
Zeno kembali menggenggam tangannya, sehingga hembusan angin yang keluar itu juga berhenti. Tentu saja, Suzaku yang sebelumnya memberontak dan tetap mencoba untuk maju di antara hembusan angin, dia mendadak kehilangan keseimbangannya dan perlahan jatuh.
Tidak berhenti seperti itu, Zeno kembali membuka genggamannya, sehingga sebuah hembusan angin kembali muncul dan membuat Suzaku kembali terlempar. Namun, dia mencoba untuk menghindar dan menyerang Zeno dari sisi lain. Sayangnya, hembusan tersebut terlalu besar, bahkan tidak ada ruang untuk Suzaku bergerak. Benar-benar, Suzaku sepertinya dalam masalah yang begitu besar, mungkin dia harus belajar untuk tidak meremehkan elemen lain.
Selain itu, dari tangan Zeno, muncul sebuah elemen petir berwarna kuning di antara hembusan anginnya. Menyambar Suzaku yang kesulitan untuk bergerak karena dia terus menerus untuk melawan elemen angin Zeno dan tidak ingin untuk terlempar.
Akibatnya, Suzaku terkena tegangan yang cukup tinggi yang membuatnya tidak memiliki kekuatan dan terlempar karena hembusan angin, serta dia juga langsung jatuh dari ketinggian. Bahkan, wajah burungnya terlihat sangat buruk seolah menahan rasa sakit akibat dari sambaran petir itu.
Zeno menghentikan hembusan anginnya, kemudian dia mengeluarkna sebuah hembusan angin yang sangat dingin untuk menetralisir udara panas yang di akibatkan oleh elemen angin dan api yang saling berbenturan. Sekaligus, dia juga ingin mengembalikan ke adaan daratan ibukota Firgus Unie yang rusak karena hawa panas tersebut.
Zeno menghela napas, menundukkan Suzaku ternyata sangat mudah seperti apa yang dia kira. Padahal bisa dibilang, dia sama sekali tidak memiliki elemen api, dan terus menyerang Suzaku menggunakan elemen angin, mungkin sedikit dibubuhi elemen petir dan air.
Walaupun begitu, dia sama sekali tidak memiliki elemen cahaya, terkecuali bergerak. Jika dia menggunakan elemen cahaya semenjak tadi, dalam beberapa detik kemungkinan dia bisa menundukkan Suzaku dengan sangat mudah. Namun, apa yang dia cari adalah keseruan saat bertarung.
“Une!” Turse menghampiri Zeno yang mendarat di tanah dengan aman tanpa lecet sedikitpun. Selain itu, dia juga menghela napas lega karena Suzaku bisa ditundukkan dengan sangat muda. Tapi entahlah, dia juga tidak tahu apakah setelah ini Suzaku masih berdiri dan tidak menerima kekalahannya?
“Kau ini bodoh atau bagaimana? Sudah jelas-jelas dia adalah tuan kami, jadi dia juga sudah berpengalaman menghadapi kami bertiga.” Genbu berjalan menghampiri Suzaku yang tergeletak lemas. Bulu-bulu yang terbakarnya kini kembali padam dan memperlihatkan bulu merahnya yang sangat indah.
__ADS_1
“Padahal dia belum mempunyai semua elemen yang dimiliki dewi Luna, tapi kenapa dia bisa sekuat itu?” Suzaku mencoba untuk berdiri.
Ketiga beast milik Zeno saling menatapsatu sama lain setelah Suzaku mengatakan hal yang sangat bodoh. Padahal, ini sudah sebelas tahun lamanya semenjak beast legenda kembali bangkit, tapi kenapa mereka bertiga merasa bahwa Suzaku tidak memiliki pikiran sama sekali? Mungkin Suzaku berpikir bahwa membangkitkan elemen dalam waktu yang sangat lama.
Padahal Kiba sendiri beranggapan bahwa Zeno memiliki kelima elemennya hanya membutuhkan waktu selama lima tahun, dihitung semenjak dia ditemukan di hutan oleh kakeknya, atau enam belas tahun yang lalu. Serta Kiba sendiri baru menjadi Beast Zeno sebelas tahun yang lalu.
“Diantara beast legenda, mungkin kau yang paling bodoh.” Kiba berkata scara terus terang sambil berputar mengelilingi Suzaku sebelum dia melanjutkan ucapannya, “Tuan berhasil melengkapi kelima elemennya sepuluh tahun yang lalu, bahkan dia sudah menjadi penguasa lima elemental tersebut.”
“Benarkah?” Suzaku tersentak kaget.
“Maafkan aku tuan, aku pikir Anda masih berusaha membangkitkan elemen yang lainnya.” Kata Suzaku.
Zeno berpikir sejenak dan menyentuh dagunya, “Bukankah terlihat aneh apabila aku membangkitkan elemen selama itu? Lagi pula, apa beast yang lainnya tidak memberitahumu?”
Suzaku menoleh ke arah beast lainnya, dia tersenyum kecut saat Byakko, Seiryu ataupun Genbu membuang mukanya seolah baru saja memberikan sebuah pelajaran untuk dirinya. Padahal, jika sebelumnya mereka bertiga mengatakan yang sebenarnya, Suzaku juga tidak akan ragu untuk bertekuk lutut kepada Zeno.
“Mereka hanya mengatakan bahwa tuan menjadi sosok pengganti dewi Luna seperti yang dipesankan beliau kepada Byakko. Bahkan aku sempat tidak percaya yang membuat Seiryu bertarung dengaku. Pada akhirnya aku kalah dan terpaksa untuk menuju ke sini. Aku pikir, saat anda menoba untuk menjadi sosok pengganti, Anda masih berusaha membangkitkan elemen yang lainnya. Lagi pula, kenapa Anda tidak menggunakan elemen cahaya untuk bertarung denganku?” Kata Suzaku merasa dipermainkan.
__ADS_1
"Yaa …." Zeno menggarukkan kepalanya dan tersenyum cengengesan, "Rasanya cukup mudah dan tidak ekstrem apabila langsung menggunakan elemen cahaya."
"Selain itu, aku juga hanya ingin melatih elemen yang jarang ku gunakan, yaitu angin. Karena selama ini aku hanya terus bergantung pada elemen petir dan juga cahaya." Ujarnya.
"Baiklah, aku, Suzaku sang penjaga arah angin selatan, dengan sepenuh hati menyerahkan seluruh jiwa dan raga untuk melindungi tuan, jika Anda menyuruh aku mati sekalipun, aku juga bersiap. Maafkan kelancanganku tadi, tuan." Suzaku yang masih bertekuk lutut memejamkan matanya dan berkata dengan serius. Namun, terlintas di benaknya, bagaimana nasibnya nanti? Sedangkan Zeno tidak memiliki atau membangkitkan elemen api, tentunya Zeno tidak akan mengontraknya.
Akan tetapi, sebelum Suzaku bertanya secara terus terang, Zeno sudah memberikan sebuah penjelasan, "Aku tidak akan mengontrakmu, karena aku juga tidak memiliki atau membangkitkan elemen api. Tapi …." Zeno tidak melanjutkan ucapannya, apa yang dia lakukan adalah menarik pinggang Turse yang semenjak tadi berdiri di sampingnya, "Istriku yang akan mengontrak mu suatu saat nanti. Bisa dibilang, kau sekarang masih beast liar."
"Baiklah aku mengerti, tuan dan nyonya. Aku akan setia menjaga kalian berdua." Ujar Suzaku.
"Sebelum itu, kau harus diberi nama, Suzaku adalah nama yang diberikan oleh dewi Luna, namun kau memiliki panggilan pribadi dariku atau istriku. Seperti Byakko yang bernama Kiba, Genbu yang bernama Skarlos, dan juga Seiryu yang bernama Azure. Karena beast ini adalah milik istriku, maka istriku lah yang akan memberimu nama." Kata Zeno.
"Aku?" Turse yang melekat di tubuh Zeno mengerutkan dahinya, sebelum dia mengontrak Suzaku saja kurang setuju, tapi setelah diberi penjelasan oleh Zeno, maka mau tidak mau dia harus menerimanya.
"Benar."
"Nama, ya?" Turse berpikir sejenak, tampaknya memberikan sebuah nama merupakan perkara yang sangat sulit. "Flame, Flamon, yah Flamon dari selatan. Bagaimana, apakah kau setuju Une?" Turse berkata sambil menatap Zeno.
__ADS_1