Penguasa 5 Elemental 2 : To The Throne Of God

Penguasa 5 Elemental 2 : To The Throne Of God
Arah timur


__ADS_3

Tentunya itu membuat yang lainnya merasa kebingungan, ada apa raja memanggil kepala desa mereka? berbeda dengan Edren dan Yord, mereka semua justru mungkin tidak merasa heran mengapa raja memanggil Zeno.


Jika bukan karena Zeno memiliki elemen cahaya yang bisa bergerak jauh dalam hitungan detik, mungkin bawahan Zeno yang lainnya akan menganggap bahwa kerajaan sudah gila karena mengutus untuk datang dalam waktu kurang dari satu harus sudah menghadap ke kerajaan.


Selain itu, mereka juga menghela napas lega saat kerajaan tidak jadi menjatuhkan sanksi, padahal mereka sudah pesimis terlebih dahulu dan tidak tahu bagaimana nasib diri mereka sendiri di saat kerajaan menjatuhkan sanksi karena membunuh para pendatang. Yaah, selain itu mereka juga menyiapkan beberapa alasan mengapa kepala desa itu membunuh mereka, meskipun pihak kerajaan tidak akan yakin karena laporan melenceng dari pendatang yang begitu banyak sehingga memperkuat laporan.


Untung saja kerajaan masih berbaik hati, mungkin karena penjelasan Zeno? entahlah, mereka sendiri juga tidak tahu mengapa kerajaan tidak jadi memberikan sanksi begitu saja. Tapi masalahnya, mereka prihatin di saat kerajaan justru memanggil Zeno untuk datang langsung menuju kerajaan. Apakah memang sanksi diberikan kepada Zeno seorang saja sebagai kepala desa? Dan ucapan Zeno barusan, mengenai desa tidak jadi diberikan sanksi itu memang dilakukan agar desa tidak terlalu prihatin, namun sebagai gantinya, Zeno sendiri yang menanggung semuanya.


.....


Saat ini Zeno berada di atas langit, memperhatikan semua wilayah yang berada di pandangannya saat ini guna mencari, di mana kerajaan Fang itu berdiri. Masalahnya, dia sendiri lupa untuk tidak bertanya, di mana kerajaan Fang? Dan Noi itu tadi juga langsung beranjak pergi tanpa memberitahukan arah kerajaan Fang.


Tetapi yang pasti, tidak mungkin kerajaan itu berada di utara desa, karena merupakan hutan yang dipenuhi oleh elemental beast. Selain itu, wilayah barat juga merupakan sebuah pegunungan yang tampak tinggi dengan ujungnya yang berwarna putih atau lebih tepatnya salju puncak.


Dan, saat memperhatikan wilayah timur, mengikuti jalan setapak yang berasal di dekat desa, Zeno memperhatikan seperti sebuah wilayah yang jauh lebih ramai, seperti sebuah ibukota, tidak hanya itu saja, Zeno juga melihat istana kerajaan yang berdiri di sana. Jauh dari pandangan Zeno, berjalan kaki saja tidak cukup membutuhkan waktu satu hari, mungkin beda lagi apabila menggunakan sebuah kuda.

__ADS_1


Zeno kemudian menghela napas sambil mengambil ancang-ancang, kemudian dengan gerakan secepat cahaya dia bergerak ke arah timur hingga meninggalkan jejak cahaya yang begitu menyilaukan mata.


“Aku sudah sampai di ibukota kerajaan Fang.” Dan yang benar saja, tidak kurang dari beberapa detik, Zeno sudah berada di langit ibukota kerajaan Fang dengan memperhatikan wilayah ini secara keseluruhan.


Istana kerajaan yang berdiri dengan begitu megah, tepat lebih dekat di bawah Zeno, dia juga melirik ke belakang, tampaknya dia telah melakukan sebuah kesalahan besar, yaitu tidak mengantri memasuki sebuah gerbang ibukota demi mendapatkan sebuah Izin.


Tidak ingin membuat masalah, atau lebih tepatnya dirinya diketahui masuk ke dalam ibukota dengan cara licik seperti itu, Zeno langsung turun ke daratan tanapa ada seseorang yang tahu, lebih tepatnya dia turun di tempat yang sepi. Karena akan menjadi sebuah masalah apabila Zeno turun di tempat keramaian.


“Masih ada waktu yang begitu banyak, sebaiknya aku mengisi perutku terlebih dahulu.” Zeno memutuskan, pasalnya semenjak pagi tadi, hingga menjelang siang seperti ini dia belum mengisi perutnya sama sekali. Memang, Zera sudah memasaknya pagi tadi tanpa perintah Zeno sekalipun, tetapi Zeno tampak kurang bernapsu apabila selalu sering memakan masakan Zera. Karena tampaknya tidak etis apabila selalu memakan masakan pribadi yang bukan dari istrinya.


Sisi buruknya, kedai merupakan tempat yang mana Zeno selalu mendapatkan sebuah masalah. Memang, dia juga tidak terlalu pusing apabila menyelesaikan masalah, tetapi mendapatkan masalah itulah yang sangat menyebalkan baginya. Sudah beberapa kali, dia masuk ke dalam sebuah kedai, dan berujung pada masalah seperti pengganggu.


Apalagi dirinya kali ini tidak terlihat peringkat sama sekali, yang mana sudah sepenuhnya dirinya mendapatkan sebuah masalah.


“Sialan, apakah aku tidak bisa menunjukkan peringkatku?” Decak kesal Zeno sambil keluar dari tempat sepi, mencari sebuah kedai yang terlihat tidak sepi ataupun tidak terlalu ramai. “Ini akan menjadi sebuah masalah besar, mengingat bahwa orang-orang di alam sini melakukan diskriminasi yang begitu berat kepada orang yang tidak memiliki peringkat, atau elemental.” Sambungnya saat dia juga melihat tatapan-tatapan tajam dari orang-orang disekitar, sehingga Zeno sudah tahu apa pikiran mereka semua.

__ADS_1


Zeno hanya memasang wajah polos, dan terlihat lemah, hingga tidak menunjukkan aura keberaniannya. Masalahnya, apabila dirinya tidak terlihat peringkat, dan dirinya seolah mengangkat kepalanya, itu akan membuat orang-orang disekitar menganggap Zeno adalah seseorang yang sok berani.


Pada akhirnya, Zeno telah menemukan sebuah kedai yang tidak sepi namun juga tidak terlalu ramai, wajah yang terlihat begitu lemah memberanikan diri untuk masuk dan akan menerima masalah yang ada, lagipula jika dirinya bisa melawan dan menunjukkan elemen, itu tidak akan menjadi sebuah masalah bukan?


“Nona, bisakah aku memesan makanan yang sering dimakan oleh orang-orang di sini?” Pesan Zeno kepada penjaga kasir yang ada di hadapannya.


Senyuman Zeno serasa langsung menciut, setelah dia memperhatikan bahwa nona penjaga kasir menatapnya dengan tidak biasa, seolah dia kurang suka dengan orang-orang yang tidak memiliki peringkat sama sekali. Sehingga pelayanan yan Zeno rasakan juga kurang bagus.


“Duduklah sebentar, tapi ambil sendiri pesananmu nanti di meja ini. Jika tidak segera kau ambil, aku akan membuangnya.” Kata Nona itu dengan sangat sinis.


“Aku paham.” Kata Zeno merasa keberatan. Kemudian, dia melanjutkan ucapannya sendiri di dalam hati, “Dewa pemula tahap ketiga, merasa sok merendahkan orang yang tidak tampak peringkatnya?”


Dengan hati yang kesal, Zeno duduk di sebuah kursi dan meja yang kosong. Dia juga melihat, tatapan orang-orang juga sangat sinis memperhatikannya, seolah pikiran mereka sudah diracuni bahwa orang yang tidak memiliki peringkat, sama saja tidak memiliki elemen tidak jauh lebih buruk dari sampah.


Tentunya Zeno hanya diam saja tanpa menimbulkan masalah apapun, duduk sambil menatap nona pelayan itu yang berlaku tidak adil. Bagaimana tidak? Dia melayani dengan baik dan ramah kepada seseorang yang mengenakan pakaian bangasawan, dengan peringkat tinggi, namun peringkatnya masih berada di bawah Zeno. Benar, berada di bawah peringkat Zeno.

__ADS_1


__ADS_2