adalah resiko ketika muslim menjadi minoritas. Tantangan terberatnya adalah mencari makanan halal.
Bisa menemukan makanan hahal seperti menemukan berlian di segitiga bermuda. .
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
....@Ning_wiesna...