Pengorbananku Untuk Ibu

Pengorbananku Untuk Ibu
Kakak


__ADS_3

Tak terasa Anes di negara T telah memasuki bulan ke Tiga.


Anes yang tidurnya telah di atas ranjang imutnya merasa lebih baik dari awal awal kedatangannya.


Pemindahan ranjang big size itu ke gudang serta penggantian ranjang pasien lumayan memakan tenaga yang harus Anes kerjakan.


Seringkali kerja menjadi TKI itu bisa disebut sebagai kerja rodi . Namun mengingat gaji yang di berikan cukup besar, Bisa 2 sampai 3x lipat UMR ibukota indonesia.


Serta negaranya yang bersih dilengkapi dengan fasilitas umum yang sangat ramah terhadap penduduknya, seperti kendaraan umum, trotoar, tempat hiburan, tempat olahraha,taman, area bermain , wisata kuliner,wisata alam dll.


Negara yang di lengkapi dengan fasilitas umum yang sangat terjangkau, fan memudahkan penduduknya melakukan apapun, bepergian kemanapun dengan biaya yang sangat murah.


Negara yang menjanjikan kemudahan bagi siapapun.


Taraya, dan Farizda pun sudah berangkat ke negara ini.


Di tempatkan di kota yang berbeda satu sama lain.


Jadi belum ada kesempatan mereka saling bertemu.


Hanya bertutur sapa di sosial media saja.


Saling bergurau di Grup Call dan grup chat.


"Mbak ? Mbak Anes sibuk?" Tanya sebuah suara di ujung negara.


Siapa lagi kalau bukan Andra, adik laki lakinya. Anak ini jarang jarang telpon atau sekedar chat menanyakan kabar.


"Eh, ?? Ada apa Ndra ?" Tanya Anes kaget donk,, kenapa tiba tiba si patung batu bisa telpon dia.


"eeemmm.. Mas Susan masuk rumah sakit mbak Udah 3 hari." Kata Andra lirih.


Deeeg...Deeg...Deeeg...(jantung Anes berdetak keras)


hhhhmmmpppghhhh (Anes menarik nafas pelan dan menghembuskannya)


"Terus gimana ? Mas Susan kenapa?"Tanya Anes.


"Masih belum tau mbak, tes lab nya juga negatif." Kata Andra.


"Lah kok bisa ga tau ? gejalanya gimana?" Tanya Anes menggebu nggebu.


"Ya hampir mirip kaya dulu, panas demam ga sembuh sembuh terus kelopak mata menghitam, perut nya sakit panas gitu."


Jelas Andra.


"Kan waktu masih awal awal itu diminumin pil kina seperti dulu, namun setelah 4 hari kok ga berkurang, akhirnya di bawa ke puskesmas, malah langsung di rujuk ke Rumah Sakit, karena Hb nya rendah." Jelas Andra lagi.


Kakak Anes ini dulu memang punya riwayat Malaria, namun sudah tiga tahun virusnya dinyatakan negatif, dan konsumsi pil kina nya di hentikan sejak saat ini.


"oke. ya sudahlah jangan terlalu dipikirin dulu. Jangan panic. Kasian ibuk Kalau kamu ikutan panik Ndra. Kamu yang tenang. Terus biaya nya gimana Ndra?" Tanya Anes lagi menenagkan Andra.


"Nah itu yang mau aku bicarakan Mbak, aku udah ga bisa ngomong sama Bapak. Bapak katanya juga ga ada. Terus ini aku cuma punya dikit. " Kata Andra menjelaskan.


"Ya udah , gini,, kan semua Duitku ada di ATM nya Mas Susan, nah kamu minta aja buku dan ATM nya sekaligus PIN nya. Kan habis gajian selalu aku transfer ke situ. Nah sementara Mas Susan sakit, itu kamu pegang aja dulu. Pake seadanya aja dulu." Kata Anes menjelaskan.


"okelah mbak kalau begitu, ntar kalau Mas Susan udah bisa di ajak ngobrol , biar aku tanya Ma dia di taruh mana Bukunya." Kata Andra lega.


..........


Tiba tiba entah kenapa jantung Anes berdetak dengan sangat kencang. Menandakan Anes gelisah. Namun Anes masih ga tau kenapa tiba tiba dia segelisah itu.


Padahal kakaknya sakit bukan baru saja terjadi.

__ADS_1


Anes sendiri merasa sangat aneh ketika dia tiba tiba merasakan kegelisahan yang amat sangat. Kekhawatiran yang sangat berlebihan.


^^^"Ntar kalau ada waktu tlp gua ya Yah""^^^


^^^√√ ^^^


"oke. siap bos. ada apa kok tumben"


√√


^^^"Ntar aja dech, ga bisa gua nulisnya. Gua cuma butuh temen aja.""^^^


^^^√√^^^


Bunyi percakapan Anes dan Didim di halaman Chat WA.


Tiga puluh menit kemudian.......


"Ada apa Nes ? tumben bener lu bisa nyariin?" Tanya Didim.


Anes diam ga menjawab, namun telinga Didim mendengar suara isak tangis.


"Lu nangis Nes ? Kenapa ?" Tanya Didim lagi.


Sambil sesenggukan Anes memjawab terbata bata.


"Mas Susan yah, dia sakit, sekarang sedang di RS. Dia dah 3 hari. Entah kenapa aku merasa takut banget mendengarnya yah. Padahal dulu dulu dia sakit, aku biasa aja. Tapi kali ini ntah kenapa aku takut sekali yah. Takuut."


"Sakit Apa?" Tanya Didim lagi.


"Diagnosa dokter masih belum tau. hasil lab nya ga menunjukkan apapun." Jawab Anes.


"Oke, sekarang kamu harus tenang, karena kamu harus fokus juga pada kerjaanmu, jangan sampai kamu teledor terhadap Papa yang kamu jaga itu. Sambil pikirkan dan cari jalan keluarnya serta teruslah berdoa agar Mas Susan baik baik saja. Dan cepet sehat." Jawab Didim menenangkan Anes yang sedang kacau.


Hiikksss...hiikkksss...hiikksss. ....


"Aku takut yah." Kata Anes masih dengan terisak.


"Berfikirlah yang baik baik aja ya. Semoga baik baik saja. Ya udah,,, aku temenin, muter musik ya,,, kamu ga usah ngomong ga pa pa, aku temenin dari jauh." ucap Didim menenangkan.


Lalu di kedua telinga Anes terdengarlah lagu lagu lama ke sukaannya.


Dalam benakku lama tertanam


Sejuta bayangan dirimu


Redup terasa cahaya hati


Mengingat apa yang telah kau berikan


Waktu berjalan lambat mengiring


Dalam titian takdir hidupku


Cukup sudah aku tertahan


Dalam persimpangan masa silamku


Coba 'tuk melawan


Getir yang terus kukecap


Meresap ke dalam relung sukmaku

__ADS_1


Coba 'tuk singkirkan


Aroma nafas tubuhmu


Mengalir mengisi laju darahku


Semua tak sama, tak pernah sama


Apa yang kusentuh, apa yang kukecup


Sehangat pelukmu, selembut belaimu


Tak ada satu pun yang mampu menjadi sepertimu


Apalah arti hidupku ini


Memapahku dalam ketiadaan


Segalanya luruh lemah tak bertumpu


Hanya bersandar pada dirimu


Ku tak bisa, sungguh tak bisa


Mengganti dirimu dengan dirinya


Coba 'tuk melawan


Getir yang terus kukecap


Meresap ke dalam relung sukmaku


Di dalam diamnya Anes segera teringat segala hal yang telah di jalaninya bersama keluarganya itu. Bersama sahabat sahabatnya.


Dengan segala kesederhanaan yang bisa membuat mereka tertawa terbahak bahak.


Namun karena kekerasan hati Anes yang membuat ia harus jauh dari itu semua.


Dulu, sebelum dia berangkat dia pikir akan baik baik saja seperti sebelumnya.


Namun saat ini Anes merasakan sangat jauh, sangat rindu. Sistem kerjanya yang terikat kontrak , maka dia ga bisa dengan se enak jidatnya memutuskan untuk pulang.


Meskipun putus kontrak itu di perbolehkan jika ga bersedia melanjutkan karena suatu hal.


"Ndra , tetep kasih update kabar ya Ndra, nanti kalau kehabisan pulsa ku transfer dari sini ga pa pa Ndra." Pesan Anes pada Adiknya.


"Iya Mbak, kamu jaga diri baik baik di sana ya. Jaga kesehatan. Sebenarnya ada cerita yang mau aku ceritakan Mbak, tapi ga sekarang. Nanti aja atau kapan kapan kalau Mbak Anes udah sedikit tenang."


"Ada apa Ndra? menyangkut Mas Susan ?"


"Iya."


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2