
“Nak.” Dewi Luna memanggil Zeno seperti itu, “Lagipula Zeno tadi sudah menjelaskan semuanya kepadamu, dia justru berterima kasih karena jika aku tidak memilihnya untuk menjadikannya sebuah wadah untuk roh mu, maka dia akan memiliki nasib yang begitu buruk.” Kata dewi Luna menjelaskan.
Zeno menarik tubuhnya, dia kemudian menghapus air mata di hadapan ibunya atau dewi Luna. “Ibu sama saja membohongi Zeno karena dia begitu bersemangat untuk menjadi kuat dan berusaha menuruti apa yang kau mau, yaitu menjadi penguasa dewa. Padahal, apabila dia tidak mati, dia tetap tidak akan menjadi sang penguasa dewa, karena yang bisa hanyalah roh kedua atau aku.”
“Tidak, meskipun dia tidak mati sekalipun, kau akan tetap merebut posisi Zeno. Sehingga, apabila itu benar-benar terjadi, musuh utamamu bukan Yashimaru lagi, melainkan jiwa Zeno satunya karena kalian berdua saling berebut tubuh. Ibu sudah memikirkan hal tersebut. Untungnya, Asura mencabut jiwa Zeno murni dan kau akan menggantikan tubuhnya, walaupun kau tetap mengingat semua apa yang Zeno murni miliki.” Dewi Luna menjelaskan.
“Meskipun begitu, apakah aku tetap boleh menghormati dan mengunjungi makam ibu biologis yang telah melahirkan wujudku?” Tanya Zeno kepada ibunya.
Dewi Luna tersenyum, dan kembali memeluk Zeno sembari membelai kepalanya, “Tentu saja, memang seharusnya begitu. Kau tetap tidak boleh melupakan ibu yang telah melahirkan wujudmu. Meskipun begitu, kau adalah anakku satu-satunya.”
“Baiklah, terimakasih ibunda. Kau benar-benar orang yang ku hormati.” Ucap Zeno sambil menikmati pelukan hangat dari ibundanya.
Dewi Luna melepaskan pelukannya lagi, “Itulah mengapa saat Zeno murni belum pergi, dan aku sudah meninggal, aku tidak bisa mengunjunginya. Berbeda ketika kau yang berada dalam tubuh tersebut, karena kita memiliki sebuah ikatan, aku bisa mengnjungimu melewati alam mimpi.”
Zeno menganggukkan kepalanya mengerti, itulah mengapa dia sering bertemu dengan dewi Luna setelah kematiannya yaitu dibunuh Akram. Pasalnya, usai dibunuh Akram, jiwa Zeno murni pergi dan digantikan oleh jiwa Zeno asli yang memiliki ikatan dengan dewi Luna.
“Anak ibu tadi benar-benar hebat, apakah bisa menceritakannya di depan ibu?.” Kata dewi Luna dengan matanya yang berkaca-kaca sambil mmeposisikan dirinya untuk duduk.
Seketika, tubuh Zeno yang sebelumnya dewasa, kini berubah menjadi sangat kecil seperti seorang anak yang mungkin berumur 7 tahun.
Zeno yang merasa bahwa di pikirannya muncul pikiran anak-anaknya yang gemar bercerita kepada ibunya. Tidak hanya itu saja, dia tiba-tiba berdiri di depan dewi Luna sambil melakukan gerakan seperti menunjukkan bahwa dirinya bertarung dengan Yashimaru.
Seolah, seperti seorang anak kecil yang sedang berimajinasi tinggi di hadapan ibunya. Namun, Zeno tidak tahu, mengapa dia melakukan seperti itu, entah kenapa dia juga benar-benar bahagia karena dewi Luna seperti seorang ibu yang duduk dan mendengarkan dengan seksama sambil terkekeh. Mungkin, karena semasa kecilnya, dia tidak pernah merasakan seperti itu karena kekangan dari keluarga Agalia.
__ADS_1
Seperti misalnya, Zeno berkata seperti seorang anak kecil, “Kau tahu ibu, aku tadi mengangkat sebuah gunung, benar-benar besar.” Ucapnya sambil menunjukkan di hadapan dewi Luna seberapa besar gunung itu menggunakan kedua tangannya yang dia angkat ke atas.
“Tapi itu bukan masalah, Zeno benar-benar kuat, jadi ibu tidak perlu untuk risau. Bahkan Zeno juga sanggup untuk mengangkat sebuah matahari yang begitu besar.” Zeno juga berjinjit di tubuhnya yang kecil sambil melambaikan kedua tangannya dari atas ke bawah untuk menunjukkan seberapa besar matahari yang dia angkat. Tetapi, dia berjinjit terlalu tinggi sehingga membuatnya jatuh di pangkuan ibunya.
Melihat hal tersebut, dewi Luna langsung tertawa kecil dan menggelitik perut Zeno. Sehingga, Zeno langsung tertawa dan berusaha untuk melepaskan tangan ibunya agar tidak menggelitik seperti itu, "Ibu lepaskan aku, ini benar-benar geli."
Dewi Luna tertawa sambil menutup mulutnya sendiri agar tawaannya tidak terlalu keras, kemudian dia berhenti untuk menggelitik Zeno dan bertanya untuk memastikan, “Benarkah? Kenapa Zeno tidak terbakar? ibu pikir anak ibu sedang berimajinasi.”
Zeno kecil berdiri dari pangkuan dewi Luna, kemudian dia menggerakkan tubuhnya kembali, “Tidak ibu, aku tidak berimajinasi. Saat aku melemparkan matahari tersebut, Bumm! Ledakan besar muncul, dan musuhku benar-benar musnah. Ibu tahu? Kemudian, Zeno tertawa lebar sambil berteriak begitu keras ‘hahaha tidak ada yang bisa mengalahkanku’.” Ucapnya sambil mengangkat kedua lengannya.
“Apa benar Zeno berkata seperti itu?” Dewi Luna mengangkat alisnya sambil menahan tawa ketika mendengarkan cerita anaknya. Padahal, apabila Zeno dewasa ketika bercerita, pasti Zeno tidak akan mengatakannya yang seperti itu, tidak salah dewi Luna membuat Zeno menjadi anak kecil sementara yang bisa membuat cerita dengan sangat lucu.
“Zeno tidak berbohong ibu ...!!” Zeno berkata dengan jengkel dengan wajahnya yang masam, kemudian duduk karena marah seperti seorang anak kecil yang tampak sangat lucu.
"Aku tidak ingin bercerita lagi, karena ibu benar-benar jahat." Kata Zeno.
"Baiklah, ibu akan berjanji akan mendengarkan dan percaya. Dan sebagai balasannya, ibu akan bercerita pula."
Kemudian tanpa henti, Zeno menuruti apa yang ibunya katakan, dia terus menerus menceritakan kisah bertarungnya kepada ibunya. Yang mungkin bagi dewi Luna, mendengarkan cerita Zeno kecil bagaikan mendengar dongeng imajinasi.
"Dan aku menang tanpa terluka sama sekali." Kata Zeno mengakhiri ceritanya dengan berbohong.
Dewi Luna tertawa tipis sambil bertepuk tangan pelan, dia juga memuji Zeno, "Hebat, anak ibu memang kuat bisa mengalahkan musuh tanpa terluka." Padahal, dewi Luna bisa melihatnya dengan jelas bahwa Zeno dewasa tadi memiliki luka yang cukup banyak, bahkan luka bakar di sekujur tubuhnya.
__ADS_1
"Ayo ibu, giliran ibu yang bercerita."
"Emm, tetapi ibu tidak memiliki cerita apa-apa." Dewi Luna berpikir sejenak.
"Aaahh." Zeno kecil menyentuh kedua pipi dewi Luna dan mencubitnya dengan penuh marah, hal itu membuat dewi Luna kesakitan. Meskipun begitu, dia tidak marah, justru dia tertawa begitu lebar, "Baiklah-baiklah, ibu akan bercerita."
Dimensi seketika berubah saat Zeno berhenti bercerita dan memaksa agar ibunya yang giliran untuk bercerita. Lebih tepatnya, kini mereka berada di tempat yang sejuk di bawah pohon, langit gelap dipenuhi oleh ribuan bintang dan purnama yang berjejer apik sesuai rasinya.
Dewi Luna menaruh Zeno di pangkuannya, kemudian sembari menunjukkan bintang menggunakan alunan tangannya, dewi Luna mulai bercerita yang membuat Zeno senang sambil menikmati indahnya langit malam.
Tidak hanya itu saja, Dewi Luna tampaknya juga bercerita layaknya ibu yang sedang memberikan dongeng kepada anak kecil, bahkan dia juga menggerakkan tangannya sebagai sebuah penggambaran yang diperhatikan Zeno dengan begitu seksama.
Zeno hanya bisa tersenyum bahagia di dalam hatinya bagaikan seorang anak kecil setelah mendapatkan perlakuan seperti itu dari ibunya.
"Hei, apa anak ibu tidak mendengarkannya?" Dewi Luna mengerutkan dahinya.
"Aku mendengarkannya ibuuu." Zeno menyangkal
"Ibu tidak percaya." Kemudian, dewi Luna semakin memeluk Zeno yang ada di pangkuannya dan memberikannya sebuah pelajaran yaitu mencium pipi Zeno dengan sangat kuat.
Zeno memberontak sambil tertawa geli, dia juga berulang kali menjelaskan bahwa dirinya tadi benar-benar mendengarkan apa yang ibunya ceritakan.
Alhasil, dibawah sinar rembulan, sang ibu dan anak saling tertawa lebar karena mereka sedang bercanda ria dan bermain-main. Bahkan, Zeno yang memberontak dari pangkuan ibunya langsung lari dan meminta ibunya untuk mengejarnya.
__ADS_1