
Saat Zeno hendak berteleportasi, seketika dia berada di tempat yang indah, lebih tepatnya dirinya berada di atas padang rumput yang begitu luas. Hal tersebut membuat Zeno terkejut dan mengucek matanya, berharap apa yang dirinya lihat kali ini adalah ilusi karena dirinya begitu kelelahan.
“Sudah selesai?”
Zeno langsung menoleh ke belakang saat mendengar suara tersebut. Ini lebih membuatnya lebih terkejut lagi, pasalnya, Zeno melihat sosok yang mirip dirinya sedang berdiri menatapnya. Jika itu kloningan, maka Zeno tidak akan heran seperti itu, tetapi orang tersebut bukanlah sebuah kloningan yang Zeno ciptakan.
“Siapa kau? mengapa kau mirip denganku?” Tanya Zeno mengerutkan dahinya.
“Aku?” Zeno kedua mengangkat alisnya sambil berpikir sejenak, “Bisa di bilang aku adalah dirimu, dan kau adalah diriku, tetapi kita berbeda jiwa dan berbeda ibu.” Jelasnya.
Mendengar penjelasan dari Zeno kedua, Zeno justru semakin bingung, dia mencoba mencerna perkataannya, dan yang ada hanyalah membuatnya sakit kepala, apalagi dalam keadaan lelah, membuatnya mudah tersulut emosi. Meskipun begitu, Zeno tetap menahan emosinya dan kembali bertanya, “Apa maksudmu?”
Zeno kedua berbalik badan, mengangkat tangannya dan membiarkan seekor burung bertengger di atas jarinya. “Aku akan memberikan rahasia kita. Aku dan kau, memiliki tubuh yang sama, tetapi tubuh tersebut memiliki dua jiwa yang berbeda, yaitu aku, dan kau.”
“Lebih tepatnya, aku adalah jiwa secara murni dari janin di dalam rahim ibu Arina. Serta kau, kau merupakan jiwa ciptaan dewi Luna yang menumpang di dalam janin tersebut atau tubuh kita. Kau mengerti?” Zeno kedua menjelaskan.
Zeno asli terdiam, sekarang dia mengerti bahwa dirinya dan sosok yang mirip di depannya merupakan orang yang sama, tetapi jiwa yang berbeda. Meskipun begitu, Zeno masih belum mengerti mengenai kelanjutannya.
__ADS_1
“Apa kau ingat saat kita bertarung dengan Akram? Apakah kau pernah berpikir kenapa kita bisa hidup lagi dari kematian? Jika dipikir secara Naluri, seseorang yang mengalami kematian tidak akan bisa hidup lagi.” Zeno kedua menjentikkan jarinya, seketika tempat berubah seperti berada di medan perang.
Zeno asli menoleh, dia bisa melihat sosok dirinya terkapar lemah dengan tubuhnya yang masih kecil, di dekatnya terdapat sosok yang dia ingat, yaitu Akram sambil mengangkat kepalanya, memperlihatkan sebuah meteor berapi besar yang hendak menghancurkan bumi. Secara refleks, Zeno asli langsung mengangkat tangannya dan hendak mengeluarkan ledakan cahaya untuk menghancurkan bola api tersebut.
“Percuma, kita tidak terlihat di sini, kau tidak akan bisa menghancurkan apa-apa.” Kata Zeno kedua yang mendekat ke arah Zeno remaja yang sedang terkapar.
Zeno mengerti, tampaknya ini adalah cuplikan ilusi, memperlihatkan masa lalunya saat bertarung dengan Akram. Buktinya, Akram sendiri tidak bisa melihat mereka berdua.
“Aku ingat, saat bola api itu mendekat, dia akan bangun dari kematian, Kiba akan kembali muncul dan bergabung dengannya.” Zeno asli mendekat ke arah Zeno kedua yang sedang berdiri di atas Zeno remaja yang sedang terkapar.
“Benar, sebelumnya yang mengendalikan tubuh ini adalah aku, jiwa murni yang berada di tubuh tersebut. Tetapi karena kematian tersebut, aku tidak bisa melanjutkan perjalanan lagi, jadi, jiwa lain yang ada di tubuh tersebut, yang tidak lain adalah kau menggantikanku.” Kata Zeno kedua.
“Dan yang menggerakkan tubuh tersebut adalah kau, jiwa ciptaan dewi Luna secara langsung. Bisa di bilang, kita berbeda ibu. Arina adalah ibuku karena aku adalah jiwa murni yang ada di janinnya, sedangkan kau adalah anak dewi Luna, karena dia menciptakan jiwamu secara khusus dengan tangannya sendiri, dan kemudian meletakkan dirimu ke arah janin Arina. Sehingga, semenjak kita kecil, kita memiliki dua jiwa.” Zeno kedua mencoba untuk menjelaskan.
Bak disambar petir seolah tak percaya, Zeno mengerutkan dahinya dan menyangkal, “Tidak! Aku juga memiliki ingatan masa kecilku sebelum kematian. Aku bisa merasakan kehidupan yang sengsara di keluarga Agalia! Jadi tidak mungkin aku bukan jiwa murni di janin ibu Arina.”
“Itu karena kita memiliki tubuh yang sama, otak yang sama. Selain itu, jiwamu juga bisa merasakan kehidupan kita sebelum kepergianku. Jadi, jangan heran kenapa kau bisa mengingat semuanya.” Zeno kedua menjelaskan sambil tersenyum, “Jangan sedih, meskipun kita berbeda ibu, dan kau tahu siapa ibu aslimu, kita lahir di rahim yang sama. Jadi, meskipun dewi Luna menciptakan jiwa mu secara khusus, kau tetap anak ibu karena kau lahir dari rahim ibu Arina.”
__ADS_1
“Terus, apa maumu? Apakah kau ingin merebut tubuh ini kembali? Menganggap bahwa aku hanya sosok yang menumpang di tubuhmu?” Zeno yang kebingungan, dengan tubuhnya yang penuh kelelahan membuat dirinya tersulut emosi besar. Bahkan, dia ingin menghajar Zeno kedua.
Tapi, siapa yang menyangka bahwa Zeno kedua datang memeluknya, membuat suasana hati Zeno menjadi benar-benar tenang karena pelukan tersebut. Bahkan dia berpikir bahwa Zeno kedua akan mengiyakan apa yang dikatakan Zeno sehingga terjadi perang besar lagi.
Sembari memeluknya, Zeno kedua berkata, “Jika tidak ada jiwa dirimu yang ada di tubuh kita, dewi Luna tidak akan merubah nasibku. Aku hanya akan menjadi anak yang tidak berguna tanpa elemental. Aku bisa bertemu dengan keluargaku, meskipun yang melihat secara sempurna dan utuh adalah dirimu, tapi aku bisa merasakannya, aku ... aku .... benar-benar berterima kasih.” Zeno kedua menaruh kepalanya di atas pundak Zeno asli, mengeluarkan semua air matanya sehingga membasahi pundak Zeno.
Zeno asli benar-benar tersenyum dengan hatinya yang tersentuh, mengelus punggung Zeno kedua sambil berkata, “Kau benar-benar Zeno asli yang berada di tubuh ini. Maafkan aku karena tidak bisa menjaga orang tua kita yang mungkin kau kecewa berat kepadaku.”
“Tetapi seharusnya, setelah kematianmu yang lama, kau bisa bertemu dengan mereka kan?” Tanya Zeno asli.
Zeno kedua melepaskan pelukannya, kemudian dia tersenyum, “Benar, tetapi baru hari ini. Karena, setelah kematian kedua orang tua kita, aku tidak ingin bertemu dengan mereka terlebih dahulu karena roh dewi Luna memintaku untuk menemui dirimu terlebih dahulu setelah membunuh Yashimaru, dan menjelaskan semuanya.”
“Itu artinya ....” Zeno tidak melanjutkan ucapannya, karena tempat yang sebelumnya merupakan sebuah medan pertempuran, kini bagaikan sebuah alam fana.
“Ayah, ibu?” Zeno asli terkejut dengan tangannya yang bergetar. Namun, Zeno kedualah yang berjalan ke arah mereka berdua dengan meninggalkan senyuman ke arah Zeno asli.
“Terimakasih, diriku” Kata Zeno yang kedua sembari berlari ke arah ayah dan ibu Zeno. Kemudian, Zeno kedua memeluk ayah dan ibunya dengan begitu erat. Benar, yang dipeluk oleh Zeno kedua adalah Fang Zhuo dan Arina yang membuat Zeno asli tidak bisa menahan air matanya.
__ADS_1
Bahkan ayah dan ibu Zeno juga memeluknya kembali, seolah benar-benar merindukan sosok Zeno. Selain itu, Zeno asli mengulurkan tangannya dan berharap bahwa ayah dan ibunya bisa melihat sosok dirinya. Tetapi, ayah dan ibunya seolah tidak menghiraukannya dan memilih untuk memberikan sebuah kasih sayang kepada Zeno kedua. Tidak heran, Zeno kedualah yang merupakan roh asli dari janin di perut Arina.
Perlahan, Zeno kedua dan kedua orang tuanya, berubah menjadi serpihan cahaya yang perlahan menghilang. Tidak hanya itu saja, Zeno kedua juga memberikan senyuman akhir kepada Zeno asli yang menundukkan kepalanya sambil meneteskan air mata.