
"Ping!!!" √√
Tiba tiba ada notif dari nomor yang tidak di kenal.
Anes hanya melihatnya dan tidak peduli sama sekali.
"Siapa Mbak ?" Tanya Candra.
"Bodo amat. Ga kenal juga. pang ping pang ping ga sopan bener."
"Fans mu kali mbak." Candra cengengesan karena Candra sangat hapal jika kaka perempuannya ini memang sering menarik perhatian para kaum adam karena ke judesannya.
"Bodo....." Jawan Anes cuex.
Ddrrrtttt...... dddrrrrrtt
"Nda... udah pulang belum?" √√*
Tiba tiba Anes tersenyum senyum sendirian melihat notif baru yang ia sangat kenal dari siapa. Dia adalah Nathan. Orang yang selalu menemaninya di kala dia sedang berada pada titik ruang kososng hampa.
"Tu.. kan bener... laki laki pasti." Celetuk Andra.
"Bukan. Ini beda. Kalau ini saya kenal." Saut Anes membela diri.
"Pacar baru?"
"Bukan juga. Mau mungkin hehehe." Jawab Anes terkekeh geli.
^^^"Hehehehe maaf Than, lupa mau ngabarin. Ia ini aku udah di rumah kok dari lusa kemaren. Baru selesai bersih bersih juga habis selametannya Mas Susan."√√^^^
"Tuh kan,, di anggap apaaaa aku ini... ngabarin engga, cxcxcxcxcx." √√
^^^"Ia ia maaf dech."√√^^^
"Ya udah, kapan kamu ada waktu nda?"√√
^^^"Mmm... sepertinya setiap hari aku ada waktu dech. Mungkin dalam sebulan ini ya. Mau istirahat dulu soalnya. Setelah itu baru mau nyari kerjaan baru."√√^^^
"Kerja apa?"√√
^^^"Belum tau lah. Liat nanti aja."√√^^^
"Oke kalau gitu, kita main yuk,, katanya kamu mau lihat gunung abis meletus? jadi nggak?"√√
(Author : Hayo tebak gunung apa? Yang pinter pasti tau dah. 😁)
^^^"Eh ? emang ga bahaya apa ? udah ga panas? belerangnya masih kuat ga?" √√^^^
"Akhh ga kok. Kan ada garis polisinya. Ada batas aman buat pengunjung. Cuma kalau mau naik pen liat kawah jadi ga bisa, soalnya jalannya hancur, juga kalau naik mesti jalan kaki sekitar 750M an lah. Masak jalan kaki segitu aja ga kuat. Pasti kuat donk."√√
^^^"Ya kuat lah. Mana ada aku ga kuat.√√^^^
"Ya udah , aku jemput ya? Di rumah?"√√
^^^"Ga akh, jangan di rumah, ga apa apa sih, aku malu aja ma tetangga orang baru juga pulang udah keluyuran ma laki laki. Kamu jemput di pemberhentian Bus aja dah. Kan ga jauh dari rumahku."√√^^^
"Oke oke siap. Besok?√√
^^^"Siap.Besok bolehlah."√√^^^
"Ya udah tungguin aja di rumah besok jam 8 pagi. Oke?"√√
^^^"Oke sip. Thank you yak. √√^^^
"Sama sama." √√
"Yes !" Seru Anes. Lupa kalau di sebelahnya ada Candra sedang menikmati secangkir teh hangat bikinannya sendiri.
"Mau kemana lu?" Tanya Candra dengan mendelik.
"Liat gunung abis meletus."
"Gila lu mbak ?!"
"Belom sih. Masih waras." Jawab Anes masih menatap layar ponselnya yang hanya ada gambar walpaper kucing kembar sedang duduk berjajar di atas rumput.
"Jiihhh.... ada ada aja lu. Gunung meletus belum ada 1 tahun udah mau di liat. Bau belerang dan gas beracun goblok."
Candra sudah mulai emosi melihat kelakuan kakaknya yang emang dari dulu selalu nyeleneh.
"Akkhhh ga pa pa kok. Masak pulang dari sana gua mati. Ga semudah itu kali Ndra."
"Akkhhh serah elu dah mbak. Bodo amat gua."
Jawab Candra melengos melangkah pergi meninggalkan Anes yang tanpa rasa bersalah sama sekali.
Dan dasarnya Ghanes Anjani yang memang orang yang ga bisa menerima larangan dari dulu. Semakin di larang maka dia akan semakin merasa tertantang untuk dapat melakukannya. Jadi kata larangan buat Anes malah seperti sebuah ajakan atau dorongan.
"Mbak lagi ngapain?" √√
Chat yang sama dari nomor 081249778886
^^^"Bernafas." √√^^^
Ga kuat juga akhirnya Anes menjawab sekenanya.
"Sibuk apa?"√√
^^^"Siapa sih lu rese' bener?√√^^^
"Saya Danu mbak."√√
^^^"Danu siapa ? Emang gua kenal?"√√^^^
"Enggak sih."√√
^^^"Terus?"√√^^^
"Mbak kemarin di rumahnya mbak i.ik kok ga ngajakin kenalan sih?" √√
^^^"Jiiihhh ****** , emang lu kira gua apaan ngajakin laki laki kenalan duluan.√√^^^
"Galak bener sih."√√
^^^"Kalau ga suka ga usah nyariin.√√^^^
Anes langsung memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya lalu masuk kamar membereskan isi kopernya yang memang belum sempat ia buka sama sekali selain mengambil peralatan mandi waktu itu. Saking sibuknya dia. Bahkan kopernya masih berdiri di tempat semula di mana tempat Candra meletakkannya pertama kali.
........Di tempat lain.......
"Bro, galak bener sih dia." Kata Danu pada Apri yang duduk di hadapannya di sebuah kedai kopi pinggir jalan sambil memperhatikan balap Moto GP.
"Siapa? Krucil ?"
__ADS_1
"iya. siapa lagi."
"Krucil memang begitu orangnya. Jauh beda dengan i.ik yang pandai beramah tamah dengan orang. Krucil itu tegas dan keras. Tapi jika dibanding i.ik krucil juga jauh lebih cerdas dalam banyak bidang. Makanya itu aku suka banget sama dia, pola pikirnya, cara kerjanya, cara hidupnya dll."
"Kalau elu suka ngapain gua minta nomernya elu kasih ? Elu gila Pri?"
"Bukan suka yang itu bego,,,,, suka sebagai teman, sebagai adik, sebagai saudara. Polos amat sih lu Dan."
"hehehehe kirain."
"Mana ada gua jatuh cinta ma krucil, kasian dia kali. Gua orangnya berandalan begini, kalau hidup ma gua kasian dianya."
"Makanya elu tu berubah, biar cepet dapet ganti. Kaya gua nih cepet move on nya." Kata Danu menyombongkan diri.
"Gua belum pingin tuh jadi baik. Gini aja gua bahagia kok. Ga kaya elu, kesepian terus di rumah ga ada orang. Hahahahaha."
Jawab Apri meledek Danu yang memang benar Danu sering kesepian di rumah karena ibunya pergi ke Brunai ga pulang pulang bahkan sebelum ia nikah sama mantan istrinya.
Dan Ayahnya Danu yang seorang kontraktor ternama yang terlalu sibuk dengan kerjaannya, jadi sama sekali ga ada waktu buat sekedar bercanda dengan anak semata wayangnya ini.
"Rese' lu Pri."
"hahahahahahahaaaaa." Apri malah semakin tertawa terbahak bahak dengan kesedihan temannya.
.................. ................. Di sisi lain...
"Hai... udah lama nunggunya?" Tanya seseorang yang naik motor Honda CB 100 warna cokelat dan hitam serta helm kulit warna cokelat.
"Eh, ga kok. Baru saja setengah jam. Kenapa ga tahun depan aja sekalian." Jawab Anes dengan bahasa sarkas andalannya.
"Maaf maaf Nda.... iisshhhh jangan suka emosian gitu napa Nda?"
"Bukan soal emosi atau ga emosi, tapi soal menghargai waktu." Ujar Anes memberenggut namun sudah nangkring di atas jok belakang motor.
"Berangkat kan?!" Tanya Nathan.
"Serah elu aja. Pulang juga ga pa pa."
"Oke oke buk, kita tetap pada tujuan awal ya. Sekali lagi maaf, lain kali ga telat dech."
Anes diam lalu menyedekapkan tangannya di dadanya. Emosi yang masih meledak ledak belum juga reda. Karena Anes memang orang yang sangat disiplin waktu, hingga banyak teman teman yang menjauhinya karena tidak nyaman dengan kedisiplinan yang selalu menjadi acuan hidupnya itu.
Tanpa memperdulikan Anes yang sedang sedikit emosi, Nathan memacu kuda besinya dengan lumayan kencang dengan maksud agar Anes mau duduk di boncengan dengan benar dan agar cepat sampai pada tujuan. Karena jarak gunung itu dari rumah Anes juga lumayan jauh.
Perjalanan yang di temani dengan sinar matahari yang lumayan terik lama kelamaan ternyata mampu menurunkan tensi otak Anes yang seperti maghma dalam bumi menjadi serpihan gunung di tengah benua antartika.
Dia mulai senyum senyum di boncengan belakang sambil memperhatikan sekelilingnya. Jalan jalan yang sebelumnya belum pernah ia lewati selama hidupnya. Sesuatu yang baru, jalan jalan melewati pelosok pelosok desa. Entah ini di sengaja atau tidak, yang pasti Anes semakin menikmati perjalanan ini.
Perkebunan nanas yang sangat luas , dengan buahnya yang hampir matang merata menyusup bayangan Anes betapa nikmatnya jika nanas itu di campur dalam adonan rujak.
Karena Anes hanya bisa makan nanas jika di rujak, itu di sebabkan karena dulu di sekeliling rumahnya sama Pak Alan di tanami pokok nanas hingga akhirnya Anes bosan memakan buah nanas jika tidak di rujak.
"Kita sampai." Seru Nathan seketika.
"Mana?" Tanya Anes bingung, ia tak melihat bentuk gunung apapun di sekitarnya.
"Hehehehe bentar lagi setelah kita melewati gravitasi terbalik ini. Tuhhh di depan."
"Heh ? mana? Tanjakan itu?"
"Iya. Tanjakan itu. Yang terkenal itu lo,, yang kalau naik malah motor bisa berjalan sendiri tanpa ngidupin mesin. Kita coba test oke? Buat seru seruan aja."
"aman?"
Dan wuussssss ternyata benar apa yang di katakan Nathan, di tanjakan ini mesin motor dimatikan tapi bisa meluncur ke atas seperti sedang berada pada sebuah turunan tajam.
"Lah,,, bisa gitu yak? Menarik menarik." Kata Anes kagum menoleh ke belakang ke jalur yang baru saja di lewatinya terdapat garis garis yang sengaja di buat untuk memberi tanda pada jalan ini bahwa ada gravitasi yang berbeda.
"Hehehe suka ga ?" Asyik kan?! Seminggu lagi kita ke Bali."
"Hah? ngapain?"
"Ada Honda Bikers Day di pantai pandawa. Pantai itu baru saja di buka buat umum, dan belum ramai, jadi masih asyik buat di kunjungi."
"Berapa orang ?"
"Ya ada beberapa lah, mungkin 16 atau 18 gitu. Kamu ikut ya sama aku. Aku yang ngajak. Nanti sekalian aku kenalin ma temen temenku juga."
"Hhm... oke lah, penasaran sih. Sama mau ke GWK juga sebelum HTM nya di naikin jika patung GWK nya jadi mau di buat."
"Nah.... kali ini kita sampai beneran. Turun yuk, kita parkir di sini aja." Kata Nathan memberhentikan motornya di tempat parkir yang telah di sediakan pihak pengelola.
"Ojek mas ? Ojek Mbak?" Tanya beberapa orang pada Anes setelah Nathan memarkir kendaraannya.
"Akhh ga mas, saya jalan kaki aja."
"Jauh lo mbak, 25 menit baru sampai."
Kata tukang ojek tersebut.
"Ga pa pa pak sekalian olahraga." Jawab Anes enteng.
Udara panas masih sangat terasa, sisa sisa letusan masih ada beberapa di sekitaran terlihat abu abu vulkanik yang belum hilang tersapu hujan.
Pepohonan kering dan tanah tanah berwarna abu abu menegaskan betapa hebatnya Gunung ciptaan Tuhan itu.
Dengan sekali sembur maka hancurlah sudah semua kebanggan manusia.
Tak ada lagi kesombongan, tak ada lagi harta yang di puja puja itu.
Kalah hanya dengan semburan vulkanik benda mati.
Namun pemandangan ini di mata Anes terlihat ngeri sekaligus indah. Sesuatu yang baru yang belum pernah Anes lihat sebelumnya.
"Hhmmmm keren yak." Kata Anes begitu mengagumi keindahan alam yang dilihatnya itu di selingi nafas yang sedikit memburu.
Namun Anes tak mendapatkan jawaban apapun dari Nathan. Hingga ada seorang laki laki seumuran dirinya yang menyapanya sambil melangkah turun.
"Sendirian aja mbak?"
"Hah ?!! saya ?" Tanya Anes sambil menunjuk dirinya Sendiri.
"Iya. Temennya mana?" Tanya laki laki itu lagi.
"Hah ? Kok ??" Anes tolah toleh setelah menyadari ternyata Nathan tidak bersamanya lagi.
Setelah dia menengok ke belakang, jauh di bawah ternyata Nathan bersandar pada tanah penuh debu dengan nafas yang terlihat ngos ngosan.
"Tuuuu..... " Jawan Anes sambil menahan tawa menunjuk Nathan.
__ADS_1
"Hahahahaha itu temennya mbak ? Cemen amat ? Masak laki laki kalah jalan sama cewek. Hahahaha Jangan bilang itu cowokmu ya mbak. Hahahahaha...
Ya udah mbak kalau gitu saya turun duluan, hati hati lo ya,,, kalau pingsan ga ada yang nolongin mbak, kalau cowokmu lembek begitu hahahah... Dadahh.."
Laki laki itu melambaikan tangan sambil terus terkikik geli mentertawakan Nathan yang ga kuat berjalan kalah jauh di bandingkan wanita.
"Hhiiiiiii....." Anes juga menggedikkan bahunya geli sendiri mengingat perkataan laki laki barusan.
"Thaaannnnn !!! cepetan !!! mau naik ga ?" Teriak Anes dari atas.
"iya,, kamu naik aja dulu, ntar aku nyusul."
"ya udah." Lalu Anes melanjutkan berjalan naik menyusuri aspal jebol jebol sisa sisa hantaman dari matrial vulkanik, sembari memotret kanan kirinya yang menurutnya menarik. Sedangkan dia sendiritak menyukai selfi seperti kebanyakan manusia lainnya. Anes lebih suka memotret pemandangan yang menurutnya menarik untuk di abadikan.
Di dalam hati Anes ada sebersit perasaan aneh ketika melihat laki laki yang begitu lemah dan tak terbiasa bergerak. Tapi ya sudahlah manusia itu berbeda beda . Ga mungkin Anes memaksakan orang lain harus sama dengan dirinya.
....................
Sepulang dari gunung, mereka kembali berjalan di atas motor menyusuri jalan beraspal pedesaan yang berwarna warni , warna warna yang di pantulkan oleh matahari yang mulai bergerak turun dan mulai menghangat.
"Gua laper Than. Cari makan donk."
"Makan di mana nda ?"
"Ya terserah elu lah, gua ga tau arah. Yang tau jalan kan elu bukan gua. Gua mah apa aja maauk asalkan ga pedas ."
"oke kalau gitu, ayam bakar?"
"Oke. apapun."
"siap buk." Jawab Nathan dengan penuh kebanggaan karena baru kali ini nemun cewek yang to the point kalau ngomong ga terlalu banyak menye menye seperti kebanyakan cewek lainnya.
"keren nih cewex hmmmm." Batin Nathan sambil terus memegang setang motornya.
"Jiih bajindul gua laper dari tadi kaga ada inisiatif inisiatifnya jadi laki laki. Dasar bengek."
Anes menggerutu dalam diam.
Tak lama kemudian Motor telah terparkir di depan sebuah warung makan ber cat warna biru dan kuning, serta kotak pembakaran yang ada di depan.
Anes langsung masuk dan mencari tempat duduk.
"Di sini?" Tanya Anes.
"Iya. di sini. Kenapa ? Ga suka ya ? Di sini enak lo nda."
"iya dech ga apa apa. Kita coba dulu ." Jawab Anes sambil terus berusaha biasa biasa saja ketika memperhatikan jejeran meja meja berwarna biru yang di penuhi dengan lalat lalat hitam.
Di sana sini juga terdapat beberapa jebakan lalat yang juga penuh dengan lalat lalat yang sedang sekarat. Ada puluhan. Bukan ! Bahkan ratusan lalat yang terjebak di sana. Sungguh naas sekali nasibnya.
Jijik ? iya, pake banget. Tapi karena menghormati Nathan, Anes tersenyum dan berusaha berkamuflase agar terlihat baik baik saja.
Anes masih berprasangka baik pada Nathan, jangan jangan kali ini Nathan sedang mengujinya, apakah ia mampu berada di segala tempat, yang kotor sekalipun.
Namun alasan utamanya ya karena tidak mau menyinggung dan ngrepoti Nathan yang sudah jauh jauh menjemputnya.
Anes tidak mau menjadi wanita yang rese dan menye menye terhadap banyak hal di sekitarnya.
10 menit kemudian Dua potong ayam bakar tersaji dengan harum khas nya .
Anes dengan sesegera mungkin memakannya dan mengosongkan piring di depannya itu dengan harapan tidak terlalu banyak terkontaminasi dengan kaki kaki lalat yang dengan se enak jidat menginjak nginjak meja nya.
"Laper?" Tanya Nathan melihat Anes makan keg orang kelaparan sudah 1 tahun ga makan.
"Tu tau, orang dari pagi ga di kasih makan." Kata Anes sambil minum es jeruk ukuran 500ml dengan sekali teguk.
"Norak ya norak biarain aja dah, asal usus gua aman dari tai lalat, hiiiiii..." Batin Anes bergidik ngeri.
"Lha kalau laper kenapa ga ngomong?" Tanya Nathan lagi tanpa rasa bersalah.
"Kirain inisiatif. Hahahahaha." Jawab Anes sembari tertawa.
"Sengaja ?"
"Emang." Jawab Anes sedikit dongkol karena ternyata Nathan entah bego atau polos hingga ga nangkep pola pembicaraannya.
"Setelah ini mu kemana nda?" Tanya Nathan lagi.
"Pulang. Emang mau kemana lagi? Ga tau udah mau malem apa?"
"hehehehe kirain masih mau main." Nathan terkekeh.
"Ga."
.................... .........
17:20
Setelah kembali melewati jajaran pohon pohon pinus di jalur utama menuju rumah, akhirnya Anes turun dari motor.
Namun alangkah kagetnya ketika Candra ada di pemberhentian bus nongkrong di atas motornya sendirian.
"Hai Ndra, ngapain di sini?" Tanya Anes celingukan.
"Siapa tuh ? Pacarmu?" Candra balik nanya.
"Belum."
"Diihhh gitu amat mbak seleramu."
"Kenapa emang ?" Tanya Anes penasaran.
"Bocil." Jawab Candra pendek.
"Naik cepet, keburu maghrib." Seru Candra dengan nada memerintah.
"Kamu tadi ngapain di sini Ndra?" Tanya Anes masih kepo karena belum di jawab.
"Gara gara elu tuh, mau maghrib belum pulang, di suruh ibuk nungguin elu tolil." Seru Candra dengan jengkel.
"Bahahahahahahahahahahahaaa..... keg gua anak kecil aja. hahahahahahaa.... " Tawa Anes langsung pecah begitu keras karena terdengar begitu konyol.
"Rese' lu Mbak."
.
.
.
.
.
__ADS_1