
Zeno menangkap sambaran petir itu dan membantingnya di atas permukaan tanah. Dia juga langsung menebaskan pedangnya, sehingga memunculkan sebuah tebasan dengan energi cahaya berbentuk bulan sabit. Karena apabila Zeno menebaskan elemen petir, maka itu akan bisa dihentikan dengan mudah oleh dewi petir.
Namun, tebasan elemen cahaya itu menghilang, digantikan oleh ledakan cahaya yang muncul di belakang Zeno. Zeno langsung meloncat ke atas untuk menghindari semua serangan itu. Sayangnya, saat Zeno melompat ke atas, sebuah batu besar muncul di atas kepalanya dan bersiap untuk menjatuhinya.
Zeno menangkap batu besar itu dengan satu tangan dengan cukup mudah, namun dia melihat yang menghadapi semua kloningan Zeno adalah dewa air dan dewa angin seorang diri. Alih-alih membuatnya lebih banyak lagi, Zeno justru menghilangkan semua kloningannya karena mungkin nanti dianggap tidak berguna.
Tanpa ragu, Zeno melemparkan batu tersebut ke tanah dengan kecepatan cahaya. Sehingga mengakibatkan batu tersebut terbakar karena gesekan udara. Bagaikan sebuah meteor yang jatuh, membuat kaisar dewa cahaya menghancurkannya pula dengan ledakan cahaya, tidak hanya menghancurkan batu tersebut, melainkan juga mengarah ke arah Zeno yang berada di atasnya.
Zeno mengeluarkan ledakan cahaya pula, sehingga benturan antara dua cahaya muncul yang mengakibatkan sebuah gelombang energi yang cukup kuat. Bahkan cukup untuk menghancurkan lingkungan disekitar. Keadaan juga benar-benar bagaikan neraka, tumbuhan menjadi kering karena energi panas dari ledakan cahaya yang dihasilkan dan saling berbenturan.
Melihat Zeno yang sedang sibuk, dewi petir tidak menyia-nyiakan waktu, dia memunculkan puluhan sambaran petir untuk menyambar Zeno. Selain itu, dewa angin juga mengeluarkan ****** beliung yang begitu besar. Sehingga mengakibatkan Zeno bagaikan terjebak pada badai yang begitu mengerikan.
Apa yang dilakukan adalah berguling di udara dan menghentikan semuanya, baik sambaran petir dan juga ****** beliung berwarna ungu kehitaman akibat karena debu-debu permukaan tanah. Sayangnya saat mencoba untuk menghindar, dewa tanah sudah berada di sampingnya dalam kondisi melayang sambil memukulkan hammernya ke arah Zeno.
Zeno mengangkat pedangnya dengan cepat, untungnya dia sanggup menahan pukulan dari dewa tanah. Sayangnya pukulan itu terlalu kuat sehingga membuat Zeno terjatuh meskipun masih bisa menahannya dengan Ice Sword.
Di bawah Zeno, secara langsung dewi petir langsung bergerak cepat sambil memegang elemen petir di tangannya seolah hendak menyerang Zeno dalam jarak dekat. Di sisi lain, sebuah tembakan air di sampingnya juga muncul yang membuat Zeno terjebak dari berbagai sisi.
Tidak kehabisan akal, Zeno langsung menghentikan semua serangan itu dengan cukup mudah, serta memutar badannya secara Vertikan untuk menebas dewi petir yang berada dalam dekatnya. Namun, serangan dari para dewa benar-benar brutal dan dikeluarkan tanpa henti sehingga membuat Zeno kesulitan untuk menghentikan semuanya.
__ADS_1
Bahkan saat Zeno mendarat di atas tanah, lari dan menjaga jarak, dewa tanah tidak membiarkan itu semua yang mana dia membuat tanah bergelombang serta gumpalan tanah menyembur keluar di saat Zeno berpijak, alhasil Zeno benar-benar kesulitan untuk berjalan di atas tanah. Alhasil, apa yang dia lakukan adalah berbalik badan dengan tubuhnya yang melayang, menembakkan ledakan cahaya ke arah dewa kaisar yang sedang berkumpul.
Dewa cahaya bisa menghentikan itu semua, sebagai gantinya dia mengembalikan semua ledakan cahaya ke arah Zeno dengan ditambah puluhan bola elemen yang diberikan oleh para kaisar dewa lainnya.
Zeno hanya bisa melompat di udara ke sana kemari di antara permukaan tanah yang hancur yang membuat dirinya kehilangan kefokusan.
Merasa geram, Zeno mengangkat tangannya ke atas, sehingga golem es dan tanah muncul secara bersamaan. Memukulkan kedua tangan mereka oleh para dewa kaisar, tidak hanya itu saja, Zeno menciptakan naga berelemen kayu dengan Zeno yang berdiri di atasnya melesat ke arah para kaisar.
Zeno berteriak dengan penuh semangat di atas kepala naga kayu sambil menebaskan pedangnya. Sehingga kelima tebasan elemental yang berbeda-beda muncul ke arah para dewa kaisar.
Kaisar cahaya bergerak dengan begitu cepat di saat golem es memukulkan tangannya. Tidak hanya itu saja, dia melompat ke atas sambil menebaskan pedangnya. Alhasil kepala golem itu terlepas dari tubuhnya. Hal tersebut juga sama seperti golem tanah yang hancur.
Zeno yang berada di atas kepala naga yang mengarah ke arah mereka semua, tiba-tiba muncul sebuah golem tanah dengan tangan yang meraih tubuh naga tersebut. Zeno tentunya menjadi tidak seimbang dan jatuh dari atas kepala naga. Tidak ingin menyerah, dia langsung bergerak secepat cahaya ke arah dewa air terlebih dahulu.
“Apa kau pernah dipukul dengan kecepatan cahaya?” Tanhya Zeno kepada dewa air.
“Seharusnya aku yang bertanya kepadamu, apakah kau pernah dipukul dengan kecepatan cahaya?” Tanya dewa cahaya yang berada di samping Zeno sambil mendaratkan pukulan yang dilapisi oleh cahaya.
Alih-alih menghindar, tangan Zeno yang sudah hampir dekat dengan kepala kaisar dewa air, dengan begitu cepat, bahkan dalam waktu satu per sekian detik, dia meraih pakaian dewa air dan menariknya secara cepat. Bahkan dewa air belum menyadari bahwa dirinya bergerak dalam kecepatan cahaya, dirinya sudah dipukul oleh dewa cahaya dengan kecepatan cahaya.
__ADS_1
Zeno menahan tubuh dewa air agar tidak terlempar, dia jua tersenyum saat menjadikan dewa air sebagai tameng. Lagipula sebenarnya dia bisa memilih dewa yang lainnya seperti itu, tetapi karena dia membenci anak kaisar dewa air, sehingga Zeno menjadikan dewa air sebagai tamengnya.
Kepala dewa air benar-benar remuk karena dewa cahaya tidak melakukan persiapan apapun. Hal tersebut membuat kaisar dewa cahaya begitu geram sambil mengeluarkan tombak cahaya disekelilingnya dalam jarak yang begitu dekat.
Sesaat sebelum terjadinya ledakan besar, dewa petir sudah bergerak secepat petir untuk menarik dewa air. Tidak hanya itu saja, dewa tanah juga melapisi tubuh Zeno menggunakan elemen tanahnya, sehingga dirinya tidak bisa bergerak sama sekali.
Zeno berdecak kesal, namun setelah itu dia tersenyum lebar bersamaan dengan semua tombak cahaya itu mengarah kepadanya.
Alih-alih ke arah Zeno, tombak cahaya justru berbalik ke arah dewa cahaya dan para dewa lainnya. Yang membuat mereka menerima ledakan tersebut. Akan tetapi, Zeno juga terkena dampak dari ledakan tersebut yang membuatnya terlempar dan berguling-guling, dan ketika saat dia langsung berdiri, dia langsung menebaskan pedangnya secara berulang kali.
“Benar-benar, apa mereka tidak berpikir bahwa aku juga bisa mengendalikan elemen cahaya pula? Sehingga saat mereka mengeluarkan tombak cahaya, aku bisa membalikkan hal tersebut?” Kata Zeno sambil membersihkan darah yang menetes dari pipinya karena tergores oleh pecahan batu yang baru saja terjadi.
“Aku harap itu bisa membuat mereka kehilangan nyawa.” Batin Zeno.
“Belum lagi! Roh dewa matahari, Amaterasu akan membunuhmu sekarang juga."
*Amaterasu Ilustration. (Sc: Deviantart*com, by GENZOMAN*)
__ADS_1