
Pagi ini , dengan tanpa ekspresi Anes menjalani harinya seperti biasa , seperti tak ada apa apa, namun jika di perhatikan akan ada yang berbeda, yaitu matanya yang bengkak karena kebanyakan menangis, juga kulit mukanya yang kusut meskipun bukan habis turun dari mendaki.
Tak ada yang istimewa, bahkan sapaan pagi dari Dimas yang biasanya menjadi awal notifikasi ponselnya, maka hari ini tidak ada.
Anes tersenyum sangat pahit lebih tepatnya terlihat meringis menakutkan, menyadari bahwa ia telah kembali di pertemukan dengan orang yang salah. Dan berakibat fatal atas kecerobohannya sendiri.
Ia di hadapkan pada dua pilihan Anaknya atau ibunya. Ia sadar akan kondisi ibunya yang belum pulih, dan Anes sama sekali ga mau jika harus kehilangan ibunya.
Anes tau kondisi jantung ibunya yang sangat lemah, apalagi di tambah trauma yang di deritanya, rasanya Ia ga bisa menjadi penyebab kematian ibunya. Itu yang sangat ia takutkan saat ini.
Anes takut kehilangan ibunya.
Ddrrrtttt dddrrrtttttttt
"Ya ?" Anes menjawab karena yang menghubunginya adalah Ariz.
"Gimana ?"
"Apanya?"
"Ya elu gimana? Apa yang lu lakuin selanjutnya ?"
"Sekarang aku mau tanya ma Elu Riz, pilih salah satu, Pilih aborsi atau di urusin ? Resikonya adalah jika aborsi maka anakku yang mati, tapi jika di lanjutin , aku khawatir ibukku yang mati ga kuat dengan jantungnya. Lu pilih save mana ? Calon anak atau ibuk?" Tanya Anes pada Ariz meminta penegasan untuk keputusannya nanti.
"Dengan kondisimu yang sekarang, maka yang gua lakukan adalah aborsi, alasan nya sama , yaitu Save ibuk, meskipun yang lu lakuin adalah menutup dosa dengan dosa, namun setidaknya lu ga punya rasa bersalah terhadap ibuk dan keluargamu nanti."
"Setidaknya lu masih bisa melihat ibukmu tersenyum. Itu bisa jadi obat buat lukamu nanti. Itu janin di umur yang segitu belum ada ruh nya." Lanjut Ariz panjang lebar.
Nafas berat dan panjang yang Anes lakukan saat ini, tak ada cara lain selain membuat dopamin buat otaknya sendiri.
"Dimas gimana?"
"Jangan bicarain dia, anggep dia dah mati aja, dia malah nuduh gua lonthe, dia ga mau mengakuinya.
Dia juga nganggep gua mau morotin duitnya saja. Jadi sudahlah,,, jangan mbahas dia. Please."
"Oke oke. jika itu maumu, maka gua ngikutin lu aja, tapi ingat jaga kesehatanmu, ngomobg ngomong kapan ?"
"Minggu depan, karena kemaren USG belum kelihatan."
"Masih belum ada ya ?"
"Ya iyalah orang baru dua minggu."
"Untung aja lu sadar nya cepet Crit."
"Eh Riz udah ya, biarin gua sendiri dulu ya." Pinta Anes memelas.
"Oke oke, tapi ingat jangan bunuh diri ya. Keputusanmu udah tepat kok meskipun ga di benarkan."
__ADS_1
"Ya udah gua tutup ya. bye bye."
Tuuuttttttt.
....................
Usaha Anes untuk memasukkan nutrisi ke dalam tubuhnya sia sia saja.
Karena ia hanya sanggup memakan soup dan beberapa sendok nasi dalam tiga hari ini.
Bahkan buah buahan segar pun dia tak berselera melihatnya.
"Emmhhhh hidung gua aneh bener ya hari ini, kenapa tiba tiba gua nyium bau ikan laut di masak kuning ya, beeuuuh jika makanan itu ada sekarang, betapa nikmatnya Tuhan... " Gumam nya sendirian sambil merebahkan kepalanya di atas meja makan.
"Seandainya saja gua punya pilihan lain,......" Gumamnya lagi, masih berusaha memikirkan adakah alternatif lain selain kedua pilihan itu.
Namun nihil, jalan buntu.
Tapi ya sudah, Anes mencoba mengimbangi asupannya dengan vitamin komplek, baginya tak akan berpengaruh apapun karena tiga hari ke depan dirinya sudah pasti hidup normal kembali.
Dia benar benar sendirian. Jangankan menanyakan kabar, Dimas seperti makhluk jadi jadian yang tak ada jejaknya sama sekali.
Anes juga tak berusaha lagi menghubunginya. Baginya,,, ya sudah biarkan ia yang bertanggung jawab sendirian.
Hanya ada satu kalimat chat yang ia baca hari ini.
Berapa duit yang kamu minta ? Sekalian nih mumpung aku baru saja gajian. √√
Saat ini dalam otaknya adalah,,, tak ada lagi dia, yang ada hanyalah Aku dan janinku.
Anes adalah tipe orang yang gampang realistis jika sudah terjepit.
Jadi dia pintar sekali mengambil keputusan dalam ke adaan darurat.
"Beberapa hari ini kok aku lihat kamu makannya hanya sedikit An?" Tanya mama suatu ketika.
"Heheheheehe ga apa apa kok ma, aku ga selera makan aja."
"Kenapa ? sakit lagi ?"
"Ga kok ma, Cuma aku kebanyakan minum es , jadi perutku rasanya penuh terus." Jawab Anes sembari tersenyum mencari alasan.
"Oh ya udah , terserah kamu lah, kirain karena udah ga cocok dengan sayuran yang mama beli, bosan gitu."
"Akh ga lah ma, Mama kan selalu pintar berbelanja, tiap minggu juga gonta ganti sayur kok."
"Ya seringkali di pasar tuh, mama juga bingung mau beli apa, karena sayurnya ya itu itu terus, kadang kalau belum musim juga belum ada di pasar, kan banyak tuh sayur sayur yang musiman, Tapi kalau dah musim, banyak sekali, hampir setiap kios ada, murah murah pulak." Kata Mama menjelaskan panjang seperti rel kereta ekspres jakarta bandung.
"Iya ma, Anes ngerti kok, Anes kan ga pemilih orangnya, asal jangan pedas aja sih."
__ADS_1
"Mana mungkin pedas An An, aku aja heran kok ketika tahu ada orang indonesia yang ga makan pedas, baru tau aku, setengah ga percaya sebenarnya." Kata Mama sambil tertawa .
Anes ingat bener ketika pertama kali menginjakkan kaki di rumah ini, di dalam kulkas di sediain cabe segar 3kg, mama bilang itu persiapan buat kalau Anes datang.
Lha Anes kaget kenapa malah di siapin cabe, dia kan ga makan pedas. Sontak Mama lebih kaget lagi ketika tau Anes ga makan pedas, karena setahu mama orang indonesia itu paling doyan makan cabe.
"Mama ini ada ada saja, indonesia kan luas Ma, ada banyak orang yang ga suka pedas, ras kita juga beda beda." Kata Anes sambil tertawa waktu itu.
......................
Anes ketika di taman.
"Mami, kita photo bareng ya, buat kenang kenangan." Kata Anes meminta pada mami untuk selfi bareng.
"Maksudnya kenang kenangan apaan nih?" Tanya mami sedikit curiga dengan mata sedikit mendelik.
"Kamu ga akan berbuat yang aneh aneh kan?!"
"Ga lah mu, tenang, aku masih waras."
Kata Anes sambil tersenyum.
"Syukurlah."
"Kalau mami boleh nanya kenapa kamu memutuskan untuk membuangnya?" Tanya Mami sambil menarik tangan Anes menjauhi teman temannya yang lain.
"Ibukku sakit Mi, aku ga mau melukai ibukku."
"Terus ayahnya dimana ?"
"Dia ga mau tanggung jawab, katanya mau tapi aku di suruh pulang duluan, 6 bulan sampai 1 tahun kemudian baru dia nyusul. Kan gila tuh. Ga mungkin aku pulang dengan kondisi hamil besar. Nah ketika kumintai separuh uang untuk biaaya pembuangan, dia malah nuduh aku lonthe. (Anes menarik nafas panjang, lalu melanjutkan) Hhmmgg...... sudahlah Mi, biar ini jadi dosaku saja."
"Ingat Mi, tolong jangan kasih tau siapapun, besok mami jadi kan nemenin aku mi.?"
"Iya jadi, jam tujuh malem ya. Aku bisanya jam segitu."
"iya mi, ga pa pa kok. Terima kasih ya,,"
"Sama sama... " Jawab mami sambil memegang tangan nya Anes dan tersenyum menguatkan..
.
.
.
.
.
__ADS_1
.