Pengorbananku Untuk Ibu

Pengorbananku Untuk Ibu
PANDAWA


__ADS_3

Bbbbbrrrrrrrmmmmmmmmmmmmm.............


Bbbbbrrrrrrrmmmmmmmmmmmmm.............


Suara deru motor saling bersahutan di tanah lapang sebuah pantai yang masih dalam proses pengembangan.


Terlihat pantai yang terbentang begitu indah jika di lihat dari jalan raya di atas bukit menuju pantai tersebut. Ada beberapa motor yang malah menghentikan lajunya karena terlalu terpukau dengan keindahan alam yang dimiliki pulau dewata ini. Sungguh sangat pas jika pulau ini mendapat julukan Pulau Dewata, karena memang alamnya yang sangat inda di sertai adat budayanya yang masih sangat terjaga dengan baik.


Juga tentang pemerintah daerahnya yang sangat genius dalam mengelola sumber daya pulaunya dan mampu menjadikannya menjadi rumah bagi wisatawan untuk melepas penat mereka terhadap dunia.





Sumber photo : Google  


Terdapat beberapa antrian motor untuk ikutan masuk ke tempat acara HBD, bahkan untuk motor di luar Honda, antusias warga untuk ikut serta meramaikan acara memanglah sangat tinggi, apalagi acara ini juga akan memecahka rekor muri dalam kategori Tari Kecak peserta terbanyak yang pesertanya adalah para Biker seluruh indonesia. Tentu saja hal ini sangat menarik bukan?!


Lelah, capek dan kantuk yang di rasakan para pecinta aspal akan hilang melihat meriahnya suasana dan juga biasanya di jadikan ajang reuni untuk saling bersilaturahmi sesama pengguna motor honda dari seluruh indonesia.


Begitu juga dengan rombongan Ghanes dan kawan-kawannya yang juga antusias serta kagum yang amat sangat dengan keindahan serta percepatan pembangunan dari pantai pandawa itu sendiri.


Setelah sampai di bawah, Ghanes dan kawan-kawan mencari tempat parkir yang sekiranya nanti mudah untuk mencari jalan keluar, karena rencananya mereka masih mau jalan-jalan ke tempat lain seperti pantai kuta, taman GWK, terus juga membeli beberapa souvenir dari Joger Pabrik Kata kata. Sekalian liburan mumpung berada di pulau ini dengan biaya liburan yang terbilang sangat rendah daripada liburan yang biasanya.



Author : Gambar-gambar yang Author sajikan adalah gambar-gambar di tahun itu ya, bukan saat ini. Karena saat ini tentu saja kondisinya sudah sangat jauh berbeda.


Mereka berdelapan belas pun kemudian mulai mencari tempat penukaran kupon karena perut mereka yang sudah teramat lapar.


Kupon yang mereka dapatkan akhirnya masing-masing bisa di tukar dengan sekotak kecil nasi kotak, kue kue kering dan dua botol orange juice, lumayanlah buat ngasih makan cacing dalam perut mereka yang tidak mengenal yang namanya puasa seperti manusia.


Selain pantai, ternyata  di sini ramai sekali dengan stand stand motor custom, stand onderdil motor juga para penjual makanan yang di dominasi oleh hasil laut.


Ya iyalah hasil laut, masak hasil hutan. wxwxwxwx


Tiba tiba terdengar suara dari pengeras suara di atas panggung hiburan, bahwa pagelaran Tari Kecak akan segera di mulai dan akan di catat oleh panitia rekor muri.


Mereka lalu beranjak mendekat ke arah panggung untuk sekedar menikmati acara yang di persembahkan Honda untuk biker indonesia.



"Nda, habis ini kita kemana dulu? GWK atau Kuta?" Tanya nathan pada Ghanes yang diam sibuk memperhatikan pagelaran tari kecak yang sedang berlangsung.


"Loh, kok nanya aku? Bukannya yang harus kamu tanya adalah teman-temanmu ? Aku mah terserah saja ya, ngikut kemana kalian pergi, kan aku orang baru di kelompok kalian, mana berani aku menentukan jalan."


Jawan Anes merasa aneh karena di tanya kemana akan pergi.


"OH, ya udah, kirain kamu punya keinginan mau ke mana gitu, kita bisa aja kok pergi berdua saja, kan sudah selesai dari tempat acara, kita bebas bisa kemanapun, asalkan memberitahu dulu kepada anak-anak jadi ga di cariin atau di tungguin."


"Oh , boleh gitu ya?" Tanya Anes penasaran.


"Ya boleh lah, kan kita meskipun satu komunitas tapi tetap memberi kebebasan anggotanya untuk berjalan kemana mereka mau, asalkan memberi tahu terlebi dahulu, kan terkadang ada dari mereka yang punya kepentingan lain di daerah tersebut." Kata Nathan kembali menjelaskan kepada Ghanes yang hanya ah oh saja sambil mengangguk angguk.


"Ga akh,,, aku ikut kalian saja mau ke mana. Biar enak rame rame gitu."


"Okelah kalau begitu. Tapi mungkin besok kita akan sendirian lo nda, kan mereka besok pagi-pagi udah jalan pulang semua, atau mungkin bahkan nanti malam mereka sudah jalan pulang. Kan katanya kamu juga mau ke tanah lot, jadi ke sana ga?"


"Eh iya ding, tanah lotnya belum ya? Ya udah dech buat besok kita berdua saja, Aku mau istirahat, capek pingganggku." Anes memegangi pingganggnya yang memang rasanya sudah nyeri dan ngilu karena kebanyakan duduk. Bahkan sejak 2 hari yang lalu Anes sama sekali tak merasakan namanya ingin boker. Jadi Anes pikir dia perlu meluruskan pinggangnya barang sebentar agar sirkulasi pencernaannya kembali normal.


....................


Pulau Dewata memang tak akan ada habisnya di bahas dan di kunjungi.


Tinggallah mereka berdua yang masih terus menunggangi motor mereka menuju Tanah Lot sebagai destinasi terakhir mereka setelah kawan-kawannya pulang terlebih dahulu, serta mengakhiri kunjungan-kunjungan mereka ke beberapa tempat antara lain Kuta dengan pasir putihnya, GWK(Garuda Wisnu Kencana) yang menjadi taman budaya dengan HTM 100.000 per kepala, juga pusat oleh oleh Pabrik Kata Kata Joger yang hanya bisa di jumpai di pulau Bali. Sebenarnya masih banyak lagi tempat-tempat yang bisa di kunjungi di pulau ini, namun karena keterbatasan waktu juga biaya mereka berdua memutuskan untuk mengakhirinya setelah mengunjungi tanah lot.


Sebuah pantai karang yang didirikan pura di pulau kecilnya yang berbatasan dengan bibir pantai langsung. Menurut cerita dari beberapa orang nama Tanah Lot di ambil dari posisi pantai karang yang memang sedikit menjorok ke laut. Jika di lihat sebenarnya ini lebih pada ke Tebing pantai. Namun mereka mampu mengubahnya menjadi tempat wisata yang sangat menawan dengan kearifan lokalnya yang masih sangat di jaga.


Menikmati senja di bibir tebing memanglah salah satu idaman buat hampir semua traveler, namun impian itu kandas karena mataharinya tertutup awan.


"Pulang aja yuk, mataharinya tertutup tuh." Kata Ghanes pada Nathan yang berada di sampingnya.


"Yakin mau pulang?"

__ADS_1


"Ya kenapa engga? Emang mau gass jam berapa? Di sini susah untuk mendengar adzan magrib bukan?"


"Ya juga sih, terkecuali di pemukiman yang memang ada warga muslimnya."


"Nah, itu." Kata Anes menegaskan lalu mulai berdiri dari duduknya.


"Ya udah yuk lah kalau gitu. Nyari makan sambil jalan aja ya, sambil berdoa semoga tidak hujan, karena sepertinya awan agak sedikit menebal tuh." Kata Nathan menunjuk gumpalan awan yang semakin menebal meskipun tidak sampai menghitam.


"Aamiin." Jawab Ghanes singkat.


Rasa kantuk yang di barengi denga lelah karena terlalu lama berkendara tak menyurutkan niat mereka untuk kembali ke rumah, karena sebenarnya yang di nikmati adalah perjalanannya. Melewati Alas Purwa di tengah malam adalah suatu perjalanan yang sangat luar biasa, sensasi ketika berada di dalam rindangnya pepohonan tanpa kerlip lampu jalan di sekilingnya juga menambah mental kita untuk menjadi manusia yang lebih pemberani.


Juga menempa kemampuan kita sigap dalam menghadapi masalah tak terduga di jalanan yang bisa terjadi pada siapapun.


Ada seorang guru pernah berkata,"Berjalanlah, maka kamu akan belajar dewasa."


Karena sejatinya UMUR tidak akan pernah bisa menentukan kedewasaan seseorang, namun pengalaman hiduplah yang bisa mendidik manusia menjadi manusia yang lebih baik , bijaksana, toleransi, serta memaknai hidup untuk menjadi lebih berarti.


Author : Buat bocil yang membaca tulisan ini, berjalanlah cil, cari pengalaman mu sebanyak mungkin sebelum kamu memutuskan hidup ke jenjang yang lebih tinggi. Karena dalam hidup itu yang paling di butuhkan bukanlah umur atau gengsi, namun mental yang kuat empati yang tinggi serta sikap bijaksana dalam segala kondisi. Dan itu tak akan di dapatkan dari pendidikan formal manapun., 


..................................


Perjalanan pulang tak menghadapi kendala apapun selain keadaan dompet yang semakin menipis.


Mereka menembus gelapnya malam dengan santai . Syaratnya ketika berada di jalan raya di tengah hutan adalah Jangan tolah toleh apalagi menoleh ke belakang. Karena dengan tolah toleh kita akan sangat mudah berhalusinansi apalagi dengan kondisi yang kelelahan maka pandangan mata akan lebih cepat siwer dan otak akan tidak fokus pada batas jalan.


Jam 3 sore mereka berdua telah kembali sampai di rumah Ghanes dengan kondisi dan penampilan yang sangat menjijikkan.


Ghanes dengan jaket krem nya yang berubah menjadi warna lumpur yang Anes sendiri tidak tahu lumpur darimana. Juga celana yang ia pakai ternyata penuh dengan percikan lumpur warna cokelat kehitaman, Sepatu Puma putihnya berubah warna menjadi abu abu hitam.


"Astaga,,,,, masak penampilan gua sepanjang jalan kaya gini?" Tanya Anes pada dirinya sendiri setelah sampai di halaman rumahnya.


"Ya memang begitu nda." Nathan cengengesan memperhatikan Anes yang kebingungan dengan dirinya.


Anes terus memandangi sepatun dan celananya yang sangat otor mirip orang yang habis nanam padi di persawahan,"Terus ini lumpur darimana donk?"


"Itu debu jalanan lah, terus nempel kena embun pagi dan percikan dari kendaran lain, juga asap kendaraan lain itu sangat hitam pekat kalau nempel di baju."


"Eh iya kah? baru tau gua? Soalnya gua ga pernah begini kalau pergi-pergi sih."


"Astagaaa,,,,,a iya juga ya,,,, akkhhh okelah kalau begitu, gua langsung mandi aja dech, oh ya bagaimana denganmu? Mau istirahat bentar ga? ngopi-ngopi dulu, atau mandi juga sekalian ga papa kok."


Nathan tersenyum menyeringai, "Oke dech, kopi mah saya ga nolak."


Ghanes selesai membersihkan dirinya dengan cepat, dan ketika dia menuju runag tamu ternyata Nathan telah duduk berhadapan dengan orang tuanya, tidak ada pembicaraan yang special hanya sebatas menanyakan kondisinya apakah baik-baik saja atau tidak.


"Udah, kamu jadi mandi di sini ga? Kopinya dulu atau mandi dulu?" Tanya Ghanes pada Nathan dengan handuk di kepala membungkus rambutnya yang basah.


"Mandi dulu lah, biar makin nikmat kopinya." Jawab Nathan sambil tertawa.


"Iya, lebih baik mandi dulu aja, biar capeknya berkurang." Sahut Pak Alan membenarkan.


"Ya udah, yuk...."


Nathan berjalan di belakang Ghanes menuju kamar mandi di belakang dapur, memang rumah ini sedikit aneh menurut beberapa orang, dapur terpisah dari rumah depan, kamar mandinya juga tidak menyatu dengan rumah. Entahlah,,,,, insinyurnya sungguh visioner sekali. Dan insinyur itu adalah Pak Alan sendiri bersama Bu Santi. HAhhaahahahahahahaha


15 menit kemudian, Nathan senyum senyum keluar dari kamar mandi dan berucap pelan pada Ghanes yang duduk di kursi kecil memainkan ponselnya.


"Nda? Kamu punya baju ganti ga nda? Ini tadi baju dan celanaku jatuh, jadi basah." Kata Nathan sambil cengar cengir ga jelas.


Anes menoleh ke arah sumber suara dan memperhatikan penampilan Nathan dari ujung kepala kke ujung kaki, memakai kaos setengah basah, juga celana jins yang terlihat sangat basah di bagian pantat sampai paha.


"Oh, kegnya ada dech, ukuranmu berapa sih? 29 muat kan? Gua ada satu celana yang masih baru punya nya Edwin kemarin itu aku membelikan Mas Susan, tapi ketika mau di pakai Candra ternyata ukurannya kekcilan, jadi ya ngganggur ga ada yang make akhirnya. Sekalian ma atasannya kah?"


"Bolehlah kalau ada." Jawab nathan tanpa malu.


"Okelah gua ambilin dulu dach, tunggu aja di sini bentar."


,,,,,,,,,,,


Tak berapa lama kemudian Anes sudah keluar dari kamarnya dan menenteng celana jins warna hitam abu, dan kaos berwarna biru dongker bergambar gitar klasik . Tentu saja sepasang baju laki-laki ini bukanlah miliknya sendiri akan tetapi pakaian yang ia belikan untuk Almarhum Susan yang Candra tidak mau memakainya karena memang ukuran pakain Candra lebih besar satu nomor dari Susan.


Anes mengulurkan pakaian yang di tangannya pada Nathan yang berdiri mematung memandangi kebun pisang di belakang rumah.


"Nih, cobain dulu muat atau ga, harusnya muat sih, kamu juga ga lebih besar dari Mas Susan kok."

__ADS_1


Nathan pun segera meraih baju gantinya yang di ada di tangan Anes dan segera masuk kembali ke dalam kamar mandi.


"Muat Nda..... !!!" Teriak Nathan dari dalam kamar mandi.


Lalu Nathan pun membuka pintu kamar mandi dengan pakaian Susan yang tadi ia bawa.


"Eh nda, pakaianku biar sini aja dulu ya, tolong di cuciin, tasku berat bawa pakaian basah pulang. Ga papa kan?!"


"Ga papa sih? Tapi ga papa kamu ninggal pakaian kamu di rumah orang?" Tanya Anes merasa aneh karena dia pribadi haram hukumnya meninggalkan pakaiannya di rumah orang lain apalagi pakaian yang dalam kondisi kotor.


"akhh,,,, aku mah ga papa. Seneng malah kalau ada yang nyuciin, soalnya biasanya di rumah yang nyuciin juga ibuku, dan dia suka marah-marah kalau aku pulang touring, karena pakaian pasti lebih kotor dari biasanya. Lagian nanti aku juga bakal kesini lagi kok, sekalian ambil baju."


"Oh,,, ya sudah kalau ga papa sih."


"Oh iya kamu duduk dulu bentar aku bikin kopi panas dulu, lalu kita ngobrol di depan."


Kata Anes kemudian lalu segera menuju ke dapur untuk membuat kopi panas untuk Nathan.


Kopi panas adalah hal yang sangat simple yang sudah sering di kerjakan Anes sejak Anes masih kelas 3 SD bahkan. Ya mau bagaimana lagi karena semua keluarga Anes adalah laki-laki, sedangkan Ghanes menjadi anak perempuan satu-satunya di sini dan otomatis Anes di ajari mengerti dapur bahkan sejak dari umur 5 tahun (Seingat Anes).


Dengan pendidikan yang sedikit keras menurut sebagian besar orang, Anes tumbuh menjadi anak yang sangat mandiri sebelum waktunya. Meskipun ketika kecil ia juga sering mengumpat ngumpat dengan dirinya sendiri yang merasa tak sama dengan anak-anak lain yang bebas berkeliaran kemanapun, sedangkan dia harus sering membantu ibunya di dapur sejak pagi hingga waktunya berangkat ke sekolah.


Namun jika saat ini dia di tanya tentang kehidupannya, Dia akan menjawab bahwa ia sangat bersyukur terlahir dari pasangan Bu Santi dan Pak Alan dengan segala kekurangan serta pendidikan kerasnya yang ia terima sejak ia masih terbilang balita.


Karena dengan pendidikan yang keras tersebutlah saat ini Ghanes mampu berdiri di atas kakinya sendiri bahkan sejak ia masih duduk di bangku SMK dulu.


Dia mampu berfikir rasional dan mampu mengambil tindakan atas kehidupan-kehidupannya tanpa harus jadi beban hidup buat kedua orangtuanya.


Tak seperti anak-anak lain yang masih numpang makan dan minum dari orang tuanya, atau bahkan tak mampu mengambil keputusan penting dalam hidupnya sendiri. Pendidikan keras yang diterimanya sejak kecil mampu menjadikannya wanita dewasa dan mandiri dibanding anak-anak seusianya.


Secangkir kopi panas berada di tangan Anes dan di bawa ke depan untuk sekedar mengistirahatkan tangan dan melemaskan otot setelah seminggu penuh tanpa henti berada di atas seteng motor.


"Nanti mau tidur di sini?" Tanya Pak Alan pada Nathan dan Ghanes yang keluar masuk dari arah pintu belakang.


"Untuk saat ini tidak Pak, lain kali saja, terimakasih." Jawab Nathan sedikit bingung dan kelabakan mendapatkan pertanyaan yang tiba-tiba.


"Oh, kirain mau menginap, kalau mau menginap kamu bisa tidur bareng dengan Candra di kamarnya." Kata Pak Alan lagi.


"Tidak Pak terima kasih."


Anes dengan muka sedikit kesal membatin :


"Dasar Bapak, rese bener jadi orang tua, gua tau Bapak tuh cuma mau ngetes Nathan aja, ga bener-bener serius nanya mau nginap. jjjiihhhhhhh Ada-ada aja tuh orang tua."


Anes lalu mengambil duduk di kursi bulat di pojokan ruangan, karena ia sedikit kesal dengan Ayahnya yang tanpa rasa bersalah dan senyum-senyum ga jelas asyik mengobrol dengan Nathan membahas motor custom, ya biasalah,,, pembicaraan ga penting para laki-laki.


Sedangkan Bu Santi hanya diam memperhatikan dan mendengarkan mereka bicara sambil melanjutkan sulamannya pada sebuah kain persegi yang katanya mau di bikin taplak meja. Hanya sulaman-sulaman kecil di setiap pojokan kain dan sedikit lebih besar berada di tengah-tengahnya. Sulaman klasik dari jaman prasejarah.


Bu Santi memang orang yang ga bisa diam pada dasarnya, dia dulu ketika sedang sehat adalah orang yang sangat rajin, bahkan jika di bandingkan Bu Santi jauh lebih rajin ketimbang Pak Alan meskipun Pak Alan adalah kepala rumah tangga dan seorang laki-laki.


Bu Santi adalah tipe wanita pekerja keras yang bisa mengerjakan hampir seluruh pekerjaan laki-laki. Ya tapi dengan kondisi yang sekarang ini, apa yang bisa di lakukannya selain mengerjakan kesibukan-kesibukan ringan yang masih bisa ia kerjakan sambil duduk di atas kursi.


"Nda, Tahun baru ikut aku ke rumah ya, Lihat kembang api sekalian aku kenalin ke Bapak dan Ibukku." Kata Nathan membuyarkan lamunan Anes.


"Hah??? Apa?"


"Lihat kembang api di sana, sekalian aku kenalin ke Bapak dan Ibukku, mau kan? AKu udah ijin ke Bapak kok, Ya kan Pak.?!" Kata Nathan mengulangi perkataanya sambil melihat Pak Alan meminta pembenaran.


"Kalau Bapak sih, terserah yang ngejalanin ya, serah kamu aja Nes." Jawab Pak Alan membenarkan kalimat Nathan.


"Okelah, kalau Bapak sudah memberi ijin, suka-suka elu lah Than." Jawab Anes sekenanya karena dia tak tahu mau menjawab apa dan mau ngapain. Karena Ghanes saat ini sama sekali tak punya hati sama siapapun termasuk dengan Nathan. Meskipun rasa percaya yang sempat hilang dari dalam dirinya mulai tumbuh kembali dengan hadirnya Nathan, namun jika di tanya apakah ia menyukai Nathan maka ia dengan pasti akan menjawab TIDAK.


Bukan tidak menyukai dalam arti BENCI namun tidak ada rasa suka dalam hatinya sama sekali yang berarti HAMPA. Tidak ada rasa apapun, suka tidak, benci juga tidak, tertarik apalagi. Tidak sama sekali.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2