
Pagi yang begitu cerah, mentari bersinar hangat membangunkan makhluk-makhluk di bumi dari lelap tidurnya. Tak terkecuali Ghanes dengan semangt nya yang membara, mulai menyibukkan diri di rumah dengan mesin barunya. Mulai rajin menggambar design-design tas berbahan dasar kain. Kenapa tidak baju? Karena Ghanes ingin memulai dari sesuatu yang benar-benar baru dan masih belum ada di pasaran. Tentu saja dengan cost yang relatif lebih murah.
Sambil bernyanyi-nyanyi kecil, Ghanes membersihkan kolong meja di bawah tangga rumah, karena selama ia menikah ia belum pernah menyentuh rumah alias bersih bersih . Selain kemarin membersihkan ruangan tempat mesin jahit, itupun di bantu Danu.
Lalu siapa yang selama ini membersihkan rumah? Ya Danu. Siapa lagi.
Ghanes memang di perlakukan layaknyaratu, yang tak pernah di tuntut untuk bersih-bersih rumah ataupun memasak.
Namun kalau soal memasak memang Ghanes yang suka melakukannya, Ghanes sangat hobi menyibukkan dirinya di dapur.
Sreekkkk....... srreeekkkkhhhh.... ssreeeekkkkkhhhh......
Sapu Ghanes mengenai seuatu.
"Heeiihh,,,? Kertas apaan ini? Banyak bener?"
Ghanes kaget karena ternyata kertas yang di bawah kolong meja bukan cuma 1 lembar dua lembar bahkan puluhan lembar.
Kertas HVS A4 berisi coretan-coretan angka dengan tinta yang masih baru yang beberapa barisnya di silang-silang di beri tanda panah ke kanan dan ke kiri, ada juga yang saling menyilang. Ada beberapa angka di beri stabilo warna orange dan hijau terang menandai beberapa angka penting.
Satu menit, tiga menit, hingga di menit ke 7, Ghanes sadar bahwa kertas-kertas yang di tangannya adalah kertas bekas prediksi angka Togel.
Seketika muka Ghanes langsung memanas, merasa di tipu oleh suaminya. Merasa di hianati, merasa di permainkan.
Dari awal sebelum menikah, sebenarnya Ghanes sudah tahu kalau Danu ini suka membeli nomor togel. I'ik yang memberi tahu.
Dan waktu itu Ghanes memberi syarat kepada Danu agar ia mau berhenti dari kebiasaan buruknya tersebut.
Kata Danu waktu itu,
"Tenang aja dek, itu kan cuma hiburan belaka, ga akan menghabiskan uangku kok, lagian aku beli itu palingan juga cuma 500 perak hingga seribu perak doank kok. Hanya sebagai hiburan saja."
"No mas, sekali tidak ya tidak, kan aku sudah bilang , hal yang ga bisa aku terima itu adalah perjudian. Bahkan aku ga apa-apa kalau misal kamu minum miras, narkoboy atau main perempuan, asal jangan JUDI. Beratnya ga main judi apa sih?"
"Ya ga berat juga sih, tapi kan aku hanya nyari hiburan setelah pulang kerja, lagian ga sampai ngabisin duit kok dek."
"Aku bilang ga ya ga. Gini dech,, kalau kamu ga bisa berhenti mending ga usah nikah aja dech ya. Aku ga mau pusing hidupku gara-gara mikirin kelakuan kamu."
"Oke deh kalau gitu, aku berhenti. Mana mungkin aku lebih memilih nomor togel daripada memilih menikah denganmu dek, ya jelas aku lebih memilih menikahimu lah." Jawab Danu tersenyum manis menyenangkan Ghanes.
.................
Ghanes menarik nafas panjang, menghembuskannya, lalu menarik nafas lagi, di lakukannya berulang-ulang. Ia sama sekali tak ingin marah, karena marah hanyalah membuat hatinya semakin gundah, membuatnya kehilangan fokus dalam bekerja. Ga nafsu makan juga ga bisa tidur.
Dia duduk di kursi kayu pendek, sambil berusaha memikirkan apa yang akan di lakukannya dengan kertas-kertas yang ada di tangannya ini.
Dia berusaha mengingat kembali, bahwa kertas di bawah meja kali ini bukanlah kertas pertama yang ia temukan, sebelumnya ia sudah tiga kali menemukannya di tempat yang berbeda. Dan waktu itu ia pun sudah mengkonfirmasinya dengan Danu.
Danu hanya tersenyum dan bilang bahwa itu adalah kertas lama yang ia sudah tak melakukannya lagi sekarang.
Ghanes menghembuskan nafasnya dengan sangat kesal.
"Hari yang buruk." Gerutunya.
Ghanes matanya mulai panas, sedikit menyesali kenapa ia dulu menerima lamaran Danu untuknya. Sedangkan satu hal yang ia minta tidak di lakukan pun sampai sekarang masih di lakukan dengan diam-diam.
Ghanes sangat benci di bohongi. Karena dengan begitu ia merasa di permainkan. Merasa tidak di hargai kehadirannya. Ia merasa di sepelekan.
Kenapa Danu tak jujur saja padanya bahwa ia masih mencoba untuk beruah, dan belum bisa melakukannya?
__ADS_1
Kenapa harus berbohong hanya untuk membuatnya bahagia? Bukankah kalau sudah ketahuan begini malah lebih menyakiti daripada jujur di awal-awal hari?
Bulir-bulir air mata mulai menetes membasahi pipi polosnya yang tanpa make up. Dia menerawang jauh membayangkan bagaimana sebenarnya ia dulu sangat berharap Syaif datang ke rumahnya sebelum kedatangan Danu waktu itu.
"Apakah aku salah lagi dalam mengambil keputusan kali ini? Tuhaannnn,,,, kapan Engkau mau mengampuni ku? Mengapa masih saja kau berikan siksa ini padaku? dan sekarang aku kembali terjebak dengan keputusanku sendiri."
Ghanes melihat jam di pergelangan tangannya, tak terasa sudah 3 jam ia duduk di kursi ini tanpa kegiatan sama sekali. Hanya menangis dan menyesali nasibnya yang selalu terjebak dengan situasi yang tidak kondusif. Yang selalu merasa salah mengambil keputusan dalam hidupnya. Yang selalu salah menentukan langkah.
Ia kemudian berdiri, melangkahkan kaki ke dalam kamar, mengaduk ngaduk kardus yang berisi berbagai macam barang yang di jadikan satu. Dia mencari-cari sebuah pigura photo hadiah yang di berikan i'ik waktu ia menikah dahulu.
Sembari terus mengembuskan nafas kesalnya, Ghanes menata beberapa kertas hasil skets togel ke dalam pigura tersebut, lalu menggantungnya di tembok menggantikan photo pernikahan mereka berdua.
Sedangkan photo pernikahannya di simpan di dalam kardus.
Ghanes mulai membereskan sebagian pakaiannya ke dalam ransel besar warna hijau miliknya. Mengambil buku nikah dan mengambil miliknya. melepas cincin nikahnya lalu di masukkan ke dalam plastik klip beserta buku nikah warna merah milik Danu. Membereskan semua surat-surat penting miliknya, termasuk ijasah dan beberapa photokopi KK miliknya.
Ya,,, Ghanes berencana akan meninggalkan Danu. Bukan dengan alasan dia memliki pria lain, tapi dengan alasan ia tak bisa menerima kelakuan Danu yang suka main togel dan tak bisa berubah.
Ia tak terima di permainkan. Ia tak terima di bohongi. Ia tak terima sama sekali.
Namun sebagai wanita matang yang sudah dewasa, ia tak ingin teriak-teriak seperti orang gila. Dia akan melakukan hal ini dengan cara yang sangat tertata dengan rapi. Dengan cara yang baik. Pergi dengan ijin yang baik. Karena ia tak ingin semakin membebabni pikirannnya sendiri . Ia tak mau terjebak dengan dunia yang akan di sesalinya ketika tua nanti.
Setelah semuanya beres, Ghanes menuju dapur mengingat perutnya dari pagi sama sekali belum di isi. Ia sadar ia harus makan. Ia tak mau semakin menyiksa tubuhnya dengan pikirannya. Ia ingin semua yang di lakukannya harus berdasarkan pikiran yang jernih.
Sembari memasukkan makanan ke dalam mulutnya yang rasanya sangat pahit di lidah, sangat jauh berbeda dengan biasanya. Pelan-pelan ia memikirkan apa yang akan di lakukannya selanjutnya setelah ia tak lagi bersama dengan Danu.
Ia membayangkan dengan sisa tabungannya ia akan memulai jualan jajanan lokal di Shopee, Lazada atau Bukalapak.
Atau mungkin ia akan mencari Syaif untuk sekedar menghibur diri.
Ghanes menggeleng-gelengkan kepalanya dengan gelisah,
"Kenapa juga dulu aku harus mau di nikahi Danu? Akh,, kenapa juga aku harus punya trauma itu? Kenapa hati dan perasaanku harus mati hingga aku tercebur ke dalam dunia yang kupilih sendiri? Kenapa ????"
Menunggu sore hari Danu pulang ke rumah seperti setahun tak ada hujan mengguyur bumi, kering, panas, haus, gelisah serasa sudah di ambang pintu neraka. Sesak di dada. Ghanes juga berfikir gimana caranya agar nanti ia tak membuat keributan di dalam rumah mertuanya. Ia harus benar-benar mencari wkatu yang pas untuk bicara.
..............................
18:35
Selesai sholat maghrib, danu bersantai seperti biasanya di dalam kamar menonton televisi,
Tolah-toleh dia baru ngeh jika pigura di dinding telah di ganti dan ada ransel besar hijau di sebelah meja tv.
Segera ia meloncat dari atas ranjang dan merain pigura yang ia sangat tahu isinya adalah skets togel yang ia tulis kemarin lusa dan sebagiannya bebrapa hari yang lalu.
"Bajingan, aku lupa ngeberesinnya."Gerutunya pada dirinya sendiri atas keteledorannya itu.
Lalu ia segera membuka resleting ransel hijau milik istrinya, dan seperti yang ia duga bahwa isinya adalah baju-baju Ghanes yang sudah di tata rapi.
Ia kemudian membuka almari pakaian, dan kosong, hanya tersisa beberapa gamis yang di pakai Ghanes hanya ketika kondangan saja. Sisanya sedah masuk ke dalam ransel semuanya.
Tiba-tiba kakinya langsung lemas,
"Deeeeeekkkk,,,,!!!!" Teriaknya agak keras setelah sepersekian menit ia sadar apa yang sedang terjadi.
Tadi ketika ia pulang kerja bahkan ia tak terlalu memperhatikan raut muka istrinya, karena istrinya masih mencium tangannya seperti biasa dan tak terjadi apa-apa. Masih membuatkannya kopi seperti kemarin.
Tak ada yang aneh sama sekali. Dan ia begitu tak menyangka jika diamnya Ghanes mengandung masalah yang begitu besar dan sangat di takutinya.
__ADS_1
Dengan santai Ghanes masuk ke kamar,
"Ada apa teriak-teriak?" Tanya nya datar tanpa ekspresi.
Danu dengan mata merah dan muka pucat penuh keterkejutan,
"Ada apa dek ? Ini tas kenapa isinya bajumu semua ? Kamu mau kemana ?" Tanya nya dengan suara lemah dan bergetar.
Ghanes tersenyum sinis misterius,
"Nih ambillah, aku kembaliin ke kamu beserta mas kawinnya. Aku ga perlu itu semua. Simpan baik-baik siapa tau nanti di kemudian hari kamu membutuhkannya."
Kata Ghanes santai menyerahkan buku nikah berwarna merah beserta cincin kawin dan uang tunai sebesar mas kawin yang di berikan waktu pernikahannya dulu.
"Maksudnya apa ini ? Kamu mau ke mana ?" tanya Danu dengan muka semakin pucat kehitaman.
"Tak perlu aku jelaskan, kamu udah tahu kan apa salahmu?" Tanya Ghanes masih dengan nada sangat santai dan tanpa ekspresi.
Danu menunduk menekuk kepalanya dalam-dalam, "Iya, aku tahu."
"Ya sudah, aku tak main-main dengan kata yang pernah aku ucapkan dulu, sekali bilang ga ya ga. Dan waktu itu kamu sudah menyanggupinya, kemarin-kemarin aku masih maklum , mungkin saja kamu butuh waktu buat berubah, namun sekarang sudah ga. Aku ga bisa. Aku ga mau menyiksa diriku sendiri dengan terus berusaha mengerti dirimu dan kebiasaanmu. "
Ghanes menarik nafas dalam lalu menghembuskannya,,,,,,,
"Sudah ya, aku mau mandi dulu, nanti aku bilang sama ayahmu."
"Terus kamu mau ke mana dek ?" Tanya Danu masih ga percaya dengan apa yang di alaminya sekarang. Ia sungguh tak percaya jika istrinya benar-benar setegas ini terhadap kesalahannya. Ia pikir istrinya bisa santai seperti biasanya, ternyata tebakannya salah sama sekali.
"Bukan urusanmu mas.Toh selama ini sebelum menikah denganmu aku hidup sendiri dan baik-baik saja bukan ?"
Jawab Ghanes santai lalu melangkahkan kaki menuju kamar mandi.
Di dalam kamar, Danu merebah di atas ranjang, menggenggam cicncin kawin yang di berikannya pada Ghanes 6 bulan lalu ketika prosesi ijab Qabul. Hari yang di nantikannya sejak ia melihat Ghanes pertama kali.
Gadis dengan mata bulat berbinar yang bertengger di muka manis tapi judas itu. Wajah yang unik dan sikap yang super cuek yang membuatnya makin penasaran untuk bisa mendapatkan wanita ini.
Wanita sederhana yang kala itu hanya memakai kaos oblong hitam dan celana training anak SMA. Unik, sungguh unik. Dimana wanita-wanita muda lainnya sibuk merias diri dengan make up setebal plamir rumah sakit, namun yang ia lihat di depan matanya malah wanita manis yang sangat langka.
Danu menghempaskan nafasnya dengan keras,
"Apakah aku harus gagal untuk yang kedu kalinya ? Pada siapa aku harus bicara ? Kenapa aku begitu bodoh ? Apa kurangnya ia buatku ? Akhhh Shhiittttt !!!"
Danu memukul-mukulkan genggaman tangannya pada pahanya sendiri berkali kali.
"Dasar bodoh, bodoh, bodoh."
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.