
Kamis 13 Agustus 2015
Suasana di rumah Ghanes sedikit menegangkan, bagaimana tidak, Danu dan Pamannya benar-benar datang ke rumah untuk melamar Ghanes yang saat ini hanya berdiam diri di dalam kamarnya tanpa keluar ke ruang tamu ikut menjamu tamunya. Ia tak peduli apa kata ayahnya, ia akan nurut saja. Dia sudah capek mencintai orang, capek yakin dengan hatinya sendiri bahwa yang di harapkannya ternyata hanya menaruh malu pada keluarganya saja.
Ghanes berharap restu orang tuanya adalah yang terbaik untuknya, soal cinta urusan belakang. Bukankah dahulu Ayah dan Ibunya juga di nikahkan bukan atas dasar cinta? Namun buktinya mereka hingga sekarang masih hidup bersama sama kok. Meskipun terkadang mereka berdua ada saja bahan obrolan yang di jadikan perdebatan.
Akan tetapi Ghanes rasa hampir semua rumah tangga pasti ada berdebatan bukan? Tergantung bagaimana cara kita menghadapinya dan mengambil keputusan di setiap masalah yang ada.
Juga Tuhan pun tak akan berhenti menganugerahi kita dengan masalah-masalah di dunia sebagai pembelajaran hidup. Sama seperti seorang murid yang terus menghadapi ujian-ujian untuk bisa lulus ke jenjang yang lebih tinggi.
Terdengar sayup-sayup suara Pak Alan dari ruang tamu,
"Baiklah kalau yang menjalani sudah saling setuju, maka saya sebagai ayah dari Ghanes setuju-setuju saja. Dan hanya bisa merestui kalian."
Ghanes mendengar itu biasa-biasa saja, tak menganggapnya istimewa sama sekali, bahkan dalam hati kecilnya sebenarnya ia masih berharap mendapatkan suami yang cerdas, setidaknya seperti Dimas atau Syaif. Namun dalam sisi hatinya yang lain ia pun bersiap dengan hidupnya yang baru. Sedangkan dengan Danu ia sedikit ragu-ragu karena Danu adalah anak tunggal . Dan seperti yang Ghanes ketahui bahwa kebiasaan anak tunggal adalah manja dan agak sedikit pemalas. Bisa di bilang kali ini dia sedang berspekulasi tentang masa depannya.
Ia kembali teringat kemarin lusa, ketika Ghanes mempertanyakan pada Danu tentang niat hati dan keseriusannya .
"Lu belum kenal gua , Danu......" Kata Ghanes berusaha agar Danu berubah pikiran.
"Ada apa emang?" Tanya Danu waktu itu.
"Ada banyak hal yang belum lu ketahui tentang gua, tentang aib gua, tentang masalalu gua. Emang lu mau terima gua begitu aja?"
"Apapun aku akan terima kok. Aku janji." Kata danu meyakinkan Ghanes.
"Oke, hampir semua laki-laki bisa berkata begitu memang."
Ghanes menarik nafas berat, lalu melanjutkan perkataannya. Sedangkan Danu masih setia mendengarkan lanjutan cerita Ghanes.
"Gua bukan orang yang sehat Dan. Emang lu siap jika suatu saat nanti harus menghabiskan banyak duit gara-gara gua?"
"Tentu saja siap. Kalau udah jadi istri kan emang jadi tanggung jawab. Siap-siap aja kok. Emang kamu sakit apa? Menular?" tanya Danu dengan muka sedikit pias.
Ghanes tersenyum, "Bukan..... Satu, gua punya Gerd akut, jadi perut gua sering sakit, sering muntah-muntah kalau kumat."
"Itu doang?" Tanya Danu mulai tersenyum.
"Oh tentu tidak Bambang, ada lagi. Yaitu gua punya infeksi kantung kencing, dan luka di dalam kantung kencing gua udah ga bisa sembuh normal. Dulu waktu gua masih di negara T hasil Rontgen nya memperlihatkan bahwa di dalam kantung kencing gua ada luka selebar telapak tangan, dan kata dokter itu udah ga bisa di sembuhin lagi karena udah terlalu lebar."
"Sakitnya seperti apa?" Tanya Danu penasaran.
"Ya kalau gua ga jaga makan ga jaga minum, biasanya sih suka kencing darah gitu. tapi asalkan gua bisa jaga makanan dan minuman gua sih aman-aman aja ." Jawab Ghanes menungu reaksi keterkejutan dari Danu yang tak kunjung datang.
"Ada lagi ga?"
"Mmmmm ada sih, cuma yang ini mungkin ga terlalu hebat, karena dulu faktor kecelakaan waktu gua masih TK, hidung gua pernah kejatuhan genteng dan tulang rawannya retak, akhirnya tumbuh daging pada sisa retakan itu yang mengakibatkan gua punya alergi Rhinitis. Gua suka pilek, suka bersin-bersin kalau bangun tidur atau kena debu, atau bahkan di dalam ruangan yang sirkulasi udaranya buruk, ga bisa hidup gua. Ga bisa nafas."
"Udah ? Gitu doank?" Tanya Danu seperti tak ada yang istimewa dari setiap perkataan Ghanes barusan.
"Kok lu biasa aja sih?" Tanya Ghanes keheranan.
"Lah emang harus gimana?"
Ghanes berfikir sejenak, menimbang nimbang apakah ini harus dikatakan atau tidak. Akhirnya dengan mengambil nafas panjang dan membuangnya kasar,
"Mmmmmmm ada satu hal lagi yang mesti lu tahu. Dan mungkin ini akan membuat lu ngejauhin gua."
"Apaan?"
Ghanes terdiam sejenak, sambil menerawang jauh, mencoba mengumpulkan tenaganya kembali,
"Gua udah ga perawan lagi, dan gua juga pernah melakukan aborsi waktu gua di negara T sana. Emang lu mau nikah sama sisaannya orang lain?"
Danu menjawab dengan cepat,
__ADS_1
"Emang kamu pikir aku bukan sisanya orang ? Jangan lupa bahwa aku seorang duda lo Nes, aku pikir persetanlah dengan apa yang telah kamu lakukan di masa lalu, toh itu ga menjamin dengan kehidupan di masa depan kok. Lagipula saat itu terjadi, aku belum kenal kamu kok, lantas konyol aja jika aku harus mempermasalahkan hal itu."
Namun Ghanes hanya terdiam saja mendengar jawaban dari Danu. Dia masih ga yakin dengan apa yang baru saja di dengarnya.
Danu seakan tahu isi pikiran Ghanes. Wanita yang begitu di kaguminya. Meskipun ia belum mengenal Ghanes sepenuhnya, tapi dari sikapnya yang mebuatnya geli, juga karena kemandiriannya yang membuatnya begitu terpesona.
"Kenapa? Kamu ga perlu khawatir aku akan mengungkit-ungkit masa lalumu Nes, ceritalah padaku jika itu bisa membuatmu sedikit lega. Aku komitmen dengan apa yang aku bicarakan. Dan aku sepenuhnya sadar dengan apapun yang aku ucapkan. Lusa aku kerumahmu. Kamu dan keluargamu di rumah aja, jangan ke mana-mana."
"Oh ya, terus waktu kamu aborsi itu , jasadnya kamu kuburin dengan layak ga?"
Lanjut Danu kemudian.
"Gua ngarepnya sih layak ya, semoga saja. Gua bawa pulang , gua kuburin di makam umum rumahnya i'ik."
"Jadi i'ik tahu tentang hal ini?"
"Tahu. Tapi keluargaku yang ga tau malah, karena waktu itu ibukku masih belum sehat dan gua ga mau kehilangan ibuk, gua memendam ini dalam-dalam jangan sampai orang rumah tahu. Gua tahu yang gua lakukan ini salah dan mungkin saja di laknat sama Tuhan, tapi gua akan lebih merasa bersalah ketika harus menyakiti kedua orang tua gua. Gua ga bisa melihat kedua orang tua gua menangis dan menanggung malu karena kelakuan busuk gua Dan. Jadi... gua mohon, jika nanti kamu jijik dengan gua, tolong jangan pernah bilang hal ini pada keluarga gua."
Danu terdiam sejenak menyalakan sebatang rokoknya dan menghisapnya dalam-dalam,
"Oke, aku mengerti, sekarang aku boleh ga tau di mana makan anak itu? ga papa sih, cuma pingin tau tempatnya aja kok. kali ini aku maksa ya."
Seketika Ghanes tertawa terbahak bahak,
"Bahahahahaha,,, ternyata lu bisa juga maksa orang. Hahhahahaa."
"Oke?" Tanya Danu lagi.
"Iya, iya boleh kok. Asal jangan di photo-photo ya."
"Siap dek, hehheehhehe."
"Dih,,, apaan dak dek dak dek... Jijik tau."
"Belooommm !!!!" Teriak Ghanes.
"Iya iya, lusa. Catet tuh. Lusa. Ga sabaran amat jadi cewek."
Pletakkkk,,,,,,,, Danu meringis kesakitan sambil tersenyum bahagia meraba kepalanya yang kena jitak wanita yang ia kagumi .
"Ga papa dech kepala jadi korban, asalkan bisa dapetin dia."
"Siapa juga yang ga sabaran ?! Situ yang ngajakin, gua yang di kambinghitamin. Rese lu." Gerutu Ghanes lalu kembali menyedot sisa minuman di dalam gelasnya hingga tandas.
Ghanes tersenyum mengingat kemarin lusa dengan Danu, karena hal itulah ia berani berkata pada Ayah dan Ibunya tentang kedatangan Danu dan Pamannya hari ini untuk melamar dirinya.
Kembali sayup terdengar percakapan Pak Alan dan pamannya Danu, tentang perencanaan tanggal pernikahan anak-anak mereka. Yaitu di tetapkan 3 minggu kemudian tanggal 6 september. Atas permintaan Danu karena ga ingin berlama lama menunggu.
Tiba tiba,,,,
Drrrttttttttttt Drrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrtttttttttttt....... Ponsel Ghanes berbunyi tanda ada pesan masuk.
"Syaif?" Tanya Ghanes mulai panik.
"Apa kabar?"✔✔
"Sehat."✔✔
"Kok singkat begitu jawabnya."✔✔
"Terus harus gimana?"✔✔
Seketika Syaif melakukan panggilan pada Ghanes.
"Ada apa?"
__ADS_1
"Ga kangen ma gua?"
"Kangen sih, tapi ga dech."
"Kenapa emang?"
"Ga ada. Hehhehe..."
"Sepertinya rumahmu rame. Ada acara apa?"
"Oh itu, ada lah dua orang di depan ma Bapak."
"Ohhhh,,,, "
"Oh, ya If, gua mumpung lu telpon dah, gua mau ngomong. Jangan di sela, cukup dengerin baik baik ya."
"Oke. Apa?"
"Gua mau nikah If."
"What ?????"
"Ga perlu kaget begitu. Santai aja."
"Kok bisa begitu ?"
"Sangat bisa. Inget ga kalau waktu di pantai itu gua pernah nanyain elu tentang pandangan lu tentang pernikahan? Waktu itu kan gua tanya lu pingin nikah atau ga. Terus lu ngomong ya pingi aja , tapi nanti kalau sudah waktunya. Nah dari situlah gua berusaha make logika gua agar ga terjerumus lagi ke dalam lubang yang sama."
Dengan cepat Syaif menyahut, "Lu tau ga kalau gua tuh nungguin lu udah lama, sejak dari lu masih di rantau, tapi kenapa tiba tiba lu malah nikah ma orang lain?"
Ghanes tertawa mendengar hal itu,
"Hahhahhaa yakin lu nungguin gua? Kalau lu bilang nungguin gua udah lama harusnya ketika gua pulang lu ada tanda-tanda serius. Tapi ketika gua tanya tentang pernikahan jawabanmu begitu. Mungkin lu berfikir kalau gua mau gitu lu ajakin pacaran terus-terusan. Ya kan?"
"Lha kan penjajakan dulu."
"Maka dari itu gua mengambil keputusan menikah dengan orang lain karena hal itu, secara,,,, ada orang lain yang benar-benar nungguin gua dan ngajakin gua serius, lalu kenapa engga, daripada gua terjebak dengan hal yang belum pasti. Itu hanya membuang-buang waktu."
"Oke oke, gua salah, sekarang gimana kalau gua ke rumah lu, dan batalin rencana pernikahan lu itu?"
"TELAT !!!! Gua nikah 3 minggu lagi, buat apa lu kesini? Kemarin-kemarin aja lu gua tanya lu ga pingin apa main ke rumah gua, lu bilang kejauhan. Jadi sepertinya lu kalau ke sini juga ga ada gunanya kali. Keputusan gua ga akan berubah."
Ghanes mengatakan hal ini dengan hati yang mulai kacau dan berusaha tegar serta menahan agar air matanya tak jatuh.
Tiba-tiba,,,,,,,
Tuuuuuuuuuuuuuuuutttttttttttttt............... Telpon di matikan.
.
.
.
..
...
.
.
.
.
__ADS_1