
Sekian bulan, sekian waktu dari kepergian Susan, Waktu tetaplah waktu yang akan terus berganti setiap detiknya. Akan terus berubah seiring perginya matahari berganti bintang.
Ghanes Anjani yang masih berkutat dengan pekerjaannya, sedikit demi sedikit seakan lupa dengan duka , jika.... tak ada yang mengingatkannya kembali.
Di hari Lebaran bahkan Anes tak silaturahmi dengan ibunya, karena kondisi ibunya yang membuatnya makin terluka.
Tetap beraktifitas dan menyibukkan diri adalah cara terhebatnya buat menghibur hati.
Tak berbicara dengan ibunya adalah pilihannya untuk membuat ibunya tak meneteskan air mata lagi. Meskipun ia tau kondisi ibunya masih belum berubah sampai saat ini.
Masih penuh dengan kenangan Susandhatna kakak satu satunya.
Hanya telpon Andra atau Bapak nyalah yang bisa menyakinkan hatinya bahwa ibunya baik baik saja. Meskipun sebenarnya tak sebaik itu.
5 bulan sudah sejak kepergian Susan, Ghanes masih sibuk dengan dirinya dan urusannya.
Di sisi lain Dia dan Dimas Dimitri semakin dekat, karena telpon mereka yang tak pernah mati.
Saling berbagi lagu baru lewat earphone. Mendengarkan genre music kesukaan mereka.
Ajaibnya mereka sangatlah klop karena hampir penyuka segala jenis music. Dari rock, pop, dangdut, remik, sampai rege. Penyuka band band pentolan lokal kaya Slank, Padi, Boomerang, SID, Sheila on7, dan Juga menyukai music music daerah.
Juga mereka memiliki karakter yang hampir hampir mirip, sama sama suka ngaco, kadang kalau bercanda suka kelewatan. Namun kedekatan ini masih sebatas sahabat yang saling mendukung , saling menguatkan satu sama lain.
"Dek, kalau kamu liburan lagi kita ketemu ya, pingin ngobrol aja sih, biar lebih seru gitu." Kata Didim di suatu waktu.
"Akhh nanti lah aku cari waktu dech, gampang itu asal aku dah gajian hahahahaa." Jawab Anes sambil tertawa.
"Ahhh.. ga usah bawa duit banyak banyak lah, buat apa coba."
"Emang beli makan pake daon yah ? beli tiket kereta pake uang monopoli gitu?" Tanya Anes lagi.
"Heheheeh iya sih, tapi kan ga banyak itu. Kirain kamu mau ngabisin duit gajianmu." Jawab Didim.
"Saya masih waras Bambang." Jawab Anes.
"Hahahahaa iya iya, btw bagus tuh, panggil aku bambang, lalu aku panggil kamu Sumi." Kata Didim candain Anes.
"Diihhh ogah, apaan, kayak pacaran aja harus di rubah rubah pake peraturan pulak."
"Jahahahahaaha emang situ mau pacaran ma gua?" Tanya Didim ketawa bahagia.
"Tergantung." Jawab Anes cuex.
"Tergantung apa ?" Tanya Didim setengah penasaran.
__ADS_1
"Tergantung, gua ada cadangan yang lain atau ga. Xixixixixixi." Jawab Anes terkikik geli.
"Hhuuu dasar PKI." Jawab Didim.
"Ehhh awas lu ngata ngatain PKI, dikira beneran lo Yah. hahahhaaha." Jawab Anes tertawa geli.
"Babi." Sahut Didim gemes.
"Mana ada Babi cantik kaya gua, baik hati, rajin menabung pulak. hahahaa." Jawab Anes melanjutkan tawanya.
"Daripada dikatain Monyet, ntar Emosi. Padahal sama sama binatangnya. hahaha." Lanjut Didim masih dengan tertawa.
"Iya juga sih, padahal sama sama binatang, kenapa kalau yang 1 marah yang 1 ga ya ? kayak binatang punya agama aja, terus marah karena RAS nya di kata katain. hahhahaa." Sahut Anes ikut tertawa.
"Ya itulah kaummu, kaum kaum sumbu pendek, kaum kaum yang otaknya belum berkembang sempurna. Mungkin otaknya masih berbentuk Amoeba yang lembek, becek, jadi saraf sarafnya gampang konslet." Lanjut Didim menghiperbolakan kata kata.
"Laahhh konslet, dikira sambungan PLN."
"Eh manusia bisa lo konslet, contohnya ya Elu itu. Nyadar ga sih ?" Kata Didim kesal.
"Nyadar sih enggak. Btw, kalau gua konslet kenapa tiap hari nyariin?" Tanya Anes asal.
"Sepi ga ada elu." Jawab Didim.
"Hati hati jatuh cinta lu Yah." Kata Anes.
"Haahhhh !!!?Apa yah ?" Tanya Anes minta diulangi.
"Tempe goreng." Jawab didim
"Oh. ya udah." Jawab Anes cuek.
"Ahhhhh berisik lu, ini jadi ga fokus gua kerja." Kata Didim menggerutu .
"Kenapa Emang?" Tanya Anes sedikit heran.
"Jempolku kecepit balok." Jawab Didim.
"Bahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahhaha.......!!!!!!!" Tawa Anes lamgsung meledak dengan kencangnya mendengar penderitaan Didim.
"Heeh ! Awas lu kualat ma orang tua." Kata Didim
"Orang tua siapa?"
"Ya gua lah, siapa lagi ? Presiden?" Didim masih sedikit kesal.
__ADS_1
"Lahhh tuaan gua lah Yah." Kata Anes protes membela diri.
"Cuma beda bulan doank, rusuh amat." Didim menimpali tak mau kalah.
"Tetep beda Yah..."
"Ya udah iya deh iya.... btw jempolku sakit beneran nih."
"Minta obat sana gih, sama mandormu." Anes memberi saran.
"Iya juga ya, ya udah, jangan di matiin tlp nya, hapenya lagi di cash, headset bluetoothnya ga nyampek ke sana."
"Oke lah . siap."
Hari hari mereka selalu saling menemani, ngobrol bersama , bahkan terkadang, membicarakan hal hal yang sama sekali ga nyambung dan ga penting dengan kehidupan mereka.
Anes yang cuek , dan mandiri namun lemah, itu membuat Didim semakin tertarik dengannya. Unik menurutnya.
Sedangkan dalam pikiran Anes menemukan orang yang sefrekuensi dengan pola pikirmya sangatlah tidak mudah.
Anes sendiri merasa dirinya berbeda dengan wanita wanita pada umumnya.
Wanita yang pada umumnya suka dandan, berpakaian sexy, Anes sebaliknya , malah menyukai hal hal yang simple namun elegan.
Sedangkan Didim, dia merasa dalam hidupnya selalu menemui wanita wanita yang cengeng dan banyak maunya, ribet dengan dandanannya dan segala ***** mbengeknya, wanita yang terlalu manja, ketika melihat Anes yang cuek, judes, dia merasakan keunikan yang sangat menarik.
"Akkkhhh untung ada Ayah si bengek yang menemani gua di sini, kalau ga, jadi apa gua setelah Mas Susan ga ada. Akkhhh terkadang Tuhan punya banyak cara untuk menguji umatnya memang." Gumam Anes sendirian.
Anes tersenyum sendirian.
berkata dalam hati betapa bersyukurnya dia.
Dia membayangkan bagaimana kondisi Andra di rumah, ketika menghadapi semua ini.
"Akkkhhhh.... Tuhan, baik sekali padaku." Batinnya sambil tersenyum.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.