
Candra menuntun kakaknya menjauh dari kedua orangtuanya, "Mbak, jalan-jalan aja yuk, gua lama ga ke pantai lo mbak."
"Akh,,, kalau elu mau nyetirin , gua mah ayok aja sih." Kata Ghanes agak malas karena dirinya sudah terlampau capek, apalagi dengan kondisinya yang sekarang dia takut kalau harus pegang setir motor, takut ngelamun ga jelas di jalanan.
Candra tersenyum bahagia ,"Beneran mau? Ya udah kalau gitu, kita berangkat sekarang aja yuk. Jam sembilan kita pulang."
"Pamit mau ke mana? Yakin di bolehin malam malam ke pantai?" Tanya Ghanes ragu-ragu.
"Akhh gampang itu mah, tenang aja, bohong dikit ga papa lah, ya kan yak?" Jawab Candra tersenyum penuh misterius.
"Awas lu ngomong aneh-aneh ke bapak ibuk."
"Mbak mbak kaya elu ga tau gua aja sih, mana mungkin Candra yang ganteng ini melakukan hal yang ga seharusnya di lakukan, emangnya kamu mbak. Xiixixxixixi."
Candra tersenyum mengejek.
DEG !!! Muka Ghanes langsung pias.
"Kenapa mbak? ada masalah? Kok tiba-tiba mukamu jadi aneh begitu mbak?"
"Akh,, perasaanmu aja kali Ndra, emang muka gua kenapa?"
"Ga ada sih? Cuma kelihatannya kok tiba-tiba berubah aneh begitu raut wajahmu."
"Berubah gimana?"
"Ga tau, susah di jelasinnya. Akh... sudahlahh,,,, gua mau pamit ma bapak dulu ."
Sementara Candra kembali menemui kedua orangtuanya, Ghanes memasukkan ponsel dan beberapa barang kecil ke dalam tas slempangnya.
Tiba-tiba,
"Udah, Yuk." Candra mengajak Ghanes untuk segera berangkat.
"Eh? Cepet amat Ndra? Lu ngomong gimana emang sama bapak?"
"Kepo aja lu. Hahhahahahahahhaa, Yang penting di ijinin khan?!"
"Ya juga sih."
"Nah itu lu tau, ngapain kepo , hahahhaha."
"Akhh serah elu dah Ndra."
Malam yang lumayan dingin pada suasana pegunungan yang sepi, apalagi rumah Ghanes yang berada di lereng bukit dan berada di urutan nomor dua dari bawah, jadi lumayan mencekam bagi yang terbiasa dengan lampu perkotaan, namun bisa juga suasana seperti ini adalah suasana yang paling di rindukan ketika kita mulai menghadapi kejenuhan dan muak dengan hiruk pikuk suasana perkotaan.
Suhu saat ini menunjukkan di angka 16℃. Lumayan dingin bukan?
Ghanes mengenakan jaket goretex berwarna krem dengan kupluk di belakangnya. Jaket ini tidak terlalu tebal, namun dengan bahan goretex yang windprof jadi bisa menahan terpaan angin apalagi ketika berkendara di malam hari.
Sedangkan Candra memakai jaket warna hitam vaforitnya yang di belikan Ghanes 1 tahun lalu ketika Ghanes masih berada di luar negeri.
Dua pasangan kakak beradik ini jika dilihat dari kejauhan maka akan terlihat seperti sepasang kekasih yang sedang kasmaran , karena mereka berdua terlihat sangat serasi dan Candra sama sekali tak terlihat lebih muda dari Ghanes. Entah Ghanes yang awet muda atau Candra yang cepat dewasa. Bisa jadi keduanya sama benarnya.
Ghanes tak banyak bicara ketika berada di boncengan belakang, dia hanya diam dan memejamkan matanya sembari menikmati terpaan dingin angin malam di mukanya, meskipun dia memakai helm full face tetap saja angin malam berhembus kuat menerpa pipinya.
Candra sengaja mengendarai motornya dengan perlahan karena dia tau apa yang sedang di rasakan kakak perempuannya ini, dan Candra pun tau ke pantai mana dia harus pergi. Karena Candra memanglah sangat mengenal Ghanes melebihi siapapun.
Candra tersenyum memperhatikan muka kakaknya di spion motor, mata terpejamnya dengan senyum tipis di bibirnya, bahkan tanpa bertanya pun Candra sudah tau apa yang di pikirkan kakaknya.
Sumber Photo : Google
Di jalanan pegunungan, meskipun jalan ini merupakan jalur lintas selatan yang merupakan jalan yang di kembangkan nasional, tapi tentu saja di beberapa titik bahkan ada yang masih berupa hutan kecil atau ladang penduduk setempat yang tanahnya masih milik pemerintah. Artinya warga hanya punya HGB(Hak Guna Bangunan) bukan SHM (Sertifikat Hak Milik).
Ada juga beberapa titik pemukiman di pinggir jalan, dan beberapa lampu jalan yang di pasang secara sukarela (Biasanya), karena ini bukan jalan tol yang di lengkapi dengan penerangan jalan.
Namun karena Candra adalah warga setempat, jadi tipe jalan seperti ini bukanlah hal yang mengerikan sama sekali, semua itu tergantung dari kebiasaan.
Ghanes dan Candra adalah tipe orang yang lebih takut sama begal daripada sama hantu. Jadi jika menghadapi jalanan yang sepi mereka biasanya malah lebih was-was jika ada manusia yang mencurigakan daripada bentuk yang aneh-aneh.
Setelah memacu motornya beberapa waktu, akhirnya Candra tersenyum karena dia tahu bahwa tujuannya sudah dekat, di tandai dengan sebuah counter hape sederhana ber cat kuning dengan iklan provider merah di pembatas pinggir bangunan tersebut.
"Mbak, sudah sampai tuh, jangan bilang elu tidur ya,,,"
"Akh siapa juga yang tidur Ndra, kalau tidur udah jatuh dari tadi gua."
"Ya udah, turun yuk. Kita makan ikan bakar dulu, sambil menikmati angin, ngopi , lalu pulang. Sesederhana itu lo."
Dengan lesu Ghanes turun dari boncengan, jauh berbeda dengan biasanya yang ia akan sangat excited ketika sampai di tempat favoritnya ini.
"Malam mbaakkk,,,, seperti biasanya mbak?" Teriak seorang cewek cantik penjaga warung dengan sangat ramah.
"Heheheheee hapal aja lu mbak." Jawab Ghanes cengengesan.
"Hapal donk,,, kan mbak Anes sering sekali datang ke sini. Ini siapa mbak? Calon?"
"Bukan ! Adik gua nih." Jawab Ghanes setengah nge gas.
"Waduhhh santai donk mbak, santai,,,, ada apa nih kok sepertinya suntuk bener?" Tanya nya kepo.
"Diihhh kepo aja lu. Udah bakarin gua tuna , seperti biasanya aja, satu ekor dimakan sini empat bawa pulang."
Jawab Ghanes sambil mencari tempat duduk di kursi kursi bulat yang terbuat dari ban bekas yang di tata melingkar di pasir pantai.
"Siap bu bos,,,, "Jawab wanita cantik itu dengan riang gembira.
Ghanes sengaja mencari kursi yang paling tepi, yang paling dekat dengan pinggiran ombak, agar ia bisa mendengarkan deru ombak serta terpaan angin asin dari laut.
Candra hanya terdiam dan terus memperhatikan tingkah kakaknya, karena ia begitu mengenal kakak perempuannya ini, yang ga suka di tanya-tanya ketika kepalanya sedang penuh.
Jadi dia hanya memperhatikan, jangan sampai melakukan hal hal yang aneh yang bisa membahayakan dirinya, apalagi ini di pantai yang kata orang pantai adalah tempat berkumpulnya makhluk-makhluk tak kasat mata.Jangan sampai dia meleng.
Memang pantai adalah tempat healing yang menenangkan, namun jika tidak dalam pengawasan bisa jadi pantai menjadi kuburan. Sudah banyak kejadian kejadian seperti itu bukan?!
Waktu begitu cepat berlalu, deru ombak yang berkejar kejaran menenangkan jiwa. Lambaian daun kelapa terlihat samar oleh lampu di warung-warung kecil yang masih buka. Bintang tak terlihat dengan jelas karena sedikit tertutup awan tipis di langit gelap. Terpaan bau amis dan uap air asin yang lengket di kulit. Bau gurih ikan bakar tinggal tulang masih terserak di piring melamin warna hijau panjang di hadapan kedua bersaudara ini.
Di tepi lain ada beberapa pasang manusia juga, entah itu pasangan hati atau cuma pasangan semalam siapa yang tau , dan pada dasarnya Candra dan Ghanes juga tak peduli dengan urusan mereka.
Intinya ga perlu saling kepo atau saling mengganggu saja.
__ADS_1
"Mbak, pulang yuk, gua tadi ngomong sama bapak sampek rumah jam 9 ."
Kata Candra tiba tiba membuyarkan suasana.
"Sekarang jam berapa emang?"
"Jam 8:35. Kan di pergelangan tangan lu selalu nagkring jam mbak, kok nanya sama gua sih?"
"Eh iya juga ya, heheheh maap maap." Ghanes baru ngeh kalau tangan kirinya tak pernah lepas dari jam tangan.
Candra menoel noel pucak lengan Ghanes yang tertutup jaket, "Dasar cengo, makanya jangan kebanyakan ngelamun, bego kan jadinya, hahahhaahaha,,,, Yuk pulang yuk, nanti kena marah engkong , cepetan berdiri gih, jangan keenakan di sini ya, rumah lu bukan sini."
Ghanes yang risi dengan toelan di pundaknya yang makin lama makin keras akhirnya menyerah dan berdiri dari duduknya "Ya ya ya ,,, gua pulang. Puas lo?!"
"Banget. hahhahahaha."
"Dasar adek durhaka lu." Kata Ghanes mencebik.
Ketika Ghanes berjalan menuju tempat motornya di parkir , tiba-tiba ada suara yang meneriakinya dari samping.
"Mbak Anes !!!!,,, Ikannya mbak, ga di bawa pulang? Saya ogah mbak kalau di suruh bawa ke rumah, tyap hari saya sudah bau ikan. Nih ambil."
Seorang wanita cantik dengan pakaian rok kotak-kotak yang masih sama yang tak lain adalah penjaga warung yang menyerahkan 4 ekor ikan bakar yang sudah di bungkus rapi beserta lalapan dan sambalnya.
Ghanes menerima ikan itu sambil cengengesan ga jelas. "Oh, iya lupa gua, makasih ya, hehehehehehe"
"Mbak banyak masalah ya? Kok tumben pelupa."
"KEPOOOOOO..." Jawab Ghanes gemas sekali lalu ngeloyor pergi ke arah parkir motor yang i atasnya sudah nangkring thuyul rese si Candra.
"Ndra, kok elu ga ngingetin ikan sih?"
"Lah kok gua yang di salahin?"
"Kan gua lupa."
"Ya salah elu lah." Jawab candra ga peduli.
Ghanes menatap Candra tajam, "Heleh, gua yakin sebenarnya kalau elu inget Ndra."
"Ga usah melotot gitu mbak, Iya sebenarnya gua inget, tadi emang sengaja biar mbak Anes ga melamun terus, biar ada yang di inget-inget gitu. Biar ga kosong otaknya."
"Buktinya gua lupa kan Ndra."
"Nah,,, makanya itu otak jangan sampai kosong biar ga meleng. Cepetan naik akh!"Katanya memerintah.
"Oke, oke kali ini lu gua maafin."
"Maafin? Keg gua punya salah aja mbak. Jiihh ."
Ghanes diam tak menjawab, karena motor mulai berjalan meninggalkan pasir pantai yang selalu menenangkan. Nyiur yang bercakap cakap dengan angin dan selalu setia sepanjang masa. Bahkan daun nya pun tak pernah memaki angin yang berhembus terlalu kencang hingga mematahkan batangnya. Mereka tetap bersahabat sepanjang musim.
Namun berbeda dengan manusia yang kadang menjadi lebih anjing daripada kucing.
Eh ! apaan sih.😜
...................................
Tepat jam 9 malam mereka sudah masuk rumah dan meletakkan ikan bakar tersebut di meja ruang tengah. Tentu saja tidak akan di letakkan di dapur kalau ga mau sedekah dengan si Tom kucing maling sialan yang hobi masuk melalui celah bawah pintu.
"Pak, ada ikan bakar ga mau makan dulu?"
Tanya Candra duduk di sebelah ayahnya.
Sedangkan Ghanes sudah masuk dalam kamar tanpa berkata apapun.
"Oh iya, bawa berapa ? Mbakmu mana ?"
"Ada tuh di kamar, biarin dia sendiri dulu, ga usah di tanya-tanya, daripada berantem ntar." Jawab Candra mengingatkan ayahnya.
"Hmmmmm...." Pak Alan berdehem saja melangkahkan kaki mengambil seekor ikan tuna bakar, di bawa begitu saja, lalu Bu Santi yang inisiatif mengambilkan nasi.
"Kebiasaan ! Manja !" Gerutunya kesal pada suami bayinya ini.
Pak Alan diam cuek seperti budeg.
"Cxcxcxcxcx dasar orang tua." Gerutu Candra memperhatikan kelakuan orangtuanya.
Tiba-tiba Ghanes sudah duduk di samping Bu Santi dan ikut mengambil ikan dengan tangan dan menyuapkannya ke dalam mulutnya sendiri.
"Astagaaa mbaaakkk ! Masih laper ? Cxcxcx." Teriak Candra sambil tertawa.
Ghanes meliriknya tajam tanpa mengeluarkan sepetah katapun sambil terus mengunyah makanan dalam mulutnya.
"Mmm Pak, Buk, besok kalau ada yang nanya soal pernikahan jawab aja aku yang ngebatalin ya. Ga perlu bawa-bawa mereka. Biarlah saya yang di hujat."
Kata Ghanes kemudian masih sambil mengunyah.
"Kenapa begitu An?" Tanya Bu Santi.
"Ya ga kenapa kenapa Buk, daripada ibuk dan bapak nanti harus menjawab segala alasan yang ribet itu, ya bilang aja Ghanes nya yg ga mau. Lebih simple kan?! Pokok nya jawab aja begitu biar ga ribet."
Pak Alan pun menyela, "Ya sudahlah kalau itu maumu. Terus surat-suratmu yang di KUA gimana?"
"Besok pagi saya mau ke sana, mengambil itu sekalian mau ngebatalin jadwal pernikahannya, lebih cepat lebih baik, kan jadwal rapakku tgl 12. Tinggal 2 hari lagi."
"iya juga ya." Jawab Pak Alan manggut manggut.
"Ya sudah, yang sudah ya biarlah sudah, yang penting jangan stress berlebihan." Kata Pak Alan kemudian.
"Aku malah takutnya bapak sama ibuk yang malu sama tetangga, karena aku ga jadi nikah, biasa kan mereka resex begitu."
"Akhh itu sudah biasa An, biarin aja, lagian sekarang kan aku sama bapakmu tau harus menjawab apa sama mereka." Bu Santi tersenyum bangga sama anak perempuannya.
"Mmm... Ya sudah."
.........................................
15 Maret.
Rumah Pak Alan ramai dengan emak emak sukarelawan yang membantu Ghanes serta Mbak Sri untuk masak acara malam nanti yaitu selamatan seribu harinya Susan.
"An, hei gimana ? Malam nanti calonmu datang ga?" Tanya seorang ibu berbaju orange dof.
"Hehehehehe ga buk." Jawab Ghanes terkekeh.
__ADS_1
"Lo kenapa ? Kan ini kakaknya juga toh."
"Putus. Ga jadi nikah."
"Hah ? Kenapa?????" Tanya nya melongo dengan tingkat ke kepoan tinggi.
"Aku yang mutusin buk, males saya. Surat Di KUA nya juga sudah saya tarik, saya batalin kemarin lusa."
"Akhh kamu itu, kenapa di seriusi laki laki susah banget sih An ? Awas lo susah lakunya ntar."
"Biarin aja Buk, males saya sama dia."
Kata Ghanes pura-pura cuex dan berlalu pergi menyibukkan diri di pekerjaan yang lain.
Tiba-tiba Mbak Sri nongol dari belakang, "Serius An begitu ?" Tanya nya curiga.
"Akhh sudahlah mbak , daripada saya njelek-njelekin orang kan. Males njelasinnya."
"Oowwhhh kirain. Hehehehe.. ya sudahlah anggap saja ga jodoh An." Jawab Mbak Sri bijak.
"Sebenarnya dulu itu aku sama Mas Wanto kurang sreg sama Nathan An." Lanjutnya.
Ghanes melongo ,"Hah ? Kok bisa ? Kenapa Mbak ?"
"Hehehehe kata Mas Wanto ga imbang ma kamu An, dia terlalu di bawahmu nilainya."
Jawabnya ambigu.
"Nilai ? Nilai apaan Mbak ?"
"Ya fisik lah,,, masak kamu dapet dia, ga seimbang An . Apalagi kalajmu di bandingkan dengan mantan-mantanmu yang dulu, kan jauh banget An."
Ghanes tergelak mendengar alasan konyol itu."Hahahahahaha ada ada aja sih. Ya aku pikir kalau hatinya baik kenapa engga."
"Terus ternyata baik ga ?" Tanya nya mengerlingkan mata sipitnya itu.
Ghanes menepiskan tangannya , "Haissshhh You know lah."
"Hahahahahaaha baru kali ini An kamu terlihat goblok. Hahahaha."
Ghanes geleng geleng kepala mendengar ejekkan dari Mbak Sri, "Ngece aja teruss..... Los Dol Mbak."
Dddrrrttttttt....ddrrrttttttttttt
Tiba tiba ponsel di sakunya bergetar tanda sms masuk.
Danu arj.
Begitu nama yang tertera di atas barisan chat di layar ponsel blue dark nya.
Ping !! √√
^^^Apaan pang ping pang ping ? Kurang kerjaan loe ?√√^^^
Hehehehe katanya ga jadi nikah mbak, kalau ga jadi aku juga mau lo nikah sama mbak.√√
Ghanes melongo membaca chat nya Danu.
Darimana dia tau kalau pernikahannya batal ?
"****** !" Gerurmtu Ghanes lalu memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celana.
"Siapa An?" Tanya Mbak Sri kepo.
"Temen, tiba-tiba ngajakin nikah aja. Aneh aja darimana dia tahu gua ga jadi nikah ya."
"Emang kamu ngomong ma siapa aja selain keluarga?"
Ghanes diam sejenak mengingat ingat, "Ga ada mbak. Eh ! Bentar ! Sama i'ik ding. Nah pasti kerjaannya i'ik ini. Kurang ajar tu anak."
"Emang dia kenal sama i'ik ? Apapnya i'ik ?"
"Kenal mbak, dia itu temen dari kakak sepupunya i'ik."
Mbak Sri terkekeh,"Ya udah An nikah ma dia aja. Hehehehee."
"Nikah palamu Mbak, kenal aja ga kok, lagian dia itu duda lo mbak, takutnya kalau bapak ga ngijinin." Kata Ghanes kemudian.
"Punya anak ?"
"Belom sih."
"Kan belum punya anak, pasti bolehlah,, kalau sama Nathan gantengan mana An ?" Tanya Mbak Sri menggerak nggerakkan alisnya ke atas.
"Dihhhh kalo sama Nathan ya jauuh lah mbak. Kamu ini mbak mbak yang di tanyain mukaaa terus, sekali kali kek nanyain harta gitu." Jawab Ghanes gemas.
Dddrrtttttt dddrrtttttttttt
"Apalagi ???!! Astaga....!!"
Teriak Ghanes kesal karena tangannya sedang sibuk dan ponselnya terus bergetar ada chat masuk.
Mbak, besok aku ke rumahmu ya mbak.√√
^^^Heh kampret ke sini aja sekarang kalo lu berani ! Mumpung di rumah rame ada selametan, sekalian elu gua jadiin ingkung ! √√^^^
^^^Rese bener dari tadi ! Gua sibuk Bego !√√^^^
Ya udah mbak, maap maap,
besok aja lagi ya √√
^^^Rese ! √√^^^
.
.
.
.
.
.
__ADS_1