
Setelah sampai Rumah, ternyata di rumah sudah ditunggu Yenji (Anak perempuan Mama satu satunya) ,
dan Jian Wu (Anak laki lakinya Mama yang kecil , bukan kecil usianya, tapi Anak nya yang terakhir) .
"Heiii Papa..... " Sambut Yenji gembira menyapa Papa yang masih duduk di dalam kursi mobil.
"E ! Eh ! Eh! " Jawab Papa dengan tergagap , namun dengan telunjuk menunjuk ke arah Yenji seakan tau sedang di ajak bicara.
"Iya Pa, ini Yenji Pa, Ayok Pa turun, Yenji bantuin Pa." Jawab Yenji sambil membantu Papa turun dari mobil maroon tersebut.
Dengan sedikit kesusahan, akhirnye Yenji berhasil memindahkan Pap ke kursi rodanya dan mendorongnya ke dalam rumah menuju ruang Tamu, Bukan ! Tepatya adalah ruang makan yang menyatu dengan dapur sekaligus menjadi ruang tamu. Karena ruang tamu yang sebenarnya sudah di jadikan garasi mobil maroon yang tadi.
"An, kamu ke sini dulu An, masih ada kertas yang harus kamu tanda tangani An." Panggil Mama pada Anes.
"ini, kamu tanda tangan ini, ini adalah surat kedatanganmu di rumah ini, jadi kamu mulai bekerja terhitung hari ini, yang kemarin ntar aku hitung setengah hari aja, kumasukin dalam tambahan gaji bulan depan di gaji pertamamu."
Jelas Mama pada Anes.
"Oke Maa, hanya ini saja kan?" Tanya Anes.
"iya , hanya itu saja, Lain lainnya sudah beres semua, tinggal nunggu KTP mu bulan depan di anterin ke sini katanya." jelas Mama lagi.
"oh iya An, kamu tidurnya nanti sama Papa ya, di kamarnya Mama di bawah, nanti biar Mama pindah ke atas ke kamarnya kakak besar (anaknya yang pertama. Karena sepertinya Papa sudah ga bisa lagi naik turun tangga seperti dulu, liat langkah kakinya yang sudah begitu, kamu kan juga ga mungkin mau gendong papa yang posturnya begitu besar."
jelas Yenji pada Anes.
Ya... Tingmingcin (Papa) Posturnya lumayan tinggi dengan 185cm dan berat badan 87kg.
Lumayan lah buat seorang laki laki pensiunan Veteran. Didukung pula dengan Stroke otaknya, hingga membuat beliau ga mampu mengontrol saraf saraf anggota tubuhnya.
"terus barang barang saya?" Tanya Anes.
"barang barang kamu tetap di atas ga pa pa An, Biarin aja di sana, kamu di bawah cuma tidur saja kok jagain Papa. Kamar di atas tetap menjadi kamar pribadimu." Jelas Yenji.
"Ya elah , bambang, kan ribet jadinya, masak manusia sama barang nya ga jadi satu tempat,,, riweh amat ni orang yak." Batin Anes menggerutu sebal.
"Okelah kalau begitu." Jawab Anes.
"Terus saya harus tidur satu ranjang dengan Papa?" Tanya Anes.
"untuk sementara iya. Karena kami belum mendapatkan ranjang pengganti untuk Papa, kamu coba aja dulu, ranjangnya Mama itu enak ga dipakai buat naik turunin Papa dari ranjang." Jawab Yenji.
"Oke oke". Jawab Anes.
"Ya sudah, karena semuanya udah kelar, kamu masak buat makan siang aja dulu buat kami, Terus nanti sore kamu bawa Papa jalan jalan ke taman ya, Papa ga usah di mandiin, karena tadi Di Rumah Sakit sudah, selanjutnya jadwal mandinya 2 hari sekali aja, biar kamu ga terlalu capek. Aku dan kakak kecil setelah makan siang mau pulang, nanti kalau ranjangnya sudah sampai, kami ke sini lagi." Kata Yenji lagi.
"Papa biar sama aku aja , kamu masak dulu, oh ya buatin sekalian makanan buat Papa ya, bubur putih tambahin sayur dan daging. Bisa kan Buatnya?" Perintah sekaligus pertanyaan buat Anes.
"Bisa Mbak." Jawab Anes menganggukkan kepalanya.
"Nah gitu. Panggil aja aku Mbak, dan dia kakak kecil, nanti kalau kakak besar pulang dari hongkong, baru kamu aku kebalin dengan kakak besar dan istrinya."
"Iya mbak." Jawab Anes tersenyum.
Mereka pun bubar dari Dapur, dan Anes melakukan tugas barunya yaitu memasak, dan ini bisa menjadi rutinitasnya mulai hari ini.
Tepat jam 13.00 Anes telah menyelesaikan acara pacarannya dengan wajan dan kompor .
Bajunya sudah bau bawang bercampur minyak , untung saja ini musim dingin. Jadi ga berkeringat meskipun tubuh bergerak kesana kemari.
Hari pertama, sedikit lelah karena harus adaptasi terlebih dulu dengan keluarga baru. Orang orang baru dengan segala karakternya yang baru pulak.
Menyuapi Papa adalah hal baru bagi Anes. Dengan pengalam pertamanya hari ini, makanan yang di suapkan langsung di sembur ke muka.
"Fiiuuuuhhh.... hari pertama sungguh indah, semoga ga nyekik aja dah ga pa pa. Anes bisa dong Nes... " Gumam Anes dalam hati menyemangati dirinya sendiri sambil membereskan bekas makanan di meja.
"Papaku sayang, tidur siang bentar yuk, ya ya ya.... " Kata Anes lembut pada Papa yang mulai terkantuk kantuk di kursi rodanya.
Tanpa jawaban, Sepi.......
Layaknya patung batu, yang jarang bicara, juga dengan tubuh yang sedikit kaku. Anes berhasil menyelesaikan tugasnya hari ini, hingga pulang dari taman yang ga terlalu jauh dari rumahnya.
Makan malam,
__ADS_1
ini juga merupakan tanggung jawab Anes yang harus di kerjakan dengan benar dan tepat.
Namun malam ini hanya bertiga saja. Anes, Papa dan Mama saja yang makan. Karena Mbak dan Kakak kecil audah pulang ke rumahnya masing masing.
"Nanti Setelah kamu selesai buang sampah jam 20.00 gosok giginya Papa lalu tidurin aja di ranjang. Ga pa pa.
Terus kamu bisa naik mandi di lantai 2 samping kamarmu. Saya biasa jam 22.00 udah tidur. Nanti ketika saya naik ke kamar kakak , kamu gantian yang turun tidur si bawah ya.
Oh ya ,,, tengah malam kamu perhatikan popoknya Papa harus kamu ganti kalau basah."
Jelas Mama panjang lebar kali tinggi mirip luas sebuah balok rel kereta api.
"Oke Ma, saya sepenuhnya mengerti dengan tuga tugas saya, jika ada yang kurang benar tolong di kasih tau ya Ma." Kata Anes dengan segala loyalitas kerjanya.
"Oke oke. Pelan pelan saja. Soal tadi Papa nyemburin makanan, jangan di masukin hati. Dari dulu Papa suka begitu kalau sedang ga enak hati. Tapi kita kan ga bisa tau isi hatinya karena Papa juga ga bisa bicara. "
"iya Ma saya paham kok. " Jawab Anes sambil tersenyum.
"Ya sudah ,, Saya mandi dulu, kamu tungguin mobil sampahnya." Kata Mama sambil berlalu pergi ke kamar mandi.
Jam 20.01 Suara sirine mobil sampah terdengar masuk ke dalam gang.
Riuh, para tetangga berjalan untuk membuang sampah masing masing.
Sampah di sini harus dipisah pisahkan sesuai dengan jenisnya. Aturan Negara yang begitu ketat. Kalau tidak, maka akan kena Denda yang ga main main jumlahnya.
Hanya karena sembarangan buang sampah bisa denda sampai 15jt rupiah.
Akan tetapi dengan begitu,tercipatalah negara yang bersih dan rakyatnya yang disiplin serta kesadaran berlingkungan yang tinggi.
Sepulang buang sampah, Anes langsung mencuci tangannya dan meraih kuncian kursi rodanya Papa.
Tiba tiba lengan Anes di raih Papa dan langaung di gigit dengan sekencang kencangnya.
"Brengsek ni orang,,, ohhh shiittt mana gua bisa teriak teriak di hari pertama." Batin Naes dengan meringis menahan sakit, karena gigitannya belum di lepasin juga.
"Lepasin." Kata Anes setengah berbisik tapi sambil menepuk pundaknya Papa.
Dilepasin ?
"Lepasin !" Kata Anes lagi dengan suara sedikit keras dan kali ini menepok kepalanya Papa.
"Ada Apa An ?" Tanya Mama dari dalam kamar mandi.
"Ga apa apa Ma, Papa menggigit lenganku." Jawab Anes.
"Sakit ga ?" Tanya Mama lagi.
"Ga kok Ma, udah di lepasin kok." Jawab Anes berbohong.
"Ya elah, ya sakitlah lah bangsat, meskipun sudah lepas juga. Tetep sakit. jiihhh". Gerutu Anes dalam hatinya.
Anes pun segera mendorong kursi roda ke dalam kamar, dan membaringkan Papa di tempat tidur, setelah lebih dulu Anes mengganti popoknya.
Lalu Anes segera beranjak ke lantai 2 ke kamarnya, Dia sampai lupa belum memberi kabar pada keluarganya di indonesia.
"Fiiuuuhhhhh , capek hari ini. Njiirrrrr ******. Sakit." Gerutu Anes ketika merasakan sakit saat dia melepas jaketnya.
"Lah... kok bengkak... wahhhhh gila . kalau sekarang aja udah bengkak, gimana dengan besok?, terus masa gua pake Bra ga pake pengait(tali) sih? Diiiihhh." Umpat Anes kaget ketika melihat bekas gigitan tadi ternyata sudah membiru dan mengkilap karena mulai bengkak.
Tuuuttt... tuuutt..tuuuttt...
"halo... Asalamualaikum." Salam Anes pada orang di seberang kabel.
"Walaikum salam blek. Hahahhaha gimana harimu? Normal?" Sahut aeseorang di balik kabel.
Siapa lagi kalau bukan Susan.
"Ga ." Jawab Anes ketus.
"Kenapa emang ? Bosmu ga baik?" Tanya Susan sedikit cemas terdengar dari nada suaranya.
"Baik sih, cuma yang aku jaga agak riweh, barusan pangkal lenganku di gigit ampe bengkak." Keluh Anes.
__ADS_1
"Ibuk mana Mas?" Tanya Anes
"Ibuk di rumah Budhe sama Bapak." Jawab Susan.
"Ohh ya udah. Sampaikan saja kalau saya baik baik saja, sudah sampai di tempat dengan selamat.
Eh udah ya... aku mau mandi dulu Mas. "
"Ya udah , Ati ati kamu Blek." Wejangan Susan kembali.
"Oke Mas, walaikum salam." Kata Anes .
Tuuuttt...tuuuttt.....ttuuuttt...
"Kebiasaan..!" Seru Susan menggerutu dengan Adik perempuannya.
"Siapa Mas ?" Tanya Andra pada kakanya.
"Siapa lagi kalau bukan mbakmu." Jawab Susan sewot.
"Jahahahahahahaha." Andra tertawa dengan kerasnya dengan mulut terbuka lebar selebar paus biru mencari mangsa.
"Btw, mbak baik kan Mas ?" Tanya Andra setelah berhenti tertawa.
"Baik tuh katanya."
"Syukurlah kalau gitu. " Jawab Andra tenang.
........
waktu di handphone menunjukkan jam 22.10 .
Terdengar suara langkah kaki menaiki tangga.
"An,, kamu bisa turun An ya." Kata Mama.
"Iya Ma." Jawab Anes sedikit khawatir.
Gimana ga khawatir, ini adalah malam pertama kalinya dia harus tidur satu ranjang dengan laki laki seumur hidupnya.
Meskipun Dia adalah Pasien, namun bagi Anes tetaplah hal yang Baru sekaligus terasa sangat aneh di hati. Tuntutan pekerjaan yang sangat sangat berat untuk dilakukannya.
Mengganti popok, plastik kencing dan memandikan hal yang biasa bagi Anes, tapi tidak dengan tidur bareng.
Setelah bergulat dengan pikirannya, Anes mulai merebahkan tubuhnya di sebelah Papa.
Namun setelah 30 menit, 1 jam , 2 jam, jngankan memejamkan mata, Anes masih diliputi khawatir yang tinggi.
"Apaan nih ? Brengsek." gerutu Anes dalam hati ketika tiba tiba tangan Papa mendarat di atas perutnya.
Anes pun dengan bersungut sungut segera memindahkan tangan Papa ke samping.
Dan Anes menarik selimutnya, lalu dilipat jadi 2 dan di taruh di lantai.
Ya... malam ini, malam pertama Anes bekerja dan harus tidur di lantai , untung saja selimutnya lumayan tebal .
"Anggep saja camping Nes." Kata Anes pada dirinya sendiri ketika membungkus tubuhnya dengan selimut yang sudah mirip denan SB (Sleeping Bag) pendaki.
"Tidur Nes, besok kerja." Kata Anes lagi pada dirinya sendiri.
.
sepi....
dingin......
sendiri.......
.
.
.
__ADS_1
.
.