Penguasa 5 Elemental 2 : To The Throne Of God

Penguasa 5 Elemental 2 : To The Throne Of God
Makam


__ADS_3

Perjalanan yang menyenangkan, hanya butuh empat hari agar mereka sampai di pelabuhan negara air. Tentunya, perjalan tersebut juga tidak terhambat masalah apapun yang membuat mereka kesulitan untuk menuju ke sini. 


Selain itu, hal yang mengejutkan lagi, tepat saat kapal itu berlabuh. Zeno langsung menggendong Turse dan bergerak secepat cahaya menuju istana kekaisaran. Lebih tepatnya langsung berada di makam pribadi keluarga Fang yang ada di belakang istana kekaisaran. 


Hal itu sering dia lakukan apabila berkunjung ke rumah asalnya agar para penduduk tidak terlalu heboh yang membuat Zeno kesulitan untuk melewati jalan. Karena sudah menjadi rahasia umum bagi penduduk negara air, bahwa adik kaisar mereka merupakan seorang kaisar terkuat. 


"Semoga kalian bertiga bisa tenang di kehidupan selanjutnya. Ayah, ibu, aku berharap kalian masih bersama-sama." Zeno memejamkan matanya di depan sebuah makam yang dihias dengan sangat cantik, mengeluarkan sebuah harapan kepada ketiga anggota keluarga dekatnya yang sudah meninggal sepuluh tahun yang lalu. 


Cukup lama, ah tidak, tapi benar-benar sangat lama, seolah Zeno belum bisa melupakan ibunya. Rasanya, dia sedikit menangis, meneteskan air mata mengingat kematian ibunya. Bahkan, kali ini dia juga berusaha membendung air mata yang akan membasahi pipinya.


"Bersedih boleh, tapi aku juga berharap bahwa kau harus menerima kenyataan itu. Ini sudah sepuluh tahun, namun engkau merasa bahwa kematian ayah ibu mertua, dan kakek seperti kemarin." Turse menaruh tangannya di pundak Zeno, menyandarkan kepalanya yang tampak terlihat menyedihkan, karena dia sendiri juga teringat ayah dan ibundanya yang sudah tiada, jauh lebih lama dibandingkan kematian orang tua Zeno. 


Sebagai istri, mencoba untuk menghibur seorang suami adalah sebuah kewajiban, membendung air mata sang suami juga tugas Turse. Maka, dia juga berjanji untuk menjadi seorang istri, sekaligus sosok ibu bagi Zeno itu sendiri. 


Zeno membuka matanya, dia sedikit tersenyum di saat Turs ada di dekatnya. Apa yang dia lakukan adalah mengalungkan tangannya di leher Turs, hingga merasakan sebuah kehangatan cinta yang dia harapkan.


"Bibi Turse!"


Turse dan Zeno, seketika mereka berdua langsung berbalik badan dan menjauhkan diri mereka masing-masing setelah melekat. Yaah, tampaknya wajah Zeno sedikit suram di saat ada yang mengganggunya. Tetapi mau bagaimana lagi, seorang anak kecil berumur 7 tahun berlari sambil membawa busur panah.

__ADS_1


Anak kecil itu memeluk kaki Turse dengan sangat erat. Memperhatikan sebuah senyuman yang sangat manis seolah penuh kebahagiaan.


Begitupun dengan Turs, dia juga tersenyum sambil membelai rambut anak itu dengan sangat lembut. Dan, beberapa detik kemudian, Turse berjongkok di hadapan anak itu dan menyentuh hidungnya, "Tampaknya Zhee si kaisar muda yang ku kenal lebih tinggi dibandingkan beberapa bulan yang lalu." 


"Tentunya, kau tahu bibi, aku hanya ingin pamer bahwa aku bisa memanah sebuah apel yang jatuh dari pohonnya. Bukankah itu sesuatu yang dibanggakan?" Fang Zhee, itulah nama anak itu. Dia berkata demikian sambil mengangkat busur panah yang terbuat dari kayu biasa yang dihubungkan dengan sebuah tali. Terlihat dari tampaknya, dia juga sedikit pamer atas keberhasilan yang dia ceritakan kepada Turse.


"Benarkah?" Turse kembali tersenyum, dia bertepuk tangan seolah senang dan memuki Zhee atas keberhasilannya, "Keponakan bibi memang hebat. Tentunya kaisar muda harus bisa memiliki sebuah kemampuan seperti itu."


"Benar, suatu saat nanti aku akan menjadi seorang kaisar dan mengalahkan paman Zeno. Yaah, aku akan mengalahkan paman Zeno hanya dengan sebuah anak panah." Teriak anak itu dengan cukup keras.


Bukannya marah, Zeno justru juga berjongkok di hadapan anak berusia 7 tahun itu sambil tersenyum. "Coba saja jika bisa, tapi paman yakin bahwa kau bisa menjadi seorang kaisar terhebat. Asal kau tidak menangis saat digendong paman."


"Bibi, paman jahat! Dia dulu pernah menggendongku dan berlari secepat cahaya mengelilingi benua negara." Zhee bersembunyi di belakang Turse, wajahnya sedikit ketakutan saat mendengar bahwa Zeno akan menggendongnya lagi.


Akan tetapi, saat hendak pergi, Turse dihadapan sekarang pria dengan kumis tipis yang mengenakan pakaian kekaisaran. Pria tersebut tampak dewasa, tidak, memang dia adalah seorang pria dewasa yang berkepala tiga. Dia juga didampingi seorang wanita yang sangat cantik berdiri di samping pria tersebut.


"Zhee, paman dan bibimu masih berada di makam nenekmu, jadi jangan mengganggunya. Jika kau ingin pamer, maka bisa menunggu mereka masuk ke dalam istana kekaisaran." Fang Tan berkata sambil melemparkan senyuman.


"Selain itu, Paman dan bibimu baru saja datang Zhee, mereka pasti lelah." Kata wanita yang ada di samping Fang Tan yang tidak lain merupakan istrinya.

__ADS_1


Zhee hanya menjulurkan lidahnya sebentar ke arah Tan dan wanita yang ada di sebelahnya di saat digendong Turse. "Aku tidak peduli, ayah, ibu." 


Tampaknya, dua tahun sebelum Zeno menikahi Turs, Fang Tan tampak hampir gila saat adiknya yang berumur 16 tahun hendak menikahi Turs, namun masih menunggu ketika umur 18 tahun. Hal itu, tentu saja membuat Fang Tan merasa diremehkan, bahkan dengan adik kecilnya dia merasa kalah.


Tidak mau kalah, setelah mendengar berita itu, tidak disangka dia mengetahui bahwa salah satu keluarga Fang yang berasal dari keluarga cabang menyukai Fang Tan secara diam-diam. Fang Tan tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan itu, dia langsung menikah dengan wanita yang bernama Fang Ive yang kini bertahan hingga melahirkan seorang anak yaitu Zhee. 


"Baiklah, tidak bagus mengobrol di dekat makam. Zhee, kau tahu, kita dilarang seperti itu apalagi kepada orang tuamu. Jika kau melakukan itu lagi, maka aku akan membawamu berkeliling dunia dalam beberapa detik." Ancam Zeno dengan menatap Zhee yang ada di gendongan Turse.


"Ah tidaak!" Zhee memberontak dari gendongan Turse, dia langsung meloncat dan pergi menjauh dari mereka karena benar-benar takut dengan Zeno.


Hal itu tentu saja dua pasang pasutri itu hanya bisa menahan tawa melihat anak tersebut yang berlagak ketakutan. Yaah memang, mereka juga tahu bahwa anak kecil benar-benar menggemaskan. Entahlah, Zeno atau Fang Tan juga tidak tahu bagaimana besar nanti anak yang tampak lucu tersebut.


"Mari, lewat sini kaisar." Fang Tan mempersilahkan, membukakan jalan kepada Zeno.


"Kau jangan terlalu formal kakak, rasanya sangat tidak enak." Kata Zeno.


"Bagaimana lagi, kau merupakan kaisar teratas. Jadi, aku harus lebih formal kepadamu." Tutur Tan menyangkal apa yang Zeno ucapkan.


Zeno hanya menggelengkan kepala dan merangkul kakaknya. Ini mungkin adalah sebuah pertemuan setelah beberapa bulan dia tidak berkunjung. Sekaligus, mungkin ini adalah sebuah pertemuan terakhir baginya. Namun, Zeno sama sekali belum memberitahu bahwa Zeno akan pergi dari dunia ini, meninggalkan keluarga terdekatnya dalam waktu yang lama, atau bisa jadi mungkin selamanya.

__ADS_1


Akhirnya, mereka berempat berjalan dan masuk ke dalam kekaisaran. 


"Kau tahu? Fang Ama akan memiliki adik lagi." Fang Tan memberitahu adik dan adik iparnya, bahwa mereka mungkin akan memiliki seorang keponakan, lagi.


__ADS_2