
Pasangan tersebut langsung mendarat di tengah-tengah pertarungan yang begitu mengerikan, air dan angin saling berbenturan yang membuat suasana perang bagaikan badai di tengah laut. Namun, kehadiran keduanya yang mendarat dengan sangat keras, menghasilkan sebuah gelombang kejut yang begitu besar, sehingga beberapa prajurit baik dari pihak Fang maupun Ama terpental sungguh jauh.
Zeno dan Turse saling memunggungi dengan memegang senjata mereka masing-masing. Perlu diketahui, bahwa Ice Sword miliknya masih tersimpan di cincin ruang milik Kiba, dan dia lupa untuk mengambilnya. Sehingga yang terjadi, Zeno menciptakan sebuah senjata pedang yang terbuat dari es, dengan elemen petir yang terkandung dalam pedang tersebut.
Banyak prajurit yang terkejut karena melihat seorang wanita yang tidak lain Turse memiliki peringkat kaisar dewa. Namun, mereka tidak melihat pria yang memunggunginya memiliki peringkat, sehingga mereka, yaitu prajurit dari pihak Ama atau Fang tidak yakin dengan kehadiran Zeno.
Tanpa menunggu lama, pasangan suami istri itu langsung bergerak dengan cepat yang mana Zeno langsung bergerak secepat cahaya dan membunuh semua prajurit dari pihak Ama. Pihak Ama dan Fang, keduanya sangat terkejut saat kilatan cahaya muncul dan membunuh prajurit Ama.
Begitupun Turse, dia berdiri di tempat dan langsung menarik anak panah dan melepaskannya secara berulang kali kepada prajurit Ama.
“Lindungi istri Zeno yang sedang menarik anak panahnya!” Teriak seorang jenderal suruhan Fang An yang mengetahui siapa itu Zeno. Dan dirinya, juga mengetahui istrinya dari perkataan El dan Rosy tiga bulan yang lalu. Sehingga, dirinya yakin, yang ada di dekat Zeno barusan adalah istri Zeno sendiri. Selain itu, dia juga melihat prajurit Ama yang mencoba untuk mendekati Turse dari jarak dekat untuk membunuhnya, sehingga jenderal memberikan perintah tersebut.
“Tak perlu!” Teriak Turse sambil menarik anak panahnya secara cepat sambil memutar badannya. Sehingga tidak ada prajurit yang mendekat sama sekali.
Sedangkan Zeno, dia masih menari-nari dengan pedangnya, dengan menggunakan kecepatan cahaya yang begitu menyilaukan mata. Sehingga, saat prajurit Ama tidak ada yang tahu di mana Zeno bergerak, karena yang ada hanyalah kilatan cahaya yang bergerak ke sana kemari dengan meninggalkan kepala prajurit dari kerajaan Ama.
“Tampaknya raja juga turun tangan?” Zeno berhenti sejenak sambil membawa sebuah kepala prajurit, dia melihat Fang An sedang bertarung dengan seorang yang menggenakan jubah raja pula dengan peringkat dewa alam tahap ke sembilan.
“Sebaiknya aku tak ikut campur dengan mereka berdua.” Kata Zeno sambil melemparkan kepala prajurit tersebut di tengah-tengah pertarungan raja tersebut dengan dibarengi dirinya menghilang.
.....
__ADS_1
Di saat Turse melepaskan anak panahnya tiba-tiba ada beberapa prajurit yang langsung meloncat tepat di atasnya. Dia tidak merasa sedikitpun panik, sehingga apa yang dia lakukan adalah memposisikan anak panahnya menghadap ke atas, dan mengeluarkan lima anak panah sekaligus yang mana semuanya mengenai target masing-masing.
Bersaman dengan itu, kelimanya jatuh, tetapi sebuah sambaran petir muncul menyambar mereka. Sehingga mengakibatkan lima mayat itu menjauh untuk tidak menimpa Turse dengan tubuhnya yang terpotong-potong.
Zeno kembali muncul dan memunggungi Turse, tampaknya kini kondisi benar-benar berbalik. Karena sebelum ada mereka berdua, tembok pembatas benar-benar akan hancur karena Fang sangat kewalahan menghadapi serangan yang begitu tiba-tiba. Akan tetapi, kini pasukan Ama jauh lebih sedikit karena pembantaian besar-besaran oleh Zeno dan Turse yang memiliki peringkat paling tinggi.
Hal tersebut, membuat semangat juang pasukan Fang semakin tinggi. Tetapi, beberapa detik kemudian, sebuah tornado angin muncul di antara pertarungan. Tidak, tampaknya disertai tornado air yang muncul di sebelahnya. Selain itu, aura tersebut juga sangat kuat yang mengakibatkan seluruh pasukan baik dari kerajaan Fang dan Ama langsung bertekuk lutut menghadap dua tornado itu, bahkan kedua raja sekalipun yang langsung menghentikan peperangan seketika.
Di antara ribuan orang yang berlutut, hanya menyisakan Zeno dan Turse yang masih berdiri tegak, meskipun aura yang sangat pekat menyerang mereka berdua.
Dan tidak lama kemudian, sebuah hembusan angin yang sangat kuat muncul dalam seketika, mengakibatkan banyaknya pasukan yang terlempar, apalagi para prajurit yang dekat dengan tornado. Bersamaan dengan itu, di masing-masing tornado muncul sosok yang memiliki peringkat kaisar dewa tingkat kedelapan.
“Kerajaan sangat tidak berguna! Apakah kalian berhenti apabila ketika aku, tangan kanan kaisar dewa angin datang dengan sendirinya?” Kata seseorang yang baru saja muncul dari tornado angin yang mengaku sebagai ututsan tangan kanan dewa angin.
“Saudara Forj, tampaknya kita tidak perlu mencarinya dengan susah. Karena ....” Utusan atau tangan kanan dewa air tak sengaja menatap Turse dan menunjuknya secara langsung.
“Une, tampaknya aku sudah ketahuan. Mundurlah terlebih dahulu, aku akan mengurusnya sendiri.” Kata Turse menggenggam erat busur panahnya.
“Kau disuruh menghadap kepada kaisar dewa air sekaran juga. Aku punya dua pilihan, berjalanlah sesuka hati, atau kami akan membawamu secara paksa. Tidak peduli apakah kau memiliki peringkat satu tingkat di atas kami, tetapi jika kami melawanmu secara bersamaan, maka kau juga akan kalah.” Kata Forj yang merupakan tangan kanan dewa angin.
“Aku menolak, bahkan jika menggunakan cara paksa sekalipun.” Ucap Turse dengan wajah yang begitu datar.
__ADS_1
Mendengar hal itu, Herdon sang kanan dewa air langsung mengeluarkan sebuah tornado air dari tangan kanannya dan melepaskan secara cepat ke arah Turse. Seluruh prajurit langsung berlari dan memilih untuk mundur karena mereka tidak mau terkena dampak dari pertarungan dengan peringkat seorang kaisar dewa.
Tepat saat tornado air lancip itu mengarah ke arah Turse, Zeno langsung bergerak dan menangkapnya dengan sangat mudah. Bahkan, saat Zeno mengepalkan tangannya secara perlahan, tornado itu langsung hancur dan berubah menjadi air biasa yang membasahi tanah.
“Jaga kekuatanmu di hadapan istriku. Jika kau berani menyerangnya, itu sama saja kau menyinggungku.” Kata Zeno dengan sangat dingin.
Forj dan Herdon, keduanya benar-benar begitu terkejut saat pria yang tidak memiliki peringkat ternyata memiliki kekuatan penguasa air. Hal tersebut tentunya membuat Forj sang tangan dewa angin langsung menggertakkan giginya dan langsung berubah menjadi serpihan angin.
Zeno yang menyadari itu, dia langsung berbalik badan sambil meneluarkan pusaran angin yang ada di tangannya untuk menyeran Forj. Tetapi, beberapa detik kemudian, Herdon langsung bergerak sambil mengayunkan trisulanya. Untung saja, Turse menciptakan sebuah bongkahan es tinggi untuk menahan Herdon.
Herdon mengeluarkan aliran air untuk menghancurkan bongkahan itu, kemudian dia lebih fokus untuk merebut Turse agar bisa di bawa untuk lari. Tapi sangat disayangkan bagi Herdon, bahwa Zeno yang yang sebelumnya bertarung dengan Forj langsung menyerang Herdon.
Di sisi lain, Turse juga langsung bergerak untuk menyerang Forj dari jarak yang jauh ketika Forj sendiri hendak menyerang Zeno.
Tetapi, Herdon langsung melompat ke belakang, tampaknya Zeno menjadi musuh yang cukup merepotkan karena dapat menguasai elemen air yang membuatnya sama sekali tidak bisa menyerang Zeno kecuali dengan kekuatan fisik. Dia juga melihat dengan sendirinya, bahwa Forj sang utusan dewa angin juga sedang bertarung dengan Turse. Sehingga, apa yang dia lakukan adalah bergerak ke arah Zeno untuk menyerangnya menggunakan kekuatan fisik sambil menggunakan elemen angin ketika Zeno tidak menyadari.
Di sisi lain, Forj yang melawan Turse, mengeluarkan ribuan jarum angin dari langit dan menjatuhkannya ke arah Turse karena dirinya begitu kesal karena harus melawan Turse dari jarak yang begitu jauh.
Menyadari hal itu, Turse langsung menarik anak panahnya untuk memanah ribuan jarum angin. Tetapi, jarum angin tiba-tiba terhenti dan bergerak tidak sesuai perintah Forj, melainkan menuruti alunan tangan Zeno yang sibuk melawan Herdon. Lebih tepatnya semua jarum angin itu mengarah ke arah Herdon.
“Sial.” Kata Forj dengan kesal, “Kitsune, roh rubah ekor sembilan keluarlah!” Ucap Forj tidak punya pilihan lain.
__ADS_1
“Aku juga tidak punya pilihan lain untuk menghadapi sang penguasa.” Herdon kembali melompat ke belakang. “Keluarlah, roh ratu laut selatan! Lara Kadita!”