
“Nyonya, pertandingan terjadi sebentar lagi, setidaknya Anda harus memantapkan hati. Karena jika Anda terlalu banyak berpikir, Anda tidak akan bisa menang.” Bujuk Kiba kepada Turse yang sedang melamun. Entah kenapa kedua anak raja sialan itu membuat Kiba begitu geram karena hampir merusak rencana tuannya.
“Kiba, menurutmu dimana Une sekarang? Apa menurutmu pangeran tadi berbohong bahwa sebenarnya Une memang berada di kerajaan tersebut? Jika dipikir-pikir, kerajaan tersebut merupakan milik keluarga Fang, dan nama keluarga Une adalah Fang juga. Siapa tahu bahwa ada keluarga Fang di alam dewa ini memiliki darah yang sama dengan keluarga Fang di alam manusia?” Kata Turse yang begitu sedih, dia benar-benar merindukan pelukan suaminya.
“Begini saja nyonya, jika Anda bisa lebih tenang, dan berhasil memenangkan kompetisi pertandingan ini, aku akan memberitahuna dimana keberadaan tuan. Karena semenjak tadi, aku benar-benar mencium bau tuan walaupun itu sangat tipis.” Mau bagaimana lagi, Kiba harus mengatakan seperti itu agar Turse lebih bersemangat mengikuti pertandingan tersebut.
Spontan Turse langsung menatap Kiba dengan senang, dia juga menatap Kiba tanpa kebohongan sama sekali bahwa dia benar-benar mencium keberadaan Une. “Katakan saja sekarang dimana Une berada? Ayolah Kiba katakan sekarang saja.”
“Jika memang begitu, maka Anda tidak akan bisa memenangkan kompetisi ini. Anda harus menang terlebih dahulu, akh tidak, Anda harus mengikuti pertandingan ini terlebih dahulu. Dan saat Anda bertanding, maka aku akan mengendus di mana keberadaan tuan. Bagaimana? Apakah Anda setuju?” Kiba menawarkan.
Turse berpikir sejenak, tampaknya Kiba ingin membuat sebuah kejutan? Dia menjadi tersenyum cerah dan langsung bersemangat untuk mengikuti pertandingan tersebut dan berambisi untuk menang seperti apa yang dijanjikan oleh Kiba barusan. “Baiklah Kiba, berjanjilah kepadaku!”
“Tentu saja, aku berjanji.” Jawab Kiba dengan senyuman.
“Tapi apakah kau berpikir, Une pasti mengikuti pertandingan ini.”
“Kurasa tidak, karena tuan terlalu kuat dengan peringkat tingginya mungkin. Sehingga mengikuti kompetisi ini hanya akan membuang-buang waktu.” Jawab Kiba, dia tidak bisa mengatakan bahwa Zeno mengikuti kompetisi ini. Selain itu, dia juga tidak mengatakan yang sebenarnya bahwa Zeno masih berada di peringkat di bawah Turse.
“Sebaiknya Anda berkumpul dengan peserta yang lainnya, karena pertandingan akan dimulai. Dan pada saat itu, kami akan mencari keberadaan tuan.” Ucap Kiba.
Turse yang bersemangat akhirnya beranjak pergi menuju ke sebuah arena yang sebelumnya sudah dipersiapkan. Dia pergi meninggalkan ketiga beast milik tuannya karena akan berkumpul dengan kontestan lain yang juga ikut berkompetisi. Dia tidak berpikir sama sekali, bahwa di antara peserta yang ada di dekatnya ada sosok suaminya.
__ADS_1
“Kiba, apa kau benar bahwa kau mengendus tuan? Dan tampaknya apa yang dikatakan pangeran itu benar. Karena seingatku, keluarga Fang yang ada di dunia ini dengan di dunia manusia memiliki darah yang sama. Sehingga kemungkinan terbesar mereka juga mengenal tuan.” Protes skarlos yang semenjak tadi dia diam bersama dengan Flamon karena mereka tidak berani untuk ikut campur.
“Kau pikir aku tadi pergi kemana? Aku baru saja bertemu dengan tuan, aku memang sengaja tidak mengatakan kepada istri tuan karena itu permintaan tuan sendiri. Karena dia berharap bisa bertarung dengan Nyonya.”
“Tunggu benarkah?” Flamon dan Skarlos berkata dengan serentak, “Kenapa kau tidak memberitahu kami harimau ja*ang, kau pikir hanya kau saja yang ingin bertemu dengan tuan?” Kata Flamon dengan matanya yang menyala seolah terbakar api.
“Lantas siapa yang akan menjaga Nyonya jika kalian semua ingin bertemu dengan tuan? Bersabarlah, mungkin sore ini kalian baru bisa bertemu.” Jawab Kiba menenangkan mereka semua.
.....
Sebuah tempat yang dikelilingi oleh banyaknya penonton yang bersorak senang karena bisa melihat sebuah pertarungan yang begitu seru. Yang mana, hadiahnya merupakan kristal lima warna dengan peringkat raja dewa yang mana menjadi benda paling berharga di kerajaan ini, bahkan kerajaan saja belum pasti bisa memilikinya meskipun mengirim kedua anak raja sekalipun.
Itu terjadi ke semua babak hingga di pertandingan terakhir yang merupakan babak penentu siapa pemenang dari kompetisi ini dan berhak mendapatkan kristal lima warna yang begitu berharga.
Terdapat sekitar 50 an peserta yang mendaftar dalam kompetisi ini. Sebenarnya ada banyak yang mendaftar, tetapi karena kuota terjangkau menjadikan banyak yang tidak bisa mendaftar dengan sangat disayangkan. Untung saja, Zeno merupakan peserta terakhir yang didaftarkan oleh Kiba.
Zeno yang tidak menunjukkan identitasnya, dia bisa melihat Turse yang duduk di kursi penonton dengan wajah yang berseri-seri, menunggu dirinya untuk dipanggil dan memenangkan pertandingan tersebut. Tanpa ragu, Zeno mendekat ke arah Turse, setidaknya hanya untuk ingin mencium baunya yang mana sering membuatnya candu.
“Aku harap kau bisa menang, nona.” Kata Zeno dengan suara yang dibuat-buat saat melewati Turse.
Turse melirik ke belakang dan memperhatikan bahwa orang aneh itu telah pergi. Tetapi, Turse sama sekali tidak bisa melihat apa peringkat orang tersebut? selain itu, dia juga memperhatikan tatapan menghina orang-orang saat melihat orang yang menurut Turse aneh.
__ADS_1
Di babak pertama atau babak penyisihan, ada enam yang dipanggil, yang mana dua peserta dipanggil untuk bertarung di arena pertama, diikuti dua peserta yang bertarung di arena kedua, serta dipanggil lagi dua peserta untuk berada di arena ketiga untuk bertarung.
Dan tentunya, Zeno yang mendaftar paling akhir dipanggil dalam babak ini, dia berada di arena kedua dengan musuhnya yang memiliki peringkat dewa alam tingkat kedua. Sosok pria yang tampak biasa saja namun membawa tongkat di tangannya.
Dengan adanya Zeno yang maju dan berdiri, suara yang sebelumnya bersorak seru kini berubah tawaan karena melihat Zeno sama sekali tidak memiliki peringkat. Banyak yang mencelanya dan meminta Zeno untuk muncul karena mungkin belum satu menit sekalipun Zeno sudah babak belur.
“Hei kau mundur saja! Tempatmu bukan di sini, apa kau pernah mendengar tempat pembuangan akhir? Itulah tempatmu.” Teriak salah seorang yang membuat penonton lainnya tertawa lebar.
Tidak sedikit orang yang menganggap bahwa Zeno adalah orang gila yang bosan untuk hidup. Bahkan, beberapa juri sekalipun, mereka semua tertawa karena tampaknya akan ada yang terbunuh di pertandingan pertama ini.
Di antara ketiga arena, mungkin yang menjadi sorotan adalah arena kedua yang ditempati oleh Zeno. Zeno yang dicela hanya diam saja, apa yang dibutuhkan adalah pembuktian dan bukan hanya sekedar omong kosong dan penghinaan begitu saja.
“Buka topengmu dan tunjukkan wajahmu kepada umum. Tak perlu untuk malu.” Kata lawan Zeno dengan menahan tawa. Dia merasa sangat beruntung sekali mendapatkan lawan yang begitu mudah untuk beranjak ke babak selanjutnya.
Sebuah aba-aba dibunyikan, menandakan bahwa peserta bisa bertarung satu sama lain untuk melanjutkan ke babak selanjutnya. Mungkin di arena pertama dan ketiga, terjadi sebuah pertarungan besar, tetapi di arena kedua, masih saling diam dan membuat peserta menyoraki Zeno karena menganggap Zeno sudah menyerah.
“Begini saja, serang aku sekarang juga dengan kekuatan penuh. Aku tidak akan menggunakan tongkat sama sekali untuk mengeluarkan elemen angin dan petir bagaimana?” Kata musuh Zeno sambil melemparkan tongkatnya seolah meremehkan Zeno.
“Jangan menyesal ketika organ dalammu hancur.” Zeno melangkahkan kakinya ke depan, dia semakin berlari ke arah orang tersebut sambil mendorong tangannya ke arah orang tersebut.
Pria itu tersenyum sambil mengulurkan tangannya untuk menahan pukulan Zeno. Tetapi siapa yang menyangka, kini wajahnya berubah menjadi buruk saat dia menyadari sesuatu seperti tulang lengannya yang patah dengan perut yang terpukul sehingga memberikan sebuah bunyi yang begitu khas
__ADS_1