
"Beberapa minggu yang lalu Mas Susan tuh habis nangkep maling mbak, terus jarak tiga hari dari itu Mas Susan langsung sakit."
Jelas Andra melanjutkan ceritanya.
"Maksudnya ? Maling apa ? Terus siapa malingnya? Kok bisa gitu Ndra?" Tanya Susan merasa ada yang aneh.
"Gini mbak, kan akhir akhir ini di lingkungan rumah kita itu ga aman, banyak orang orang yang kecurian barang.
Terus sebenarnya tuh orang orang dah pada tau siapa pelakunya , namun mereka diam saja karena ga punya alat bukti."
"Emang Siapa Ndra pelakunya?" Tanya Anes.
"Tetangga kita , Fikri anaknya Tante Arti." Jawab Andra.
"Bocah ingusan itu ?" Tanya Anes lagi.
"Iya mbak, namun komplotannya dia banyak lo mbak, anak anak luar Desa, ada Lucky pulak, tau kan Lucky yang dulu temenku sekolah itu lo, dia sebagai penadahnya. " Kata Andra lagi.
"Iya tau Ndra, inget banget aku Ma si Lucky, dulu waktu SMP dia kemana mana bawa Arit(Clurit kecil biasanya buat nyari rumput) kan ?"
"Nah,, itu bener, ya Lucky yang itu, dia dah keluar dari rehabilitasi, namun ya begitu balik lagi balik lagi." Kata Andra lagi.
"Terus ceritanya Mas Susan itu gimana? Kok bisa gitu?" Tanya Anes masih penasaran.
"Nahhh kan Mas Susan deket sama Pak Lurah, Dia ada ide buat nangkep basah Fikri, Lalu dia ngajak Sidiq dan Topan buat merhatiin Fikri.
Kebetulan nih, Pak Kusni kehilangan hape dan Uang.
Ga tau kenapa , entah goblok atau gimana, itu hape masih aktif donk , Saat di telpon, diangkat. Nah.. dari situlah tau , semua hapal kalau itu suaranya Fikri.
Mas Susan, Sidiq Dan Topan pergi nyari Fikri, Si Fikri sedang duduk duduk dengan temen temennya sambil minum Amer,
Ketika Sidiq telpon nomornya pak Kusni, lha yang ngangkat ya Fikri itu."
"Terus ?" Kata Anes berharap lanjutan ceritanya.
"Langsung dong Fikri di minta pulang menemui pak Kusni. Dia nurut aja. Terus katanya Pak kusni "Biarin aja, aku udah memaafkan dia."
__ADS_1
Tapi Mas Susan tuh berharap bisa memberi efek jera pada Fikri. Mas Susan merasa malu karena lingkungannya terkenal sebagai lingkungan maling.
Akhirnya di bawalah Fikri ke pak lurah,
naahh sama Pak lurah langsung di anterin ke panti Rehab setelah mendapatkan bukti bukti yang kuat." Jelas Andra.
"Terus kok nyambungnya ke Mas Susan sakit ?" Tanya Anes lagi.
"Gini, waktu di hadapan pak lurah itu, orang tuanya Fikri bilang : "Udahlah Fik, kamu nurut aja, kok kayak kamu itu bukan cucunya kakek aja" ."
"Maksudnya?" Tanya Anes ga mengerti.
"Waktu itu orang orang juga masih cuek aja, dipikir omong apa ni orang, Namun setelah itu besoknya teror terus berdatangan, mau percaya atau ga,, dari tiba tiba genteng bengkel terbakar, dari ada bola api yang di lempar ketika di cari cari ternyata yang jatuh itu sesajen lengkap, terus tiba tiba motornya Sidiq Mati ketika diperiksa ada telor busuk di dalem knalpotnya.
Kan aneh gitu mbak, gimana caranya masukin telor busuk utuh ke dalam kenalpot motor, lubang kenalpot motor itu sekecil itu lo, kok bisa masuk. "
"Nahh,, tiga hari setelah itu lah Mas Susan sakit, panas demam , namun kita masih enjoy aja waktu itu karena mikirnya dulu kan mas Susan juga sering begitu waktu malarianya masih aktif.
Namun lama kelamaan ada yang aneh ketika tiba tiba keluar biji cabe dari pusarnya Mas Susan. Di situlah kita mulai curiga."
Lanjut Andra panjang lebar.
"Lalu?" Tanya Anes lagi.
"Ya ketika di bawa ke puskesmas, dokter langsung ngasih rujukan ke Rumah Sakit besar karena Hb nya sangat rendah, takut terjadi apa apa." Jawab Andra.
"Sudahlah Mbak ini yang tau keluarga kita aja, meskipun tetangga dan saudara kita semua juga tau, namun sudahlah, Mas Susan juga pasrah dan ikhlas dengan ini semua. Dia bilang ini Takdir. Tuhan itu Maha Tau." Jawab Andra.
"oke lah aku mengerti Ndra, berharap dan berdoa saja, semoga ada kabar baik dari dokter, dan semoga lekas sembuh, seringkali orang benar itu memang dimusuhi. Bukankah hidup mati, sakit sehat itu semua kehendak Tuhan?" Jawab Anes membenarkan.
"Iya mbak, cuma ibuk aja yang masih sangat marah dengan kejadian ini, kalau telpon ibuk jangan membahas hal ini ya mbak, ngomong yang baik baik aja sama ibuk." Kata Andra.
"iya Ndra aku paham. Aku ngerti kok ibuk seperti apa." Kata Anes meng iyakan tanda mengerti.
"Udah dulu Ndra ya, aku tutup dulu, Aku mau kerja, kamu jaga diri di rumah, aku cuma bisa berdoa dari sini. Kamu juga baik baik ya." Kata Anes menahan sesak di dadanya .
"Oke deh mbak, mbak ga usah kepikiran yang aneh aneh dulu, Mas Susan pasti sembuh kok mbak." Kata Andra meyakinkan.
__ADS_1
"Aamiin. Ya udah, Asalamualaikum " Jawab Anes.
"Waalaikumsalam."
Sambil melanjutkan kerjanya Anes masih kepikiran dengan kata kata adiknya, yang sungguh dia ga habis pikir dengan yang terjadi.
Di sisi lain Dia berharap keluarganya baik baik saja.
Kasian pada Andra yang harus sendirian ngurus kakaknya. Dia harus mengorbankan pekerjaannya di kota S demi pulang ngurusin kakaknya.
Bapak dan ibuk Kemana? Ya Anes tau Bapak dan ibuknya saat ini sedang tidak ada penghasilan , kerjaan sedang sepi. Lalu apakah Anes kepikiran untuk pulang ? Jelas iya. Namun jika Anes pulang, maka habis sudah .
Di belahan negara lain, Andra yang pusing harus lari ke sana kemari , juga bingung karena Mas Susan ga mau di urusin kalau bukan dengan Andra, di pegang Bapak atau Ibuk saja ga mau. Katanya badannya sakit semua.
"Aku kuat. Aku kuat. aku kuat" Kata inilah yang selalu Andra jadikan racun buat dirinya sendiri.
Agar dirinya ga menyerah dengan yang terjadi.
Andra juga kasian sama Mbaknya yang harus nyari uang sendirian buat semua kebutuhan keluarganya.
Andra ingat jika Mbaknya itu seorang perempun, tenaga perempuan, juga telah berbuat banyak pada hidup keluarganya, termasuk membiayai sekolahnya sampai lulus.
Andra sangat tau itu. Andra juga merasa bersalah jika harus terus terusan bergantung pada mbaknya.
Karena Andra sadar mbaknya semakin dewasa, membutuhkan hidupnya sendiri juga, bukan cuma ngurusin orang lain terus terusan.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.