Penguasa 5 Elemental 2 : To The Throne Of God

Penguasa 5 Elemental 2 : To The Throne Of God
Keping perak


__ADS_3

Dan tentunya Zeno harus benar-benar berhati-hati, mungkin sudah berulang kali Zeno di alam manusia selalu berurusan dengan bangsawan. Yang mana kebanyakan bangsawan yang masuk ke dalam kedai selalu menunggu, bersikap arogan dan terlihat sombong. Tapi Zeno menjadi heran, kenapa bangsawan yang memiliki sifat seperti itu selalu dipuja oleh penduduk biasa?


Meskipun begitu, Zeno tidak bisa berspekulasi bahwa seorang bangsawan yang baru masuk tadi memiliki sifat seperti apa yang dia pikirkan. Nyatanya, seseorang yang mengenakan pakaian bangsawan, seperti seorang tuan muda, dia tampaknya sangat ramah, dipenuhi oleh senyuman dan tampak begitu ceria.


“Pangeran dari kerajaan Fang. Aku tidak menyangka bahwa Anda menuju ke kedai seperti ini.”


“Pangeran, menikahlah denganku!”


“Dia tampan sekali.”


Banyak orang-orang yang ada di dalam kedai tersebut memuji sosok bangsawan yang ternyata adalah seorang pangeran, anak dari raja kerajaan Fang. Tentunya Zeno mengerutkan dahinya dan sudah bisa menebak bahwa orang itu adalah sosok dari kerajaan Fang. Selain itu, Zeno juga tampak tertegun saat sikap pangeran dari kerajaan Fang tidak begitu sombong seperti mengangkat dagunya setelah dia mendapatkan pujian yang berlebih seperti itu.


“Orang-orang di sini tidak ada yang tahu bahwa aku memiliki darah yang sama dengan orang itu.” Kata Zeno sambil berdiri, keluar dari tempat duduknya karena makanan yang ia tunggu sudah di atas meja kasir tanpa diantar oleh pelayan seperti apa yang dikatakan oleh penjaga kasir itu tadi, hal itu tentu saja benar-benar membuat Zeno menjadi sangat jengkel.


Zeno harus menjaga sikap, karena tampaknya dia harus berpapasan atau bertatapan dengan pangeran tersebut karena Zeno memang hanya sekedar untuk lewat. Tentunya, dia juga harus menundukkan kepalanya karena tidak ingin memicu masalah.


“Hey, apa kau ingin tahu, bagaimana caranya mempermalukan orang yang tidak memiliki peringkat di depan pangeran?” bisik orang yang duduk di pinggir jalan yang hendak di lewati Zeno.


“Bagaimana?” Tanya orang yang ada di sampingnya dengan tersenyum jahat.


Seseorang yang memiliki niat tadi mengeluarkan kakinya ke samping di saat Zeno hendak melewatinya, kebetulan sang pangeran juga tepat akan mendekat, sehingga kemungkinan saat Zeno terjatuh, dia akan jatuh tepat berada di bawah kaki pangeran, seolah agar Zeno tersandung jatuh hingga dipermalukan.

__ADS_1


“Tahan untuk tidak menendangnya hingga patah.” Batin Zeno sambil sedikit menundukkan kepalanya namun tidak mengalihkan pandangannya ke arah wajah pangeran di saat pangeran sudah tepat berada di sampingnya. Selain itu, dia juga mengangkat kakinya seolah menyadari ada seseorang yang hendak menjatuhkannya. Bersamaan dengan itu, Zeno tersenyum ke arah pangeran, “Pangeran, senang bisa bertemu dengan Anda.”


Pangeran menoleh ke arah Zeno sambil membalas senyumannya dengan ramah, hingga kemudian keduanya benar-benar berlalu.


Kedua orang tadi yang ingin mempermalukan Zeno hanya bisa berdecak kesal saat jebakan kakinya bisa di lewati dengan mudah. Mereka juga membatin, bisa-bisanya seorang yang tidak memiliki peringkat menyapa pangeran seolah tidak memiliki malu?


Pada akhirnya, Zeno mengambil makannya sendiri, dengan bertanya, “Berapa” seraya menanyakan harga makanan tersebut.


“Lima keping perak.”


“Hee? Ba ....”


Tentunya kejadian barusan menjadikan Zeno sebagai pusat perhatian, kesalahpahaman yang dilemparkan kepadanya membuat tatapan tajam orang di sekitar. Sungguh, Zeno yang melihat ke belakang hanya bisa menggigit bibirnya karena mendapatkan perlakuan yang tidak begitu mengesankan.


“Haha sudah kuduga, orang-orang seperti dia tidak akan bisa membayarnya. Tidak memiliki elemental, sama dengan tidak memiliki pekerjaan. Maka dari itu, dibunuh merupakan cara yang terbaik.” Teriak salah satu orang memprovokasi.


Hal tersebut membuat banyak orang menjadi mencela dan menggunjing Zeno, namun Zeno sama sekali tidak panik atau merasa dipermalukan, atau mungkin merasa terkena serangan mental. Karena sebelumnya dia sudah menduga ini, dan mempersiapkan posisi hatinya jauh beberapa menit tadi.


Kericuhan itu, membuat sang pangeran berdiri dari posisi duduknya, menghampiri Zeno yang dicaci maki sambil memejamkan matanya seolah ingin menghabisi mereka semua. Pangeran itu tahu bahwa Zeno tidak memiliki peringkat, namun dia juga tahu bahwa tindakan diskriminasi barusan bukanlah suatu hal yang baik.


“Siapa yang menyuruh kalian seperti itu?” Tegas pangeran dengan nada tinggi, mengakibatkan cacian yang dilemparkan ke arah Zeno tidak terdengar lagi.

__ADS_1


“Teman, tidak perlu dipikirkan, aku akan mentraktirmu. Duduklah dan nikmati makananmu, bahkan jika berkenan, maka kau bisa membelinya sepuasmu.” Sambung pangeran sambil menatap Zeno.


Zeno tersenyum dan membuka matanya, siapa lagi kalau bukan keluarga Fang jika seperti ini? Tidak di alam manusia, tidak di alam dewa, keduanya memiliki sifat yang begitu murah hati. Mungkin hanya ada beberapa orang yang memiliki sifat bertolak belakang karena itu memang sifat dasar seseorang yang beragam.


“Tidak perlu pangeran, aku bisa membayarnya. Itu tadi hanyalah sebuah kesalahpahaman.” Balasnya sambil meraih kantong sakunya seolah ingin mengambil sesuatu.


“Apa-apaan ini, padahal dia telah mendapatkan kemurahan hati pangeran, tetapi dia menolaknya dengan mentah-mentah, bukankah ini sebuah penghinaan?”


“Aku harap dia tidak menyesalinya.”


Beberapa orang masih saja ada yang mencaci Zeno dengan ucapannya yang begitu pedas. Sehingga hal tersebut membuat Zeno begitu geram sambil menarik tangannya dengan cepat, seraya berbalik badan, menatap penjaga kasir yang merupakan biang masalah.


“Lima koin perak? Aku membayarnya seribu kali lipat.” Ucap Zeno dengan nada yang begitu tinggi, sambil membuang sesuatu ke arah penjaga kasir itu.


Dan yang benar saja, semua orang begitu terkejut dengan apa yang dilakukan Zeno barusan. Bahkan pangeran sekalipun melihatnya seolah tidak percaya. Lima koin emas, dia lemparkan tanpa adanya sebuah perhitungan, bahkan dia melemparnya ke arah wajah wanita itu.


Tentunya semua orang terdiam, termasuk wanita penjaga kasir yang melihat lima koin emas di bawahnya. Yang mana itu bisa membuat dia makan selama seribu kali.


Sebenarnya lima koin perak bagi Zeno tidak ada apa-apanya, mereka belum tahu bahwa di dunia manusia, harga emas jauh lebih murah, sehingga bertransaksi menggunakan koin emas merupakan hal yang biasa, bahkan membeli makan sekalipun mereka menggunakan koin emas. Tetapi di alam ini, dia baru mengetahui beberapa bulan yang lalu bahwa koin emas di alam ini cukup mahal, yang mana seribu perak sama dengan satu koin emas. Dan harga perak di alam ini mungkin sama saja dengan harga emas di alam manusia.


“Dia pasti mencurinya dari pangeran tanpa kita ketahui!” Kata salah seorang tidak terima dengan apa yang Zeno lakukan barusan.

__ADS_1


__ADS_2