Penguasa 5 Elemental 2 : To The Throne Of God

Penguasa 5 Elemental 2 : To The Throne Of God
Pertempuran pertama di desa yang ia pimpin


__ADS_3

Zeno mencekik orang  tersebut menggunakan tangan kirinya, kemudian dengan tatapan yang begitu sinis, mendorong tangannya seolah hendak memukul dengan begitu keras, apalagi kepalan tangan Zeno juga tampak menyala seolah mengeluarkan cahaya. Tetapi, Zeno tidak seburuk itu untuk membunuh seseorang, sehingga kepalan tangannya hanya melewati leher orang tersebut.


Alhasil, sebuah energi besar, muncul dari kepalan tangan Zeno, berada di belakang orang yang baru saja Zeno cekik. Bahkan energi tersebut hampir menghancurkan dinding pembatas yang Zeno ciptakan, selain itu, orang-orang yang berada di belakang gerbang juga banyak yang terlempar karena terkena energi yang dihasilkan oleh kepalan tangan Zeno.


Orang yang tepat berada di hadapan Zeno hanya bergidik ketakutan, melirik ke sampingnya yang mana terdapat kepalan tangan Zeno. Dia juga melirik ke belakang di saat lehernya tercekik, memperhatikan sebuah kejadian yang membuatnya hampir pingsan.


Bagaimana tidak, anda saja kepalan tangan Zeno menyentuh kepalanya, bisa dibayangkan bahwa kepalanya pasti akan hancur tak terisa, hanya meninggalkan kucuran darah dengan tengkoraknya yang remuk karena pukulan Zeno yang begitu dahsyat.


“Aku kepala desa yang baru, aku tegaskan! Ini adalah tanah terlarang bagi kalian.” Ucap Zeno dengan suara yang menggelegar, membuat seseorang yang ada di hadapannya semakin ketakutan. Apalagi dia merasa tubuhnya terangkat, dengan lehernya yang terluka karena kuku tajam Zeno yang menancap.


Orang tersebut hanya terbatuk-batuk, lehernya semakin tercekik dengan tangan Zeno yang semakin dingin. Semakin dingin, bahkan dia hawa dingin itu merambat ke dagunya yang mana dia merasa seperti membeku. “Maafkan aku tuan.” Rintih orang itu dengan suara yang sangat lirih.


Zeno melepaskannya langsung, sehingga mengakibatkan orang tersebut langsung jatuh sambil berusaha melepaskan es yang membekukan lehernya. Kemudian, Zeno sendiri berjalan ke arah pintu gerbang, memperhatikan dari kejauhan bahwa orang-orang yang sebelumnya memaksa masuk dan merasa sok kuat di hadapan Onard hanya bisa mundur ketakutan di saat Zeno berjalan maju.


Di saat-saat seperti itu, di antara banyaknya orang, tidak sedikit di antara mereka yang berbisik dan mencela Zeno, seperti menganggap bahwa Zeno terlalu sombong, menganggap bahwa Zeno terlalu berlebihan.

__ADS_1


“Dia hanya satu, kita berjumlah ratusan. Selain itu, dia juga tidak memiliki peringkat.” Teriak salah satu orang memprovokasi keadaan, sehingga membuat orang-orang lainnya terhenti dan ingin menuruti apa yang dikatakan oleh orang tersebut.


Namun, tidak sedikit juga yang tidak ingin ikut campur, dengan berpikiran cerdas, tidak mungkin seseorang yang tidak memiliki peringkat bisa mengeluarkan energi yang luar biasa begitu. Sehingga, apa yang mereka yang berpikiran cerdas adalah memilih untuk lari daripada terbawa masalah yang begitu serius.


“Seraang!”


Sedangkan orang yang berpikiran bodoh, ratusan orang langsung maju dan mengeroyok Zeno. Sehingga keributan benar-benar terjadi pada gerbang bagian timur ini, suara dari teriakan mereka memancing para penduduk yang sebelumnya merasa bodoh dan tidak memperdulikan mereka.


“Jika terus dibiarkan, mereka bisa saja menghancurkan dinding.” Batin Zeno sambil menarik pedangnya di saat dia bertarung oleh ratusan orang, karena apa yang ada dipikirannya hanyalah membunuh atau desanya akan hancur. Karena bayangkan saja, ratusan orang yang berkumpul dalam satu titik kini langsung mengeroyoknya tepat berada di depan gerbang.


Beberapa menit kemudian, prajurit desa, Onard langsung turun tangan untuk membantu Zeno yang dikeroyok seperti itu. Tidak hanya itu saja, Edrem, Yord dan penduduk lainnya yang memiliki kekuatan juga langsung turun tangan untuk menghadapi para orang-orang yang bersikeras untuk masuk, dan kini menjadi tidak terima karena kepala desa tidak menerimanya.


Untungnya, Zeno tidak melihat ada dewa yan memiliki peringkat raja dewa seperti ini, paling tinggi mungkin hanya berperingkat dewa  murni. Sehingga Zeno tidak terlalu kerepotan. Apalagi yang paling dominan dari para pendatang yang mengeroyoknya adalah elementalist angin dan juga petir, sehingga dia bisa mengendalikannya dengan sangat mudah.


Jadi, dia bisa lebih fokus kepada elementalist api yang menyerangnya, itupun jumlahnya hanya sangat sedikit.

__ADS_1


Terlebih lagi ada puluhan bawahannya yang membantunya untuk melawan para orang-orang pendatang yang tampaknya sakit hati ini. Sehingga, Zeno sediri tidak terlalu menguras keringat untuk menghadapi para sampah. Namun di sisi lain dia juga merasa muak, sehingga dia langsung saja mengakhiri pertempuran di wilayah timur dengan melakukan sesuatu.


“Pulanglah ke ibukota! Jika kalian masih sayang dengan nyawa kalian sendiri!” Zeno menancapkan Ice Sword ke permukaan tanah dengan sangat keras, mengakibatkan area yang sebelumnya digunakan untuk medan pengeroyokan mendadak membeku, sehingga membuat ratusan orang, termasuk anak buah Zeno, separuh tubuh mereka membeku ditempat, hingga tidak bisa bergerak.


Zeno mengatur napas, melihat beberapa mayat yang disebabkan akibat dirinya mengangkat pedang untuk menggarap para pendatang yang menyerang seperti ini. Sesal? Tentu saja tidak, anggap saja itu adalah seseorang penyerang desa yang memang sepatutnya harus dibunuh, salah sendiri mereka tidak bisa menahan diri untuk tidak mengeroyok Zeno.


Zeno memasukkan kembali Ice Sword ke dalam selongsongnya, kemudian dia melelehkan es kepada siapa saja yang dia kehendaki. Lebih tepatnya melelahkan es yang membekukan para bawahannya yang ikut membantu melawan para penyerang Zeno.


“Tidak ada hak untuk kalian! Bukankah kalian dulu pernah mencemooh desa ini dan menganggap desa ini bodoh? Kemudian kalian kembali setelah sang penguasa pemimpin, namun sang pemimpin tidak mengizinkan kalian yang membuat kalian tidak terima dan mengeroyok kepala desa, berharap bahwa kepala desa terbunuh dan desa tidak menjadi makmur. Benar-benar mental sakit.” Teriak Onard kepada mereka semua, dengan diperhatikan semua penduduk tetap desa.


“Benar, sebaiknya kalian kembali saja menuju ibukota yang kalian puja-puja. Memang, kami juga kembali dari ibukota, tetapi kami juga masih berniat untuk menghidupi desa sebelum sang penguasa datang sekalipun.” Salah satu dari banyaknya orang, yang duduk di atas dinding tanah ciptaan Zeno, dia membuat bola air yang kemudian di lemparkan kepada para sampah tersebut.


Hal itu yang merupakan tindakan provokasi membuat orang-orang lainnya juga melakukan hal yang sama, yaitu membuat bola elemen yang kemudian di lemparkan ke arah para pendatang kurang ajar. Sehingga tidak membutuhkan waktu yang lama, es yang membekukan mereka menjadi hancur karena lemparan.


Zeno yang melihat itu langsung menghentikan tindakan mereka dengan menahan bola elemen tersebut, tatapan Zeno juga sangat sinis kepada para penduduknya yang bertindak seenaknya sehingga membuat para penyerang tadi kabur.

__ADS_1


“Turun kalian semua!” teriak Zeno dengan sangat keras.


Semua orang yang naik di atas dinding pembatas langsung turun karena ketegasan Zeno. Kemudian, usai mereka semua turun, seluruh dinding pembatas langsung muncul kristal es yang begitu tajam, berharap tidak ada yang menaiknya lagi.


__ADS_2