Pengorbananku Untuk Ibu

Pengorbananku Untuk Ibu
Rumah Terakhir Susan


__ADS_3

Di seberang negara, yaitu Indonesia....


Pagi ini.... riuh ramai para pelayat mendatangi rumah Pak Alan . Kebanyakan dari mereka adalah kerabat serta teman teman Susan.


Banyak juga teman teman Anes dan teman teman Andra yang mereka adalah laki laki semua.


Pak Alan dan Andra terlihat sedikit lebih kuat dari Bu Santi yang tak kelihatan keluar kamar sama sekali.


Dan pada kenyataannya Bu Santi masih seperti orang koma, yang tak mampu bicara dengan siapapun, Seperti orang linglung yang tak mengenal orang orang di sekelilingnya.


Dengan wajah Pucat kehitaman, Bu Santi masih setia di pembaringannya dari kemarin sejak pulang dari rumah sakit.


Matanya masih saja terpejam, sesekali sudut matanya mengalir cairan bening, pertanda hatinya yang terlalu sakit.


Hati ibu mana yang tak sakit dan tersiksa ketika di tinggal pergi anaknya ? Anak yang di timang timangnya sejak lahir, namun di panggil Tuhan terlebih dahulu.


"Kenapa Bu Santi tidur terus sih ?" Kata seorang emak emak rempong yang ikut membantu kegiatan dapur pagi itu.


"Ya maklum lah,, namanya juga di tinggal anak. Kata orang, lebih sakit di tinggal anak daripada di tinggal orang tua." Jawab seorang ibuk yang lain.


"Ya tapi,,, namanya orang sudah mati, ya sudahlah, terus buat apa dipikirin terus kaya begitu, ujung ujungnya ngerepotin orang lain kan. " Katanya julid.


"Hhuusssttt,,, kalau ngomong mulut di jaga ya buk, kamu aja belum pernah ngerasain di tinggal mati anakmu."


"Heeeh!!! kamu doain anakku cepet mati ya!!" Sahutnya setengah berteriak.


"Laahhh kok marah ?? katanya tadi ga pa pa, yang mati biarlah mati, kok sekarang marah sih."


"Ya anakku kan masih hidup!"


"Makanya kalau ngomong ati ati." Timpal seorang ibuk yang lain sambil berlalu membawa ember dan bunga setaman.


Di tandai dari bau harum yang di sisakan udara setelah ibuk itu berjalan melewati kerumunan emak emak rempong ini.


"Hhuuuuuuhhhh " Cebik si Emak rempong tadi masih dengan kedongkolan hatinya.


................


Kita berpindah ke rumah bagian depan.


Dimana para laki laki berkumpul. Setelah pemandian jenazah semalam, pagi ini mereka tinggal menunggu selesainya penggali kubur menggali lobang rumah terakhir itu.


Tampak Pak Alan duduk di atas lantai yang beralaskan tikar pandan bersebelahan dengan adik iparnya, suami dari Adik perempuan Bu Santi.


Sedangkan Andra terlihat sedikit mondar mandir mempersiapkan segala sesuatu untuk tahlilan nanti malam, juga memberi undangan kepada saudara serta orang orang sekitarnya untuk datang di tahlilan nanti malam.


Undangan ini bukan dalam bentuk kertas seperti yang kalian bayangkan. Namun hanya berbentuk suara dari mulut, yang artinya Andra datang sendiri dari rumah ke rumah.

__ADS_1


Meskipun di malam tahlilan pertama biasanya orang dengan sukarela datang, dan tanpa mengharap apapun, hanya sukarela datang ikut memberikan doa.


Terlihat mata lelah Andra , namun ia berusaha untuk lebih kuat dari Bapak dan ibuknya. Karena ia ga ingin semakin membebani pikiran mereka.


8.30


Sudah selesai Pak, jenazah sudah bisa di makamkan. √√


Bunyi Sms lewat chat WA pada handphone seseorang yang hadir di situ.


Beliau adalah ketua kepengurusan jenazah di daerah tersebut.


"Pak Alan, jenazah bisa di berangkatkan sekarang Pak, mohon Bapak menguatkan diri, jika sekiranya Bapak tidak kuat, lebih baik Bapak di rumah saja, Diharapkan jangan ada yang meneteskan air mata di pemakaman, kasian Mas Susan Pak. Jika Bapak kuat, silahkan ikut." Kata Bapak tersebut pada Pak Alan.


"Saya ikut pak. Saya bisa kok." Jawab Pak Alan.


"Ya sudah , karena semua urusan sudah di selesaikan semalam, jadi mari Pak, kita ke depan. Lebih baik di segerakan Pak, jangan berlama lama." Ajak Bapak itu sambil mempersilahkan Pak Alan.


...اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهْ...


اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِى خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ اَيُّكُمْ اَحْسَنُ عَمَلاً، وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ أَفْضَلِ الْخَلْقِ عَمَلاً، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ صَلاَةً وَسَلاَمًا جَزِيْلاً. أَمَّا بَعْدُ 


أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ 


الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ


"Alhamdulillah segala puji dan syukur kami panjatkan kehadirat illahi robbi, Allah swt. yang telah memberikan kepada kita panjang umur dan kesehatan serta iman di dalam Islam, sehingga kita dapat berkumpul dalam rangka takziah dan sekaligus untuk menyolatkan jenazah almarhum Susandhatna."


"Shalawat serta salam mari kita haturkan ke haribaan Junjungan Nabi besar Muhammad saw. keluarga, para sahabat, Tabi'in, Tabi'ut-Tabi'in, dan insya Allah kepada kita semua yang hingga saat ini bahkan detik ini masih istiqomah dalam mengamalkan risalahnya, mudah-mudahan akan mendapat syafa'at di yaumil Akhir kelak. Aamiin..."


"Kami dari perwakilan shahibul musibah ingin menyampaikan beberapa hal yang terkait, khususnya dengan jenazah , maupun keluarga yang ditinggalkan."


"Pertama, kami ucapkan terimakasih kepada khususnya para tetanngga terdekat, yang telah memberikan bantuan yang sedemikian banyak dari mulai almahum sakit hingga meninggalnya, baik bantuan tenaga, material, atau spiritual yang sungguh sangat membantu bagi kami sekeluarga. Dan juga kepada para jama'ah ta'ziah pada umumnya kami ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya. "


"Kedua, kami ingin memintakan ma'af untuk almarhum, kepada seluruh pelayat, atau para ta'ziah. Barang kali selama hidupnya almarhum di lingkungan bapak/ibu, tetangga terdekat, ada hal-hal yang tidak disenangi karena perbuatan atau tingkah laku yang kurang tepat, baik dari ucapan, tindakan, dan perbuatan yang dianggap kurang etis, maka kami mohon untuk dibukakan pintu ma'af yang seikhlas-iklasnya kepada almarhum. Mudah-mudah pemberian maaf tersebut dapat menjadi jalan kemudahan untuk menghadap Allah Swt. "


"Ketiga, hal-hal yang terkait dengan urusan hak dan kewajiban di dunia barangkali almarhum mempunyai hutang dan piutang kepada bapak/ibu, tetangga, dan saudara-saudara yang lain, yang belum terselesaikan ketika hidupnya, maka dari ahli waris mempersilahkan untuk menghubungi kami agar dapat diselesaikan dengan baik dan secepatnya. "


"Dan terakhir , sekali lagi kami dari keluarga yang ditinggalkannya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas seluruh bantuan bapak/ibu sekalian . Kami tidak dapat membalas seluruh kebaikan warga, dan hanya doa yang dapat kami panjatkan kepada Allah swt. semoga kebaikan seluruh warga, diberikan pahala yang berlipat disisi Allah swt. Aamiin...


Kami akhiri, wassalamu'alaikum warohmatullahi wabarokaatuh. "


Para pentakziah diam hening mendengarkan sambutan pelepasan jenazah yang dilakukan oleh pimpinan kepengurusah jenazah tentunya, sebagai perwakilan dari keluarga Pak Alan.


Lalu di iringi Ucapan "Laa illa ha illaAllah"


4 orang mulai mengangkat jenazah Susan menuju rumah terakhirnya.

__ADS_1


Tak lupa di antara 4 orang tersebut ada Andra dan Pak Alan.


Pergantian pengangkatan jenazah di lakukan di tengah perjalanan karena jarak yang lumayan , bergantian dengan orang orang lain.


Memang di daerah Pak Alan, mereka tidak memakai kendaraan lain selain manusia, karena masih belum dapat peraetujuan dari sebagian besar masyarakat. Kasian jenazahnya, karena jalan menuju makam juga ga terlalu mulus, Jika dengan kendaraan maka akan terjadi goncangan yang cukup keras. Dan sebagian besar dari mereka belum tega melakukan hal itu.


17 menit iring iringan jenazah itu berjalan. Sampailah di pemakaman. Dan merekapun sesegera mungkin menyelesaikan proses pemakaman tersebut.


Setelah selesai berdoa , mereka satu persatu meninggalkan pemakaman itu .


Berjalan dalam keheningan. Tak ada yang berani bergurau satu orangpun. Karena mereka tau Siapa Susan. Dia adalah orang pertama yang mendirikan bengkel dinamo dan listrik di daerah itu. Orang pertama yang memberikan dan mengajari solusi solusi tentang kelistrikan pada masyarakat.


Ya. Semua orang merasa kehilangan atas nya.


Namun mereka sadar Tuhan lebih menyayanginya.


"Duh,,, setelah ini sepi daerah kita, kalau ada apa apa yang rusak minta bantuan ke siapa?" Celetuk seseorang pelan.


"Iya bener, ada orang satu yang pinter aja, kok tega teganya di gituin." Sahut salah satu dari mereka.


"Sstt Diem lu, jangan sembarangan bicara." Timpal yang lain mengingatkan.


"Lah biarin aja. emang kenyataannya begitu kok. Lagian manusianya ga ada kan. Mana berani mereka datang takziah." Sahut orang kedua tadi menahan emosi.


"Eh iya sih,, mereka tadi ga ada yang dateng ya?"


"Ga ada ! Gua dari kemarin sore udah di rumah Susan. Ga sedikitpun mata gua melihat mereka, satupun ga ada. Kalaupun berani datang kucolok matanya. Geregetan gua njiirr."


"Sudah sudah... kalau marah ntar aja, ga enak kalau Andra denger. Kasian Andra dan keluarganya. Jangan terlalu sering di bahas. Susan sudah damai di sana." .


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2