
“Byakko, Genbu, Seiryu, Suzaku.” Zeno memanggil ke empat hewan peliharaannya menggunakan nama aslinya untuk keluar. Entah kenapa, mulutnya tiba-tiba mengatakan seperti itu, bahkan Zeno heran, mengapa dirinya sendiri memanggil dengan nama asli mereka?
Namun, Zeno langsung melupakannya dan tidak mempermasalahkannya, pasalnya ketiga beast yang ada di tubuh Zeno keluar dengan ukuran normal mereka. Flamon yang ada di genggaman Turse juga membesar, membentuk seperti normalnya. Yang mana ukuran normal mereka dua kali lipat dari tubuh Zeno, bahkan Kiba sekalipun. Padahal, dalam hidup Zeno, dia tidak pernah memperhatikan Kiba sebesar itu. Mungkin Zeno tidak heran apabila itu Azure, atau mungkin Skarlos yang ukurannya bahkan sebesar pulau.
Zeno dan Turse, mereka berdua berdiri dengan patung dewi Luna yang ada di antara mereka. Wajah mereka menunjukkan tanpa ekspresi yang memang raut wajah asli mereka. Jika dipikir-pikir, di Glacies, hanya pasutri inilah yang sama-sama bersikap dingin, dan tampak biasa kepada orang terdekatnya.
Para beast Zeno, mereka semua berdiri di pilar mereka masing-masing sesuai lambang hewan yang ada di pilar tersebut. Seperti Byakko, dia berdiri di pilar yang tegak di barat patung dewi Luna, Genbu sang kura-kura berekor ular berdiri di pilar yang menjulang tinggi di utara patung, Seiryu sang naga, dia berdiri di pilar yang berdiri tegak di timur patung Dewi Luna dengan Zeno dan Turse yang ada di sebelahnya. Begitupun Suzaku, beast paling indah apabila bertampak biasa, dan mengerikan saat mode bertarung, dia berdiri di pilar yang ada di selatan patung, Zeno dan Turse.
Masing-masing lambang hewan yang ada di semua pilar menyala sesuai warna elemen yang mereka miliki. Alhasil, ujung pilar bagian atas memancarkan sebuah warna yang sama pula, keempat warna tersebut seolah menembus awan dan menghasilkan sebuah portal berwarna hitam yang tampaknya mengeluarkan cahaya yang turun menuju Zeno dan Turse.
Perlahan-lahan, tubuh Zeno dan Turse perlahan menghilang dengan membentuk sebuah butiran cahaya secara bertahap. Turse mulai memandangi kakinya yang hilang, kemudian merambat menuju tubuh bagian bawahnya serta tangannya yang juga perlahan menghilang. Zeno juga sama seperti Turse, dia memandangi tubuhnya yang secara perlahan menghilang.
Sungguh, mereka yang tidak berdiri bersama atau menggandeng tangannya mungkin akan membawa berita buruk bagi mereka nanti. Namun, mereka tidak menyadari atau bahkan tidak tahu hal itu.
Bersamaan dengan Zeno dan Turse yang menghilang, kejadian itu juga menimpa ke empat beast yang lainnya. Mereka berempat juga berubah menjadi serpihan cahaya yang perlahan tersedot ke dalam portal yang ada di atas mereka.
__ADS_1
“Panas.” Itulah yang Zeno batin saat dia berubah menjadi serpihan cahaya dan tersedot ke dalam portal tersebut. Entahlah, walaupun dia berubah menjadi butiran cahaya, namun Zeno juga bisa melihat apa yang terjadi, apa yang dia lihat dan bahkan apa yang dia rasakan.
Hanya ada hal aneh yang mereka lihat, seolah cahaya dan kegelapan berganti setiap detik membuat pandangan Zeno merasa remang-remang. Gelap terang berganti seolah berkedip dan membuka mata secara berulang kali. Dia juga tidak tahu, dia ini bergerak ke atas atau jatuh? Masalahnya, dia merasa seperti jatuh, namun disisi lain, dimensi yang bentuknya seperti lubang cacing justru bergerak ke bawah seolah dia melesat ke atas.
“Turse.” Sekuat tenaga, Zeno mencoba memanggil Turse. Namun dia merasa di sekelilingnya tidak ada butiran cahaya yang merupakan pecahan tubuh Turse. Hal itu tentu saja Zeno yang berwujud pecahan cahaya panik bukan kepalang saat Turse ternyata tidak ada di dekatnya. “Turse, dimana kau!!” Zeno mencoba untuk berteriak, namun suaranya seolah tidak keluar yang membuat dia semakin panik.
Zeno melihat sekeliling, yang ada hanyalah serpihan cahaya yang sedikit berwarna biru. Dia merasa, itu adalah Azure, yaah dia sedikit tenang Azure masih ada Azure ada di dekatnya. Tetapi, dimana para beast lainnya? Dimana Kiba, Skarlos dan Flamon? Hal itu tentu saja membuatnya bertanya-tanya dan merasa kebingungan.
Tubuhnya semakin panas, dia tidak pernah bergerak secepat ini. Zeno tahu bahwa dirinya saat ini bergerak melebihi kecepatan cahaya, bahkan jauh lebih cepat yang membuat Zeno seperti bergesekan dengan udara. Padahal, tubuhnya saja membentuk seperti butiran cahaya, namun dia juga masih merasakan rasa sakit seolah tubuhnya masih utuh.
.....
Zeno terbangun sambil berteriak memanggil nama Turse secara bersamaan. Namun, dia terkejut saat tahu bahwa dirinya berada di sebuah hutan belantara dengan pohon yang begitu rimbun, bahkan cahaya matahari saja sulit untuk menembus dedaunan tersebut. Zeno melihat sekujur tubuhnya, kedua tangannya. Dia benar-benar menghela napas saat tidak ada yang rusak pada tubuhnya setelah melewati lubang cacing itu.
Tapi dia merasa ada yang aneh, seolah ada sebuah tulisan yang tertulis pada tubuhnya, dia membacanya dengan saksama, “Dewa Murni tingkat kelima? Apa maksudnya?” Zeno bertanya-tanya dalam hati mengenai tulisan tersebut. Dia sama sekali tidak bisa mencernanya sehingga membuat dirinya pusing.
__ADS_1
“Tuan, akhirnya kau bangun juga.” Zeno menoleh ke belakang, namun dia benar-benar terkejut saat melihat seorang pria tampan yang berdiri sambil membawa kayu bakar.
Zeno yang tidak tahu apa-apa, dia langsung berdiri dan bersiaga, karena apa yang dia takutkan orang tersebut adalah seorang penjahat yang sedang merampoknya. Tapi dia merasa bingung, bukankah ini di sebuah hutan, kenapa ada perampok?
Orang itu hanya tersenyum saat melihat tingkah bodoh tuannya, kemudian dia berkata dengan lembut siapa dirinya, “Tuan tenanglah, aku adalah Azure dalam wujud manusia. Dan, Anda bisa melihat di tubuhku, Prajurit Dewa tahap kesembilan. Yaah itu adalah salah satu peringkat elementalist yang ada di dunia ini. Tunggu, kenapa aku tidak bisa melihat rank elementalist Anda?”
“Tunggu, kau Azure?” Zeno kaget bukan kepalang saat tahu bahwa di hadapannya adalah Azure.
“Benar tuan, mungkin para beast penjaga arah mata angin lainnya juga seperti itu. Karena di dunia ini, hanya kami atau beast penjaga arah mata angin yang dapat berubah menjadi manusia. Tapi tuan, tolong jawab pertanyaanku, bagaimana Anda bisa tidak memiliki rank elemental?” Azure mengerutkan dahinya.
“Apa kau tidak melihatnya? Dewa Murni tahap kelima. Jika aku bisa membaca peringkatmu, seharusnya kau bisa membaca peringkatku.” Zeno membuka kedua tangannya agar Azure bisa membaca jelas apa peringkatnya.
Azure masih bingung, dia sama sekali tidak bisa melihat ranah atau peringkat elemental yang ada di tubuh Zeno. Sedangkan Zeno sendiri mengatakan bahwa dirinya berada di ranah Dewa Murni tahap kelima. Tentunya, dia tidak bisa mengatakan bahwa Zeno sedang berbohong, pasalnya Zeno sama sekali belum mengetahui semua ranah elementalist, serta Dewa Murni juga merupakan salah satu peringkat elementalis satu tingkat di atas prajurit dewa seperti dirinya.
__ADS_1