
Kini ada 24 peserta yang lolos. Seharusnya ada 25 peserta, namun karena ada sebuah pertandingan yang membuat dua peserta berada dalam keseimbangan, dan keduanya babak belur secara bersamaan sehingga tidak ada yang mampu untuk melanjutkan ke babak selanjutnya, sehingga hanya menyisakan 24 peserta saja.
Dalam babak kedua ini, setiap arena akan diisi oleh tiga orang sekaligus untuk bertarung secara bersamaan untuk mendapatkan sala satuh pemenang yang mampu bertahan dalam satu arena. Dari dua puluh empat peserta, bisa dibilang nantinya akan ada delapan pertandingan.
Tentunya, itu benar-benar akan menjadi masalah bagi Zeno, selain itu dia juga benar-benar kecewa dalam kompetisi ini, karena seharusnya babak seperti ini diletakkan di babak pertama, sehingga untuk babak kedua, baru lah pertarungan satu lawan satu. Entahlah, mungkin dewan juri hanya ingin melihat satu persatu kemampuan para peserta terlebih dahulu.
Selain itu, apa yang menjadi masalah bagi Zeno, ketika dirinya satu arena dengan Turse dibabak kedua ini, padahal dirinya berharap untuk bertarung di babak penentuan atau babak terakhir.
“Peserta diperbolehkan untuk mencari lawannya sendiri, asalkan ketiga pihak menyetujui untuk bertarung dalam satu arena.”
Zeno menghela napas, untung saja dalam pertarungan ini diperbolehkan untuk mencari lawannya sendiri asalkan keempat lawannya setuju untuk bertarung bersama. Yang pasti, dia tidak akan memilih Turse, begitupun apabila Turse meminta dirinya, Zeno akan menolak.
“Tuan, jadilah lawanku.” Kata Turse menghapiri Zeno, tanpa Turse ketahui bahwa seseorang yang dia ajak bicara adalah Zeno.
Seperti apa yang Zeno duga, Turse pasti meminta dirinya untuk menjadi lawannya. Apa yang dilakukan oleh Zeno adalah berdiri dan beranjak pergi, namun sebelum dia benar-benar pergi, dirinya berkata, “Bukan saatnya nona, lagipula aku tidak memiliki peringkat tinggi sama sepertimu.”
“Untung saja El dan Rosy mengikuti pertandingan ini, sehingga aku akan bergabung dengan mereka.” Batin Zeno sambil benar-benar pergi dari hadapan Turse.
Turse mengerutkan dahinya, dirinya benar-benar memandang aneh sosok yang tidak menunjukkan identitasnya. Sehingga apa yang dilakukan adalah pergi untuk mencari lawan lain.
.....
“Pangeran, tuan putri, izinkan aku jadi lawanmu.” Kata Zeno menawarkan dirinya saat bertemu dengan El dan juga Rosy yang tampaknya juga sedang mencari lawan. Selain itu, dirinya juga membuat-buat suara agar tidak tampak bahwa dirinya adalah Zeno yang mereka kenal.
__ADS_1
Masalahnya, apabila Zeno memberitahukan siapa dirinya, keduanya tidak akan mau karena sudah pasti kalah melawan Zeno. Karena apa yang mereka takutkan, mereka akan dipermalukan karena kalah melawan Zeno yang tidak memiliki peringkat seperti apa yang penonton itu lihat.
“Tidak memiliki peringkat? Baiklah, kami akan menjadikanmu samsak tinju.” Kata Rosy dengan tersenyum sambil mengangkat kepalan tangannya.
El juga tidak terlalu mempermasalahkan, namun dia masih tetap berjaga-jaga. Siapa tahu sosok yang ada didepannya memiliki kasus yang sama dengan Zeno, yang mana peringkatnya tidak bisa dilihat oleh orang lain.
....
Hingga pada bagian pertandingan, siapa yang dipanggil adalah Zeno, El dan tentunya adalah Rosy duluan yang mana berada di arena pertama. Dan, apa yang membuat Zeno begitu bersyukur, pasalnya Turse tidak bertarung di arena kedua atau ketiga secara bersamaan dengan dirinya bertanding. Sehingga, Zeno bisa melihat dan melakukan cara licik untuk Turse nantinya.
Aba-aba telah diberikan, El dan Rosy langsung bertarung terlebih dahulu tanpa memperdulian Zeno yang mereka sama sekali tidak tahu itu adalah dirinya. Mungkin karena mereka berdua benar-benar meremehkan dirinya sehingga itu adalah urusannya nanti.
Tapi Zeno justru sangat senang, setidaknya dia memiliki pemikiran lain apabila salah satu dari mereka menang. Dan hanya digunakan apabila salah satu dari mereka menang, itupun apabila mereka tidak menyerang Zeno secara bersamaan.
Zeno hanya diam saja sembari pertarungan dua kerabatnya itu selesai, bahkan dia mencoba untuk duduk sekaligus untuk menjaga jarak agar tidak terkena serangan salah satu dari mereka.
Itu tentu saja membuat semua penontot terbahak-bahak disela-sela melihat pertarungan yang begitu seru. Bagaimana tidak, sosok yang tidak memiliki peringkat atau Zeno sendiri sudah dianggap lumpuh karena ketakutan.
.....
“Pertarungan yang membosankan, dan pada akhirnya dimenangkan oleh El, meskipun memiliki satu peringkat di bawah Rosy.” Batin Zeno yang sudah mulai lelah untuk duduk, selain itu dia juga tidak menyangka bahwa pertarungan itu cukup hebat yang membuat arena di dekatnya retak, untung saja benar-benar tidak mengenai Zeno.
Dan yang benar saja, pertarungan tersebut dimenangkan oleh EL yang mana Rosy keluar dari arena dan terpaksa tidak bisa melanjutkan pertarungannya. Kemudian, hanya menyisakan El yang tidak menyadari bahwa itu adalah Zeno, serta Zeno sendiri.
__ADS_1
“Bunuh saja pangeran! bunuh dalam sekali tendang!”
“Aku yakin dia sudah ketakutan.”
Semua orang memprovokasi El untuk segera melawan sosok tak berperingkat. Namun, El sama sekali tidak terbawa emosi, tetapi dia masih melambaikan tangannya agar Zeno mau maju untuk menyerangnya.
Tentunya, Zeno berdiri untuk menuruti kemauan El. Dan, alih-alih melawan El, apa yang Zeno lakukan adalah melakukan sebuah rencana yang dia pikirkan sejak tadi, yaitu melakukan sesuatu kepada El atau Rosy apabila salah satu dari mereka menang.
“Ayolah teman aku tidak akan menyakitimu, serang aku saja untuk memenuhi pertarungan ini.” Kata El sambil tersenyum.
Zeno juga tersenyum dibalik topengnya, kemudian dia berbicara denan suara aslinya tanpa penonton dengar, lebih tepatnya hanya El yang mendengarnya karena dia yang paling dekat. “Begini saja pangeran, kau lebih baik menyerah atau aku akan melawanmu dengan kekuatan penuh. Tapi saranku, kau menyerah saja dengan alasan mengasihaniku atau apalah, karena jika kau kalah melawanku, maka harga dirimu akan rusak. Bagaimana?”
El yang sebelumnya tersenyum, kini berubah menjadi sangat buruk karena dia mengenal jelas suara tersebut, kemudian dia menuruti kemauan Zeno yaitu menyerah. “Kau ini benar-benar jahat ya Zeno.” kata El kembali tersenyum sambil mengangkat kedua tangannya, dia juga berteriak, “Aku menyerah! Tidak mungkin aku melawan dia.”
“Pangeran menyerah?” Semua orang bertanya-tanya, mengapa dia menyerah begitu saja? Padahal kesempatan emas ada didepannya.
“Kenapa anda menyerah pangeran?” Teriak salah satu pengawas arena pertama.
Dengan sedikit ragu, El menjawab, “Karena, aku tidak mungkin untuk membunuhnya.” Katanya sambil menatap Zeno yang tampak membiarkan El berkata seperti itu.
“Yaa itu memang pantas diterima oleh sampah seperti dia! Masih untung pangeran masih mengasihinya.” Teriak salah satu penonton yang diikuti oleh penonton lainnya yang berteriak kurang lebih sama.
Sehingga dalam pertarungan di arena satu ini, Zeno adalah pemenangnya meskipun semua pihak tidak bisa menerimanya dengan mudah.
__ADS_1