
Terlepas dari sakit yang di deritanya sendiri, Anes berusaha agar tetap bisa mengendalikan dirinya sendiri agar bisa membagi waktu dan perhatiannya untuk keluarganya terutama ibunya yang masih menetap di ICU, karena belum juga sadar dari pingsannya.
Seminggu lagi masih ga ada perkembangan maka Bu Santi akan di nyatakan koma.
Anes masih berusaha tenang dan tetap tak putus berdoa untuk ibunda tercintanya agar di mudahkan sehatnya.
"Mbak, apapun yang terjadi kita harus ikhlas kembali ya mbak, kita semua harus berbesar hati dengan yang di berikan Tuhan untuk kita" Kata Andra suatu ketika menjelaskan keadaan ibunya yang belum ada perubahan sejak masuk ICU.
"Iya Ndra, tenang saja, mbak bisa menjalani ini kok Ndra, Tuhan tahu apa yang terbaik buat kita semua kok, kita juga ga tau kan apakah kita akan sehat terus atau tidak." Kata Anes mulai bisa menenangkan hatinya atas apa yang harus di terimanya di dunia ini.
Mulai meyakinkan dirinya sendiri bahwa apa yang di berikan padanya serta keluarganya adalah yang terbaik dari Tuhan.
"Bapak gimana ? aman?" Tanya Anes berusaha meyakinkan hatinya sendiri berharap Bapaknya bisa mengontrol suasana hatinya .
"Hehehehehe tenang mbak, aman,,, aman,,, kali ini okelah daripada kemarin kemarin." Jawab Andra terkekeh geli mendengar perumpamaan kakak perempuannya ini.
"Syukur dah kalau gitu Ndra, sedikit lebih tenang hatiku yang imut ini Ndra."
"Dih apaan sih Mbak, jijik Andra dengernya. Hahahahahaha kamu ada ada aja mbak."
"Ya,, Ghanes Anjani selalu begitu, imut, menyenangkan dan gokil tingkat akhirat." Jawab Anes membanggakan dirinya sendiri.
Tak apalah,,, biar ceritanya di perantauan cukup dia sendiri dan Tuhan saja yang tau, meskipun ada beberapa sahabatnya yang tau juga sih. Paling tidak Anes tidak membebani keluarganya yang masih dalam kondisi berduka, duka ,duka, duka yang belum tau kapan usainya. Di sini Anes di tuntut keadaan untuk jadi dewasa sedewasa dewasanya.
Juga Andra yang di tuntut untuk multitalenan, eh...multitalenta 😁 di usianya yang masih tergolong muda.
Sudah beberapa hari Ghanes harus mengunyah permen karet sebagai dopamin otaknya biar ga terlalu stress.
Dia harus fokus ! Itu yang dia racunkan ke dalam alam bawah sadarnya sekarang. Karena Anes ga mau hanya karena masalah cinta busuk bisa membuat prioritas hidupnya terbengkalai.
.......................
"Maaf Mas Adit Candra yang mana ya ?" Tanya seorang suster dari pintu ruang ICU.
Andra berdiri dari kursinya dengan muka pucat penuh kecemasan.
"Saya sus ? ada perkembangan apa sus ?" Tanya Andra ribut.
"Tenang Mas, yuk masuk dulu ya."
Andra pun mengekori suster gemoy tersebut masuk ke dalam ruang ICU.
"Silahkan duduk mas."
"Iya Dok makasih." Jawab Andra tersenyum kecut.
Mendudukkan pantatanya di hadapan Dokter bukanlah membuat hatinya tenang, malah membuat Andra ingin teriak sekeras kerasnya, melampiaskan kekacauan hatinya saat ini.
Namun Andra tak mau berfikiran buruk terlebih dahulu, biarkan Dokter saja yang menjelaskannya.
__ADS_1
"Mas Adit ?" Tanya dokter tersebut.
Dokter itu tersenyum menunjukkan senyum terkece nya sepanjang sejarah umat manusia penghuni ICU.
"Bersyukurlah pada Tuhan Yang Maha Kuasa Mas Adit, karena ibuk nya Mas Adit Alhamdulillah baru saja siuman dari tidur panjangnya."
"Alhamdulilah dok, terimakasih dokter." Sahut Andra dengan mata mengembang penuh air kebahagiaan dan rasa syukur.
"Namun, Bu Santi selalu menyebut nama Susan, kalau boleh tau Susan itu siapa Mas Adit ?"
Andra Menghembuskan nafas berat..
h...........hhkkkgghhh....
"Susan adalah kakak laki laki saya Dok." Jawab Andra lemah.
"Kalau bisa di bawa ke sini saja Mas Adit, siapa tau bisa mempercepat kesembuhan mental Bu Santi."
"Kaka saya sudah meninggal donk 6 bulan yang lalu."
"Jadi ?" Tanya dokter itu.
"Iya dok, kondisi mental ibuk saya begini karena kehilangan anak sulungnya." Jawab Andra menjelaskan.
"Ohh... baru paham saya Mas, karena di catatan tidak ada penjelasan apapun tentang ibuknya mas Adit, normal semua. Hanya memang detak jantungnya yang ga beraturan. Kadang terlalu cepat, atau terlalu lambat. Jadi karena hal ini toh ?"
"Ya sudah Mas Adit, sekarang masih belum bisa di temui, nunggu 1x24 jam ya, jika terus membaik dalam 24 jam ini maka ke esokan harinya boleh di pindah ke ruang rawat inap Mas."
Andra tersenyum manis, "Terimakasih dok. Dokter sudah melakukan yang terbaik buat ibuk saya."
"Itu sudah tugas saya kok Mas. Tidak perlu segan begitu."
"Ya udah dok kalau begitu, saya boleh keluar dok?"
"iya . silahkan Mas Adit. Kalau ada yang mau di tanyakan silahkan cari suster saja, nanti biar bisa di teruskan ke saya."
"Terimakasih dokter, Permisi."
Melangkahkan kaki keluar pintu dengan senyum mengembang di bibirnya.
Langkahnya sedikit bertenaga dari sebelumnya.
Bau tubuhnya sedikit lebih harum dari biasanya (Lah apa hubungannya yak ?😂 )
"Terimakasih Rabb, Kau bangunkan ibukku kembali."
Segera Ia merogoh ponsel dalam saku celana belelnya.
"Asalamualaikum pak."
__ADS_1
"walaikumsalam Ndra . Gimana?" Tanya Bapak di seberang telpon yang tak lain adalah Pak Alan.
"Hhhmmmm. Ibuk sudah sadar Pak."
"Alhamdulilaahhhh !!!" Teriak Pak Alan dengan suara bergetar.
"Bapak langsung berangkat ya Ndra."
"Akkhh ga usah Pak, Bapak di rumah saja dulu, istirahat, di sini udaranya ga bagus Pak, lagian ibuk juga belum boleh keluar dari ICU kok Pak, kalau kondisinya makin baik, maka mungkin lusa bari bisa di pindahkan ke ruang rawat inap."
"Oh.. ya udah kalau begitu Ndra, kamu baik baik di sana ya."
"iya pak. Ya udah pak gitu saja dulu, saya mau nyari kopi dulu di kantin, doakan semoga belahan jiwa bapak lusa sudah bisa di pindahkan ke ruang rawat inap."
"Akhh kau ini masih aja bercanda Ndra, kalau itu ga usah kamu minta pun udah pasti Ndra." Jawab Pak Alan mengembangkan senyumnya lebar.
Raut mukanya merah merona, bukan malu atau baper, tapi sumringah setelah lebih satu minggu lamanya Bu Santi masuk ICU.
...16:45...
Mbak,, ibuk sudah sadar mbak. √
Centang satu. Ya... Anes masih sibuk dengan tugas tugasnya. Lupa hapenya di taruh mana.
Karena tak ada lagi Dimas yang biasanya menelponnya, maka Anes berusaha sedikit menfokuskan diri dan tenaga nya pada tugas tugas dan kewajibannya itu, hingga melupakan handphone yang biasa selalu ada di dalam saku celananya itu.
..........................
"Ndra...."
"Iya Mbak. Udah dibaca kan chatnya."
"Udah Ndra. Syukur dech ibuk sudah mulai membaik ya." Ucapnya sambil tersenyum bahagia di balik layar handphone nya.
"Iya Mbak, makanya kita itu harus banyak banyak bersabar serta ikhlas, percaya bahwa Tuhan itu sudah menyediakan jalan buat segala masalah yang ada." Jawab Andra membenarkan perkataan Kakaknya.
Seringkali Tuhan itu memciptakan masalah dari hal tang tak di duga duga. Namun beserta masalah pun ada solusi dari hal yang terduga pula, di sana juga terselip Hikmah bagi siapapun manusia yang mau mencari dan mengambil hikmah terasebut serta memaknai adanya Tuhan memberikan ujian.
.
.
.
.
.
....@Ning_wiesna...
__ADS_1