
12 Desember adalah hari yang telah di sepakati Anes beserta beberapa temannya untuk liburan bersama.
Ada empat orang yang mengajaknya ketemuan.
"Mau main kemana dingin dingin begini?" Tanya Anes pada Rofi salah seorang temannya.
"Akhhh main aja, mbak Yuni kangen katanya."
"Kangen sama siapa ? Gua ? Kok dia ga hubungi gua sendiri?" Tanya Anes merasa ada yang janggal.
"Tau tuh, katanya kontak lu terhapus. Lagi ada masalah dia tuh."
"Oohh... "
Sesampainya di Aula stasiun, bukan empat orang, tapi Dua belas.
Anes sedikit kebingungan karena ada beberapa yang Anes ga kenal .
"Kemana kita ?" Tanya salah seorang dari mereka .
"Pantai aja." Jawab seorang cewek berambut pirang.
"Lu gila, suhunya berapa sekarang kok ngajakin ke pantai, pingin bunuh diri apa?"
"Terus ?"
"Ya udah,, di sini aja dulu, ini masih pagi, menghangatkan diri aja , setelah itu baru ke pantai."
"Oke lah kalau begitu. Gimana yang lain ? Oke ga ?" Tanya nya pada anak anak yang lain.
Namun tak ada jawaban, mereka sibuk dengan pasangan mereka masing masing.
"jiihh alamat buruk nih." Umpat Anes dari dalam hatinya.
Dia tolah toleh mencari Rofi, yang ternyata Rofi bukanlah orang yang ia kenal, Dia berubah 180° ketika kumpul dengan teman temannya yang lain.
Bahkan Rofi yang awalnya ngajakin Anes buat gabung liburan bareng, malah sekarang Rofi seperti orang yang sama sekali tak mengenal Anes.
Anes hanya mengeleng gelengkan kepalanya tanda tak mengerti, namun sedetik kemudian dia mulai menyunggingkan senyum smirkh nya, entah apa yang ada dalam otak liciknya itu.
Tak lama kemudian mereka duduk melingkar di lantai aula stasiun tersebut.
Salah satu dari mereka menuangkan Black Label ke dalam gelas kertas kecil ukuran 150 ml.
"Haiisshh,,, udah gua duga...." Gumam Anes perlahan.
Sekian waktu ia tinggal di negara ini, Anes paham dengan apa yang dimaksud dengan kata kata "Menghangatkan tubuh dulu."
Apalagi kalau bukan minuman dalam botol ini.
,,,,,,,,,,,
Lewat tengah hari, mereka semua akhirnya sampia di pinggir pantai di kota paling ujung di negara ini.
Pantai dengan dermaga internasionalnya yang sering di singgahi kapal kapal pesiar.
Ada taman kecil di pinggiran dermaga, ada beberapa tempat duduk kayu berderet di sepanjang tepian pagar pembatas.
Banyak orang orang muda dan juga separuh baya yang duduk di sana menikmati dinginnya udara pantai.
Kotak kecil di bawah Jam dinding besar di atas bangunan dermaga , menunjukkan angka digital merah 13°C.
Udara yang lumayan menusuk, apalagi untuk manusia manusia yang terbiasa dengan suhu di belahan bumi tropis yang cenderung hangat.
Angin yang berhembus semilir semakin menambah suhu terasa makin menusuk, hingga menembus pori pori celana.
Kenapa bukan pori pori jaket ? Karena kebanyakan dari mereka memakai jaket bulu tebal, namun suka memakai celana jeans biasa, agar kelihatan gaul .
Padahal yang paling aman adalah memakai celana polar.
Namun celana polar bukanlah pilihan yang indah untuk di pakai jalan jalan karena modelnya yang selalu monoton.
Anak muda biasa begitu. Berani ambil resiko untuk penampilan.
"Nih, giliranmu Nes,,," Kata Rofi menyodorkan gelas pada Anes.
__ADS_1
"Sory, ogah gua."
"Waaaaahhhh lu ga solid ma temen lu Nes, lainnya mau semua kok Lu menolak sih. Ga enak gua ma yang lain."
"Gua ga pingin minum Rofi.... Masak lu paksa sih?"
"Percuma gua ajakin lu keluar kemarin. Bikin malu aja."
"Ooohhh,,, bikin malu." Anes tersenyum sinis.
Kemudian dia berdiri di tengah tengah orang orang yang sebagian besar tak ia kenal itu.
Sambil berkata lantang bak pahlawan dalam film anak anak,
"Gua, Ghanes Anjani, mulai hari ini tanggal 12 Desember menyatakan akan berhenti bermain main lagi, terutama denganmu Rofi.
Terima kasih telah menerima gua di lingkungan ini hari ini. Dan gua minta maaf jika hanya karena gua ga mau ikut minum, lalu membuat kalian malu berada di sekitar gua. Terima kasih.
Oh ya,,, gua mohon maaf, karena gua akan pulang lebih dulu, Bye bye semuanya."
Anes mengakhiri pidatonya sambil memandang sinis pada Rofi.
Anes mengambil ransel kecilnya lalu beranjak meninggalkan kerumunan itu. Dengan langkah santai dan kepala mendongak ke atas, dia terus berjalan menyusuri tepi dermaga sendirian.
Pulang? Tentu tidak. Anes masih ingin menikmati suasana pantai dengan minum secangkir kopi hitam panas.
Anes juga ingin membuktikan saja pada Rofi, jika ia tak berhak memerintah tubuhnya .
Tubuhnya adalah miliknya sendiri. Dan ia berkuasa penuh atasnya.
Anes bukan penggemar kopi, namun ia menyukai aroma kopi hitam, untuk melancarkan peredaran darah dalam otaknya.
Belum ada 20 langkah ia berjalan, tiba tiba tangannya di tarik dari belakang.
"Ngomong apaan lu barusan?"
Pemilik suara ini adalah Rofi yang tersinggung karena Anes menyebut namanya di depan teman temannya tadi.
"Apaan sih?" Tanya Anes sengit.
"Lu mau bikin Gua malu?"
"Lu sengaja?"
"Cerdas. Hahhahha."
Jawab Anes masih dengan tertawa sinis sambil menunjuk sudut keningnya sendiri.
Anes mengayunkan tangan kirinya pada Rofi tanda agar tak mengikutinya lagi.
"ssyyuuhhhh.... syyuuhhhhh......"
Sambutan mata melotot dengan bola kemerahan karena pengaruh minuman tak membuat Anes merasa risi ataupun takut.
Anes sudah terbiasa dengan pergaulan kaum Adam dari ia kecil, jadi rasa takutnya untuk hal hal beginian sudah jauh berkurang, apalagi jika berurusan dengan orang orang yang otaknya agak konslet karena pengaruh minuman ataupun obat, maka Anes akan lebih tak peduli lagi.
Anes dengan entengnya melenggangkan kaki menuju ke minimarket untuk membeli kopi atau coklat panas.
Dia tak memperdulikan 12 pasang mata yang memandang aneh kepergiannya. Anes, otak jahatnya entah kenapa terbentuk dengan begitu cepat.
Setelah akhir akhir ini mengalami hal hal buruk, sensor kepercayaan di dalam saraf otaknya luntur dengan sangat cepat.
Ia tak mau lagi menggantungkan kepercayaan pada manusia lainnya.
Pada kenyataannya , orang orang yang selama ini di anggap sebagai malaikat, mereka hanyalah orang orang yang ternyata punya kepentingan pribadi di baliknya.
"Yeaacchhh manusia,,, manusia,,,"
Gumam Anes menggedikkan bahunya.
,,,,,,,,,,,,,,,
Aroma kopi hitam panas dan coklat panas yang di genggam di kedua tangannya, kiri dan kanan, mampu menarik kedua sudut bibirnya untuk tersenyum simpul sambil memejamkan matanya, se olah olah inilah kehangatan paling hangat yang sudah bertahun tahun dirindukan.
"xixiixixiixixixi" Anes terkikik pelan mengingat kasir minimarket yang terbengong ketika melayani permintaan Anes yang memesan dua gelas minuman hangat yang berbeda. Karena Anes hanya sendirian tak berteman.
__ADS_1
Mengambil kursi di deretan tengah, Anes menikmati coklat panasnya, lalu membuka tutup gelas kopinya untuk di hirup aroma segarnya.
"Mbak, belum pulang?" Tanya seseorang dari belakang.
Anes menoleh ke belakang dan ternyata yang menyapa adalah salah satu cewek yang duduk di lingkaran tadi.
Dia berjalan sedikit sempoyongan dengan satu orang temannya.
"Eh iya . Belum. Kalian mau ke mana ?"
"Toilet di mana ya? Tau ga?"
"Tuuuhhhhh..." Tunjuk Anes pada pintu minimarket dimana ia baru saja beli minuman panas.
"Makasih." Jawabnya lalu berjalan dengan sedikit terhuyung huyung.
"cxcxcxcx,,, tuh kan mabok juga,, yang kaya gitu yang ga bikin malu ? Dasar norak. Udah tua masih aja begitu, di gampar Tuhan kaya gua baru tau lu pada." Gumam Anes sambil menyesap coklat panasnya.
Dia kemudian teringat lagi, bahwa ia dulu juga pernah mengkonsumsi minuman minuman seperti itu, namun ia selalu mengkonsumsinya sendirian di dalam kamar, tak pernah ia minum di tempat umum begini.
Bahkan sampai saat ini salah satu rak di dalam almari pakaiannya masih berjejer beberapa botol kosong dari merk yang berbeda beda.
Sebagai kenang kenangan, gumamnya waktu itu.
Dan benar saja, hal itu hanya jadi kenangan buruknya saja, apalagi saat ini, bahkan Anes setetespun tak lagi ingin mencicipinya.
Pahit, sepahit ketika Tuhan memberinya peringatan jika tingkah lakunya sudah melampaui batas.
,,,,,,,,
Dari tempat duduknya Anes masih memperhatikan teman temannya tadi, lebih tepatnya adalah mantan teman.
Mereka mulai beranjak pergi, berjalan pulang, ada beberapa yang berjalan berpegangan pada yang lainnya, ada juga yang terlihat masih sehat, namun Anes dengan tatapan mata membunuh hanya menatap pergerakan mereka dengan tajam.
"Eh !" Dia terperanjat ketika baru menyadari bahwa ia telah duduk di sana hampir 5 jam.
Jarum di pergelangan tangan kirinya menunjukkan pas jam 6 malam.
Anes tak begitu menyadari waktu karena musim dingin tak ada matahari, hanya kabut yang menyelimuti. Jadi lampu lampu kota pun dinyalakan lebih awal.
"Entar deh sejam lagi." Gumamnya tersenyum.
Dia merogoh ponselnya lalu
mengambil beberapa spot kabut di tepian dermaga.
1 menit kemudian, beranda facebooknya telah ada caption "Go away or never."
Tepat jam 7 malam, ia beranjak dari tempat duduknya, lalu mengayunkan langkah kakinya perlahan menuju halte bus menuju ke rumahnya.
Dengan langkah pasti dan tujuan hidup yang baru.
Ia masih sangat sadar bahwa ia
masih ada keluarga yang sekarang menjadi tanggung jawabnya karena ia berubah menjadi anak tertua saat ini.
"Ghanes,,,,,,,, go." Ucapnya perlahan setelah ia duduk di atas kursi bus, dan bus mulai meninggalkan dermaga itu perlahan.
Ia sandarkan kepalanya pada sandaran kursi sambil mendengarkan musik relaxsasi dari deburan ombak pantai yang sangat di sukainya.
Bus meluncur membelah jalanan kota dengan kabut tipis, dan di hiasi kerlip lampu yang temaram di tepi tepi jalan.
Cuaca dingin di luar tak mampu menembus tebalnya dinding kaca bus, namun juga karena bus ini di lengkapi dengan mesin penghangat pada musim dingin dan AC pada musim panas.
Canggih bukan? wxwxwxxwxwxwx
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.