Penguasa 5 Elemental 2 : To The Throne Of God

Penguasa 5 Elemental 2 : To The Throne Of God
Di luar kendali


__ADS_3

Turse membisu sambil menghentikan elemental kegelapannya, kemudian dirinya langsung bergerak cepat ke arah Zeno dengan api yang berkobar di tangannya. Dengan begitu gesit, dia terus menerus melancarkan pukulan telak ke arah Zeno, sehingga benar-benar membuat Zeno kesulitan, apalagi dirinya tidak ingin melawan Turse.


“Elemen Yin nya bergejolak setelah mendapatkan elemen kegelapan. Buat elemen tersebut menjadi netral seperti semula. Dengan cara menyatukan dada kalian dan mengecupnya.”


Seketika Zeno bisa mendengar suara dewi Luna di pikirannya, hal tersebut membuat Zeno tersenyum lega dan ingin langsung melakukan hal tersebut. Tetapi bagaimana? Turse benar-benar mengamuk yang membuatnya sangat kesulitan.


Zeno mengangkat tangannya perlahan, sehingga kaki Turse membeku yang membuatnya tidak bisa bergerak. Hal tersebut membuat Turse semakin murka dan langsung melelehkan es tersebut menggunakan elemen api nya.


Tapi saat Turse berfokus seperti itu, Zeno langsung mendekapnya, dada nya bersentuhan sehingga merasakan detak jantung masing-masing. Setelah itu, tidak peduli apaah diperhatikan oleh dewa lainnya, Zeno langsung mengecup bibir Turse dengan sangat lembut dan begitu lama.


Para pilar yang melihat itu langsung mengepung Turse dan Zeno dan menghadap seperti memunggungi mereka berdua, berharap tidak ada dewa yang melihat sesuatu seperti ini. Untung saja, Zeno yang melakukan hal tersebut, membuat Turse tidak melawan, mata yang hitamnya perlahan menjadi normal.


Meskipun begitu, Turse belum benar-benar sadar, dan langsung pingsan. Untung saja, Zeno menangkapnya sehingga Turse tidak jatuh. Tidak ingin menunggu lama, Zeno langsung menggendong Turse dan membawanya pergi untuk dibaringkan di kamar istana nirwana untuknya.


“Panggilkan tabib untuk istri tuan!” Teriak Leght memerintahkan beberapa prajurit dewa yang masih berdiri di tempat. Dan sebagian dari pasukan juga membakar para mayat iblis yang dianggap telah mengotori tempat ini.


Tepat di atas kasur, Turse terbangun dengan cepat, tetapi tubuhnya seperti ada sensasi yang begitu terbakar. Kemudian, dia mengulurkan tangannya dan kini dapat mengeluarkan elemen api.


Zeno ada yang ada di dekat Turse tersenyum lega, kemudian dia langsung memeluk Turse karena prosesi penyegelan tidak terjadi apa-apa. “Untunglah kau tidak kenapa-kenapa, aku benar-benar mengkhawatirkanmu.”


“Apa yang terjadi?” Turse mencoba untuk bangun dan menanyakan, pasalnya mengapa dia tiba-tiba berada di atas tempat tidur? dia merasa tadi di medan usai pertempuran dengan Zeno yang berusaha untuk menyegel elemen tersebut.


"Kau kehilangan kesadaran sehingga mengamuk. Tetapi tenang saja, aku sudah menyelesaikannya." Ucap Zeno.

__ADS_1


"Aku menyerangmu?" Turse tampak tidak tenang.


"Tidak, hanya sebentar dan aku melakukan sesuatu untuk menetralkan energi Yin di tubuhmu." Kata Zeno dengan sedikit malu.


"Akhhh tubuhku." Turse mendesah dan merasakan panas di tubuhnya. Bahkan, tubuhnya tiba-tiba memerah seperti terkena panas.


Melihat hal itu, Zeno langsung berwajah serius sambil menyentuh dada Turse. Mendinginkan elemental seed apinya yang tampaknya bergejolak seolah membakar tubuh Turse.


Kemudian, Zeno mulai bercerita, untuk menenangkan Turse yang tampaknya belum bisa beradaptasi dengan elemen api di tubuhnya, dengan menjelaskan semua bahwa dirinya adalah anak dari dewi Luna. 


Tidak hanya itu saja, dirinya juga menjelaskan mengapa dirinya bisa disebut anak oleh dewi Luna, yang mana Zeno adalah pecahan dari daging dewi Luna sehingga membentuk jiwa yang masih bayi.


Serta terdapat dua jiwa Zeno yang berbeda, yaitu Zeno yang hidup sebelum kematiannya melawan Akram, serta Zeno yang mengendalikan tubuh Zeno yang dilahirkan setelah kepergian jiwa Zeno karena sebuah kematian.


"Itulah mengapa dewi Luna tidak menyegel elemen api dan kegelapan di tubuhmu Une. Karena kau merupakan anak dewi Luna, yang mana dua elemen tersebut tidak akan bisa dikembalikan lagi kepada dirinya dan keturunannya." Kata Turse mengerti.


Zeno kemudian memegang kedua telapak tangan Turse, kemudian dengan merasa bersalah, dirinya berkata, "Maafkan aku karena kau dijadikan sebuah alat yang digunakan untuk menampung dua elemen tersebut. Selain itu, maafkan aku iuga mengenai keegoisan ibuku untuk tidak memiliki anak sebelum menyegel elemen tersebut. Karena, dia ingin agar keturunan kita memiliki elemental yang lengkap seperti dirinya."


Turse tersenyum, dia merasa itu bukanlah sebuah masalah, dia juga menerimanya dengan sangat baik, "Aku merasa itu adalah sebuah anugrah, bayangkan saja, anak kita akan memiliki delapan elemental yang berbeda-beda karena faktor keturunan."


"Kau benar. Kini tinggal langkah terakhir, yaitu mengontrak Suzaku." Ucap Zeno.


“Flamon, dan kalian bertiga, keluarlah.” Pinta Zeno.

__ADS_1


Flamon keluar dari cincin Zeno, begitupun dengan ketiga beastnya yang tampaknya benar-benar begitu kelelahan karena habis bertarung besar dengan Yashimaru. Apalagi, ketiga beast Zeno merasakan dengan begitu jelas, bahwa mereka baru saja meledakkan sebuah planet dan bintang yang ukurannya jutaan kali lipat


“Flamon, sekarang waktunya.” Kata Zeno turun dari tempat tidurnya, kemudian dia menggapai tangan Turse dan memintanya untuk turun pula. “Apakah kau bersiap? Mungkin kau pernah merasakannya, dan tidak akan terjadi apa-apa.”


“Mengontrak beast memang bukanlah masalah. Tetapi aku berdebar kencang saat beast yang ku kontrak adalah beast legenda.” Kata Turse.


“Aku akan menjaga di luar tuan.” Kata Kiba dalam wujud dewanya keluar untuk menjaga kamar ini, diikuti oleh Azure dan Skarlos yang mengikuti Kiba.


Flamon dalam wujud dewanya, dia langsung bertekuk lutut di depan Turse. Hingga pada akhirnya, upacara singkat mengontrak beast dilakukan oleh Turse dengan Flamon yang merupakan beast arah mata angin selatan yang memiliki nama asli Suzaku sang Vermillion.


.....


“Beast arah mata angin, bagaimana tuan dan nyonya?” Tanya Leght dan para pilar lainnya. Namun, tatapan mereka begitu terkejut saat ketiga beast arah mata angin benar-benar berwajah pucat seolah baru saja mengalami pertarungan yang besar.


Tidak salah, mengingat bahwa ketiga beast dewa tertinggi pasti mengikuti pertarungan tuannya dengan Yashimaru, sehingga pastinya mereka mengalami kelelahan yang begitu berat.


“Tuan dan Nyonya tidak masalah, mereka sedang mengontrak Suzaku.” Kata Kiba dengan suara yang terlihat begitu lelah.


“Kenapa dengan kalian?” Dewa kehidupan, Viona mengerutkan dahinya.


Skarloas mengatur napas, “Tuan benar-benar brutal, bayangkan saja, ketika dia bertarung dengan Yashimaru, dia menghancurkan sebuah planet, melemparkan sebuah bintang ke arah Yashimaru, yang mana kami bergabung dengannya, sehingga juga menggunakan kekuatan fisik kami pula.”


Semua dewa yang ada di tempat tersebut saling memandang, dia merasa dulu dewi Luna melawan Yashimaru tidak sampai menghancurkan sebuah planet dan bintang. Tetapi mengapa anaknya jauh lebih mengerikan seperti itu?

__ADS_1


__ADS_2