Penguasa 5 Elemental 2 : To The Throne Of God

Penguasa 5 Elemental 2 : To The Throne Of God
Penjaga arah mata angin selatan


__ADS_3

“Benarkah?” Turse tampak kegirangan, apa yang dia lakukan adalah beranjak dari tempatnya dan mengikuti Zeno keluar dari ruangan makan.


Sedangkan Selena dan Aure yang sebelumnya menundukkan kepalanya karena bersedih, mereka berdua saling menatap karena merasa memikirkan hal yang sama satu sama lain, Hadiah apa yang diberikan untuk nyonya? Itulah yang dipikirkan oleh mereka berdua. Akan tetapi, setelah tidak lama mereka berpikir, mereka sedikit menebak bahwa hadiah dari seorang kaisar untuk seorang istri tentunya merupakan sesuatu yang sangat besar, atau mungkin mewah, sehingga istri kaisar akan selalu menjadi sangat nyaman.


....


Di halaman belakang istana, Kiba yang menggigit Skarlos yang ukurannya sangat kecil datang dengan sangat senang, tidak, dia hanya senang karena kembali ke benua ini, bukan karena membawa Skarlos. Tampaknya, saat menggigit Skarlos, taringnya jauh lebih tajam dari beberapa tahun yang lalu, dengan corak harimau putih yang sangat khas terlihat begitu tajam apabila dilihat.


“Setidaknya terbanglah sendiri kura-kura.” Gerutu Kiba dengan sangat tidak jelas, sambil melemparkan kura-kura di permukaan tanah beku. Masalahnya, kenapa Kiba menggigit Skarlos, karena semenjak mereka bertiga ditugaskan oleh Zeno, Skarlos sendiri yang tidak dapat untuk terbang untuk melakukan tugas, sehingga dia terpaksa harus dibawa oleh Kiba seperti itu.


Skarlos kembali membesarkan tubuhnya seperti sedia kala, lebih tepatnya seperti seukuran Kiba atau Azure yang ada di dekatnya. Dengan tatapan yang sinis setelah dia keluar dari tempurungnya, kura-kura berwujud seperti pulau kecil itu menjawab, “Apa kau ingin melawan titah tuan kucing besar?”


Kiba hanya menghela napas, kemudian dia menatap Azure yang sama sekali tidak banyak berbicara yang juga perlahan turun menuju permukaan tanah. Dia juga melihat, bahwa wajah Azure terlihat sedikit kelelahan seolah baru saja melakukan pertarungan yang besar.


Tentu saja, mereka bertiga tidak sendirian. Seekor burung yang bulunya berapi terbang menghiasi langit istana kekaisaran dengan sangat cantik. Burung tersebut perlahan juga turun di antara para beast lainnya dengan sedikit mengangkat kepalanya seolah-olah sedang menyombongkan diri.


Bersamaan dengan itu, Zeno datang dengan senyumannya yang tipis, memperhatikan burung vermillion yang tampaknya sedikit sangat angkuh yang melambangkan emosi sebuah elemen yang dimilikinya, yaitu elemen api. Bahkan, burung itu tidak berlutut seperti tiga beast lainnya yang langsung menekuk lutut mereka saat kedatangan Zeno.

__ADS_1


“Suatu kehormatan bisa bertemu dengan penjaga arah mata angin selatan, Suzaku sang Vermillion.” Zeno menyentuh dadanya sambil menundukkan kepalanya.


Tentu saja, hal tersebut membuat ketiga beast Zeno geram dengan tingkah Suzaku yang sangat angkuh sehingga membuat Zeno sendiri yang memulai untuk memberikan sebuah penghormatan. Padahal, mereka bertiga sangat yakin, bahwa Suzaku dapat merubah sikapnya setelah melakukan pertarungan besar dengan Azure.


Satu tahun, lima tahun, atau bahkan sepuluh tahun yang lalu, sebenarnya Zeno bisa saja mencari Suzaku yang merupakan beast penjaga arah mata angin selatan, melengkapi beast legenda penjaga arah mata anginnya secara sempurna. Namun, sebuah pertanyaan sekilas terpikirkan oleh Zeno, bagaimana caranya menyembunyikan Suzaku? Suzaku ditaruh di mana? Secara, dirinya sendiri tidak bisa, bahkan tidak akan bisa membangkitkan sebuah elemen api yang menjadi elemen utama Suzaku.


Maka dari itu, Zeno mencarinya tepat tahun ini ketika waktu yang diberikan oleh dewi Luna akan dia kerjakan. Lebih tepatnya, untuk membuka gerbang menuju alam dewa, membutuhkan beast legenda mata angin secara lengkap. Selain itu, Zeno juga membiarkannya, agar Suzaku bisa kuat dengan caranya sendiri, dia juga penasaran, apakah beast yang dibiarkan liar memiliki kekuatan yang sama dibandingkan beast yang dipelihara? secara, beast legenda memiliki waktu kebangkitan yang sama, yaitu sekitar sebelas tahun yang lalu.


“Suzaku? Akhh, bulunya tampak begitu indah, berwarna merah seolah terbakar. Tapi anehnya, tanah es yang dia pijak tidak meleleh sekalipun.” Turse yang baru datang mendesah, dia sedikit takjub akan keindahan burung Vermillion dibandingkan dengan beast legenda yang dimiliki suaminya.


“Kau suka?” Zeno menatap Turse, “Memang, ini hadiah untukmu. Jadikan dia hewan peliharaanmu.”


“Bocah, apa kau tidak main-main? Aku mengisi tenagaku hanya untuk bertarung denganmu, apakah kau layak menjadi tuanku dan menggantikan dewi Luna. Bukan untuk menjadi hewan peliharaan wanitamu itu.” Protes Suzaku dengan raut wajah yang sedikit menunjukkan sebuah emosi.


“Une, apa ini tidak berlebihan? Aku sama sekali tidak memiliki elemen api. Bagaimana aku bisa menjadikan Suzaku hewan peliharaan?” Turse melontarkan sebuah pertanyaan setelah Zeno memberikan sebuah keputusan.


“Apa aku pernah menceritakan sebuah rahasia mengenai delapan tahun yang lalu? Bukankah aku mengatakan bahwa kau akan memiliki dua elemen milik musuhku setelah aku menyegelnya? Sebagai istriku yang paling cerdas, sebaiknya kau mengerti maksudku.” Zeno memberitahu.

__ADS_1


Ketiga beast Zeno yang mendengarnya menghela napas, dia sedikit mengingat apa yang dikatakan oleh tuannya mengenai Yashimaru yang masih hidup. Sebelumnya, mereka bertiga juga sedikit emosi dan tidak menerima kenyataan, bahwa patung Yashimaru yang hancur sekalipun masih bisa bangkit setelah menyerap mayat Danze


“Aku mengerti, namun itu suatu saat nanti. Sedangkan sekarang? Bagaimana bisa?”


Sebelum Zeno menjawab pertanyaan Turse, Suzaku menyembar Zeno hingga meninggalkan jejak api yang begitu berkobar. Turse yang berada di dekat Zeno, langsung menghindar dan meloncat ke samping, meskipun gaun berwarna birunya sedikit terbakar oleh jejak Suzaku yang tiba-tiba menyerang Zeno itu.


“Une!” Turse berteriak, setelah Suzaku terbang ke langit dengan mencengram baju Zeno hingga membuatnya terbang ke atas pula.


“Tak punya sopan santun!” Azure langsung bergegas untuk melawan Suzaku, namun tindakannya segera dihentikan oleh Kiba karena dia sendiri yakin bahwa tuan sendiri bisa menyelesaikannya.


Zeno langsung membekukan kaki Suzaku setelah di dibawa terbang dengan begitu tinggi. Rasanya cukup panas saat tubuh Suzaku berkobar dengan Zeno yang tepat berada di bawahnya.


Zeno sama sekali tidak berekspresi marah saat diperlakukan tidak sopan oleh Suzaku. Dia tahu, bahwa Suzaku bersifat arogan, sehingga Zeno menyadari bahwa Suzaku marah karena Zeno sendiri tidak menjawab pertanyaannya. 


Dia yang terlepas dari cengrakam Suzaku, langsung terbag dan melesat di hadapan Suzaku dengan sedikit mengangkat ujung bibirnya. Kemudian, dia mengeluarkan hembusan angin dari tangan kirinya ke arah Suzaku. Yah benar, hembusan angin, elemen yang justru menguatkan elemen api.


Mungkin orang yang melihatnya akan menganggap bahwa Zeno adalah orang yang sangat bodoh. Sudah sangat jelas, bahwa bulu Suzaku berkobar dengan sangat kuat. Namun, Zeno menambahkan sebuah hembusan angin yang membuat api di tubuh Suzaku semakin besar.

__ADS_1


“Apa kau bodoh?” Suzaku mengerutkan dahinya sambil melesat ke arah Zeno.


Lagi-lagi Zeno melemparkan hembusan angin ke arah Suzaku dengan mengangkat kedua ujung bibirnya. Mungkin Suzaku menjadi semakin berkobar dengan api yang semakin besar. Namun, itu hanya memperbesar api di tubuhnya, sedangkan tubuhnya sendiri juga terlempar karena hembusan angin yang sangat kuat.


__ADS_2