Penguasa 5 Elemental 2 : To The Throne Of God

Penguasa 5 Elemental 2 : To The Throne Of God
Terus terang


__ADS_3

“Sebelum itu ....” Zeno tidak melanjutkan ucapannnya karena benar-benar bimbang mengenai apa yang akan dia bahas. Dia tidak tahu, apakah keluarganya seperti paman bibi, dan kedua kakaknya setuju atau tidak? Kondisi seperti ini benar-benar sangat menyulitkan bagi Zeno, apalagi di dekatnya banyak keponakannya yang mana dia tidak ingin mereka mendengar hal itu.


Zeno menundukkan kepalanya di saat seluruh orang saling berbincang, dia masih bingung untuk memulainya dari mana. Melihat Emera yang ada di pangkuannya, bermain dengan jari Zeno membuat dia tidak tega untuk berterus terang.


Turse yang duduk di sebelah Zeno menyentuh pundaknya, mencoba agar suaminya bertindak tenang dan tidak gegabah. “Flamon ada di luar.” Bisiknya seperti itu, seolah dia memberikan sebuah petunjuk mengenai bagaimana dia harus berterus terang tanpa di dengar seluruh keponakannya.


Zeno menatap Turse, dia menjadi lega di saat dia terpikirkan untuk membawa anak-anak pergi untuk menunjukkan sesuatu yang sangat hebat. Apa yang dia lakukan, menciptakan sebuah kloningan yang berdiri di dekat Zeno sambil berwajah ceria, “Keponakan paman!” Zeno menyeru kepada seluruh keponakannya yang sedang bermain, seperti Zhee dan Fang yang asik dunianya sendiri. “Apakah kalian ingin melihat burung api yang ada dalam dongeng legenda?”


Semua orang tertuju kepada banyangan Zeno, terutama seluruh keponakannya yang sedang bermain sendirinya.


“Aku!” Zhee berteriak, kemudian dia berdiri dan langsung mendekat ke arah Zeno agar Zeno mau menunjukkan burung tersebut.


Kemudian di susul Emera yang turun dari pangkuan Zeno dan menggoyang-goyangkan tangan kloningan Zeno untuk mengantarnya seperti apa yang dia katakan.


“Fang, kau tidak mau ikut?” Bayangan Zeno mengangkat alisnya.


“Pergilah, mungkin hanya burung biasa yang berwarna merah.” Tutur Fang tidak peduli.


“Tentu ini bukan hewan biasa, apa kau pernah mendengar Suzaku? Itu yang paman maksud.” Zeno mencoba membujuk Fang, lagipula dia benar-benar ingin menunjukkan Flamon agar menarik perhatian para keponakannya.

__ADS_1


“Benarkah?” Fang bertanya dengan senang setelah pamannya akan menunjukkan Suzaku yang hanya ada dalam buku cerita. Lagipula Fang tahu persis beast penjaga arah mata angin, itupun dia ketahui dari buku cerita.


Tidak hanya Fang, Zhee dan juga Emera menjadi bersemangat saat Zeno ingin menunjukkan Suzaku yang menurut mereka hanyalah dongeng belaka.


Bayangan Zeno langsung membawa mereka bertiga keluar untuk melihat Suzaku, menggandeng tangan Emera dengan penuh lembut. Hal itu membuat Zeno yang asli hanya tersenyum pahit, sambil membatin dengan pedih, “Mungkin itu merupakan gandengan yang terakhir. Sayang sekali, aku tidak akan melihat adik Emera lahir, atau mungkin anak Lyana yang justru sebentar lagi. Sialan!”


“Tumben sekali kau mengajak anak-anak menggunakan bayangan? Aku pikir kau akan turun tangan sendiri dan membawa mereka berkeliling dunia.” Yuna heran dengan tingka Zeno yang tidak biasa.


“Benar, bahkan Zhee masih trauma apabila dia bergerak cepat.” Ive menambahkan.


“Aku ....” Zeno menarik napas, dia masih ragu untuk membicarakannya. Namun, setelah berusaha untuk membulatkan tekad, dia memberanikan diri untuk berterus terang, “Kami hanya ingin berpamitan, maka dari itu aku membuat anak-anak tidak kecewa.”


“Benar, setidaknya tinggalah di sini untuk beberapa waktu agar anak-anak bisa terhibur. Karena dibandingkan dengan kami, anak-anak justru lebih suka dengan kalian semua.” Fang Yuna menambahkan apa yang dikatakan Lyana.


Zeno kembali menghela napas sebelum berkata, “Bukan begitu, kami hanya pamit bukan karena ingin pulang, tetapi kami ingin menuju sebuah alam yang lebih tinggi dari alam yang kita tempati ini. Tapi tenang saja, kami berjanji untuk kembali.” Zeno tersenyum palsu sambil membatin, “Walaupun tampaknya kembali untuk sebentar untuk memastikan.”


“Apa?” Mereka semua kaget bersamaan dengan Zeno yang membatin demikian. Raut wajah mereka seolah tidak percaya mengenai apa yang Zeno katakan. Bahkan, mereka menganggap bahwa Zeno sedang bercanda.


“Lelucon mu tidak masuk akal, bisakah kalian membahas yang lainnya.” Rouya mencoba untuk memastikan apakah Zeno bercanda atau tidak.

__ADS_1


Zeno dan Turse, keduanya memasang wajah yang serius tanpa berbohong sedikitpun tanpa menjawab apa yang Rouya katakan. Hal itu tentu saja membuat Rouya menelan ludah secara kasar dan merasa bahwa pasangan suami istri itu benar-benar serius.


Fang Yuna yang melihat ekspresi serius mereka, dia berkata dengan tatapan yang sangat sinis, “Untuk apa? Apakah kalian benar-benar bosan tinggal di dunia yang jauh lebih aman di bandingkan dunia tersebut? aku pernah membaca sebuah buku bahwa dunia yang kau maksud itu jauh lebih mengerikan, pembunuhan di anggap biasa, perang sudah dianggap wajar hanya karena sebuah peringkat atau rank, yaah dunia itu tidak cocok untuk kita.”


“Aku setuju-setuju saja, tapi siapa yang akan mengurus kekaisaranmu? Nenek Aurrora tidak memiliki pewaris tahta lagi selain kau. Aku juga tidak mungkin, apalagi Yuna.” Fang Tan menyahut dengan cukup serius.


“Kakak Yuna, aku tidak bosan berada di dunia ini. Aku juga perlu meningkatkan sebuah kekuatan. Aku tahu, mungkin aku merupakan kaisar terkuat, mungkin apabila aku di sana, aku bagaikan seekor semut yang tidak ada apa-apanya, maka dari itu akan memulai dari bawah kembali.” Zeno tidak berkata dengan jujur mengapa dia berada di dunia tersebut yaitu menjadi seorang penguasa, dewa dari segala dewa, serta mengalahkan sosok jahat yang mungkin dapat menghancurkan semesta.


“Mengenai tahta kaisar, nenek sebenarnya memiliki pewaris tahta lagi, yaitu Aure yang merupakan cucu angkatnya.” Sambungnya.


“Tapi, bukankah Nyonya Aurrora justru akan senang apabila pewarisnya merupakan keturunanya asli?” Paman Zeno angkat bicara, dia juga tampaknya antara setuju dan tidak setuju bahwa Zeno menuju dunia yang sangat berbahaya itu.


Zeno menarik napas dan mulai untuk mengatur sebuah alasan. Memang, apa yang dikatakan pamannya tidak salah, nenek Aurrora jauh lebih senang apabila seseorang yang menduduki tahtanya adalah keturunannya sendiri. Namun, Zeno mengingat, sebenarnya Glacies empire merupakan dua kekaisaran yang disatukan, sehingga ada dua pihak yang seharusnya memang berhak untuk menduduki tahta, yaitu keturunan nenek Aurroa yang berasal dari Southern, atau Aure yang berasal dari Northern. Jadi Zeno tidak merasa bersalah apabila menyerahkannya kepada Aure yang memang berhak mendapatkan tahtanya kembali.


“Tapi nenek Aurrora pasti juga akan lebih senang apabila kami melangkah jauh.” Turse mencoba untuk memberikan sebuah alasan.


“Terserah kalian saja, aku tidak akan mencegah kalian apabila itu yang kalian mau. Kalian juga sudah dewasa, semua keputusan ada ditangan kalian, jadi kami tidak bisa membantahnya.” Sebelumnya Fang Yuna dan Fang Tan saling menatap untuk mememberi sebuah izin. Dan pada akhirnya, dengan sangat berat hati, mereka berdua benar-benar mengizinkan adik kecilnya itu melakukan apa yang dia inginkan.


Sedangkan paman dan bibinya, mereka berdua tidak memiliki hak untuk mengizinkan Zeno atau tidak. Mereka sadar, yang berhak memberi izin adalah keluarga dekatnya seperti kedua kakaknya. Jadi, apabila kedua kakak Zeno memberikan Izin, maka paman dan bibinya tidak berkutik lagi.

__ADS_1


__ADS_2