
"Kapan kau akan berangkat? Bagaimana caramu berangkat?"
Dalam lubuk terdalam, sebenarnya Yuna tidak rela adik kecilnya menuju benua yang berbahaya itu, namun dia mengingat hatinya tadi bahwa dia harus memberi kebebasan kepada Zeno, lagipula Zeno merupakan kaisar terkuat, sehingga mungkin dia sangat bosan di dunia ini sebagai yang terkuat. Namun, Zeno saja yang tidak mau berterus terang secara jelas.
"Setelah aku menghadiri pertemuan kaisar teratas. Yaah, mungkin itu adalah pertemuan pertama dan terakhirku, selepas itu aku tidak akan menjadi kaisar dengan peringkat pertama lagi." Zeno mengatur napas sebelum dia melanjutkan ucapannya.
"Masalah menuju alam tersebut sangatlah mudah, menurut Genbu, di sebuah tempat yang menjadi pusat dunia ini, di antara empat arah mata angin, terdapat sebuah kuil dengan empat pilar yang berdiri sesuai arah mata angin Masing-masing pilar tersebut terdapat lambang penjaga arah mata angin yang mana apabila masing-masing beast penjaga arah mata angin berdiri di bawah pilar tersebut, maka gerbang akan terbuka."
Zeno tidak perlu takut atau ragu lagi mengatakan bahwa dirinya memiliki Genbu atau penjaga arah mata angin lainnya. Pasalnya, sudah menjadi rahasia yang sangat umum, bahwa kaisar terkuat memiliki beast legenda seperti itu.
Itulah mengapa, hampir tidak ada kaisar yang berani menyerang Glacies untuk membunuh Zeno demi peringkat kaisar, karena mereka tahu bahwa mereka bukan tandingannya, apalagi diperkuat oleh sebuah insiden di mana pasukan kekaisaran diserang habis oleh Azure dan Genbu di saat mereka ingin menyerang Glacies.
Pada saat itu, hampir seluruh keluarga Zeno yang masih hidup benar-benar kaget saat mengetahui ternyata Zeno memiliki beast penjaga arah mata angin yang konon katanya hanya ada dalam legenda.
Mereka jadi mengerti, mengapa Zeno bisa menjadi kaisar terkuat, namun mereka berpikir bijak apabila Zeno menjadi kaisar terkuat bukan karena beast penjaga arah mata angin. Nyatanya, menaklukkan beast seperti itu bukanlah orang biasa.
"Tunggu sebentar, jadi kau menunjukkan anak-anak tentang Suzaku itu tidak berbohong? Sejak kapan kau menemukan Suzaku?" Fang Tan mengerutkan dahinya.
"Tepat pagi hari sebelum kami berangkat. Tapi bukan kami yang mencarinya, ketiga penjaga arah mata angin yang mencarinya."
"Zeno, Turse, ku tegaskan sekali lagi, alam tersebut berbeda dengan alam yang kita tempati. Mungkin kau bisa menjaga dirimu sendiri, tetapi aku harap kau bisa menjaga Turse, istrimu." Yuna menegaskan ucapannya sekali lagi.
__ADS_1
Zeno mengalungkan tangannya ke leher Turse dan menatapnya sebentar sambil berkata, "Dia tidak selemah itu, apakah menurutmu seorang pemanah racun mengalami penurunan bakat setelah menjadi seorang istri? Tentu tidak, apalagi dia menjadi seorang istri kaisar."
Turse hanya tersenyum malu setelah mendapat pujian Zeno seperti itu, demi menghilangkan rasa malunya di hadapan keluarga Zeno, Turse menjawab, “Tapi aku beranji untuk tidak membuat Zeno merasa terbebani dengan adanya aku.”
“Dengan adanya kau, justru aku merasa terbantu, bukan malah terbebani. Tapi tenang saja, apabila ada masalah di sana, jangan ragu untuk meminta bantuanku, kau adalah istriku.” Zeno membisikkan sesuatu kepada Turse.
“Bisakah kau tidak berbicara terlalu keras? Lihat pandangan keluargamu.” Turse mendorong wajah Zeno dari telinganya dengan perkataan dingin.
“Tunggu, aku hanya berbisik.” Zeno melengkungkan bibirnya ke bawah.
Keluarga Zeno hanya terkekeh melihat tingkah mereka berdua yang mana seperti pasangan yang menginjak remaja. Padahal, pernikahan Zeno menginjak delapan tahun lamanya. Akan tetapi, mereka semua bertaya-tanya, mengapa Zeno dan Turse memiliki seorang anak? Namun, mereka tidak berani untuk menanyakannya karena mungkin itu akan menyakiti hati Turse. Walaupun sebenarnya ada hal lain yang membuat Zeno dan Turse tidak berniat memiliki seorang anak.
Bukan berarti Zeno merasa beruntung apabila ayah dan ibunya meninggal, justru ini adalah masa-masa yang sangat sulit, apabila ayah dan ibunya tidak bisa memberikan jawaban secara langsung, walaupun mungkin Zeno akan terus mencoba membujuk kedua orang tuanya agar menyetujuinya.
“Tenang saja, mungkin aku akan tinggal di sini hingga dua sampai empat hari, perjalanan menuju benua 99 cahaya sekitar sepuluh hari, dan aku akan datang ke sana tepat waktu. Setelah itu ....” Zeno merasa sulit untuk berbicara, namun dia tetap memaksa mulutnya, “Aku sudah tidak di dunia ini lagi.”
“Intinya jangan pernah melupakan kami.” Sahut Fang Tan dengan tatapan yang sengat serius.
Zeno tersenyum sambil menundukkan kepalanya sebentar, kemudian dengan lirih, dia menjawab, “Tidak akan, bagaimana mungkin kami akan melupakan kalian?”
.....
__ADS_1
“Emera, jika paman tidak ada, bagaimana perasaanmu?” Zeno menyentuhkan tangan Emera ke bulu halus milik Suzaku.
“Tentu saja aku akan menangis, paman merupakan paman terbaik di dunia. Di bandingkan dengan paman Tan, aku memilih paman Zeno.” Emera yang ada di gendongan Zeno menatap Suzaku yang berdiri dengan indah, dia benar-benar tidak menyangka bahwa apa yang dikatakannya memang benar, bahwa ada Suzaku.
“Zhee, Fang? Bagaimana perasaan kalian?”
Zhee yang bermain di kaki Fang tidak mempedulikan apa yang Zeno tanyakan, dia hanya fokus untuk bermain-main di kaki Suzaku sambil memeluk tubuh bagian bawahnya yang terlihat tampak lebut. Hal itu tentu saja membuat Zeno tersenyum, dia merasa anak-anak ini cukup polos dan menganggap baha bulu Suzaku sangatlah lembut, padahal bulu tersebut akan berubah menjadi sangat mengerikan apabila dia marah.
Fang, yang hanya duduk bersandar di sebuah pohon yang ada di sebelah Zeno hanya menatap Suzaku dengan datar tanpa berekespresi, dengan singkat, dia menjawab, “Peduli amat, jika paman tidak ada memangnya kenapa?”
Di sisi lain, Fang mencerna perkataan Zeno, tampaknya dia lebih pintar di bandingkan dengan keponakan yang lainnya. Terlihat, setelah dia mengatakan hal itu, dia tiba-tiba merenung sambil mengerutkan dahinya, “Jangan-jangan ....” namun, dia menghela napas sambil membuang pikiran buruknya, tetapi pikiran tersrbut terus menghantuinya yang membuat dia tidak bisa membuang, “Biasanya orang yang akan mati akan berkata seperti itu. Tidak, paman merupakan kaisar terkuat, dia pasti sedang bercanda.” Batinnya dengan perasaan gelisah.
.....
Tiga hari telah berlalu, Zeno dan Turse berdandan biasa untuk menuju benua 99 cahaya. Sebelumnya, mereka berdua berpamitan untuk pergi, sekaligus melakukan sebuah salam untuk terakhir kalinya. Zeno merasa ini adalah pertemuan terakhir, karena dia mungkin tidak akan punya waktu untuk kembali.
Zeno dan Turse melambaikan tangannya di atas kapal dengan tenang, setidaknya setelah mendapatkan Izin dari keluarganya, dia tidak dihantui oleh kecemasan.
“Kau juga akan mengucapkan salam perpisahan kepada kaisar teratas?” Turse bertanya, kali ini penampilannya bukan seperti seorang istri kaisar, melainkan pakaian biasa tanpa gaun yang sanga mencolok, dan pantas untuk disebut sebagai seorang tangan kanan.
“Mungkin aku akan mengucapkannya kepada kaisar Lexus saja, sekaligus aku akan berterus terang bahwa dia akan naik menjadi peringkat pertama. Untuk kaisar lainnya, entahlah, kau tahu sendiri bukan bahwa kita tidak pernah bertemu dengan para kaisar teratas kecuali dengan kaisar Lexus?" Zeno mengalungkan tangannya ke leher Turse.
__ADS_1