Penguasa 5 Elemental 2 : To The Throne Of God

Penguasa 5 Elemental 2 : To The Throne Of God
Desa tak layak


__ADS_3

Perjalanan yang hampir melelahkan. Mereka bertiga sudah sampai di sebuah pinggiran sebuah desa yang mana banyak berdiri tembok-tembok yang hampir runtuh. Yang mungkin itu adalah bekas istana kerajaan. Apa yang menjadi pertanyaan bagi Zeno, bisa-bisanya sebuah istana berdiri di dekat hutan seperti ini. Atau mungkin ini merupakan sebuah hutan baru.


“Apa tidak ada elementalist tanah di sini?” Zeno mengerutkan dahinya. Setidaknya apabila desa tersebut ingin aman tanpa melakukan perpindahan tempat, maka dinding tanah adalah solusinya untuk melindungi serangan hewan liar. Namun, Zeno sama sekali tidak melihat dinding  yang berfungsi untuk mencegah masuknya sebuah hewan.


“Aku tahu, Anda berpikiran untuk membuat pagar tanah? Itu tidak mungkin.” Zera menghela napas sebelum dia melanjutkan ucapannya, “Elemental beast bisa menghancurkan tembok itu dengan sangat mudah. Sehingga setiap kali pagar tanah dibangun, maka beberapa hari kemudian akan rusak karena sebuah serangan.”


“Kenapa kalian tidak melakukan perpindahan?” Azure mengerutkan dahinya, semenjak kemarin itulah yang terngiang-ngiang di kepalanya mengenai permasalahan yang ada di desa bekas reruntuhan kerajaan ini.


Zera menundukkan kepalanya di saat dia berjalan, menuju desa tersebut dengan sedikit ketakutan, karena kekasihnya dia tidak tahu ada di mana. Tapi yang pasti, yang dia tahu kekasih dan ayahnya telah mengalami perseteruan sehingga membuat Zera sedikit muak.


Zeno dan Azure, mereka yang berjalan memandangi satu sama lain dan memandang aneh Zera yang seolah tidak memiliki telinga. Mereka merasa, bukankah pertanyaan itu membutuhkan jawaban yang singkat? Tetapi mengapa Zera seperti memikirkan sesuatu yang lain dengan tubuhnya yang sedikit ketakutan.


Sesekali Zeno bertanya kepada Azure, barang kali Azure mengingat di kehidupan sebelumnya mengenai kerajaan ini. Akan tetapi, Azure sendiri juga tidak tahu mengenai kerajaan yang berdiri di sini semasa hidupnya bersama dewi Luna. Mungkin karena alam dewa ini terlalu luas, sehingga Azure sendiri juga tidak tahu mengenai kerajaan-kerajaan kecil.


“Sebaiknya biarkan ayahku yang menjawab pertanyaan kalian.” Jawab Zera dengan sedikit terlambat, namun tubuhnya masih bergidik ketakutan saat mencoba memasuki sebuah desa yang tampak sangat memprihatinkan.


Terlihat sangat sepi, Zeno juga melihat ada beberapa orang yang berlalu lalang dengan tubuh yang sangat kering seperti tulang yang hanya dibalut kulit. Tidak hanya satu orang, bahkan Zeno sempat melihat ada dua sampai lima orang yang memiliki fisik yang sama. Bahkan Zeno juga melihat anak-anak seumuran Fang sedang bermain. Dan tentunya, fisik anak tersebut juga sangat kurus sehingga memperlihatkan tulang rusuknya yang begitu tampak.


Wabah kelaparan, dan mahal pangan, itulah yang dipikirkan oleh Zeno setelah melihat keadaan terpuruk desa ini. Dia benar-benar tidak menyangka bahwa di dunia dewa ada tempat seperti ini. Seumur hidup Zeno, dia belum pernah melihat seperti ini di dunia manusia.

__ADS_1


Tampaknya di desa ini juga tidak ada aktivitas seperti beternak, mungkin karena adanya serangan elemental beast yang membuat mereka tidak bisa menjaga ternak. Yang Zeno lihat, ada beberapa orang yang mengurus ladang seperti sedang menyirami ladang tersebut menggunakan elemen air.


“Syukurlah.” Zeno menghela napas, setidaknya penduduk di sini bisa tercukupi dengan adanya ladang tersebut. Namun, Zeno benar-benar prihatin apabila serangan beast elemental merusak pencaharian mereka.


“Selamat datang di rumahku, tuan. Maaf terlihat tampak lusuh.” Kata Zera mempersilahkan Zeno dan juga Azure masuk.


Sebelum Zeno dan Azure menginjakkan kakinya ke rumah tersebut, Zera sudah masuk ke dalam rumah dengan sangat tergesa-gesa. Hal tersebut tentunya, karena dia tidak ingin membuat ayahnya merasa gelisah, karena semenjak pagi dirinya tidak pulan hingga sore seperti ini.


“Ayah!”


Zeno mendengar dari luar rumah bahwa Zera berteriak sambil memanggil ayahnya, dia hanya diam berdiri di luar sambil menunggu dirinya dipersilahkan masuk. Masalahnya, sangat tidak sopan apabila masuk rumah secara langsung tanpa di persilahkan terlebih dahulu.


“Ivon ayah, dia benar-benar tega membuangku di tengah hutan tersebut.”


“Apa?!” Ayah Zera tersentak kaget, dia benar-benar tidak menyangka bahwa kekasih putrinya sekejam itu. Akan tetapi, dia tidak heran, Ivon mungkin melakukan itu karena dia ingin membunuh kekasihnya karena tidak memiliki elemental. Sehingga guna menahan malu dan menganggap Zera tidak berguna, dia membuangnya di hutan tersebut, berharap ada beast yang membunuhnya.


Sebelumnya Ivon begitu tertarik kepada Zera saat berumur dua puluh tahun, tetapi mengetahui setelah Zera berumur 21 tahun, dan elementalnya tak kunjung bangkit, dia menjadi sedikit kesal bahkan kekesalannya memuncak saat Zera berumur 22 tahun.


Meskipun dia tahu begitu, ayah Zera masih tetap kesal, dia menggertakkan giginya sambil mengepalkan tangannya seolah marah kepada kekasih Ivon, “Ayo kita kerumah Ivon, dia benar-benar macam-macam kepada putri ayah.”

__ADS_1


“Tetapi ayah, bisakah kita tunda itu sebentar. Aku bisa pulang bukan karena kebetulan, tetapi diantara dua pria yang mengantarku pulang.” Zera menarik ayahnya menuju ruang tamu, akan tetapi dirinya tidak melihat Zeen atau Azure berada di ruangan tersebut, melainkan dia melihat bahwa Zeen atau Azure masih berdiri di luar.


“Tuan, kenapa kalian masih berdiri di situ, silahkan masuk.” Zera berkata dengan sangat lembut.


Zeno dan Azure, mereka berdua akhirnya masuk setelah Zera mempersilahkannya. Pasalnya itulah yang ditunggu-tunggu mereka berdua agar mereka bisa masuk.


Ayah Zera, dia benar-benar terkejut seolah tidak percaya bahwa salah satu di antara pria tersebut tidak memiliki peringkat sama sekali. Sehingga dia berspekulasi bahwa yang menolong putrinya adalah Azure. Sehingga, yang dia minta untuk duduk bersila terlebih dahulu adalah Azure.


“Tuan, aku benar-benar berterimakasih karena telah memulangkan putriku. Aku tidak tahu, bagaimana nasibku sendiri apabila dia terbunuh di sana.” Ayah Zera terus menerus menatap Azure seolah dia berbicara dengannya.


“Maafkan aku tuan, Anda seharusnya tidak berterima kasih kepadaku. Yang menolong putri Anda adalah temanku, Zeen.” Sahut Azure sambil sedikit menatap ayah Zera dengan sinis. Pasalnya, apa karena tuannya tidak tampak peringkatnya, dia tidak percaya bahwa putrinya di tolong oleh Zeno? Benar-benar tidak berkaca bahwa putrinya sendiri juga tidak memiliki peringkat, itupun karena cacat. Berbeda karena Zeno yang tidak tampak peringkat karena memang istimewa di mata Azure.


Lagi-lagi, pria paruh baya itu terkejut seolah tidak percaya. Bagaimana mungkin seseorang yang tidak memiliki elemen bisa menolong putrinya? Bukan berarti dia menjelekkan Zeno, karena dia sendiri juga bisa berkaca bahwa putrinya tidak memiliki peringkat. Namun, terlihat sangat mustahil bahwa Zeno yang menolongnya.


“Tuan. Anda tidak bercanda bukan?”


Azure tidak menjawab, sebaiknya dia menyerahkan semua jawaban kepada Zera. Itupun apabila Zera tidak berkata sejujurnya, dia akan membunuhnya di tempat.


“Apa yang dikatakan tuan Azure benar ayah, yang menyelamatkanku adalah tuan Zeen.” Ucapnya sambil menunjuk ke arah Zeno.

__ADS_1


__ADS_2