
"Ya kan gua ngeliat muka lu yang mengenaskan itu lo pak. Hahahaaaa."
"Udah puas kan ngerjain aku hari ini?"
"Puas sih. xixiixixixixixi."
Jawab Ghanes terkikik geli.
"Akhhhh akhirnya nyampek juga gua ke tempat ini." Lanjut Ghanes tanpa sadar menyandarkan kepalanya di punggung Danu.
"Kenapa emang? Tanya danu.
Ghanes menerawang angkasa dari balik atap jerami di atas balai dengan kepala masih bersandar pada punggungnya Danu, "Asal lu tau ya, gua itu pingin pergi ke tempat ini tu udah lama sekali, dari dulu banget bahkan, namun karena kendala domisili, gua yang jarang di rumah, ya akhirnya baru sekarang dech kesampaian, sama elu pula. Manusia terlemot se indonesia."
"Asal kamu bahagia , aku juga bahagia , meskipun capeknya setengah mati. Sumpah aku baru pertama kali lo nyetir sendirian sejauh ini dalam satu hari pula."
Ghanes terlonjak kaget, menyadari bahwa kepalanya masih ada di sana, di punggung Danu,
"Hah??? Serius pak?" Tanya nya pura-pura kaget dengan pernyataan Danu barusan.
"Emang aku kelihatan bohong apa?"
"Ga sih. Hehhehehe."
"Ya udah, makan dulu lah, mau makan apa kita?" Tanya Danu ketika ada mbak-mbak pekerja warung yang menanyakan mereka mau pesen apa.
"Bebek bakar aja, ga pedes tapi, pedesnya di sambel aja, jangan di bumbu olesnya. Bisa kan mbak?" Jawab Ghanes melonarkan pertanyaan pada mbak mbak yang lumayan masih muda di depannya.
Mbak berbaju kuning itu mengangguk-angguk, "Bisa mbak, bisa banget malah. Masnya pesen apa ? sama juga atau?"
"Aku normal aja mbak, pedes ga papa. Minumnya es jeruk sama jeruk anget ya, ya kan buk? Kamu ga bisa minum es kan?!" Tanya Danu menoleh pada Ghanes di sampingnya.
"Iya mbak, aku jeruk anget."
"Oke, pesanannya di tunggu sebentar ya, ga lama kok."
Lalu ia berjalan pergi.
Ghanes menatap danu dengan tatapan penuh tanda tanya , "Eh kok lu tau sih kalau gua ga bisa minum es Dan?"
Danu tersenyum penuh teka-teki, "ya tau lah, aku mah tau sedikit tentang kamu , yang ga bisa makan cabe, yang ga bisa minum es, yang judas, tapi pinter."
"Kata siapa gua pinter?"
"Ada dech. Kepo aja kau ini, yang penting aku tau, dan itu benar bukan?"
"Ya benar sih, ada satu lagi yang belum, dan inni mungkin lebih penting dari itu semua." Kata Ghanes mulai menerawang jauh, kembali teringat bahwa sebenarnya dirinya bukan orang yang benar-benar sehat seperti yang terlihat di luaran.
Danu menatap lekat wajah Ghanes yang mulai melamun,
"Apa?"
"Gua ga bisa makan atau minum makanan dan minuman panas."
"Lhah? Aku tadi malah pesenin kamu jeruk anget, gimana tuh? Kok kamu setuju tadi ?" Tanya Danu mulai panik.
"Tadi itu anget Danu, bukan panas. Ngerti kan bedanya? "
"Oh,,, jadi yang ga bisa itu yang panas ya ?"
"Iya."
"Akh aku rasa hampir semua orang ga bisa makan dan minum panas deh Buk, kalau ga mau lidahnya melepuh."
Kata Danu menyangkal seperti ga percaya.
"Lo jangan bikin gua naik darah ya, ini tuh beda dengan panas yang ada di otakmu itu. Tolil."
Danu mengusap-usap kepala Ghanes lembut,"Oke deh oke, jangan marah-marah donk.... Makanannya dateng tuh, makan aja dulu."
Ghanes terdiam seketika, karena ia tak suka jika harus berkata keras atau berdebat di depan makanan, karena menurutnya akan menghilankan keberkahan pada makanan tersebut, entah ini benar atau tidak. Mengingat ia dulu adalah anak yang di lahirkan dari pasangan yang serba kekurangan, harus perbanyak puasa untuk menghemat bahan makanan, bahkan nasi putih adalah permata dalam keluarganya.
Dam ketika dewasa Ghanes menjadi orang yang sangat menghargai makanan.
Tidak suka membuang-buang makanan atau berkata yang jelek-jelek ketika berhadapan dengan makanan di depannya.
Teringat dulu bagaimana teman-teman kerjanya (sebelum ia ke luar negeri menjadi TKI), sangat takut dengannya ketika harus membuang makanan yang tak bisa mereka habiskan, mereka harus sembunyi-sembunyi dari Ghanes ketika membuang makanannya jika ga mau di maki-maki Ghanes dengan mulut super judasnya itu.
Pernah satu temannya bernama Yani hingga menangis karena di bentak Ghanes saat membuang nasi putih yang hanya di makan separuhnya, karena menurut Ghanes lebih baik memberikan makanan kepada orang yang kekurangan daripada membuangnya, selama makanan itu masih sangat layak makan(bukan makanan sisa di bejek-bejek). Karena teman-temannya Ghanes waktu itu banyak yang menjadi anak kos dengan biaya hidup yang sangat pas pasan. Dan mereka akan sangat bahagia jika mereka bisa berhemat dalam biaya hidupnya.
Mereka berdua makan tanpa banyak bicara lagi, karena memang cacing dalam perut mereka sudah menanti dari pagi.
Setelah menelan suapan terakhirnya, Ghanes buka suara, "Btw, besok gua mau ke kabupatenmu dah sepertinya."
"Mau ngapain?" Tanya Danu menatap mata Ghanes lekat.
"Mau ngembaliin baju nya Nathan, sekalian main ke rumahnya i'ik."
"Ohhh,,, ya udah, ma siapa ke sana?"
"Sendiri lah, kan Candra kerja."
"Ya sih, besok itu jam jam sibuk biasanya."
"Mau berangkat jam berapa?"
"Biasanya gua sih suka pagi-pagi sekali setelah subuh, karena jalanan masih sepi, males aja kalau panas-panas harus antri di jalanan karena macet. Bikin pusing pala."
"Ayookkkk....... " Tiba-tiba Ghanes sudah berdiri mau jalan.
"Hehhehehe iya. Keenakan duduk , maap maap."
"Dasar tolil. Atau pulang aja nih?" Tanya Ghanes ambigu.
"Ga, kita main aja dulu, udah nyampek sini, masak cuma makan doank lalu pulang sih, kalau cuma mau makan bebek mah ga usah kesini juga donk. Ayok."
Jawab Danu lalu reflek meraih tangan Ghanes.
Ghanes melirik sekejap jemari tangannya yang di genggam Danu, diantanpa ekspresi namun membiarkan tangannya tetap di dalam genggaman Danu, dia ingin tahu bagaimana reaksi Danu ketika sadar tangannya tanpa di sadari dengan posisi seperti itu.
Mereka berjalan berdua menyusuri pinggiran pantai dengan pasir yang putih bersih. Jika di pandang dari kejauhan mereka berdua seperti orang yang sedang kasmaran, padahal mungkin jika di tanya mereka adalah pasangan bertepuk sebelah tangan, karena hanya Danu saja yang punya rasa dengan Ghanes, sedangkan Ghanes sendiri hatinya mati seperti muntahan lahar dingin dari gunung berapi, dingin di luar namun menyimpan hawa panas yang mematikan di dalam.
"Eh nanti jangan lama lama ya , rumahku jauh lo." Kata Danu sambil menarik tangannya dari menggenggam tangan Ghanes.
"Upsss... maaf maaf." Katanya dengan muka merah padam menahan malu.
"Dasar, lu sengaja kan tadi, mau nyari kesempatan dalam kesempitan, banyakan gaya lu." Kata Ghanes mencebik.
"Sumpah ga sengaja, lha kamu kenapa juga nurut aja, ga mau ngingetin?"
"Heleh, ga usah nyari nyari kesalahan orang deh, gua tadi emang sengaja ga mau ngomong karena pingin tau reaksi lu aja, lu sadar atau ga megang megang tangan gua, atau malah kesenengan karena merasa mendapat angin segar."
"Iya aku salah, tapi jangan marah ya, lain kali ga gitu dech." Kata danu memelas mengejar Ghanes yang berjalan sangat cepat di depannya.
Ghanes bukan marah lalu lari-larian seperti anak remaja lain yang gampang ngambek lalu lari, namun karena Ghanes terbiasa dengan cara berjalan orang orang di Negara T yang sempat ia tinggali selama 6 tahun lebih. Cara berjalan yang begitu cepat seperti orang mau melayat, karena mereka mengejar waktu. sangat jauh berbeda dengan cara berjalan orang indonesia yang lemah lembut dan sangat santai, di negara sana mereka berjalan seperti tak takut jatuh ke dalam lobang lobang di trotoar, bahkan seringkali terlihat seperti jalannya orang mau ke kuburan.
Namun ya itulah meskipun negara maju , etos kerja yang tinggi, namun penduduknya memilik tingkat stress yang tinggi juga. Jangan heran jika orang-orang dari negara maju banyak yang rajin menabung hanya untuk jalan-jalan ke luar negeri, ya karena mereka merasa hidupnya sudah terlalu stress, jadi mereka butuh bersenang senang setidaknya sebelum mereka mati.
Di tengah asyiknya Ghanes dan Danu menikmati suasana pantai, tiba-tiba ponsel Ghanes bergetar. Ada panggilan masuk di mesengernya.
"Syaif?" Ghanes mengernyitkan dahinya .
Syaif Ahmad adalah teman lama Ghanes yang di kenalnya 5 tahun lalu. Namun waktu itu mereka tak begitu dekat, karena mereka sama-sama punya pasangan. Tentu saja negara T yang mengenalkan mereka. Kini mereka sudah sama-sama di indonesia. Namun Ghanes yang hidupnya dirundung masalah, Ghanes bahkan tak ingat lagi kalau ia punya teman yang namanya Syaif.
"Ya If? Ada apa?" Tanya Ghanes to the point ketika mengangkat panggilan mesengernya.
"Astagaaa,,,, elu masih aja ga berubah ya nek, to the point amat, ga bisa basa basi dikit apa?Hahahhahaa."
"Iya emang gua begini kok orangnya dari dulu, mau berubah menjadi apa emang? Jadi iron man?"
"Ada apa?" Ghanes mengulangi pertanyaannya.
"Ga ada sih, mau nanya kabar aja, katanya simbok kamu dah pulang tapi kok ga ada kabar sama sekali sih?"
"Ngabarin siapa? Elu?" Tanya Ghanes mendelik.
__ADS_1
"Ya iyalah gua, siapa lagi."
"Dih,, elu siapa emang? Pacar bukan suami bukan."
"Ya kan calon nek. Hahahhahaaa.... Lu itu gebleknya dari dulu ya, ga ngeh juga ampe sekarang kalau gua tungguin."
Ghanes terkejut bukan main dan setengah ga mengerti dengan arah pembicaraan Syaif. Ghanes teringat bagaimana ia dulu sebenarnya menyimpan sedikit rasa pada Syaif, namun karena waktu itu ia dan Syaif sama-sama punya pasangan, jadi Ghanes sendiripun berusaha menepis sekelumit rasa yang mulai tumbuh perlahan.
"Kenapa diem?" Tanya Syaif.
"Eh ga . nanti telpon lagi aja ya, gua lagi main sekarang, jangan ganggu keasyikan gua."
"Ya udah, kirim WA aja kalo gitu nek."
"Siap pak, ya udah ya bye bye."
Ghanes langsung mematikan panggilan ponselnya, entah kenapa ia bingung , rasa yang tak isa di ungkapkan. Sakit,,, atau entahlah.
Dulu dia mencoba untuk ga jatuh cinta dengan orang lain, berusaha bertahan dan setia dengan orang yang ternyata malah menimbun luka paling sakit untuk dirinya.
Dan sekarang ia kembali tersakiti dan di permalukan ketika ia mulai membangun kepercayaan dengan manusia.
Apa yang salah dengan dirinya?
"Apakah Tuhan benar-benar ingin menamparku?" Gumam Ghanes sambil mengantongi kembali ponselnya setelah ia menuliskan 12 digit nomor ponsel dan mengirimkannya ke kontak Syaif Ahmad.
"Kenapa?"Tanya Danu dengan muka sangat khawatir.
"Eh, Ga. Ga ada apa-apa kok. Temen lamaku tadi."
"Oh,,, ya udah, asal kamu ga papa ya udah."
Ghanes hanya tersenyum mendengar perhatian Danu padanya, entah kenapa Ghanes sama sekali tak tersentuh dengan itu semua, sia-sia Ghanes berusaha membuat Danu kapok ngajak dia main, agar Danu menjauhinya, namun ternyata semua sia-sia.
"Pulang aja yuk."
Rengek Ghanes seketika ketika ia merasa mood nya tiba-tiba hilnag begitu saja.
"Sekarang?" tanya Danus melihat jam di pergelangan tangan kirinya.
Ghanes sudah lemas, raut mukanya sudah berubah pias, "Iya, gua bosen Dan, mau tidur aja gua."
Sambil tersenyum lembut Danu mengusap kepala Ghanes dengan sangat lembut, ia tahu perubahan sikap dan raut muka Ghanes yang tiba-tiba menunjukkan bahwa ia sedang tidak baik-baik saja,
"Oke, oke, aku ngerti kok, ya udah kalau kmau mau tidur, kita pulang sekarang, mumpung matahari masih ada, jadi nanti aku pulang ke rumah juga ga malem."
"Ya udah ayok." Lanjut Danu dari atas sepeda motor pada Ghanes yang masih terbengong di tempatnya.
Ghanes terkejut dari lamunannya,
"Eh ! Kapan elu ngambil motornya?" Tanya Ghanes dengan muka kebingungan melihat danu sudah ada di hadapannya kembali dengan membawa motor, padahal jarak mereka duduk dengan parkiran lumayan jika dengan jalan kaki.
"Dengan teleportasi."Jawab Danu ngasal karena Danu tahu bahwa otak Ghanes sedang tidak fokus.
"Naik, ayo, jadi pulang ga? Atau aku tinggal nih?" Tanya Danu menggoda.
"Ikuutttt.....!!!.Enak aja ninggal ninggal." Teriak Ghanes seketika meloncat ke jok belakang motor.
"Hahhahhhaaha nahh gitu donk,,, nurut. Hehhehehehe." Danu terkekeh senang.
Ghanes tak menyahut, dia hanya diam dan tanpa ia sadari ia memeluk Danu dengan sangat erat dari belakang.
Danu tersenyum senyum sepanjang jalan tanpa berusaha melepaskan pelukan Ghanes.
"Gini aja terus sampek rumah, hehehhehee." Batinnya dengan senyum selebar danau toba sambil sesekali melihat ke arah perutnya yang tertutup jaket, karena di sana terdapat kedua tangan Ghanes yang memelukknya dengan sangat erat.
Perjalanan pulang yang sepi, tanpa ada percakapan apapun antara keduanya. Danu yang menikmati kesenangannya sendiri karena dipeluk pujaan hatinya, dan Ghanes yang lenyap di telan alam lamunannya. Alam kosong yang tak berpenghuni. Sepi , tak gelap juga tak terang. Hampa tak ada udara, mengambang di lubang lubang atom di sekelililngnya. Melayang tanpa sayap, tanpa jatuh ataupun terbang keawang-awang. Terombang ambing tanpa tujuan. Dia telah menghilang dari dunia nyatanya. Mati sudah rasa yang di dambakan banyak manusia.
..............................
Ke esokan harinya,
Ghanes sudah bersiap-siap mau ke kabupaten T mengantarkan bajunya Nathan yang masih tersimpan di almari bajunya, dan jika masih tersisa waktu mungkin ia akan mampir ke rumahnya i'ik sebentar karena sudah lumayan lama dia tak ngobrol dengan temannya yang satu ini, juga mungkin ia akan mengunjungi sejenak rumahnya Rahma.
Setelah berpamitan kepada ibunya, Ghanes segera memacu jupiter mata kucing maroon nya ke arah jalanan kota. Dengan memakai helm SNI warna senada dengan mata kucingnya, di lengkapi dengan jaket goretex warna abu krem celana jeans hitam dan sneakers warna merah, Ghanes lumayan bersemangat menuju ke kabupaten T.
Ucapnya perlahan dari atas motor yang melaju di aspal hitam yang baru saja di perbaiki.
"Harus bisa !" Ucapnya bersemangat.
Jalanan yang sudah sangat sering di laluinya tak membuatnya kesulitan berliuk liuk di setiap tikungan. Namun sama sekaki tak menimbulkan rasa bosan untuk melewatinya.
Perjalanan kita skip ya 😛
Sampai di warung miliknya Anggi, terlihat lumayan sepi,
Belum sempat Ghanes memarkirkan motornya ada Mas Priyanto yang menghampirinya dengan senyum lebarnya, "Loohhh Mbak Anes,, Pak Nathan mana mbak?"
Ghanes tertawa, "Hhahahah apa kabar Pak Pri ? Nathan ya di rumahnya donk, masak sama saya terus?"
"Ohh ya juga sih , ini tadi dari rumah to?"
"Iya Pak, Tumben pak sepi? Pak Anggi ga ada ?"
"Ada tuh di dalem, lagi sama om nya." Jawab Mas Pri menjelaskan.
Ghanes kemudian meraih paperbag yang di kaitkan pada leher motor bebeknya, "Oh ya pak, aku tadi ke sini, cuma mau nitipin barangnya Nathan, sampaikan ke dia kalau kapan-kapan dia ke sini ya, soalnya aku ada perlu pak."
"Loh? Kenapa Ga Nathan aja yang ke sana ngambil?"
"Kasian pak, kejauhan. Dan ini aku juga lagi buru-buru, ga ada waktu buat ke sana. Mohon titip di sini aja ya pak. Aku sudah ngomong ke Nathan kok pak."
Priyanto menerima kardus coklat di dalam paperbag putih bertuliskan sebuah brand clotes H&M. Paperbag nya saja sih keren, biar dikira sebuah hadiah. Hehheeheehe.
"Oke oke, udah ngomong kan berarti? Aku ga perlu bilang lagi kan kalau ada titipan?"
"Ga perlu pak, Nathan sudah tau kok. Makasih ya pak."
"Oke, oke ga perlu sungkan begitu, kapan-kapan kalau ada waktu kita main bareng lagi ya."
Ghanes tersenyum, "Ohh siap pak siap."
"Makasih ya pak Pri, kalau gitu aku pamit dulu pak, ntar kalau ada waktu aku ke sini lagi deh."
Kata Ghanes sambil melambaikan tangannya dan segera memutar balik motornya.
"Ya udah hati-hati di jalan ya Nes. Daaaaaaa...."
"Sepertinya ada sesuatu yang mencurigakan deh dari raut mukanya Anes, ga mungkin mereka ga jadi nikah bukan?!" Batin Priyanto melihat gerak gerik Ghanes yang sedikit mencurigakan.
Dari dalam rumah terdengar suara Anggi, "Siapa Pak Pri?"
"Anes." Jawabnya singkat.
"Anes calonnya Nathan?"
"Iya."
"Eh ada apa, kok sepertinya kamu ada sesuatu yang mengganjal begitu pak?" Tanya Anggi penasaran dengan raut muka Priyanto yang seperti mau menyembunyikan sesuatu.
"Akh, ga ada Nggi, cuma aku merasa aneh aja sih melihat Anes, raut mukanya terlihat sangat pucat, layu, matanya ada lingkaran hitam yang menandakan dia kurang istirahat, dan gerak geriknya aneh seperti orang yang sedang banyak fikiran gitu."
Anggi mengernyitkan dahinya, "Jangan bilang Ghanes positif ya?"
Priyanto menggeleng gelengkan kepalanya, " Akkhh ga tau gua Nggi, masak Anes hamil sih, sepertinya bukan itu dech."
Anggi menepiskan tangannya , "Haiisshhh kenapa jadi kita yang kepo dengan urusan mereka sih? Sebenarnya Anes itu ga terlalu cocok dengan Nathan lo, menurutku sih.."
"Lohh kenapa Nggi? Kok bisa gitu?"
"Anes itu orangnya diam-diam begitu tapi aku yakin bahwa dia itu adalah wanita yang sangat cerdas, dilihat dari penampilannya yang sederhana dan selalu berbicara tepat sesuai porsi di mana dan dengan siapa ia sendang diskusi. Dia juga sangat mandiri dan dewasa menurutku. Nah Nathannya sendiri terbilang masih anak-anak dengan pola pikirnya yang masih suka main-main dan suka membanggakan dirinya sendiri di hadapan orang. Menurutku karakter yang seperti ini kurang cocok sih."
Priyanto langsung tertawa terbahak bahak mendengar penjelasan dari Anggi, kawan yang sekaligus menjadi bosnya ini.
"Sepertinya ada yang diam-diam memperhatikan Anes nih? Udah move on dari Maya???" Tanya nya penuh selidik sambil memicingkan matanya.
__ADS_1
Anggi mukanya merah padam, "Akh,,, bukan soal move on atau ga move on, tapi kalau memperhatikan memang iya. Inget ga waktu tahun baru kemaren itu, bahkan Nathan itu sama sekali ga mnegajak dia buat istirahat makan lo, Nathan itu aku rasa memang agak kekanak kanakan. Sumpah."
"Eh serius Nggi? Kapan?"
"Itu lo waktu kita belok ke mushola buat istirahat sholat. Inget?"
Priyanto menerawang mencoba mnegingat ingat peristiwa di hari itu, "oh,,, ya ya ya,,, inget inget. Terus?"
"Nah, kan abis sholat itu kita istirahat bentar, duduk-duduk gitu kan, terus aku lihat Anes tuh kaya gelisah gitu, beberapa kali sendawa, namun dia seperti sangat tertekan gitu lo setelah sendawa. Setahuku nih , orang yang sendawa itu kalau ga kekenyangan ya berarti dia penderita asam lambung yang sedang kelaparan."
"Terus?" Priyanto mendengarkan dengan cermat.
"Terus aku tanya donk, Nes, kenapa? Laper? Mau makan dulu atau ngisi perut pakai apa gitu? Bakso mau?"
"Dia hanya diam lalu menggelengkan kepalanya perlahan lalu tiba-tiba matanya berkaca kaca mau menagis, Duh kasian bener dia sumpah. Kalau saat itu ga ada Nathan udah aku peluk dia . Kasian. Mungkin dia tuh sedih karena yang memperhatikan dia bukan Nathan malah orang lain."
Priyanto terbengong, "Sampek segitunya ya? Terus apa respon Nathan?"
"Sambil menghisap rokoknya, dia cuma bilang gini, "Biarin aja pak Nggi, dia kalau laper biar ngomong sendiri."
"Kalau aku sih bukan soal laper atau ga nya, tapi kan kalau dia benar-benar punya penyakit Magh, harusnya Nathan inisiatif donk buat menjadi pelindungnya dia, laki-laki masak begitu sikapnya terhadap wanita."
Anggi masih melajutkan ceritanya dengan nada penuh kejengkelan.
"Iya juga sih Nggi, ingat dulu kamu dengan Maya aja segitu perhatiannya, masih aja di selingkuhin kok."
"Iya lah, jadi laki-laki itu harus berani bertanggung jawab terhadap wanitanya donk, masak cuma mau sennag-senang aja."
"Akh,, sudahlah,, gua mau ngomong ke Nathan dulu kalau barangnya sudah sampai di tanganku, kapan dia mau ngambil ke sini."
..........................
Kita berpindah ke Ghanes yang sedang nongkrong di mushola pom bensin habis mengisi amunisi nya . Dia asyik memainkan posel putihnya tanpa memperhatikan sekelilingnya sama sekali. Yang ternyata kedua telinganya telah tersumbat dengan bulatan kecil warna hitam dengan superbass brand dari Sony.
Dia sedang mendengarkan music? Tidak.
Tapi dia ternyata sedang asyik menerima telpon dari Syaif Ahmad.
"20 menit lagi dah nek, sekarang gua masih di kandang ayam nih, masih ngaduk pakan. Tapi kalau lu mau berangkat sekarang juga bisa sih. Kan pas nanti sampai sana."
"Ya elah, kan gua ga tau google map pak, gimana sih?"
"Oke lah okelah kalau gitu, cari penitipan motor , ntar gau ke tempatmu, tapi harus nunggu 1 jam ya."
"Ya serah elu dech."
"Iya, iya tunggguin gua pokoknya jangan pulang dulu. Ga kangen ma gua apa?"
"Kangen darimana? Orang pacaran aja ga pernah , mana bisa punya rasa kangen? Ada-ada aja lu."
"iya deh, iya,,, nanti kita ngobrol banyak pokoknya ya."
Tuuuuuuuuuuuttttttttttttt tttuuuuuuuutttttttttt..........
"Lah ******, tiba-tiba dimatiin begitu aja tanpa ada omongan. Ga sopan bener nih orang."
Gerutu Ghanes memandangi ayar ponselnya yang telah padam karena Syaif mematikannya begitu saja.
Tiba-tiba ada yang neyeletuk dari belakang, "Mbak, Gila Ya Mbak?"
Ghanes menoleh ke sumber suara, "Dih apaan sih Mas, resek aja jadi orang, dasar jomblo lu." Jawab Ghanes sengit.
"Ngatain gua jomblo, kalau gua nikahin mampus lo ntar." Jawab Mas mas itu tak kalah sengit.
"Dihhh ogah." Jawab Ghanes memutar balik badannya memmbelakangi mas mas yang tadi.
Dari belakang , mas mas tadi masih melontarkan pertanyaan, " Mau ke mana mbak? Kok sendirian?"
"Kepo!"Jawa Ghanes tanpa menolehkan kepalanya sama sekali dan mulai membuka aplikasi game 8 ball poll favoritnya.
..............
Ghanes masih saja asyik dengan game di ponselnya, tak memperdulikan sekelilingnya. Bahkan ia sama sekali tak peduli jika kehadirannya telah di perhatikan oleh banyak orang yang mampir ke mushola untuk sekedar buang air kecil.
Tiba-tiba..
"Share lok."✔✔
"Upss,,,, yaahhh kalah dah gua, Syaif resex !" Umpatnya lalu dengan kesal membuka chat WA dari Syaif dan ia pun menshare lokasinya sekarang.
"Duhhh resex tuh Syaif, lagi enak-enak main layar gua malah ke ganggu notifikasi, jadi kalah kan gua, anjiirrrrr..."
Umpatnya dengan kesal lalu kembali memainkan 8 ball poll dan mencari lawan yang baru, karena lawan yang tadi tentu saja sudah menang karena Ghanes out secara mendadak dari pertandingan.
"Awas aja lu ntar, kalau gua main di ganggu ganggu lagi."
Ghanes kembali memainkan game nya setelah dia men share lokasinya kepada Syaif.
Belum sampai 10 menit , tiba-tiba ada laki-laki pakai celana hitam pendek dan pakai sandal jepit swallow hijau berdiri tepat di hadapannya. Ghanes cuek saja bahkan tak peduli.
Tiba-tiba,
Pletaakkkkkkkkk.....!!!! Dahinya di sentil orang dengan lumayan keras.
"Dih !! ****** !!! Siapa sih yang resek?! Barusan juga hampir menang, kalah lagi kan gua!" Ghanes mendongakkan kepalanya melihat manusia mana yang berani mengganggu game nya lagi.
Ghanes mukanya berubah merah ketika tahu bahwa yang di depannya ternyata adalah Syaif Ahmad. Laki-laki yang pernah singgah di sudut hatinya meskipun cuma beberapa detik saja.
"Eh !! Elu If?!" Kata Ghanes cengegesan.
Syaif tertawa terbahak bahak melihat ekpresi mukanya Ghanes,"Hahhahaaaaaa astaga neekkk,,, ternyata lu belum berubah ya dari dulu waktu kita kenal. Masih gini-gini aja."
"Bajingan, gua kalah lagi nih njiirr,, ngagetin orang mulu sih."
"Lagian lu main ponsel bahkan hingga ga tau siapa orang yang ada di dekatmu, Lu itu kalau di luar rumah sendirian mbok yang hati-hati, perhatikan sekelilingmu juga, jangan mentang-mentang lu pemberani lantas menjadi ceroboh."
"Ya ya ya, tenang aja telinga gua sedang mendengarkan tausiyah ini masih dengan sangat baik kok." Jawab Ghanes masih cuek.
"Astagaaa ya udahlah serah elu nek. Serah elu dah . Lu itu kalau di perhatiin orang suka begitu soalnya, Lu juga ga pernah nyadar kan kalau selama ini gua tuh nungguin lu pulang?"
Tanya Syaif penuh selidik.
"Emang ga tau kok. Lagian kalau lu suka kenapa dulu ga lu putusin aja pacar lu itu?"
"Lah kan posisi kita sama bukan saat itu? Emang waktu itu lu juga mau kalau gua suruh mutusin pacar lu?"
CEP !
Ghanes langsung terdiam tanpa merespon apapun.
Syaif mengusap puncak kepalanya Ghanes lembut, "Ya udahlah, yang sudah ya sudah ga usah di bahas lagi, intinya sekarang kita di sini berdua, jadi main ga ?"
"Jadilah ! gila aja kalau ga jadi?"
"Ya udah, nanti motor lu , lu titipin tuh di depan kan ada penitipan motor tuh, ntar sore baru di ambil. Daripada lu main capek nyetri motor sendirian kan."
"Oke lah, gampang itu."
Jawab Ghanes tanpa ekspresi karena sebagai wanita, di dalam lubuk hatinya terbersit rasa khawatir kalau-kalau Syaif tak bisa di percaya, jangan-jangan ia tak mengantarkannya tepat waktu, maka habislah riwayatnya.
Meskipun mereka kenal sudah lumayan lama, tapi mereka juga tak bertemu dengan waktu yang lumayan lama juga. Jadi manusia bisa berubah kapan saja bukan?
.
.
.
..
.
..
.
__ADS_1
.