Pengorbananku Untuk Ibu

Pengorbananku Untuk Ibu
Lamaran


__ADS_3

Jalanan kota yang mulai di padati dengan manusia-manusia yang ngebet kepingin menikmati malam panjang pergantian tahun baru di temani dengan cahaya lampu kota yang di seting sedemikian rupa untuk menambah artistiknya suasana.


Ada cahaya lampu yang sedikit kuning di tempat-tempat tertentu, juga cahaya hijau yang yang di atur 45° di tanam di bawah pepohonan taman kota.


Bangku-bangku besi yang di cat warna coklatkemerahan di tempatkan di titik-titik yang tepat di sepanjang pinggir-pinggir trotoar.


Terlihat dua cewek berjilbab hijau tosca dan pink peach sedang duduk di salah satu bangku besi sambil asyik makan cilok dari dalam bungkusan plastik. Jelas sekali ada bekas gigitan pada ujung plastik tersebut sebagai tanda bahwa mereka tidak menggunakan gunting untuk mengeluarkan cilok dari dalam bungkusnya menuju mulutnya.


Di hadapannya ada satu orang anak laki-laki sedang memainkan tuutp botol besi yang di rangkai menjadi alat music sederhana.


Berjarak satu bangku dari tempat mereka, ada pasanagn muda-mudi yang asyik berciuman tanpa peduli suasana sekelilingnya.


Pria mudanyamemakai hodie abu-abu dengan wanita remaja memakai pakaian warna orange ketat yang senada dengan warna rambutnya. Jika di pandang dari kejauhan mririp dengan Nami dalam serial One Piece.


Tangan si wanita menggenggam bungkus gorengan yang warnanya mulai berubah karena basah oleh minyak. Saking asyiknya bertukar liur hingga tak sadar bahwa gorengannya sudah letoy sejak tadi.


Sedangkan Ghanes sendiri sudah 3x memutari area ini tanpa tujuan. Menatap sekelilingnya yang makin lama semakin padat oleh manusia.


Sama seperti Ghanes yang entah mencari apa, hanya muter-muter ga jelas, mungkin saja sekedar pamer bahwa ini lo kami bahagia, bisa menikmati malam tahun baru tanpa beban.


Ghanes juga ga tau apa yang ada di dalam otak Nathan hingga harus memutari tempat yang sma berkali kali. Sedangkan Ghanes sendiri hanyalah penumpang di jok belakang, ga mungkin juga Ghanes loncat ke samping atau ke belakang hanya karena ga mau di ajak menyetrika jalanan kota.


Jalanan ini adalah jalanan di tengah kota, yang lebih tepatnya berada di alun-alun kota yang berada persis di depan kantor pemda setempat. Di halaman kantor pemda sudah berisik dengan suara para pemain music lokal yang memainkan alat musicnya dengan sangat terlatih yang indah di telinga. Namun bagi Ghanes yang terkadang terganggu dengan suara orang yang teriak-terriak, maka hal ini bisa sedikit mengganggu telinga pada menit ke 60 ke atas. Yang artinya bisa di nikmati dalam waktu di bawah 1 jam, di atas 1 jam mengganggu telinga.


"Than, ga nyari tempat nongkrong apa?" Tanya Ghanes karena sudah lelah di ajak muter-mute terus.


"Satu kali lagi ya nda, sapa tau dia bisa ngeliat kita."


Ghanes bingung dengan maksud Nathan, Dia siapa yang di maksud?


Dengan setengah berteriak Ghanes menoel pundak Natahn dari belakang. "Hah?? Siapa?"


"Hehhehehe ga ada. Sudahlah, ayo kalau mau nyari tempat nongkrong, di dalam alun-alun aja ya, biar ga terlalu dekat dengan kembang api, kalau terlalu dekat bisa kejatuhan sisa-sisa apinya."


"Oke lah, serah elu, emang mau parkir di mana? Ga mungkin kan bisa parkir di sini?"


"Nah itu dia masalahnya, tempat parkirnya tuh agak jauh, ga apa2 kan yak?"


"Serah elu deh Than mau di mana, gua mah penumpang ayok aja . Bukannya yang ga kuat jalan jauh itu kamu ya?!" Jawab Ghanes sedikit mengingatkan Nathan bahwa yang ga kuat jalan jauh adalah dirinya bukan Ghanes.


"Hehhehheee,,,,,, ya udah, kita perkir dulu aja, jangan lupa cemilannya taroh tas dulu biar ga nentengin lama-lama."


"Udah di dalam tas sejak tadi Nathan,,,,, Lo itu pura-pura ga tau apa gimana sih?"


Nathan tak menyahuti celotehan Ghanes yang jika di rasa-rasa Ghanes beneran mulai jengkel dengan kelakuan Nathan yang bertele-tele, perhatian yang selalu terlambat, terus apa juga pake muter-muter jalan hanya untuk memperlihatkan bahwa dia sedang membawa Ghanes di belakangnya.


Ga lucu.


Biaya parkir di patok 5.000 rupiah setiap kendaraan roda dua. Dan 10.000 rupiah setiap kendaraan roda 4. Namun tempat parkir ini malah di penuhi oleh kendaraan roda 2, munkin karena badannya yang kecil hingga menjadi pilihan orang-orang untuk membawanya ke acara yang padat manusia, karena akan memudahkan kita mengeluarkan dari tempat parkir dan gampang nyelip-nyelip di kerumunan arus lalu lintas.


Setelah berhasil memarkirkan kendaraannya, mereka berdua berjalan kaki menuju ke taman alun-alun kota. Berjalan sekitar 10 menitan, bukanlah jarak yang jauh bagi Ghanes yang terbiasa berjalan kaki kemana mana.


Namun hal ini terkadang merupakan hal yang melelahkan bagi mereka yang tak terbiasa berjalan kaki menggerakkan tubuhnya.


Mereka berdua akhirnya duduk di  dalam taman kota tepat di bawah lampu taman, sudah ada banyak orang yang berada di tempat itu bahkan hampir penuh. Saat ini mereka masih bisa duduk, sebentar lagi ketika orang makin padat merapat, maka jangan harap bisa duduk lagi seperti saat ini.


.............................


Tak terasa waktu kian malam, tiba-tiba terdengar suara dari pengeras suara ,


"Kita hitung bersama-sama dari 10 ya,,,,,


Se...puluh....


Sem....bilan...


Dela...pan


Tu...juh..


E...nam


Li....ma


E...mpat


Ti...ga


Du...a


Saaaaa.....tu..


Selamat tahunn baru.......


Duuaarrrrr,,,,,, pletarrrr,,, Taarrrrr,,,,,, taarrrr,,,,,,,taaarrrr,,,,,


Suara kembang api yang meledak di langit malam berwarna warni dan keriuhan penonton yang meniup terompet di tangan mereka masing-masing semakin menambah semarak malam ini.


Ghanes menengadahkan mukanya ke atas langit memperhatikan bunga-bunga api yang berkemaran di langit malam penuh bintang.


Telinga Ghanes yang sangat peka, sayup-sayup terdengar suara laki-laki memanggil namanya,


"Deeeekkk,,,,,"


Ghanes menoleh ke arah sumber suara yang tak asing bagi telinganya, dan benar saja wajah yang dulu sangat di kaguminya bahkan mungkin masih sampai sekarang, bayangan wajah indah itu belum bisa tergantikan dari dalam hatinya, meskipun hatinya sungguh sangat-sangat sakit. Bayang-bayang kebahagiaan yang dulu pernah di lewatinya kembali menusuk di ulu hatinya, perih seperti luka yang tersiram dengan air garam. Postur tubuhnya yang tinggi tegap empuk dan hangat oleh tumpukan lemak yang proporsional di beberapa tempat. Senyum tipisnya yang sangat tidak menarik dinikmati karena lebih mirip seperti seringai predator yang melihat daun muda yang sedang ranum-ranumnya.


Lalu sekelebat bayangan yang menyakitkan itu datang menggantikan sekelabat kebahagiaan yang ada, dan panas kemarahan seperti tertindih bara api, pahit di lidah seperti pare mentah yang dimakan bersama dengan empedu ular cobra.


Laki-laki itu melambai lambaikan tangannya pada Ghanes, sedangkan Ghanes pura-pura buta, dia segera memalingkan mukanya karena matanya mulai memanas dan pandangannya kabur karena mulai tertutup air dari kelenjar air matanya.


"Ada apa Nda?" Nathan bertanya pada Ghanes yang terlihat sangat gelisah.


Ghanes mengalungkan tangannya pada pergelangan tangan Nathan, "Akh ga ada, hanya gua merasa udaranya semakin dingin."


Nathan menggenggam tangan Ghanes dengan erat, "Ya udah kalau gitu, nanti habis kembang apinya selesai langsung pulang saja ke rumah Baskoro ya, takutnya kamu masuk angin nanti."


Ghanes menengadahkan mukanya pada Nathan sambil tersenyum manja tanda berterima kasih, "Oke, gua nurut elu aja Than."


.................................


Keesokan harinya mereka suda bangun di rumah Anggi bersama dengan kawan-kawannya yang lain.


Riuh suara canda dari mereka yang baru saja bangun kesiangan, ditemani bau kopi robusta yang sangat wangi.


Mereka saling antri kamar mandi untuk membersihkan diri sebagai persiapan melanjutkan rencana perjalanan mereka ke pantai P.


Matahari yang bersinar menghangat, semakin meningkatkan semangat mereka untuk segera ekplore dunia . Jiwa-jiwa muda yang masih tertanam di dalam diri mereka masih membara meskipun mata menghitam kurang tidur.

__ADS_1


Tak selang berapa lama meraka sudah berada di jalan raya menyemarakkan tahun baru. Deru suara motor berbaur dengan debu-debu yang bertebaran di udara hingga sedikit menghalangi pandangan mata. Namun rombongan ini sudah sangat terbiasa dengan suasana menyedihkan seperti ini yang malah semakin asyik dinikmati. Walaupun sebenarnya hal ini sangat tidak baik buat kesehatan. Anak muda, apa ada yang peduli dengan hal ini?


Setelah satu jam berkendara mereka diam di tengah jalan raya masih bersama rombongan mereka, tertawa terbahak bahak dengan ketololan mereka, apa yang terjadi ? Apalagi kalau bukan terjebak macet. Kondisi mereka saat ini adalah tepat berada di tengah-tengah jalan raya tidak bisa mundur dan tidak bisa maju. Padahal ini bukanlah sebuah mobil yang susah di gerakkan. Tapi memang begitulah kondisinya, tidak bisa maju tidak bisa mundur.


"Hahhhaahahhahaah hari ini kita semua memang gila ya, ada apa dengan otak kita kawan?" Kata salah seorang teman Nathan sambil tertawa terbahak bahak.


Di sambut gelak tawa mereka semua karena merasakan ketololan yang sama.


"Itulah hidup, selalu di penuhi keajaiban dan hal-hal yang tak terduga."


Ghanes hanya diam saja, lalu turun dari boncengan motor karena pinggangnya terasa sedikit nyeri, duduk terus tanpa bergerak sama sekali, mana panas campur debu pulak.


Ghanes berjalan perlahan menuju pinggir jalan, lalu duduk ngesot di rerumputan sambil memandangi pohon buah manggis yang mulai menampakkan buahnya yang masih berwarna hijau kecoklatan tanda ia belum matang.


Aksinya ini malah di ikuti oleh beberapa orang yang juga merasa capek memegang setir motor, mereka asyik mengawasi beberapa tanaman yang bahkan mungkin ada beberapa orang yang belum pernah melihat tanaman-tanaman buah yang sering mereka makan.


Ada beberapa pohon durian yang belum cukup besar nyempil di antara pepohonan cengkeh yang tidak ada buahnya. Tentu saja, karena cengkeh itu hanya berbuah 1x setahun. Juga terdapat banyak pohon salak tanpa duri yang di tanam mengelilingi kebun, mungkin di maksudkan juga sebagai pagar pembatas kepemilikan kebun.


Beberapa burung pleci kecil bertenger di atas ranting-ranting cengkeh dan pohon buah manggis, mereka sama sekali tidak berkicau mengeluarkan suara karena mungkin terganggu dengan suara ramai kendaraan di jalan raya.


............................


30 menit kemudian..........


Suara Nathan memanggil dari atas motor, "Nda,,, ayo naik, kita puter balik aja mumpung bis acari jalan keluar, mau di terusin pun mungkin malam baru nyampe tempat tujuan, karena kita memang benar-benar ga bisa bergerak, kita nyari tempat lain aja buat ngopi-ngopi."


Mereka semua akhirnya memutuskan untuk memutar balik motor mereka masing-masing untuk mencari tempat lain buat nongkrong.


Ghanes yang merasakan kantuk yang luar binasa karena kurang tidur, apalagi dia harus tidur di tempat baru(di rumah orang) berkata pada Nathan yang memboncengnya, "Than, anterin gua pulang aja ya, setelah itu silahkan elu balik sama temen-temenmu ga papa, sepertinya gua mau tidur aja Than, ga enak gua kalau dalam kondisi ngantuk begini jadi ga fokus gua dan males bicara. Takut nanti dikira ga suka ngumpul dengan teman-temanmu kan, kasian kamunya."


"Serius?"


"Iya Than, ga enak gua, sumpah gua ngantuk banget Than, anterin gua pulang ya, atau kalau kejauhan anterin ampe terminal aja dech, biar gua naik bis ampe rumah."


"Ga , meskipun jauh tetap gua anterin ampe rumah Nda, masak udah serius malah ga tanggung jawab sih, saya malu sebagai laki-laki calon imam." Jawab Nathan menolak.


"Ya udah dech, terserah elu aja Than, takutnya kalau elu capek."


"Capek ya tentu saja capek, tapi ada sesuatu yang lebih berat dari kata capek, yaitu tanggung jawab."


Jawabnya penuh nada penegasan.


Ghanes tersenyum bahagia mendengar penegasan dari Nathan,"Ya udah, oke kalau gitu, thank you yak."


"Ga usah senyum-senyum begitu, kalau suka ngomong aja kali." Seloroh Nathan tanpa menoleh kepada Ghanes yang di boncengnya.


"Eh..!!" Ghanes baru sadar bahwa ternyata Nathan memperhatikan wajahnya dari spion sebelah kiri, itu sebabnya Nathan bisa tau ekspresi Ghanes ketika sedang berbicara.


Ghanes menggeleng-gelengkan kepalanya sambil membatin "Duuuhhhhhh Anes, goblok banget sih lu, kenapa sekarang lu baru sadar jika muka elu tuh nangkring di spion sana, astaagaaaaaa,,,,,,, goblok banget sih jadi orang. Pantes aja setiap kali ngobrol Nathan tuh seperti selalu tau apa yang sedang gau pikirkan."


"Kenapa?" Tanya Nathan.


"Ga, ga papa kok Than." Jawab Ghanes malu.


Tiba di persimpangan jalan Nathan memberi kode kepada kawan-kawannya untuk berhenti sejenak.


"Ada apa pak?" Tanya Anggi pada Nathan.


"Aku mau ke selatan ya, ini katanya ngantuk mau tidur aja. Kalian lanjut aja dulu, ntar aku nyusul kalian oke?"


Anggi mengangguk angguk tanda mengerti situasi.


"Siap bos!"


Anggi menatap Ghanes lalu menyunggingkan senyumnya yang menurut Ghanes sangatlah manis.


"Mbak, kalau Nathan aneh-aneh ngomong ke saya, biar saya kasih pelajaran dia."


"Heheheheeh siap pak Anggi." Balas Ghanes tersenyum balik.


Setelah berpamitan akhirnya motor Nathan melaju ke arah selatan untuk mengembalikan Ghanes pada habitatnya dengan kondisi selamat tentunya.


Dan akhirnya Ghanes di kembalikan ke rumah dalam kondisi tanpa cacat tanpa luka sedikitpun tentu saja, tanpa buah tangan , tanpa oleh-oleh tanpa apapun.


Nathan berhenti sejenak di ruang tamu untuk mengistirahatkan pergelangan tangannya sambil menunggu kopi made in jemarinya Ghanes.


Ketika Ghanes kembali ke ruang tamu membawa secangkir kopi hitam panas, Pak Alan sudah duduk di kursi yang berada tepat di hadapan Nathan.


Ghanes menatap lekat kepada Nathan mencari tahu apa yang ingin di ketahuinya.


Nathan tersenyum lembut, "Sudah Nda."


Ghanes masih tak mengerti Nathan ini sedang bertanya atau menjawab pertanyaan yang ada pada hatinya.


Seakan tahu apa yang ada di dalam hati Ghanes , Nathan kembali menegaskan masih dengan senyuman lembutnya.


"Iya sudah Nda, aku sudah ngomong sama Bapak, ya kan Pak?"


Kata Nathan sembari meminta persetujuan dari Pak Alan yang sedari tak berkata apapun.


*Beberapa menit yang lalu.....***.....**


"Sudah lama Nak?" Tanya Pak Alan yang muncul dari ruang keluarga ke ruang tamu dan duduk di kursi yang berada di hadapan Nathan.


"alhamdulilah sudah beberapa menit yang lalu Pak, Bapak darimana?" 


"Oh, biasalah habis mbersihin pohon buah salak di belakang daripada nganggur."


"mmmmmm Pak, mohon maaf ada yang mau saya bicarakan dengan bapak, apakah bapak ada waktu?" 


"Soal apa? Tentu saja ada waktu , silahkan, mau ngomong apa? Ga usah sungkan-sungkan ya."


"Kan gini Pak, mohon maaf sebelumnya karena saya ga pandai bicara pak, jadi intinya saya pingin serius ke jenjang pernikahan dengan anak bapak yaitu Ghanes, apakah bapak mengijinkannya untuk menikah dengan saya pak?" 


"???? Apakah Ghanes sendiri sudah setuju dengan itu? Kalau saya yang penting itu yang menjalani , mau dengan siapapun saya ga pernah menghalanginya." Jawab Pak Alan dengan tersenyum bijaksana.


Pak Alan memang kepala keluarga yang tak pernah memaksa anggota keluarganya untuk melakukan apa yang ada di dalam pikirannya. Beliau bebas memberikan pilihan pada semua makmumnya untuk memilih jalan hidup mereka masing-masing. Pak Alan hanya berusaha memberi arahan dan dukungan saja kepada mereka. Karena Pak Alan sangat tahu bahwa setiap manusia itu di ciptakan berbeda-beda dengan pola pikir dan kesenangan masing-masing.


"Jadi Bapak mengijinkannya?"


Pak Alan kembali tersenyum, "Iya."


Nathan mengatupkan kedua tanganya dan mengusap ke mukanya, "Alhamdulilah......"


                                                   .............


"Iya, Nathan sudah bilang pada bapak kalau dia mau seriusin kamu, dan juga bilang bahwa tanggal 23 nanti orangtuanya mau datang kesini. Itu benar kan An? Kamu sudah beneran setuju?"

__ADS_1


Tanya Pak Alan seperti tak yakin dengan anak perempuannya sendiri.


"Iya Pak, Ghanes mah terserah dah, yakin ya yakin aja, mau ngapain lagi memangnya." Jawab Ghanes dengan raut muka biasa aja tanpa ekspresi apapun.


"Ada masalah An?"Tanya Pak Alan khawatir.


"Ga ada kok pak, biasa aja, memang kenapa pak?"


"Ya ga kenapa napa , kok ekspresimu datar begitu?"


"Ya ga papa sih pak, cuma apa yang mau di bahagiain sih, kan menikah itu nantinya juga pasti  banyak masalah yang datang bukan, katanya orang kan begitu, menikah kan bahagianya cuma sehari dua hari doank bukan?"


"Memang, pendapat itu benar sekali, namun kan tergantung bagaiamana kita menyingkapi  masalah tersebut toh, bagaiamana masalah tersebut apakah bisa menjadikan kita semakin dewasa atau tidak."


Pak Alan seperti teringat sesuatu dan melanjutkan kata-katanya, "Oh iya ada satu hal yang ingin bapa katakan pada kalian."


Anes menoleh pada bapaknya heran dan ingin tahu ada apa gerangan? Bukankah sudah setuju?


"Perihal apa pak?"


"Gini, kan Ghanes itu anak perempuan satu-satunya, nah nanti kalau kalian menikah Bapak sangat berharap jika kalian nanti menempati rumah ini, kasian tenaganya Ghanes kalau rumah yang di bangunnya ga di tempatin. Kan rumah ini dulu kamu Nes yang bangun, jadi bapak harap kamu nanti bisa nempatin rumah yang kamu bangun sendiri sekalian buat jagain orangtua kalau nanti orangtuamu sudah tua."


Pak Alan menarik nafas sebentar lalu melanjutkan ucapannya, "Tapi untuk saat ini karena orangtuamu masih sehat dan segar, ga perlu tinggal di sini ya ga papa, terserah kalian kalau mau wara-wiri dulu, mau menikmati perjalanan hidup dulu, silahkan. Tapi nanti kalau bapak dan ibumu sudah tua pulanglah ke mari."


Pak Alan menatap keduanya lekat-lekat.


"Soal itu saya setuju-setuju saja pak, kan karena saya sendiri juga punya bengkel di rumah, jadi mungkin masih menekuni bengkel tersebut, tapi nanti bisa juga kok bengkelnya di pindah ke sini."


Sejenak raut muka Pak Alan langsung sumringah, "Kebetulan kalau begitu, gunain aja barang-barang bekasnya Mas Susan, masih banyak tuh di gudang peralatannya, meskipun sudah ada beberapa yang di wariskan ke orang."


"Lu serius Than, bisa mindahin bengkelmu ke sini? Emang udah siap? Di sini udara nya lebih dingin lo Than."


Tanya Ghanes seakan tak percaya dengan jawaban Nathan.


"Kan malah enak dingin nda, seger dan bersih."


Ghanes tersenyum sinis tanda tak percaya "Dih, lu belum tau aja kalau malem bisa sedingin apa di sini, kita lihat aja nanti."


"Oke mari kita buktikan nanti." Jawab Nathan mantap.


Pak Alan malah kelihatan sangat bahagia mendengar perdebatan mereka yang sudah tak memliki rasa sungkan, dengan begitu Pak Alan sangat berharap semoga bisa menjadi keluarga yang benar-benar keluarga yang saling menyayangi tak ada jarak dan perbedaan meskipun tidak satu darah.


Pak Alan sendiri sedikit khawatir jika ada ketegangan antara mertua dan menantu yang seharusnya pernikahan itu menjadikan panjangnya silaturahmi dan memperluas tali persaudaraan, malah akan menjadi jalur bertambahnya kebencian di hati.


Banyak sekali yang mengalami hal itu bukan?!


........................


Tanggal 23 Pebruari,


Suasana rumah Pak  Alan lebih ramai dari biasanya, meskipun bukan sedang kondangan atau ramainya sebuah tahlilan. Perbincangan para orang-orang tua yang membicarakan tanggal baik bagi kedua calon pasangan pengantin di selingi beberapa kalimat candaan menambah riuhnya suasana dalam rumah.


Di dalam ruangan ini tak ada lagi kursi panjang tua yang biasa di duduki, namun mereka menggelar tikar dan duduk lesehan melingkar bersandar pada tembok abu-abu semen yang belum di lapisi dengan warna cat.


Di tengah-tengah mereka terdapat beberapa piring jajanan lokal yang akan memancing liur yang memandang dan mencium aromanya. Jajanan lokal khas jawa yang biasa di sajikan di acara-acara traditional.


Ghanes duduk di dekat pintu ke belakang tepat di sebelah Bu Santi yang duduk di atas kursi pendek yang biasa di gunakan anak TK, karena jika duduk di bawah, Bu Santi akan sangat kesulitan berdiri, dan mungkin saja itu bisa memberikan kesan buruk atau bahkan bikin malu buat mereka (takutnya).


Di sebelahnya duduk lelaki muda dengan senyum datar, dia adalah Aditya Candra yang sepertinya kurang setuju dengan pernikahan kaka perempuannya itu.


**Waktu itu\, **


"Mbak, kamu yakin mau menikah dengan bocil itu?" 


"Emang kenapa Ndra?"


"Ya,,, ga kenapa napa sih, cuma masa iya dengan dia, kan pacarmu dulu ganteng-ganteng mbak, masa sekarang jadi berubah seperti itu seleramu mbak, wxwxwxwx." 


"Dihhhh kirain kenapa, cuma gara-gara itu to? Kenapa harus fisik yang kamu nilai Ndra?" 


"Ya, selain itu menurutku ya, dia kegnya ga lebih dewasa dari saya deh mbak."


"Akh,,, sudahlah Ndra, kan dewasa itu bisa di pelajari perlahan lahan Ndra, ga bisa instant kan?!"


"Oh, jadi kamu mau jadi ibuknya dia gitu mbak? Serius?"


"Ga juga sih Ndra, tapi kapok gua dengan orang yang dewasa ujung-ujungnya mainin doank."


"Kan ga semua orang begitu mbak."


*"Nah, nyari orang yang Ga begitu itu susah Ndra."*


Candra kemudian langsung berdiri ngeloyor pergi dengan muka menahan emosi mendengar bantahan dari kakak perempuannya, "Akkkhhh serah elu dah mbak, suka-suka elu aja dach." 


...


Di dalam ruangan tersebut juga ada bibi dan pamannya Pak Alan sebagai wakil dari kakeknya Ghanes, karena kakek dan neneknya Ghanes ke empatnya sudah meninggal semua, jadi ketika ada acara keluarga, pasti adik dari kakeknya ini yang mewakili sebagai tetua keluarga.


Juga ada dua orang tetangganya Pak Alan yang satu adalah Pak RT setempat dan suami dari Mbak Sri, sedangkan Mbak Sri sendiri lebih memilih ngumpet di balik pintu ruang keluarga sambil memainkan ponsel kecilnya, padahal setahu Anes ponselnya Mbak Sri bukan android yang banyak game nya.


Hahhahahahhaaah Ghanes berasa lucu sekali dengan tingkah Mbak Sri tetangganya yang baik hati itu.


Dari pihak keluarga laki-laki keseluruhan ada 5 orang saja termasuk Nathan, ayah ibunya serta kakek dan neneknya yang rumahnya tepat berada di samping rumah Nathan.


Setelah perbincangan yang panjang akhirnya di tentukanlah tanggal ijab qobul buat mereka berdua, yaitu 10 hari setelah peringatan seribu hari Susandhatna yang jatuh pada tanggal 15 bulan depan. Berarti pernikahan mereka akan di laksanakan tanggal 25 bulan Maret.


Semua tersenyum lega, terkecuali Candra tentunya, Candra hanya diam tak bereaksi apapun atas keputusan itu. Sedangkan Ghanes sendiri melamun dengan lamunan yang ga jelas, karena dia benar-benar tidak tau apa yang akan terjadi nanti, dan bahkan Ghanes tidak ada rencana apapun yang akan di lakukan setelah menikah nanti. Ghanes tak punya gambaran apapun sedikitpun.


"Bagaimana kalau habis ini kita mencicipi masakan yang ala kadarnya sebagai perkenalan dari keluarga kami, sekaligus mencoba citarasa dari selatan." Seloroh Pak Alan mempersilahkan tamunya untuk menikmati hidangan yang telah di bawa dari dapur.


"Mari mari Pak, kami rasa ga jauh berbeda kalau soal cita rasa , karena kita masih berada di tanah jawa bukan? Jadi saya pikir kurang lebih sama lah pak, hehheehe" Jawab Ayahnya Nathan menimpali gurauan Pak Alan.


Mereka semua lantas menikmati hidangan sederhana yang telah di sajikan, juga karena rasa lapar yang sudah sangat mengganggu mereka karena dari padi hanya sarapan minuman hangat serta jajanan saja, maklumlah namanya orang indonesia , kalau belum makan nasi maka belum makan dan masih merasa lapar.


Kalian juga begitu bukan?!......Hahhahahaa.....


.


.


..


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2