
Zeno tersenyum manis menatap Turse saat penutup wajahnya dibuka olehnya. Dia terlihat sangat senang saat melihat pipi Turse memerah seolah malu setelah tahu siapa yang dia lawan kali ini.
"Bagaimana kejutanku? Ini benar-benar sangat hebat." Kata Zeno kepada Turse yang tampaknya tidak bisa berkata apa-apa.
"Aku menyerah!" Teriak Zeno dalam keadaan terbaring, kemudian dia melepaskan kaki yang telah dibekukan oleh Turse membuatnya jatuh seperti ini. Kemudian saat dia mencoba untuk berdiri, dia membisikkan sesuatu kepada Turse, "Temui aku di belakang tempat pertandingan setelah kau mendapatkan hadiah mu, di sana merupakan tempat yang sepi." Katanya sambil beranjak pergi.
Seketika Turse menjadi salah tingkah, dia tersenyum lega dan langsung berdiri untuk menghampiri juri untuk mendapatkan hadiahnya. Tergesa-gesa bukan karena ingin hadiah tersebut, melainkan ingin menghampiri Zeno yang menunggunya di belakang arena.
Seluruh penonton bersorak, bertepuk tangan dan memuji Turse. Bahkan ada juga yang memuji secara kasar sehingga membuat Turse sendiri merasa sangat jijik.
Para penonton itu bernapas lega, setidaknya mereka tidak lagi terdiam saat tahu bahwa yang mereka olok-olok atau Zeno sendiri tidak mencapai kemenangan. Sehingga, mereka masih terus menerus mengolok-olok Zeno yang tengah pergi meninggalkan arena pertempuran.
"Nona, selamat karena telah memenangkan pertandingan ini. Aku hampir tidak ikhlas saat menyerahkan kristal ini kepada sampah itu tadi." Kata seorang juri dengan perawakan cukup tua memberikan kristal elemen yang dijanjikan kepada Turse.
Jika mau, sebenarnya Turse ingin menghajar orang tua tersebut ditempat karena menyebut suaminya adalah seorang sampah. Hanya karena dia tidak memiliki waktu, dia tidak berminat untuk menghajar orang tersebut, apalagi Zeno tengah menunggunya yang membuatnya tidak bisa menunggu lama.
Kristal dengan lima warna yang berbeda-beda di sisinya diberikan kepada Turse sebagai sebuah hadiah. Turse cukup senang, tapi dia masih senang lagi saat ternyata Zeno memberikan sebuah kejutan yang tak terduga.
"Terimakasih tuan. Aku pamit undur diri, karena ada sebuah kepentingan yang tak bisa dibatalkan." Kata Turse sedikit menundukkan kepalanya dengan sangat terpaksa.
"Silahkan." Kata orang itu mempersilahkan.
__ADS_1
Tanpa ragu, Turse langsung berlari dengan membawa kristal hadiahnya. Orang-orang banyak yang iri dengan hadiah tersebut. Namun, Turse tidak menghiraukannya dan terus berlari ke tempat yang Zeno bicarakanlah, yaitu belakang arena pertarungan yang katanya sepi.
Dan seperti apa yang dikatakan oleh Zeno, Turse akhirnya sampai, dia melihat Zeno tanpa jubah seperti tadi menatapnya dengan penuh senyuman. Turse juga tersenyum, ini sudah hampir setengah tahun dirinya berpisah. Menjatuhkan kristalnya, dan memilih untuk berlari sambil membuka lengannya seolah hendak memeluk Zeno erat-erat.
Zeno masih diam ditempat, dia juga membuka pelukannya seolah membiarkan Turse memeluk dada bidangnya.
Tampaknya, Turse terlalu cepat, sehingga membuat Zeno hampir tidak bisa menjaga keseimbangan. Untung saja, dia sedikit memutarkan badannya sekaligus benar-benar memeluk istrinya, Turse.
"Une? Aku tidak bermimpi kan?" Turse memastikan, dia terus-menerus menggosok pelipis di dada bidang milik Zeno untuk memastikan bahwa ini merupakan hal yang nyata.
"Kau bercanda? Tentu saja ini adalah hal yang nyata." Kata Zeno.
Turse kemudian menarik kepalanya, tetapi masih dalam keadaan memeluk atau dipeluk Zeno. Dia menatap suaminya dengan sedih sambil berkata, "Maafkan aku karena aku telah melukai bagian tubuhmu. Ini semua juga salahmu, mengapa kau tidak bertarung menggunakan elemen?"
Turse kemudian mengingat kejadian itu, yaah tentu saja dia benar-benar mengingatnya. Namun, saat dia ingin berkata sesuatu, tiba-tiba bibirnya disambar bibir Zeno yang membuatnya langsung terkejut.
Alih-alih menolak, Turse justru menyentuh wajah Zeno menggunakan kedua tangannya dan membalas ciuman bibirnya. Keduanya menjadi saling bertukar saliva sambil memejamkan mata mereka masing-masing.
"Ekhmm!"
Mendengar hal itu, Zeno secara refleks langsung membuka matanya dan langsung mendorong tubuh Turse ke belakang. Dan, siapa yang menyangka El dan Rosy datang sambil memegang kristal lima elemen yang dijatuhkan oleh Turse tadi.
__ADS_1
"Ada apa pangeran? Tuan putri?" Tanya Zeno mengusap bibirnya, selain itu dia juga sangat geram, karena menganggap mereka pengganggu.
"Tunggu, Une mengenalnya?" Wajah Turse begitu menahan emosi saat mendengarnya, kemudian dia menatap El dan Rosy dengan penuh amarah, "Jadi kalian membohongiku? Ternyata kalian benar-benar mengenal suamiku, Zeno?"
"Tidak, maafkan aku! Bawahanmu yang wanita itu tadi yang mengancamku. Masalahnya, Zeno ingin membuat kejutan kepadamu." Sangkal El dengan sedikit takut.
"Ternyata kau sudah tahu bahwa aku sudah beristri?" Tanya Zeno dengan wajah datar, "Jika memang begitu, maka syukurlah." Sambungnya.
Seketika, ketiga elemen muncul dihadapan El dan Rosy. Yang membuat keduanya sedikit kaget sambil meloncat ke belakang, masalahnya ketiga elemen itu membentuk sosok dewa yang langsung bergerak cepat sambil mendorong mereka berdua dengan tatapan sadis. "Siapa yang mengizinkan kalian mengganggu tuan kami? Kalian benar-benar merusak sebuah keromantisan pasutri yang merupakan tuan kami." Kata Flamon dengan matanya yang sedikit berapi sambil mengangkat pakaian Rosy.
"Kalian tidak punya hak untuk datang mengganggunya dan mengajak bicara. Sebagai seorang anak raja seharusnya kalian tahu sopan santun yang ada." Skarlos juga berkata demikian, dia juga mengangkat baju El dengan sangat tinggi yang membuatnya menjatuhkan kristal lima warna milik Turse.
Kiba mengambilnya, dia menatap sinis mereka berdua karena telah dianggap sebagai parasit antara Turse dan Zeno yang hendak melepaskan rindu.
"Sudahlah, lepaskan mereka berdua." Kata Zeno dengan suara yang datar.
Skarlos dan Flamon menjatuhkan kedua bangsawan tersebut. Sehingga membuat keduanya menelan ludah secara kasar karena ternyata Zeno memiliki bawahan yang sangat mengerikan. Tidak hanya bawahannya saja, melainkan istri Zeno juga sangat mengerikan.
"Zeno, apa kau tidak ingin tinggal di kerajaan terlebih dahulu? Raja pasti senang saat tahu bahwa kau ternyata sudah memiliki seorang istri. Selain itu, istrimu pasti senang saat tinggal di kerajaan, daripada di desa yang kau pimpin." Eldian memawarkan.
Alih-alih setuju, Zeno justru menggenggam tangan Turse. Dia kemudian menjawab apa yang dikatakan oleh El, "Disana banyak pengganggu, selain itu istriku benar-benar muak tinggal di istana kerajaan."
__ADS_1
"Kiba, Skarlos, dan Flamon. Pulanglah menuju wilayah barat, di desa neo Mazzarri. Tentunya, berjalanlah sendiri." Sambungnya disusul mereka berdua menghilang dari pandangan semuanya.
Ketiga beast Zeno langsung pergi tanpa memperdulikan kedua anak raja. Hal itu tentunya membuat Rosy menjadi geram karena menganggap tidak memberikan hormat sama sekali. Tetapi, El menahan Rosy untuk tidak emosi, mengingat bahwa bawahan Zeno pastinya hanya akan menghormati Zeno dan istrinya.