Pengorbananku Untuk Ibu

Pengorbananku Untuk Ibu
Hanya Sinetron


__ADS_3

"Akh ga ada apa-apa kok, suka aja ngeliatinnya." Jawab Danu cengengesan menjawab pertanyaan istrinya barusan.


"Awas aja kalau mikir aneh-aneh."


"Sssttt jangan keras-keras tuh di liatin Bu Lurah, ntar malah dikira kita lagi bahas apaan. Sssstttt diam."


Ghanes langsung klicep menyadari kesalahannya barusan, karena saat ini memang benar di hadapannya bukan hanya ada keluarga dari Danu namun juga ada Bu Lurah yang kebetulan memang Pak Lurah itu adalah sahabat dari Pak Alan dari muda dulu.


Habis dzuhur rombongan keluarga Danu beranjak kembali pulang ke rumah, dan tentu saja Danu tinggal di rumah Anes. Dan ke esokan harinya gantian keluarga ini yang akan ke rumahnya Danu. Jadi mereka berangkat bersama sama, yang untuk selanjutnya mungkin Ghanes akan tinggal di sana. Karena di rumah Danu memang ga ada orang, hanya ada ayah dan Danu sendiri. Sedangkan ibu nya Danu entah kapan mau pulang ke indonesia. Sepertinya beliau ini sangat kerasan di negeri sana.


Ghanes yang sangat kecapekan, mulai merasakan kantuk yang luar biasa, karena beberapa hari ini memang dia sangatlah sibuk mengurusi persiapan pernikahannya sendiri.


"Mas, aku mau tidur, ga kuat mataku, gilak, capek bener." Kata Ghanes pada Danu yang telah menjadi suaminya, yang sedang sibuk bersama Candra membereskan ruang tamu dan ruang keluarga mengumpulkan piring-piring kosong bekas kue dan beberapa kulit kacang yang sedikit berserakan di lantai.


Ini ga membutuhkan waktu yang lama, karena tamu yang datang hanyalah keluarga saja, sedangkan tadi tetangganya yang di undang Pak Alan hanya di teras ga sampai masuk ke dalam.


Sedangkan piring-piring bekas nasi sudah di cuci semua oleh Ghanes tadi di bantu dengan saudara-saudaranya di belakang.


"Ga mau makan dulu?"


"Ga akh, nanti aja kalau udah bangun baru makan." Jawab Ghanes menolak saran dari Suaminya.


"Oh, ya udah, tidur aja, ini biar aku sama Candra yang ngebersihin."


Ghanes tak menyahut,dia segera berlalu dan menuju kamarnya untuk merebahkan tubuhnya, mengistirahatkan mata dan isi otaknya yang sudah beberapa hari di kuras energinya.


Di atas kasur busa ukuran 120x200 di kamarnya, Ghanes sedikit menerawang,


"Kok bisa ya gua nikah ma tu bocah? Cxcxcxcxcxcx."Gumamnya di dalam kamar sendirian.


Dalam hati kecilnya ia seperti belum menerima bahwa ia sudah menjadi seorang istri dari Danu Arjadi anak tunggal seorang kontraktor besar. Duda yang di tinggal lari istri kecilnya di usia pernikahannya yang ke 6.


Seorang pria dengan kulit bersih dengan tinggi 185cm dan lemak ideal.


Seorang laki-laki yang ketika pertama kali bertemu dulu, ia tak terlalu peduli karena karakternya yang pendiam dan sedikit culun bagi ukuran seorang laki-laki.


Di antara sadar dan tidak, Ghanes merasakan tangan kekar dan hangat yang memeluknya dari belakang. Dengan mata terpejam Ghanes mengusap tangan itu berusaha merasakan tangan siapa yang kurang ajar berani menyentuhnya. Dia tersenyum setelah hidungnya mencium bau wangi parfum khas milik Danu , serta jari jari lentik mirip perempuan yang dimiliki Suaminya.


Danu memang memiliki mata indah dan jari jemari yang lentik, bahkan hampir mirip perempuan, meskipun ia sebenarnya adalah laki-laki tulen, bukan Gay bukan pula Transgender. Alis bulan sabit yang begitu tebal dan indah bertengger di wajah tegasnya. Kadang-kadang Ghanes tersenyum-senyum sendiri membandingkan bentuk mukanya sendiri dengan muka suaminya, yang menurutnya dia sebagai perempuan kalah sempurna di banding Danu.


Ghanes membalikkan tubuhnya berhadapan dengan laki-laki di belakangnya. Tidur berpelukan di udara pegunungan yang sangat sejuk meskipun matahari bersinar sangat menyengat.


Mereka mulai berciuman lembut dengan penuh kasih dan rasa saling memiliki.


(Terjadilah apa yang terjadi..... 😜).


Ghanes merasakan kebahagiaan yang sangat luar biasa ketika ia telah mencapai orgasme bersama sama.


Rasa yang tak pernah di rasakan dahulu ketika ia melakukannya dengan Dimas. dengan berurai air mata Ghanes berbisik pelan,


"Hubungan yang di restui Tuhan dengan yang tidak itu memang beda ya rasanya."


Danu mengecup kening Ghanes perlahan dan mengusap ngusap puncak kepalanya dengan sangat lembut,


"Sudah,,, jangan di pikirkan yang sudah berlalu, sekarang kamu bersamaku bukan? Apa lagi yang harus kamu khawatirkan? Ingat, aku ga akan menuntutmu apapun selain harus menemani sisa hidupku saja."


Ghanes masih terisak isak mengingat kembali masa lalunya yang membuatnya terjerembab begitu dalam, rasa bersalah yang sangat tinggi kepda suaminya karena menenrima dirinya yang sudah tidak bersih lagi,


"Maafkan kelakuanku yang dulu."


"Iya iya dek, saya maafin, lagian kenapa mesti minta maaf ke aku? Kamu kan ga menyakitiku. Sudah,,, sudah ya..."


"Jam berapa sekarang?"


Danu melirik jam di pergelangan tangannya, "Jam setengah 4 sore."


"Astagaaa,,,, wxwxwxwx kirain udah malem, hehhehehehehe,,,, bangun aja yuk, laper, habis itu mau nganterin kue ke tempat kerjaku."

__ADS_1


"Ga jadi tidur?"


"Udah tadi."


"Serius?"


"Iya. Udah kok, paling 5 atau 10 menit gitu. Hehehhehe udah cukup itu. Lagian harus packing juga buat besok pagi, kasian ibuk kalau ga ada yang bantuin. Tidurnya lanjut di rumahmu aja."


Danu tersenyum, "Oke deh, aku mah nurut aja, jangan lupa mandi lo, mumpung belum maghrib."


"Siap Bos !" Jawab Ghanes cengengesan lalu memeluk tubuh kekar Danu dengan erat, dan menciumi wajahnya dengan sangat gemas.


"Eh, awas jangan mancing-mancing ya, ga bisa jalan kamu nanti dek."


Ghanes mencebik, "JiihhhhĀ  dasar mesum !"


"Biarin dah, sama istri sendiri daripada dengan istri orang weee... sono sono...syuuhhhhh ....ssyuuuuhhh..... jangan mancing-mancing."


Ghanes menggoyang goyangkan pantatnya yang sudah terbalut celana belel hitam di hadapan Danu yang tentu saja hal itu memancing Danu untuk melayangkan telapak tangannya untuk menoel pantat yang bergoyang goyang itu.


"Awas besok malem dek, ingat ya besok malem."


"Mudah mudahan aku menstruasi dah. Hhahahahhaaa" Jawab Ghanes tergelak lalu berlalu pergi ke belakang.


Danu geleng-geleng serasa tak percaya dengan apa yang barusaja di lihatnya, "Cxcxcxcx dasar bini gua sungguh ampuh jahilnya. Lucu bener dah, hehhehehhe."


....................


Ditengah tengah kesibukan mereka, datanglah Bibi dan Paman Ghanes membawa seekor ayam pedaging yang masih hidup.


Tiba-tiba dengan suara lantang nyeletuk,


"Waahhh ga mau nyapa ya, pengantin baru kok mulutnya diem diem aja !"


Ghanes dengan santai menyahut dari dalam rumah,


Sedangkan Danu sedikit kebingungan dengan maksud dari perkataan Bibinya ini. Meksipun sebelumnya ia sudah di kasih tau siapa orang ini. Orang ini adalah saudara kandung satu-satunya dari Bu Santi, namun jika di bandingkan dengan Bu Santi maka seperti langit dan bumi, seperti siang dan malam.


Bu Santi yang pendiam, muka pas-pasan dan hanya lulusan SD sedangkan Bibinya yang kaya singa , tinggi semampai , cantik dan sarjana. Tentu saja dia sekolah hingga sarjana karena dia merupakan anak kesayangan dari neneknya Ghanes, sedangkan Bu Santi seperti di anak tirikan oleh ibunya sendiri.


Setelah duduk di dalam rumah, pamannya ikut nimbrung,


"Jadi pengantin baru itu mbok jangan membisuĀ  begitu, yang ramah sama orang, ngobrol apa keg gitu."


"Main-main ke rumah gitu lo Dan." Bibinya ikut mengiyakan suaminya.


"Hehehehehe iya tante, kapan-kapan aku main ke rumah dech. Bukan sekarang kan?!"


Jawab Danu mencoba menetralisir keadaan karena melihat muka Ghanes yang mulai menyeringai dengan senyum sinis yang begitu mengerikan.


Danu telah sedikit di ceritakan tentang siapa kedua pasangan manusia resex ini, tentang silsilah keluarga mereka, tentang kehidupan mereka, juga tentang hoby mereka yang suka bikin ribut dengan orang lain. Danu berusaha untuk ga sakit hati dengan omongan mereka yang sedikit kurang ajar. Dan mencoba tetap tersenyum dengan berlagak culun saja agar ga terjadi masalah.


"Mau bikin masalah lagi?!" Tanya Ghanes ketus kepada pasangan paruh baya ini.


"Belum puas dengan yang kemaren? Mau gua bikin nangis lagi? Udah tua kenapa hobimu nyari penyakit sih?"


Cerocos Ghanes masih dengan gaya menantang bibinya . Dia benar-benar gedeg melihat kelakuan mereka berdua.


Setelah kemarin menjelang pernikahan dia bertengkar dengan bibinya karena bibinya ini berani ngata-ngatain ayahnya hanya karena Ghanes jarang main ke rumah mereka . Dipikir pikir gila memang ni orang.


Sudah tau waktu menjelang pernikahan Ghanes begitu sibuknya, apa-apa di urusin sendiri, mana ia harus menyelesaikan pekerjaannya di sebuah konveksi kecil milik tetangga nya pula. Tega-teganya dia(bibinya) ngata-ngatain ayahnya .


"Dex, jangaannn." Kata Danu dengan lembut meraih kepala Ghanes dan mengajaknya menyingkir dari hadapan bibinya.


Danu tak akan pernah rela, di hari manisnya ini di ganggu dengansampah-sampah ga jelas begitu.


"Kamu main-main aja dulu kemana keg gitu dengan Danu. Ajak dia main Dan ya." Seru Bu Santi mengetahui Ghanes mulai mengeluarkan taringnya.

__ADS_1


Bu Santi harus extra bersabar, karena Bu Santi masih percaya dengan mitos orang tua jaman dahulu, jika pengantin baru itu gampang kesambet, jadi sebelum 5 hari harus selalu di jaga emosinya baik-baik. Ga boleh dikotori dengan hal-hal yang bisa membuat hati mereka terganggu.


"Jiiihhh sinetron !" Decih Ghane sdengan sangat kesal.


"Sudahlah,,,, yok, katanya mau nganterin kue ke tempat kerjamu, jadi ga?"


"Oh iya, jadi lah.."


"Ya udah, udah siap kan? Tinggal angkat doank bukan?"


"iya."


"Baru juga selesai nikah, udah datang masalah, mana nih yang katanya manikah itu bikin bahagia? Sinetron doank itu mah. Yang ada menikah itu adalah menambah masalah dalam hidup." Gerutu Ghanes dengan hati yang masih belum selesai.


Danu terdiam sejenak, ia membayangkan bagaimana nanti jika Ghanes berada di rumah ayahnya dalam waktu yang lama, karena ia tau persisi bahwa saudara-saudaranya juga sama reseknya dengan bibinya ini.


Sedangkan rumah yang ia bangun belum selesai di kerjakan, ia mau pindah ke rumahnya sendiri juga sangat ga enak hati dengan ayahnya, karena ayahnya di rumah sendirian, ibunya yang ga tau kapan mau pulang ke indonesia membuatnya berada pada dilema besar.


"Kenapa diem?" tanya Ghanes ketus.


"Ga ada. Cuma aku lagi kepikiran kapan ibuku pulang ya, kalau dia ga pulang maka kita terpaksa harus tinggal di rumah ayah, dan aku yakin kamu ga akan kerasan tinggal di sana. Karena tetangga juga saudara resex semua."


Ghanes sedikit terlonjak kaget, "Hah? Kenapa ga bilang dari awal?"


"Kalau aku bilang dari awal, kamu pasti ga mau dech nikah ma aku."


Danu cengengesan.


"Shiitt lah,,, aku di tipu."


"Bukan menipu deeekkk,,,, gini aja dech, kapan-kapan kalau ibukku telpon, kamu bantu aku ngomong ma dia suruh cepet-cepet pulang ya. Biar kita bisa tinggal di rumah kita sendiri, lagian rumah kalau di biarin kosong kan kasian, malah di tinggalin hantu nanti. Belinya mahal-mahal kan sayang uangnya."


"Hah? Lah kapan kamu punya rumah?" Tanya Ghanes heran karena selama ini Danu sama sekali tidak pernah membahas harta degan dirinya. Dia juga terlihat biasa-biasa saja malah cenderung ke culun.


"Ada, dulu aku mulai bangun itu ketika mantan istriku mulai menghilang, nah dari situ aku baru sadar mungkin aku harus mulai menunjukkan hartaku agar ga di pandang sebelah mata terus oleh orang lain. Tapi ternyata malah ketemu kamu yang sepertinya kamu ga pernah peduli dengan ada atau tidaknya harta."


Gahnes malah tergelak mendengar penuturan Danu yang polos, "Yeee,,, ga juga kali, seandainya dulu aku tau kamu punya saudara banyak, aku juga ga akan pernah mau kamu ajak nikah. Hahahahahhaa. Saya ga sebaik itu maemunah."


"Kenapa emang?" Tanya Danu penasaran.


"Karena aku ga mau punya saingan. Hahhahahhaaa."


"Hahhahahahhahahahhahaha."


Danu tertawa dengan sangat keras mendengar kejujuran istrinya yang kadang malah menjengkelkan.


"Ada-ada saja kau dek, hahhahhahahaa.. Sudah sudah, berangkat yuk, nanti pulang kalau bibimu dah pergi aja. hehehheehe bagus kan ide ku."


Ghanes mukanya langsung cemberut mendengar kata bibinya, "Jangan ingatkan aku kalau punya bibi kaya dia."


Danu diam saja, hanya melirik spion motor memandang muka manis milik istrinya yang kalau sendang cemberut bibirnya jontor keg cone ice cream , jadi menambah napsu pingin ngemut , "hahhahhahhahahhahaahaha."


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2