
"Walaikumsalam,,,,,, mbaakkk,,,,,, sehat mbak,,,,?"
Sambutan dari bocil kecilnya yaitu Aditya Candra dengan gaya rambut jabrik masih seperti dulu ketika Susan masih ada, masih belum berubah.
Dia pun meraih koper yang ada di tangannya Anes dan membawanya masuk ke dalam kamarnya Anes langsung.
"Alhamdulilah sehat Ndra, ibuk mana ?" Tanya Anes yang seperti tak mendengar suara ibunya sama sekali.
"Ada kok sama bapak di dalam. Mungkin sedang menemani bapak baca Qur'an."
"oouuhhh pantesan tadi aku ucap salam ga ada yang nyautin."
"Heheheheheehee maaf mbak." Jawab Andra cengengesan.
"Jangan bilang lu main game dengan headset ya." Kata Anes mendelikkan matanya ke arah Canda.
"Hehhehehehehe,,,,,,," Candra menggaruk nggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Anes menggeleng gelengkan kepalanya gemas ,"Dasar lu bocil masih aja belum berubah ya."
Tiba tiba nongol kepala seorang bapak bapak dari dalam kamar samping kiri tepat di sebelah meja televisi.
"Lohh,,, Nes kapan sampai?" Tanya Pak Alan meraih kepala Anes dan mendekapnya.
"Hehehhehehe barusan pak, gimana bapak sehat kan?"
"Bapak sehat, ibumu juga sehat, hatinya aja yang engga, susah banget Nes , bingung bapak mau gimana, bahkan sampai sekarangpun ibumu belum mau pergi ke rumah mas mu, sama sekali ga mau, ga kuat katanya."
Kata Pak Alan sedikit menggerutu curhat kondisi istrinya.
"Ibuk dimana?"
"Ada di dalam, ganti baju." Jawab Pak Alan lalu duduk di kursi depan televisi.
Perlahan lahan dari dalam kamar muncullah Bu Santi berjalan perlahan perpegangan pada tembok.
"Udah biarin Nes, jangan di bantuin, biar belajar dia." Kata Pak Alan mencegah Anes yang beranjak berdiri mau membantu Bu Santi yang sedikit kesusahan berjalan.
Meskipun sebenarnya jika melihat dari tahun tahun kemarin keadaan Bu Santi yang sekarang sudah jauh lebih baik.
Namun dengan kondisi fisik yang terlihat lebih memprihatinkan dengan rambut 70% memutih yang agak panjang di bawah dagu, serta kulit yang wajah yang kusam dan lingkaran hitam pada mata yang menandakan beliau kurang waktu tidur dan stress yang berlebihan.
"Nes, kok malam baru sampai Nes? Urusanmu baru selesai ya sama temenmu? Ga ada apa apa kan yak? Kirain kamu siang udah sampai rumah, ternyata habis maghrib." Tanpa jeda Bu Santi bicara ciri khas emak emak yang super perhatian yang sering di keluhkan anak anaknya karena perhatian yang dinilai lebay dan mengganggu.
"Iya buk, tadi ngobrol ngobrol dulu sama Bang Apri, pas kebetulan dia ada di sana, jadi sampai lupa waktu, hehehehe,,, Ibuk nungguin ya?" Jawab Anes cengengesan menutupi semua yang telah di lakukannya hari ini.
"Ya, ibuk cuma khawatir aja , katanya sudah mendarat kok nyampe nya rumah lama, takut ada apa apa di jalan gitu lo, kan biasanya juga ga selama itu kan?" Kata Bu Santi menjelaskan.
"Ibuk sudah mendingan bukan?" Tanya Anes kemudian.
"Ya mendingan lah Nes, ibuk sendiri kok bingung , ga tau, apa ibuk ini bisa sembuh normal atau ga." Jawab Bu Santai mulai menundukkan kepalanya meratapi kondisinya yang terlalu lambat untuk kembali normal.
"Ya,,,, makanya kalau mikir itu mikir aja yang baik baik, ngapain mikir hal hal yang buruk, toh hal yang buruk yang di khawatirkan itu juga belum tentu terjadi bukan?"
"Ya juga sih Nes."
"Nah,,,, itu ibuk lebih tau, yang sudah ya sudah, ga usah dendam di simpan di dalam hati, itu cuma bikin tensi darah jadi tinggi, contoh tuh Bapak yang selow selow saja, jadi bisa lebih awet muda daripada ibuk, padahal umur ibuk nyata nyata 7 tahun lebih muda kan?!" Kata Ane sedikit meledek Bu Santi sambil cengar cengir.
"Tau tuh ibuk, di bilangin susah mbak." Celetuk Candra tiba tiba.
"Apaan lu Ndra , di rumah kalau ga kerja palingan juga nge game terus." Kata Anes menerka nerka.
"Kok kamu tau Nes?" Tanya Bu Santi menatap Anes dengan sorot mata penuh keingintahuan.
"Yaaaaaaaahhhhhh ibuk, Anes kan sudah sangat hapal dengan kelakuan si Candra bocil yang menyebalkan satu ini buk, dari dulu juga begitu bukan? Belum ada yang berubah kok sampai sekarang, ya kan Ndra? Hahahahhaa."
Jawab Anes mentertawakan adiknya yang cuek pura pura tak mendengar.
"Mbak,,, bikin mie yuk." Kata Candra tiba tiba sambil mengedip ngedipkan matanya ke arah Ghanes mirip si upin ipin yang sedang merayu kak Ros.
"Nah,,, liat kan Pak, Buk seperti apa anak kesayangan kalian ini, kumat dia. Kaya ga bisa bikin mie instant sendiri aja. Padahal anak TK juga bisa bikin mie instant. Segampang itu lo. " Kata Anes menggerutu namun dengan segera ia melangkahkan kaki menuju dapur di belakang.
Dapur rumah ini terpisah dari rumah utama, karena dahulu dapur adalah rumah Pak Alan yang lama, berdinding bambu berlantai tanah, namu terbilang cukup luas dengan ukuran 13m x 10m.
Nah rumah yang sekarang itu Anes yang membangun dengan posisi 3m di depan rumah lama agak menyerong ke kanan, karena kata orang orang tua jaman dulu, rumah anak itu ga boleh menutupi pintu masuk dari rumah orang tuanya, katanya agar rejekinya ga ketutup.
Jadi Anes membangun rumah dengan posisi di depan rumah orang tuanya namun pintu utama masuk ke dalam rumah lama masih bisa di akses seperti biasanya tanpa ada penghalang apapun.
__ADS_1
Dan sekarang rumah lamanya hanya di jadikan dapur dan tentu saja gudang. Hahahhahahaha . Di isi dengan remahan remahan masa lalu yang bisa saja itu di jual di loakkan, bisa mendatangkan sedikit uang untuk membeli masa depan. xixiixixixixi.
Bagi yang jiwa jiwa penakut dan cemen, kondisi dan posisi rumah yang terpisah bukanlah ide yang bagus, karena jika malam malam kelaparan dan harus keluar rumah dulu untuk masuk ke dapur, maka hal itu akan jadi hal yang sangat mengganggu kejiwaan . Hahahaha.
Namun rumah Pak Alan memang sengaja tidak di satukan dengan rumah yang di bangun oleh Anes karena kata Pak Alan, "Rumahku biarlah tetap menjadi rumahku, biar itu jadi kenangan dulu aku dan ibumu membesarkan anak anakku, jadi jangan di hilangkan, kalau hanya di alih fungsikan ya ga apa apa sih."
Memang seringkali para orang orang yang semakin dewasa itu selalu bahagia bernostalgia dengan kisah kisah masa lalunya, perjuangan masa lalunya, bisa jadi hal itu yang malah menjadi penyemangat hidupnya saat ini.
Ghanes dan Candra mulai sok sibuk di dapur, dengan sengaja mereka menyalakan tungku kayu sekaligus sebagai penghangat ruangan, yang memang daerah tempat tinggal Anes kalau malam suhu udara bisa sampai 18℃. Lumayan dingin untuk wilayah tropis indonesia yang cenderung hangat.
Di dapur sebenarnya aja juga kompor, namun dasarnya orang jadul yang masih hobi menggunakan cara cara lama, namun jika dipikir pikir dan di rasa rasa, hasil masakan di tungku kayu itu rasanya lebih enak daripada yang di masak di kompor, kata cep Arnold dan Nex Carlos sih ada aroma aroma smooky smookynya gitu.
Meskipun cuma mie instant hasil produksi perusahaan dalam negeri tapi percayalah soal rasa tetap juara.
Tak ada yang lebih nikmat dari cita rasa lokal.
Semangkok besar mie instant telah siap, seperti kata orang orang satu kurang dua kebanyakan, jadi ya tetap pakai 4 bungkus untuk berdua (hahhahahahahhahaha).
"Ndra, ibuk gimana akhir akhir ini ndra? udah mendingan bukan?"
"Ya,,,, begitulah , seperti yang mbak lihat sendiri sih, sudah mulai membaik, namun kadang bapak itu yang agak keras sama ibuk, mungkin karena lelah juga sih mbak ngeliat ibuk terus terusan begitu, jadi ya ga perlu menyalahkan siapa siapa. Berdoa saja semoga semuanya lekas membaik, siapa sih yang mau mendapatkan kejadian begini mbak."
Jawab Candra yang ikut Anes duduk di depan perapian sambil bersama menikmati mie rebus panasnya itu.
Mie rebus rasa kare dengan sayur bayam yang melimpah kesukaaan Anes dan sebiji cabe rawit merah. Karena Candra tau bahwa kakak perempuannya itu tidak terlalu bisa makan pedas seperti dirinya, jadi style mie nya pun mengikuti kakaknya.
"Lah Ndra ini tadi kenapa lu jadiin satu mie nya? mana cabe cuma sebiji doang tanpa di iris, hahahahaa"
Kata Anes tertawa memperhatikan sebiji cabe merah utuh yang berenang di atas kuah mie.
"Yaelah ribet mbak mbak, ribet nanti nyucinya, males ah,,, soal cabe,, kalau nanti kukasih cabe banyak mampus kau, lagak lu keg kuat makan pedes aja mbak mbak."Oceh Candra sambil terus menikmati mie nya berdua dengan Anes.
ssllllllllrrruuuuuuuuupppp......... ssssslllllrrrrrr......uuuppppppppp
"Ooohh,,, ini tadi tuh demi gua toh,,, hehhehehehe makasih loh beeb, xixixiixxi."
"Iiiiihhhhh mbak jijik aku mbak, apaan bab beb bab beb,,, jijik tau."
"HAhhahahhahaahahahahhaaa......." Anes tertawa terbahak bahak melihat adiknya bergidik ngeri. Lucu dan menggelikan sekali.
"Mampus kau mbak mbak,,, sapa juga yang suruh makan kuah panas pake ketawa, dasar kaya bocil sih lu, gitu aja musti di bilangin. jiihhhhhhhh yang tua siapa yang muda siapa. cxcxcxccx"
Seru Candra yang malah mengejek Anes tersedak sedak.
"Airrr,,, uukkhhggg,,, uukkkgghhhh..."
"Ambil ndiri, keg ga punya tangan dan kaki aja lu." Jawab Candra ga peduli.
"Wooooo... kualat lu Ndra."
"Doa lu ga akan terkabul, weeeeee,,,,!!!!!" Kata Candra semakin memberikan ejekan pada Ghanes yang sudah menjulurkan tangannya ke meja di sampingnya untuk mengambil cerak tempat air putih.
Ya memang air putih di rumah ini selalu di sediakan di mana mana. Karena semua orang tau bahwa penghuni rumah ini sangat hobi mengkonsumsi air putih, terkecuali Pak Alan yang lebih sering minum kopi daripada air putih biasa.
"Tuhhh nyampek kan tanganmu buat ambil air minum, makanya ga usah manja." Seru Candra lagi.
"Yeeeeee,,,,,,, reflek itu tadi tolil." Kata Anes membela diri sembari menoyor kepala nya Candra seperti kebiasaannya yang dulu.
"Mbaakkkkk !!!!!! Kebiasaan lu ya, untung Mas Susan ga ada, kalau dia masih ada mampus kau mbak."
"Kenapa? Sekarang ga berani sendirian? Dasar bocil, cemen lu."
"Kan gua anak baik , mana ada gua bikin gara gara duluan mbak, tapi kalau ada yang memulai atau mengajak, ya gua yang paling semangat, hhahahahaahaaha."
"Dasar cemen." Kata Anes ngeloyor pergi sebelum mie dalam mangkoknya tandas.
"Cuci cuci bagian lu Ndra, gua ogah, hahahhaha.." Anes tertawa penuh kemenangan.
"Dasar ! Rese !" Gerutu Candra merasa dirinya di kerjain oleh kakak perempuannya. Namun dia malah tersenyum, ada sebersit harapan dan kebahagiaan dalam hatinya, berharap bisa mengobati hati ibunya yang merasa kesepian tiada tempat untuk baku cerita tentang apa yang di rasakannya, selain juga karena Anes adalah anak yang paling banyak mulut di dalam rumah ini. Suaranya yang cempreng keg burung kutilang yang bernyanyi mencari belalang di pagi hari.
.......................
Di ruang tengah.....
Ternyata ibu dan bapaknya masih asyik melihat serial OVJ yang memang sangatlah menghibur malam malam malam mereka.
__ADS_1
Anes tersenyum saja melihat kedua orangtuanya asyik menonton itu dan tertawa tawa melihat aksi lucu para pemain pemainnya.
"Pak, besok mungkin Anes mau ke makam, Bapak mau nganterin ga pak? Kan Anes belum tau posisinya sebelah mana pak." Kata Anes setelah duduk di sebelah bapaknya.
"Oh, itu,,, okelah, ga mungkin kamu ngajakin Candra karena Candra kan kerja , biasanya jam 4:30 baru nyampek rumah dia. Oh ya malamnya bikin acara selamatan ya sekalian, kirim doa buat Masmu. Gimana?"
"Oke . Jadi pergi ke makam nya agak pagian aja kalau gitu pak, habis itu saya bisa cepat cepat pulang kan, lagipula harus mampir pasar dulu untuk belanja bukan?"
"Cukup ga waktu dan tenagamu? kalau dirasa ga cukup ya berarti selametannya besoknya aja, lusa gitu."
Tanya Pak Alan sedikit kawatir dengan idenya sendiri.
"Akkhhhh cukuplah pak, kan aku tinggal belanja saja, lagian aku kalau belanja kan cepet ga kaya ibuk, heheheeheee aku belanja paling setengah jam juga selesai kok. Undangannya seperti ketika yasin tahlil biasanya kan? 60 an orang bukan?"
"Ya sekitaran segitu lah." Jawab Pak Alan membenarkan.
"Lagian kalau masih pagi pagi itu mau nyari kue kue pun di pasar masih banyak pak, sekalian aja aku belanjanya kan yak."
"Oh iya kalau kamu udah yakin waktumu cukup, aku sekarang sms Bu Warni untuk masak besok ya biar cepet gitu."
"Emang beliau ga sibuk pak?"
"Ga lah, dia itu sibuk kalau hari selasa dan jumat, ketika sedang produksi tahu, kalau selain hari itu kan dianya ga sibuk, yang ngerjain sudah anak buahnya."
Pak Alan pun sibuk dengan ponsel mini di tangan kanannya. Ponsel kesayangannya yang masih menjadi primadona hingga saat ini. Katanya kalau gonta ganti ponsel harus belajar lagi dan belajar lagi.
"Beliau bersedia An." Kata PAk Alan menoleh pada Anes sembari tersenyum bahagia.
"Aku suruh datang jam 8 pagi An. Oke kan?!"
"Oke pak, jadi jam 8 aku sudah harus sampai rumah lagi ya? Cukuplah. Di makam paling cuma 10 menit doank, lalu aku pulang dulu nganterin bapak dan sekalian ganti baju lalu cuss ke pasar buat belanja. Setengah 6 pagi bisa ka pak kita berangkat ke makam?"
"Bisa lah, lagian makam itu kan ga ada yang menjaga seperti di perkotaan, jadi jam berapapun bebas keluar masuk, lagian jam setengah 6 itu matahari sudah naik kok, terkecuali musim penghujan yang bisa seharian penuh ga ada matahari."
"Eh,,,, apa? apa? apa? Kok gua ga di kasih tau? ada apa?" Tanya Candra dari arah dapur.
"ini mbakmu besok mau ke makam, lalu malamnya sekalian mau bikin selametan kirim doa buat Susan."
Jawab Pak Alan menjelaskan pada Candra.
"Terus yang masak siapa pak? kan besok Candra kerja, mana bisa bantuin?"
"Ada bu Warni."
"Berarti besok pagi pagi mbak Anes pergi ke makam donk? Kalau ga pagi pagi mana mungkin keburu waktunya mbak. Di rumah cuma ada beras gula dan kopi aja sih yang ga usah beli lagi. Kalau kurangpun cukup ke toko ada."
"Iya , gua sama bapak mau berangkat ke makam jam setengah enam, setelah itu pulang lagi buat mandi dan ganti baju baru belanja ke pasar. Ada kertas ga Ndra?" Tanya Anes kemudian menatap Candra.
"Ada kok, buat apaan?"
Tanya Candra tapi anaknya langsung ngeloyor masuk kamar.
"Nih,, buat apaaan sih?" Candra mengulangi pertanyaannya pada Anes sembari menyodorkan buku notes kepada Anes.
"Buat nyatet belanjaan, daripada kelupaaan gitu."
"Oh, kirain buat apaan kok minta kertas. Sini aku bantuin mikir."
Tiba tiba Bu Santi nyeletuk .
"Nes kalau belanja ga usah berlebihan secukupnya aja. Kamu itu kebiasaan dari dulu kalau beli apa apa selalu kebanyakan, rumah kita kan ga ada tempat buat nyimpen banyak, lagian kalau lebih ya dikit ga apa apa, kalau kebanyakan juga mubazir kan."
"Heheheheheh siap buk,, siap. Kali ini bakal aman deh buk."
Anes dan Candra pun berunding dan saling menghitung keperluan buat selametan yang tentu saja masih sebentar sebentar bertanya sama bapak dan ibunya yang lebih berpengalaman tentunya.
Selalu orang tua yang lebih banyak makan asam garam dunia tetap harus di jadikan sebagai penasehat kehidupan, juga termasuk dalam pengambilan keputusan dan itung itungan, hanya penasehat ya,,,,, ingat, penasehat bukan mutlak pengambil keputusan.
wxwxwxwxwxw
.
.
Author : Save your parent until gone.
.
__ADS_1
.