Pengorbananku Untuk Ibu

Pengorbananku Untuk Ibu
Danu Arjadi


__ADS_3

"ik.....!!! Krucil dah pulang ik?" Teriak suara keras seseorang yang tak lain adalah suara dari Bang Apri.


"Eh,,,, ******. Suara tuh di kecilin dikit napa Bang? Pecah ni telinga gua." Teriak i,ik tak dengan nyolot karena bising dengan suara Bang Apri.


"Krucil dah pulang belum?" Tanya Apri mengulangi pertanyaan yang sama.


"Yang berdiri di samping jendela tu manusia pa bukan? Mata lu aja siwer, manusia segede itu masih aja ga liat."


Jawab i,ik sedikit menggerutu.


"Ada apa sih nyariin Anes?" Tanya i,ik kemudian.


"Kepo aja lu ik." Jawab Apri melangkah menghampiri Anes yang berdiri di depan jendela memperhatikan kebon pisang sambil memainkan ponsel kecilnya.


Anes tak mendengar apapun karena kedua lubang telinganya di tutupi dengan earphone wireless merk Sony ericson dengan super bass sound nya yang selalu menjadi andalannya selama ini.


"Cil...!!!!!!! Woe.....!!!!!!!!!" Teriak Apri keras menepuk pundak Anes sembari mencabut salah satu erphone dari lubang telinga Anes sebelah kiri.


"Eh, apaan sih?" Tanya Anes kaget tiba tiba ada orang yang mengganggu kesenangannya ini.


"Ngelamun aja lu cil." Kata Apri lagi.


"Apaan sih bang?" Tanya Anes heran.


"Lu ada waktu kan? Jam berapa lu pulang?"


"Ada apaan sih, dari tadi perasaan ribet amat sih? nanya nanya ga jelas gitu? Ada apa?" Tanya Anes mulai jengkel dengan ketidakjelasan Apri.


"Ga penting banget sih, cuma kalau lu ada waktu kita main main dulu ya bentar, main kemana gitu kek."


"Diiihhh,,, ogah bener gua." Jawab Anes menolak.


"Ni gua lagi ada temen gua di rumah cil, ngajakin main, tapi gua ga tau mau ngajakin dia main kemana . Pusing juga gua. Ayo donk cil, lu mau ya,,, ntar pulang gua anterin dah. Oke ga?" Tanya Apri memelas.


"Ga ! Sekali ogah ya ogah, lagian itu masalah lu ama temen lu kenapa musti gua yang tanggung jawab coba?"


"Jangan mau nek, palingan juga suruh nemenin Danu, si temen lu yang barusan jadi duda itu kan ?" Jawab i,ik dari samping.


"Siapa ik?" tanya Anes pada i,ik ingin tau.


"Tau tuh, temennya Bang Apri tuh, katanya barusan jadi duda karena istrinya ,minggat ke kalimantan dengan selingkuhannya, dah gitu di kalimantan ga kerja, kehabisan duit pingin pulang ke jawa ga bisa. Minta kiriman duit dari Danu. Dasar Danu nya goblog, mau maunya ngirimin duit buat beli tiket mereka berdua pulang ke jawa. Stress di bikin bikin sendiri kok sekarang minta di temenin."


Cerocos i,ik yang entah darimana dia bisa tau sejelas itu sebuah kisah dari seseorang yang Anes sendiri tak tau itu siapa.


"Ajak sini aja napa Bang, ngobrol ngobrol bareng gitu, lagian ga enak gua kalau harus ke rumah elu Bang, nanti dikira gua wanita panggilan pulka, secara rumah lu kan cuma ada elu Bang." Kata Anes memberi saran pada Apri.


"Nanti i,ik mencak mencak pulak keg kemarin-kemarin." Kata Bang Apri kemudian.


"Lah, coba lu pikir nek, dia bawa Danu ke sini, terus di tinggalin gitu aja, dia nya dengan enak enakan main dadu di pos. Apri gila memang, sedangkan gua waktu itu lagi ada kerjaan di luar, malah suruh nemenin temennya sedangkan dia sendiri enak enakan main judi. Siapa coba yang ga marah? Kalau elu di gituin pasti juga akan lebih marah dari gua nek." Kata i,ik membela diri.


"Lah,,, Bang Apri masih hobi main dadu? Ga sembuh sembuh?" Tanya Anes menoleh pada Apri yang garuk garuk kepalanya yang tidak gatal sambil cengengesan.


"Ya udah kalau gitu, gua suruh dia kesini aja ya cil, ngopi ngopi kita." Kata Apri.


"Sini 100ribu, enak bener lu, suruh bikinin kopi ga ngasih duit, sini!" Kata i,ik mengulurkan tangannya lebar ke arah Apri dengan memaksa.


"Bahahhahhahahahahhahahahahhaaaaaa............." Anes tertawa dengan sangat kerasnya melihat adegan yang dulu sering dia lihat antara i,ik dan abang sepupunya ini, ternyata mereka sama sekali belum berubah hingga kini masih sama.


"Niihhhh,,,, dasar lu ik, puas kan lu?" Kata Apri yang memang dari dulu tak pernah menolak permintaan adiknya ini sejak ia di khianati tunangannya dulu.


Penghianatan itu pulalah yang membuat  Apri suka menghamburkan uangnya di arena perjudian, karena pelarian tentunya. Rumah yang ia bangun kini hanya di tinggalinya seorang diri, karena Ayah dan Ibunya tinggal di rumah mereka sendiri yang sudah di bangunkan oleh Apri juga.

__ADS_1


...................................                          .....................................                   ............................


Tak berselang 5 menit, terdengar suara motor yang sedikit berat, menandakan itu bukan knalpot suara motor bebek yang biasanya sedikit terdengar cempreng.


"Asalamualaikum......." Terdengar ucapan salam dari pintu depan.


"Walaikumsalam, masuk aja Dan, sini lewat pintu samping aja, langsung ke belakang, di depan panas Dan, rumah gua lu udah kunci kan?" Tanya Apri yang panjang pertanyaannya ngalah ngalahin rel kereta exspres jakarta bandung.


"Udah. Nihh.." Jawab laki-laki itu yang tak lain adalah Danu menyerahkan rentengan kunci yang entah kunci apa saja itu yang disatukan dalam satu tautan.


"Eh, Mbak? Temannya mbak i,ik ya?" Tanya Danu mengulurkan tangan pada Anes.


"Iya." Jawab Anes singkat sambil menerima uluran tangan Danu tersenyum dengan tatapan mata tajam.


Tatapan mata tajam, bukan pertanda tidak suka, namun memang pandangan bola mata Anes yang tajam meskipun tidak dalam kondisi marah.


Hal ini pula yang seringkali menjadikan kendala di kehidupan Anes, yaitu karena pandangan matanya yang tajam menjadikan ia sering di sebut sebagai orang yang kurang bersahabat dan judas. Memang memiliki wajah antagonis itu susah susah gampang . Sedikit ga senyum aja dikatain sedang marah, apalagi kalau sedang marah beneran, mungkin akan banyak yang mengatakan sedang mendalami peran nenek lampir pada film misteri gunung merapi di tahun bahlul itu.


Namun Danu malah menatap Anes dengan senyum senyum ga jelas.


"Kopinya minum dulu nih, ntar kalau dingin lu mencak mencak pulak seperti biasanya ." Kata Apri menyodorkan cangkir kopi yang masih lumayan panas ke arah Danu.


Mereka berempat pun asyik ngobrol ngalor ngidul di depan jendela dapur yang langsung mengarah ke kebun pisang . Namun di spot dapur ini adalah spot yang paling sejuk di antara spot spot nongkrong yang lain di rumah ini.


.......................................................            .........................


16:45


"ik, gua balik ya ik. Ntar ga dapet bus gua ik. Dah hampir malem ni." Kata Anes meringsek dari tempat duduknya.


"Malem nenek lu, jam 5 aja belum genap kok lu bilang malem, buta lu ya?" Jawab i,ik mencoba mencegah Anes untuk pulang.


"Heleh, bilang aja lu mau gua temenin di rumah kan, hahhahhahaah banyakan gaya lu." Kata Anes meledek i,ik.


"Biar dianterin ma Bang Apri sono ke terminal, lu masih harus ke hotel kan? Lu mau pake baju lu atau pake baju gua ? "


"Eh iya, hampir lupa gua, ya udah gua ganti baju dulu ya, habis itu langsung cabut. Btw, Bapak sama Ibuk kemudian.


"Heleh kok masih nanya, keg lu ga tau kegiatan orangtua gua aja lu nek." Jawab i,ik yang  tak menjawab pertanyaan Anes. Namun Anespun sebenarnya sudah tau kemana orang tua i,ik.


Pasti sendang mengurusi berbagai pekerjaan mereka masing masing, secara oarang yang bekerja pada keluarga ini bukan cuma 1 atau 2 orang , bahkan sampai ada sekitar 60 an orang lebih setiap harinya. Dan pasangan ini sangatlah kompak. Sebenarnya jika Anes sedang tidak ada, i,ik juga biasanya bersama mereka sebagai sekertaris, maksudnya i,ik yang mengantongi tablet atau buku note sebagai catatan kecil untuk membantu orang tuanya.


"Bang anterin Anes ya bnag, kasian kan kalau harus wara wiri dari sini lalu ke hotel, terus masih harus ke terminal juga." Pinta i,ik pada Abangnya itu.


"Iya iya ik, lu keg ga tau sikap gua ke krucil aja sih perasaan, heboh amat. Nanti sekalian gua ajak Danu jalan jalan , mau mancing buat hiburan, daripada gua main judi. Ya kan Dan?"


Tanya Apri sembari menolehkan kepalanya pada Danu minta persetujuan.


"Kalau gua sih oke aja Ap, daripada elu terus terusan ngabisin duit buat judi, mending mancing aja kale, kalau dapet ikan bisa di bakar, gua cinta gurame bakar, hahhahahaahahaa,,,," Jawab Danu menyetujui ide dari sahabatnya Apri yang sebenarnya dia sangat tidak setuju ketika Apri terus terusan ngabisin duitnya buat main judi. Hanya karena di kecewakan wanita yang belum jadi istrinya tapi bisa kehilangan akal begitu.


"Ya udah,, coop kita berangkat. Yok akh cil." Kata Apri merangkulkan tangannya ke arah pundah Anes seperti yang sering ia lakukan dahulu, ketika Anes masih bocil.


Sedangkan Danu mengekor di belakang saja tanpa berkata apapun.


"WOeeeeee gua ga di pamitin !!!!!!!!!" Teriak i,ik protes.


"iiiiiiiii........kkkkkk gua pulang ya, makasih lo di kasih makan hehhheheee...." Jawab Anes meledek i,ik sambil menjulurkan lidahnya.


"Dasar lu, ya udah sono balik , ingat ga usah mampir mampir, pulang ya pulang, langsung pulang." Kata i,ik setengah memerintah.


"Siap bu Bos." Jawab Anes memberi hormat pada i,ik sahabatnya yang baik hati ini beserta keluarganya yang telah dengan ikhlas menolongnya dan menutupi aib yang ia buat dengan sengaja dan penuh kesadaran.

__ADS_1


..........................


Sampai di penginapan, mereka berdua Apri dan Danu hanya menunggu di depan pos satpam saja, menunggu Anes turun lagi, mereka tidak berkeinginan masuk sama sekali karena memang tidak punya kepentingan apapun di dalam sana.


10 menit kemudian, Anes sudah turun kembali menyeret koper kecilnya itu dengan langkah gontai.


"Ni gimana kalian mau bawa koper gua dah? Emang bisa di angkut pake motor?" Tanya Anes kemudian setelah kembali memperhatikan bahwa mereka naik motor.


"Sangat bisa lah, lu biar di belakang Danu, nah koper lu biar gua yang bawa, kan motor gua motor bebek, jadi bisa lah di taroh depan. Lu ga apa apa kan di bonceng Danu? Aman dia, dia ga bakal mesum kok cil, gua jamin dah." Kata Apri meyakinkan Anes yang terlihat ragu ragu.


"Serah elu dah bang, asal lu di belakang motor kita yak." Pinta Anes.


"Iya iya , gua tau kok cil. Khawatir amat lu dah, keg ga kenal gua aja lu."


Sedangkan Danu hanya diam memperhatikan perdebatan mereka berdua sambil senyum senyum sendiri, entah apa yang ada di dalam isi otaknya dia saat ini.


Tak banyak bicara lagi mereka segera meluncur ke terminal bus antar kota yang akan mengantarkan Anes menuju ke rumah orang tuanya di luar kabupaten. Yang jarak rumah Anes ke terminal kota ini masih sekitar 75 km lagi. Biasa di tempuh bus dengan 1,5 jam saja dengan kecepatan standart tanpa macet. Kalau macet ya wassalam. Kadang bisa sampai 3 atau 4 jam.


Lagi lagi perjalanan panjang yang mesti Anes tempuh. Namun ya ini adalah anugerah sekaligus resiko yang mesti kita terima ketika tinggal di Indonesia negara yang teramat luas dengan jajaran pulau pulaunya yang juga begitu banyak dan tersebar dari yang kecil hingga pulau pulau yang besar.


Jadi,, mari kita dukung pemerintah dengan pembangunan infrastrukturnya untuk menunjang mobilitas kita agar tujuan untuk menjangkau daerah daerah yang lebih jauh semakin mudah.


Bayangkan saja jika seluruh kota di indonesia bisa terintegrasi dengan kereta exspres yang kecepatannya hampir menyamai pesawat terbang, betapa di manjakannya kehidupan penduduk indonesia. Hehehehe.


Author : Bayangkan aja dulu, mobilitas yang muda seperti di film avenger hehehehehe. 


Jajaran pohon pinus yang berderet di sepanjang jalan provinsi ini semakin menambah kesyahduan perjalanan yang Anes lakukan saat ini. Suasananya masih sama seperti dahulu, jalan jalan berliku liku dengan hiasan pohon pohon pinus dari perhutani . Keindahan yang tak lekang oleh waktu. Keindahan ini pula yang selalu berhasil membuat Anes rindu dengan kampung halamannya. Di manapun tempat Anes merantau , Anes bakal selalu ingin menikmati perjalanan di jalan yang indah dan segar ini.


Hembusan angin yang sangat segar dan kaya akan oksigen membuat Anes seperti hidup kembali setelah terkubur mati jauh di dalam inti bumi.


Kehidupan yang selalu ia dambakan untuk masa pensiunnya nanti, yaitu hidup di tempat yang sehat, penuh dengan pepohonan, kedamaian serta banyak cuitan burung burung di setiap ia membuka jendela pagi.


Namun di saat yang bersamaan suasana ini pula yang mengingatkan Anes pada ketidakberadaan Susan, kakaknya yang telah lebih dulu pulang pada Tuhan tanpa menunggunya. Karena dulu ketikaSusan masih ada, Anes seringkali di bonceng Susan untuk sekedar menyetrika aspal menikmati dunia. Jalan ke sana kemari naik motor berdua kadang bertiga dengan Candra (Author : Tidak untuk ditiru) wara wiri ke sana kemari, tangki bensin kosong balik pulang.


Sayang sekali saat ini Anes tak tau lagi bagaimana suasana rumahnya setelah di tinggal Susan.


Anes tak tau, apakah rumahnya akan sepi atau tampak biasa biasa saja. Juga kondisi ibunya yang juga msih seperti itu. Anes hanya sedikit berharap, semoga kepulangannya ke tanah air bisa sedikit mengobati kesedihan ibunya, meskipun Anes tau Susan tak akan tergantikan apalagi di mata dan hati seorang ibu.


Karena Anes sendiri merasakannya sekarang, KEHILANGAN. Bahkan anak yang belum kelihatan wujudnya saja rasanya begitu menyakitkan hati, apalagi anak yang biasanya setiap hari bersama, yang di jaga dari dia orok hingga beranjak dewasa, namun di panggil Tuhan begitu saja, hati ibu mana yang tak terluka.



.................................................


18:47


"Asalamualaikum........" Teriak Anes ketika sampai depan pintu rumahnya yang masih terbuka, dan terdengar suara orang mengaji dari dalam. Anes sangat familiar dengan suara ini, siapa lagi kalau bukan suara dari Ayahnya Anes yaitu Pak Alan Sutoro.


Suara yang sudah lama tak di dengan Anes sehabis maghrib. Indah, namun saat ini berhasil membuat telinga Anes pengang dan mata memanas.


"Asalamualaikum...." Ulang Anes mengucap salam namun semabri melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah setelah ia melepas sepatunya.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2