
Sudah dua minggu Ghanes menjalani hidup sebagai karyawan kecil di sebuah konveksi ****** *****. Dunia yang bukan bukan baru lagi bagi Ghanes, karena sebelumnya dia sudah pernah berada pada dunia ini.
Yang berbeda adalah manusia-manusianya dengan karakter yang jauh sangat berbeda dengan tempat kerjanya dahulu di tempatnya Mbak Sar.
Niat Ghanes mau menghindari gosip rumahan yang setiap hari ia dengar, namun yang ia dapatkan malah sesuatu yang lebih parah lagi, yaitu pasar gosip, saling sikut, saling hina, manusia-manusia bermuka dua yang saling menjegal temannya sendiri demi mendapatkan uang yang lebih banyak.
Dok.pribadi
Setiap pagi Ghanes selalu mengeluh kepada Danu bahwa ia sangat malas untuk berangkat kerja, telinganya sangat tidak nyaman mendengar ocehan yang tak berguna. Bagaimana tidak, di tempat kerja mereka saling olok satu sama lain, jika si A ga masuk maka semua aibnya bakal di bongkar satu kerjaan.
Begitu pula sebaliknya jika si B yang ga masuk maka aibnya juga bakal jadi lauk makan siang bagi semua karyawan.
Lalu mana bisa Ghanes beradapatasi dengan suasana neraka seperti ini?
"Ya udah, kalau memang ga bisa, ya keluar saja, ga usah di lanjut. Ngapain di lanjut jika hanya bikin kamu ga enak hati, tiap hari kebingungan mau masuk kerja atau ga."
"Kerja itu harus nyaman Dek, ga boleh dengan suasana hati yang di lema begitu, yang ada bukannya kamu terhibur malah stress adanya. Keluar aja dech daripada begitu."
"Terus aku mau ngapain mas di rumah sendirian terus tiap hari?"
"Kamu bisa lah beli mesin jahit, lalu iseng-iseng aja bikin baju sendiri, coba di jual sendiri, masih inget kan gimana caranya bikin baju?"
"Kayaknya masih inget dech, buku-bukunya msih ada juga kok lengkap."
"Nah, itu bagus, daripada kamu stress terus tiap hari kan, ntar sore aku pulang kerja kuaterin dech beli mesin ya."
"Uangnya ada?"
"Ada lah, emang berapa sih harga mesin. Ga usah baru juga ga papa kan?"
"Akh,, beli baru itu malah mubazir, mahal bisa berkali kali lipat, mending second aja malah enak di pakenya, kan mesin begituan tuh semakin di pake malah semakin enak, jadi kalau second biasanya malah alus."
"Iya, aku tahu itu, makanya kan aku bilang tadi murah, soalnya ibuk dulu di rumah juga ada beberapa mesin begituan."
"Hah? Benarkah?" Tanya Ghanes kaget tak menyangka jika dulu ibunya Danu juga pernah berkecimpung di dunia ini.
"Iya. Dulu. Tapi akhirnya ibuk malah milih jadi TKI, mungkin stress kali di rumah. Banyak kondangan terus."
"Nah iya, itu benar, di rumah kalau mental ga kuat memang bikin pusing, baru ngumpulin duit seribu dua ribu, besoknya di buat kondangan. Hhahahaahaa."
__ADS_1
"Nah, sebenarnya itu yang kutakutkan dari kamu dek, aku takut kalau kamu nanti ga kuat berada di rumah, makanya aku saranin buat bikin kesibukan kecil-kecilan biar ga stress. Aku ga menuntutu berapa hasilnya, yang penting otak ga bundel karena kebanyakan di rumah dan ga ada kesibukan."
"Iya mas, aku mengerti kok. Dukung aku terus ya."
"Iya ,,, iya dek,, tenang aja. Aku bakal terus ada di belakangmu kok." Jawab Danu tersenyum mengusap puncak kepala Ghanes lembut.
..............
Danu benar-benar menepati janjinya. Sepulang ia kerja, ia menemani Ghanes membeli seperangkat mesin jahit sekalian dengan mesin obrasnya. Pas sepasang.
Bukan mesin baru, semuanya adalan mesin bekas pakai, kalau baru biasanya bisa sampai 12.000.000 an untuk mesin jahitnya dan 25.000.000 an untuk mesin obras, maka kalau untuk bekas pakai bisa hanya 5 jutaan permesin.
Ini mesin kapasitas industri dengan dinamo 250 an. Yang biasa di gunakan di konveksi-konveksi UMKM. Karena jika menggunakan mesin jahit rumahan yang kecil itu sangat lambat meskipun sudah di ganti dengan dinamo. Dan Ghanes pasti akan marah-marah jika mesinnya ga bisa kerja cepat. Ya memang karakter Ghanes kan begitu dari dulu, apa apa maunya serba cepat dan pas. Malah kalau bisa tanpa ada cacat.
Nah, karakter Ghanes yang seperti inilah yang seringkali susah di pahami oleh orang-orang sekitarnya.
Setelah menyelesaikan pembayaran, mereka pun beranjak pulang, tentu saja mereka tidak akan mengangkut mesin sendirian, karena berat bos. Heheheheehe.
Mereka pulang dan menunggu mobil pengantar di rumah saja sambil beres -beres rumah menata tempat yang mau di gunakan buat menaruh mesinnya nanti.
"Dek, kamu udah pamitan dengan bosmu? Beneran pamit?" Tanya danu duduk di samping istrinya.
"Sebenarnya aku tadi udah pamitan sejak jam istirahat siang lo. Jadi abis dzuhur aku sudah tiduran di rumah."
"Di beri gaji ga?"
Ghanes nyengir ,"Hehehheee. Ga."
"Serius?"
"Serius lah, ngapain aku bohong mas, katanya sih nanti mau di titipin ke Reni barengan dengan gajiannya anak-anak. Lagian cuma 2 minggu mau dapet berapa mas mas."
"Ya bukan soal berapanya sih, tapi soal loyalitas bos dengan karyawan gitu lo, ya masak sudah bantuin kerja tapi ga di kasih duit, gila ga sih."
"Tunggu aja nanti , sehabis tanggal 5, beneran di titipin ke Reni ga duitnya. Kalau misal ga ada ya sudahlah, ngapain juga di perhitungkan. Sapa tau si bos di dalam hati juga marah-marah karena aku ga kerasan kerja di sana cuma dianggap main-main doank."
"Sebenarnya iya memang benar, meskipun begitu, bos yang baik itu adalah yang selalu menghargai tenaga dari karyawannya."
"Kaya ayahmu?"
"Akkhhhh ga. Ayah mah menurutku malah terlalu baik dengan anak buahnya, hingga seringkali dompetnya sendiri ga pernah dipikirin. Kadang jengkel banget aku sama ayah. Baik ya baik tapi kalau terlalu memikirkan orang lain hingga ga memikirkan dirinya sendiri kan goblok namanya."
__ADS_1
"Bisa kasih aku contoh ga mas?"
"Contoh nih ya, ayah tuh seringkali nambah nambahin gaji tukang hanya karena kasihan, atau kadang ada orang yang masuk kerja, tapi gaji ga di potong hanya karena kasihan. Hingga akhirnya orang-orang itu tuh pada ga takut sama ayah, jadi seenakknya sendiri kalau kerja. Yang berakibat target ga kelar-kelar. Nah kalau udah target ga kelar, maka kelar juga dompet. Karena uang ga akan turun di waktu yang tepat."
Danu bercerita dengan menggebu-nggebu, terlihat sekali dia mengeluarkan segala kejengkelannya terhadap sikap ayahnya kepada karyawannya.
Ghanes memperhatikan suaminya dan terkekeh geli,
"Ternyata kamu kalau marah lucu sekali mas, hahhhahahahahahaaah.."
"Awas kamu ketawain aku, liat aja ntar malem, mampus kau nak."
"Hahhahaa emang kamu mau apa mas?" Tanya Ghanes sambil mengedip ngedipkan matanya.
Danu menatap Ghanes tajam tapi menahan ketawa yang sedari tadi di tahan tahannya,"Heeehhhh,,,, anda menantang saya ya neng."
"Yoi,, anda benar sekali bapak. Lihat siapa nanti malam yang bakal menang. Jiihh kuat berapa lama anda? Sok jagoan."
Eeekkhhhmmmm.... eekkkhhmmmm (Terdengar suara orang berdehem).
"Maaf Pak Buk, kami pengantar dari toko Agung, ini meisn mau di antar ke dalam atau di sini saja?"
Ghanes dengan muka merah padam segera menyahut, "Eh maaf pak, kami ga tau kalau ada tamu, tolong bawa ke dalam ya pak, di dekat motor ada tempat kosong, taruh saja di situ."
Danu berbisik ke telinga Ghanes, "Mampus kau nak, xixixixixi."
"Awas kamu mas. Nambah-nambahi emosi aja dah."
"Weee........"
danu menjulurkan lidahnya lalu pergi mengekori pengantar mesin ke dalam ruangan yang telah di bersihkan barusan.
.
.
..
..
.
__ADS_1