Pengorbananku Untuk Ibu

Pengorbananku Untuk Ibu
Hospital


__ADS_3

Sepersekian puluh juta detik telah di lewati Anes dengan di temani Nathan di inbox nya. Dia tak berperan sebagai kekasih, namun sebagai sahabat yang mengisi kekosongan rongga rongga udara di kehidupannya.


Sekalipun Nathan belum pernah mengungkapkan suka hatinya pada Anes, dia hanya bertindak sebagai obat buat luka hatinya.


Memamerinya dengan touring touring yang sering di lakukannya, juga indahnya kebersamaan dengan kawan kawannya ketika mereka menjelajah jalanan indonesia.


Langitnya yang hitam gelap, perlahan


awan beriak di singkirkan angin yang berhembus dengan lembut, membangunkan sinar mentari yang tertunduk menatap ceruk.


Di skype,,,,,,


"Gimana kabarnya? Sehat?"


^^^"Seperti yang lu harapkan, sehat walafiat dan BELUM MATI."^^^


"Akkkkh kok ngomongin itu terus sih."


"Dasar ga tau malu. ciihhhhh..."


Gumam Anes ketika iseng membuka skype nya dan entah kenapa Dimas matanya begitu awas hingga bisa melihat ia online di skype.


Anes pikir setelah pemblokiran yang kemaren itu Dimas lebih tenang di dunia barunya bersama kekasih pilihannya itu.


Ada setitik air mata di sudut mata kucingnya, namun buru buru ia hapus dengan jempol tangannya.


Karena dadanya kembali mulai terasa sesak jika ia meneruskan mengikuti perasaan hatinya.


Kali ini Anes harus benar benar mengesampingkan perasaan hatinya tersebut, jika ia ga mau terus terusan berada dalam jurang kesedihan, dan dia ga akan bisa pergi kemana mana, dia ga akan pernah bisa bergerak jika ia terus mendewakan perasaannya itu.


,,,,,,,,,,,,,


"Waaaahhhhhh akhirnya kucium bau bau indonesia.... Than,,,, lu bisa ngerasaain kan betapa bahagianya gua saat ini?" Katanya pada Nathan mengungkapkan perasaan bahagianya dia karena sebentar lagi dia akan segera menaiki pesawat menuju negara tercintanya itu.


Bertemu dengan dunia nyatanya kembali.


"Akhhhh tapi gua juga ga bisa bayangin gimana sepinya nanti rumah gua tanpa Mas Susan."


"An, ikhlaskan hatimu untuk sesuatu yang telah berlalu, waktu terus berjalan An, jangan bebani Mas mu dengan kesedihanmu itu. Kasihan An."


"Hhhhmmmm iya Gua tau Than, namun ketika masih gua ingat kemarin, maka semua yang berlalu itu kembali terfilmkan dengan jelas di bola bola mata guaThan."


"Iya.... aku paham kok An, berat memang ... namun kamu jangan patah semangat untuk terus menyemangati hatimu sendiri ya."


"Siap Pak Guru . hehehehhe."


"Jangan panggil Bapak donk An, secara umurku kan lebih muda 4 tahun darimu An. Malu tau."


"Ya udah kalau ga mau. Berarti sekarang gantian Lu yang manggil gua ibuk, gimana ? setuju ?" Tanya Anes cekikikan.


"Akkhh... ga setuju juga . Buruk sekali. Bukan itu yang aku inginkan. "


"Lantas?"


"Sudahlah.... Hahahhaha jangan di bawa serius begitu. " Jawab Nathan mengalihkan topik pembicaraan.


"Btw,, kapan kamu berangkat ke RS ?"


Tanya Nathan ingin tau , karena sebelumnya Anes pernah bilang kalau Papa akan di bawa ke RS dulu sebelum ia pulang, karena penggantinya Anes akan datang seminggu setelah kepulangan Anes, jadi Papa yang dalam kondisi sehat harus di rumahkan dulu di RS karena di rumah tidak ada yang bisa menghandle full seharian.


Karena Yenji anak perempuan satu satunya yang biasa menggantikan Ane di hari minggupun harus kerja.


"Ntar sore Than, jadi malam ini, gua udah nginep di RS, males bener aslinya dah, di RS itu bau alkohol dan dingin. Lu tau kan kalau gua ga bisa bertahan terus di dalam ruangan ber AC. Hidung gua ga kuat Than, bisa berdarah darah ntar. Males sumpah."


Anes mulai membayangkan betapa tersiksanya jika ia harus seharian penuh selama seminggu lebih berada di ruangan full AC.


Anes punya Alergi Rhinitis, dimana hidungnya sangat sensitif terhadap barang asing , udara terlalu lembab maupun udara terlalu kering.


Rasanya akan sangat perih dan sakit, jika ia terus terusan dalam ruangan ber AC yang berarti ruangan itu kelembapan udaranya sangat rendah alias kering.


Pernah suatu ketika hidungnya sampai berdarah darah, timbul luka di dalam rongga hidungnya ketika musim dingin extrim.


"Pakai masker aja An, biar udara yang kamu hirup ga terlalu kering dan sedikit hangat." Nathan memberikan saran.


"Uppss... untung lu ingetin, gua lupa masukin masker dalam tas ransel gua... hehhehehe makasih ya Than , udah di ingetin. Padahal biasanya masker tuh senjata terampuh gua yang selalu ada di dalam tas gua."


"Hahahhahaha jangan jangan kamu udah mulai pikun deh An. Volume otakmu mulai menyempit secara perlahan . Hahhahahahaha."


Nathan tergelak mendengar penuturan Anes yang bisa lupa dengan hal penting dalam hidupnya itu.


"Eh,,, kurang ajar, doamu buruk Than. Masak gua lu doain pikun sih. Pikun itu kalau di sini penyakit orang tua lo Than. Dan itu ga bisa sembuh. Masak masih muda begini udah pikun sih."


"Hahahhaha ternyata kamu punya rasa takut juga An, kirain ga."

__ADS_1


"Takutlah gua, kalau soal begituan, secara penyakit itu penyakit yang ga ada obatnya. Kalau di indonesia mah biasa kali orang bilang "pikun, pikun" begitu. Tapi pikun itu ga sesederhana itu sebenarnya."


Kata Anes menjelaskan sambil bergidik ngeri.


Memang pada dasarnya PIKUN adalah penyakit yang dimana volume otak mengalami penurunan , atau dalam bahasa medisnya pikun adalah awal dari gejala Demensia Alzeimer yang artinya


merupakan sindrom atau kumpulan gejala yang mengacu pada penurunan fungsi otak, seperti menurunnya daya ingat, gangguan proses berpikir dan perilaku, serta perubahan kondisi mental atau emosional.


Pikun yang disebabkan oleh demensia umumnya akan membuat penderitanya mengalami kesulitan untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Jika sudah parah, orang yang mengalami pikun parah karena demensia bahkan bisa tidak mengenal orang terdekatnya.


Dan Demensia ini sampai saat ini tak bisa di obati namun hanya bisa di perlambat dengan konsumsi obat saraf secara rutin.


Itulah sebabnya kenapa Anes begitu ngeri ketika mendengar kata Pikun, karena pikun aslinya ga sesederhana yang kebanyakan orang orang pikirkan.


,,,,,,,,, ,,,,,,,


Di temani Ransel sedang yang ada di punggungnya Anes berdiri di depan resepsionist Rumah Sakit Veteran berdinding merah bata yang berada di perbukitan.


Karena rumah sakit ini di bangun untuk warga warga veteran di masa tua katanya.


Banyak WNI yang lalu lalang. Tentu saja mereka sini bekerja untuk jaga pasien mereka masing masing . Bukan untuk wisata tentunya.


"Pagi mbaakkk...." Sapa Anes sok kenal dengan senyum lebarnya pada seseorang yang terlihat masih lumayan muda dan cantik. Dengan rambut pirang sepinggang dan celana jins pendek hampir menyentuh pantat.


Sambutan mesra yang di harapkan Anes tidaklah ia dapatkan. Namun malah pandangan sinis dan tak bersahabat yang ia terima.


"Hahahhahahaha" Anes teetawa dalam hatinya.


"Hhmmm.... benar kan seperti dugaanku. Para perantau itu jika sudah merasa dedengkot di sini pasti mereka berlagak seperti putri . Hahahahahha manusia itu sungguh menggelikan."


Celoteh Anes sendirian terkikik geli melihat anak anak ini.


"Kamu ngomong apa ? Dengan siapa?" Tanya seorang Suster yang sedang lewat mendorong troli peralatan medis.


"Heheheheehe ga ada Sus, cuma tadi saya habis bertemu dengan teman kampung saya." Jawab Anes berbohong tentunya.


"Ohhh kirain kamu ngomong sama hantu atau apa.... "


"Iihh suster ngomongin hantu,, ntar dia datang beneran loh.. " Seloroh Anes bercandain suster tersebut.


Suster menepiskan tangannya, "Akkhhh kamu ngomong apaan sih."


Lalu beranjak pergi melanjutkan perjalanannya entah mau ke ruangan mana dengan trolinya tersebut.


Tentu bukan mau ke toko bunga bukan ?


Tawa Anes geli.


Setelah menunggu hampir 1 jam, akhirnya Anes pelan pelan mengekori Mama menuju ruangan Papa.


Ruangan yang cukup besar, dengan dinding putih krem dan empat almari besar di masing masing pojokan serta kamar mandi dalam.


Namun , di ruangan ini, Anes bukan satu satunya penghuni. Ada tiga orang lagi yang telah lebih dulu masuk.


"Hai mbak,,,,, udah pada lama ya?." Tanya Anes menyapa mereka bertiga dengan ramah.


Mereka bertiga adalah warga indonesia juga dengan pasiennya masing masing.


"Saya sudah dua minggu." Kata salah satu dari mereka.


"Tati." Katanya ketika menerima uluran tangan Anes.


"Arumi".


"Yani."


"Ghanes. Panggil aja Anes." Balas Anes kemudian.


"Sakit apa kakeknya mbak?" Tanya Tati.


"Ga ada. Dia sebenarnya sedang normal. Sehat. Namun karena gua mau pulang, jadi Papa di masukin sini dech." Jelas Anes.


"Lah kok bisa begitu mbak?" Tanya Tati lagi.


"Gini... kan Gua pulang seminggu lagi... tapi penggantiku baru bisa dateng 2 minggu kemudian. Nah... karena ga ada yang ngerawat, lalu di daftarin di sini. Tapi pihak rumah sakit ngasih tau kalau ada yang antri kamar juga. Jadi Papa di masukin lebih awal biar ga di dahului orang. Gitu sayang...hehehhee."


"Oohh udah mau pulang ? Ga balik lagi ? Kenapa ga nambah ?"


"Ga akh... gua bosen. Pingin pulang aja. " Kata Anes tersenyum simpul.


Kembali ia teringat dengan sakit yang di deritanya selama ini.


Lagi lagi dan lagi. Sekian lama rasa itu belum juga pergi. Rasa yang sangat menyakitinya. Dimana ia terpaksa harus menghilangkan anaknya sendiri karena berada pada pilihan yang sama sama busuk.

__ADS_1


"Udah nikah?" Tanya Tati lagi.


"Hahahahah belum. Pacar aja ga ada gimana mau nikah." Jawab Anes tertawa keras.


"Masak ga punya pacar sih ?" Tanya Tati ga percaya.


"Lah... kok ga percaya? Kenapa emang? Apa karena gua terlampau manis ? Hahahaha"


"Hahahhahaha lucu banget kau Nes.. ada ada aja sih." Sahut Tati ikut tertawa geli.


"Eh,, kalian berdua kok diem aja sih?" Tanya Anes ketika melihat dua orang lainnya hanya duduk terdiam sambil senyum senyum.


"Masih baru mereka, maklum lah Nes." Jawab Tati.


"Oohhh.... baru dateng dari indonesia ?" Tanya Anes.


"Iya mbak." Jawab mereka serempak.


"Hehehehe santai aja kale, ga usah tegang begitu, kalau kalaian ga belajar interaksi, kalian akan susah adaptasi. Ga usah takut."


"Lha saya bahasa belum bisa kok mbak." Jawab Rumi.


"Saya juga." Sahut Yani. "Apalagi bosku yang laki laki galaknya ampun dech. Kayak ga terima gitu kalau aku bahasa belum bisa lancar."


"Mmm.....emang dulu waktu interview gimana?" Tanya Anes pada Yani.


"Saya ga interview mbak, karena calling visa , tanteku yang nyariin bos."


"Oohh pantesan aja. Kalau gitu minta tolong tantemu buat jelasin ma bosmu, biar bosmu bisa maklum dan mengajari pelan pelan. Lagian bahasa itu ga bisa di hafal kalau lidah ga di latih buat bicara. Karena logat masing maaing negara itu beda beda."


"Iya kah mbak ?" Tanya Rumi.


"Tanya aja ma Tati. Ya kan Tat.?" Jawab Anes matanya sembari memandang Tati meminta persetujuan.


"Yoi.. benar sekali. Sekalipun kalian di indonesia bahasa lancar tapi kalau cengkoknya beda, maka orang sini pun ga akan ngerti dengan apa yang kalian bicarakan. " Jawab Tati ikut menjelaskan.


Kkkhhhrrrrruuugghhh... kkhhhhhrrruuugghhh.....


Terdengar suara batuk berdahak tertahan.


Serempak mereka menoleh ke arah sumber suara. Ternyata pasiennya Tati.


"Ehh... sedot dahak dulu ya, ingat kalian juga harus perhatikan pasien masing masing." Kata Tati sambil menunjuk pada Rumi dan Yani.


"Lah gua Tat ?" Tanya Anes cengengesan.


"Akkhh lu tau lah apa yg mesti lu lakuin." Kata Tati sambil menepiskan tangannya pada Anes.


"Jangan berlagak bego lu. Udah mau pulang juga."


"Btw,,,, udah tau kantin blm?" Tanya Tati pada Anes sembari menyedok dahak paaiennya dg selang yang di genggamnya.


"Udah." Jawab Anes pendek.


"Kok udah ?"


"Ya... gua dulu ,, pernah di sini. Waktu sebulan nyampek, Papa ku demam kena infeksi. Gua kemarin ada di lantai 6."


"Ooohh.. berarti yang kamar nya satu satu itu?"


"iya."Jawab Anes lagi.


"Eh, lu tau ga, sebenarnya pasien yang masuk kamar ini adalah pasien yang resiko hidupnya rendah, dan kamar ini ga bayar lo." Jelas Tati lagi.


"Eh,, ? Iya kah? Gua ga tau sih. Padahal sebenarnya gua males tidur di RS itu, gua aja berangkat hari ini dadakan. Koper gua blm packing. Orang katanya masih lusa."


"Iya. Di RS tuh, mau tidur aja jam jaman. Ga jenak. Karena tyap 2 jam sekali ada suster patroli." Kata Tati membenarkan.


"Patroli kaya hansip aja. Hahahaha". Anes tertawa sembari menutupi mulutnya yang selebar danau toba .


"Anggap aja begitu xixixixixixi.."


"Bau alkohol yang gua ga suka." Kata Tati lagi.


Rumah sakit, kenapa harus rumah sakit ? bukankah seharusnya di namai rumah sehat karena di isi oleh orang orang yang kepingin sehat.


Akkhh sudahlah,,, .


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2