
"Apaan ini tag tag an begini ?!!!"
Tanya Dimas tiba tiba , setelah sekian waktu tak ada kabar sama sekali.
Lalu dengan mudah dan se enak jidat, menanyakan sesuatu tanpa di ikuti unggah ungguh.
"Apaan sih Yah ? Kenapa marah marah coba?"
"Siapa Triyono?"
"Temen gua, lantas apa urusan lu Yah, kenapa pulak marah marah ?"
"Apa hubungamu ma dia ?"
"Eh ? masih peduli ma Gua Yah ? Kirain engga." Balas Anes mulai ke sifat aslinya yaitu Ga peduli.
"Kamu kenapa sih dek ? kok jadi berubah?"
"Akhh ga ada apa apa. Perasaan lu aja kali Yah."
"Terus kenapa jadi Elu Gua juga?" Tanya Didim dengan rasa tak berdosa sama sekali.
"Bukannya dari dulu emnag gitu ya ?" Tanya Anes sinis.
"Kamu ada cowok lain?" Tanya Didim.
"Menurut lu ?"
"Emang ...ya, semua wanita sama aja."
"Tu tau." Jawab Anes cuek.
"Kamu kenapa sih dek sebenernya?"
"Ga ada apa apa."
"Udah ya Yah, Andra telpon nih, ntar tak telpon balik. Bye bye."
Kata Anes mematikan telpon sekalian menekan tombol power pada ponselnya.
Gedeg dan mulai malas dengan semua drama yang ada pada hidupnya, Anes perlahan lahan mulai mencoba menganggap semua sama, tak ada yang spesial lagi.
Toh pada kenyataannya dia yang dirugikan. Rugi waktu, rugi tenaga, rugi pikiran. Uang juga, meskipun uang hanyalah angka yang bisa di cari dan di genapi.
Beralih ke Ariz yang dia masih menjalani hidupnya bersama pacar online nya itu.
Ariz mengerti kondisi Anes yang tak mau di ganggu. Jadi ia pun sama sekali tak berusaha menghubunginya.
Dia menghabiskan waktunya bersama pacar online nya itu, juga aktif di sosmed. Meskipun sudah tak pernah lagi ngeroom bersama Anes di Nimboo. Namun Ariz masih bisa melihat pergerakan Anes di facebook.
Ariz berfikir bahwa Anes membutuhkan waktunya buat sendiri.
Dan ia menghormati privasinya itu.
Tiga hari kemudian ,
__ADS_1
"Dek, gua punya kenalan cewek, lewat FB sih, lucu dia." Kata Didim suatu ketika.
"Sering telponan?"
"Lumayan sih."
"Ooohhhh." Jawab Anes ber Oh ria meskipun dengan hati yang amat sangat sakit.
"Kamu ga marah kan ?"
"Ga, biasa aja. Kenapa gua harus marah pulak."
"Makasih ya."
"Yups." Jawab Anes singkat berusaha tak peduli.
Apa yang Anes harapkan dari Dimas lagi ? Tidak ada memang, selain membiarkannya sesuka hatinya.
Hatinya telah sangat terluka, namun ia juga tak mau menjadi pihak yang di "salahkan" jika ia mengakhiri lebih dulu.
Jadi memang dengan sengaja, ia membiarkannya sesuka hatinya, biarlah ia pergi jika memang sudah tak mau atau menemukan yang baru.
Namun di sisi lain Anes juga mulai memulai jalan hidupnya yang baru dan telah belajar membiasakan diri menjalani hari harinya tanya hadirnya Dimas seperti yang dahulu. Toh kesempatan ke dua itu pernah di berikannya dengan harapan menjadi langkah yang lebih baik.
Namun apa yang di harapkannya hanya sebatas spekulasi saja.
,,,,,,,,,,,,,,
"Ingat ya, aku ga suka lihat kamu deket deket ma laki laki lain. Apalagi sampai terlalu akrab begitu di sosmed."
"Mmm... kasih gua satu alasan kenapa ga kamu perbolehkan."
"Karena !, Kamu berteman dengan Mas dan Mbakku, dengan keluargaku, kamu ga tau apa kalau Masku dan Mbakku itu ga suka sama kamu, karena kamu orang nya terlalu keras. Nah ini sekarang kamu malah mesra mesraan di sosmed dengan orang lain pula." Jawab Dimas dengan nada meninggi.
"Ohhh,,, cuma karena itu ? hahahahaha." Sambut Anes dengan tertawa yang sedikit mengerikan penuh ejekan.
"Apa yang kamu tertawakan?"
"Lu laki laki, cuma gara gara itu terus lu marah marah ma gua, emang lu pikir selama ini orang tua gua suka sama lu ? Lu pikir bapak gua suka sama lu ? Ga ! Sama sekali !."
Jawab Anes sinis.
"Terus apa selama ini gua pernah komplain dengan segala kelakuan busuk lu itu ? pernah ga ?! Ga kan?!"
Lanjut Anes mulai sedikit berteriak.
"Tapi yang gua lakukan adalah terus berusaha meyakinkan keluarga gua, bahwa lu lah yang menjadi pilihan gua selama ini. Jauh berbeda dengan lu, yang malah berusaha nyari hiburan lain, lalu berusaha memberi tahu bahwa "Gua" Lah yang salah . Lucu sekali anda Bapak, untung saja bayi ku udah kubuang, kalau belom,,, rasanya gua ga akan tega anak gua punya bapak bencong kaya lu."
"Jadi selama ini bapakmu ga suka sama aku ?" Tanya Didim berubah pias.
"Emang, ...
Ciihhhhh lu tau karena apa ? karena lu suka makan daging anjing, lu suka ngumbar masalah pribadimu di sosmed, dan juga lu suka pamerin Amer di sosmed. Lu kira bapak gua ga tau ? Hahahahahahahaha ." Suara Anes menjelaskan dengan tertawa menyeringai.
"Di sisi lain, lu selalu menuntut gua untuk bisa seperti keluarga lu, bisa masak se enak ibuk lu, bisa bersahabat dengan kakak iparmu, bisa berubah seperti lingkunganmu, sedangkan lu sendiri ga pernah tuh berusaha kenal dengan keluarga gua. Hahahahahahaha.... "
__ADS_1
"Anda sungguh hebat Bapak, hebat sekali.
Seharusnya jika lu mencari seseorang yang bisa lu perlakukan seperti apa yang ku inginkan, carilah Pembantu , tinggal gaji tyap bulan, kelar sudah masalahmu.
Dan tinggal naikkan gajinya kalau lu punya niat dia merangkap juga ngelayanin lu di ranjang.
Selesai urusan. "
Jawaban dan segala keterangan Anes yang ia pendam selama ini di keluarkan semua dengan tawa menyeringai dan senyum sinis penuh kebencian. Dengan mata memerah nanar menahan amarah dan luka yang teramat dalam.
Dimas terdiam menunduk mendengarkan celotehan Anes yang panjang lebar, namun Anes tau menundukknya Dimaa bukan karena rasa bersalah, namun karena ada hal lain yang di sibukkannya.
Anes tersenyum kecut menyadari hal itu.
Hhmmmmmgghmm..... Menarik nafas panjang lalu menekan icon gagang telpon warna merah lalu menggeser nya ke atas.
Tak berselang lama, muncul notifikasi dari facebook, Dimas memperbaharui statusnya,
Cinta tak di restui, Rasa terhalang orang tua.
"Ciihhhh lebay amat lu, seakan akan dirimu yang teraniaya." Gumam Anes perlahan dengan sinis.
,,,,,,,,,,,
"Itu pacarmu kenapa nduk?" Tanya Triyono tak berselang 10 menit dari update an statusnya Dimas di Facebook.
"Biarin aja Mas."
"Ada masalah ?"
"Ya gutulah,,,," Jawab Anes cuek.
"Tapi kok kamu cuex nduk?"
"Lha terus mau ngapain lagi mas, nangis nangis, tereak tereak minta perhatian gitu ? Kaya sinetron indosiar aja sih. Hahhaha."
Jawab Anes sambil tertawa.
"Kamu cinta ga sih ma dia nduk?"
"Masih, dan sampai sekarang."
"Tapi kok sepertinya kamu mulai menghindar?"
"Emang iya ."
"Kenapa ?"
"Kepo????".
.
.
.
__ADS_1
.